NovelToon NovelToon
Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.

Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.

Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.

Dan ini baru permulaan.

Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trial Of Columba: The Flood's End #2

Lautan di bawah perahu kecil kembali beriak pelan.

Luc berdiri diam sambil menatap permukaannya. Dadanya masih terasa sesak setelah melihat masa lalunya yang dipenuhi ejekan dan usaha yang tidak pernah dihargai. Ia sempat berpikir bahwa itulah inti dari ujian Columba.

Namun ternyata belum.

Permukaan air yang semula tenang berubah seperti cermin yang memantulkan kenangan lain.

Kenangan yang jauh lebih menyakitkan.

Pandangan Luc perlahan membeku.

Di hadapannya terbentang aula kerajaan Astoria yang megah. Lantai marmer putih memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Para bangsawan mengenakan pakaian terbaik mereka, berdiri dengan wajah penuh harap.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang istimewa.

Hari ketika para anggota keluarga bangsawan kerajaan menerima Senjata Vassal mereka.

Ash yang masih remaja berdiri di antara putra-putri bangsawan lainnya. Jubah bangsawan berwarna gelap membungkus tubuhnya dengan rapi, sementara lambang keluarga Astoria tersemat di dadanya. Tangannya sedikit berkeringat, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada secercah harapan di matanya.

Satu per satu, para bangsawan muda melangkah ke dalam lingkaran sihir dan menerima Senjata Vassal mereka.

Ada yang mendapatkan tombak bercahaya.

Ada yang menerima pedang berukir emas.

Ada pula yang memperoleh busur indah yang langsung memancarkan aura sihir kuat.

Setiap kali seseorang berhasil menerima senjatanya, aula dipenuhi tepuk tangan dan pujian.

Lalu...

"Pangeran Keempat, Ash van Astoria."

Suara pemimpin ritual terdengar nyaring.

Ash menarik napas panjang sebelum melangkah maju.

Langkahnya terdengar sangat pelan saat ia memasuki lingkaran itu. Cahaya sihir di bawah kakinya mulai bergerak. Simbol-simbol kuno bersinar satu demi satu.

Ash memejamkan matanya, ia menunggu. Namun... Setelah waktu berlalu cukup lama, keheningan mulai memenuhi aula. Karena hal itu ia membuka matanya. Ia tidak bisa merasakan apapun, tidak ada senjata apapun yang muncul di depannya. Seperti apa yang terjadi pada anak-anak sebelum dirinya.

Ash menatap kosong ke depan, seolah otaknya menolak memahami apa yang baru saja terjadi.

Lalu bisik-bisik mulai terdengar pelan di sekitarnya dan semakin banyak seiring berjalannya waktu.

"Tidak mungkin..."

"Dia bahkan tidak mendapatkan Senjata Vassal?"

"Jadi benar... dia benar-benar cacat."

Ash dapat merasakan puluhan tatapan tertuju padanya. Seolah mereka sedang melihat sesuatu yang tidak pantas berada di sana.

Tangannya perlahan mengepal. Ia bisa merasakan rasa sesak di dadanya. Ia ingin mengatakan sesuatu, "Apa mungkin ritualnya gagal? Apa boleh aku mengulanginya lagi?" Namun, sebelum ia sempat berbicara...

Sebuah rasa nyeri menghantam punggungnya.

Tubuh Ash menegang.

Ia menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat seseorang menarik kembali sebuah pisau kecil dari belakang tubuhnya.

Tidak ada rasa sakit yang besar. Hanya sensasi dingin yang segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Kakinya mulai melemah dan tidak sanggup menopang tubuhnya, tangannya mulai gemetaran. Saat itu ia sadar, kalau pisau yang menusuknya mengandung racun pelumpuh.

"Kenapa...?" ucapnya pelan seakan tidak percaya dengan apa yang menimpanya.

Ia mencoba menoleh ke arah keluarganya. Berharap... entah mengharapkan apa... mungkin sebuah reaksi keterkejutan, kemarahan atau setidaknya sedikit saja rasa kepedulian.

Namun yang ia lihat justru membuat sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Ibunya menatapnya dengan jijik. Tatapan yang biasanya dingin kini dipenuhi kebencian yang tidak lagi disembunyikan. "Aku benar-benar tidak percaya pernah melahirkan sampah sepertimu."

Kata-kata itu menghantam jauh lebih keras daripada racun yang mulai melumpuhkan tubuhnya.

Matanya perlahan beralih kepada ayahnya. Raja Astoria tidak menunjukkan sedikit pun emosi. Seolah Ash memang tidak pernah berarti apa pun baginya.

"Kau bukanlah anak kami," katanya tenang. "Kau hanya noda yang mengotori nama keluarga."

Luc menatap pemandangan itu sambil mengepalkan tangannya begitu erat hingga kukunya menusuk telapak sendiri. Darahnya terasa mendidih.

Pemandangan di depannya berubah lagi. Aula kerajaan menghilang.

Lokasi berpindah tepat di atas jurang, kejadian sebelum Ash didorong jatuh.

Saat itu sebuah tangan mendorong tubuh Ash dengan kasar.

"Cepat jatuh ke sana, dasar sampah!" suara itu terdengar kasar dan sangat familiar.

Ash menoleh sedikit saat itu dan melihat wajah yang mendorongnya jatuh. Itu adalah kakaknya sendiri.

Tak lama setelah itu suara teriakan terdengar.

"Ampuni kami Yang Mulia!"

"Arrrgh!"

Ash menggigit bibirnya. Ada kilatan kemarahan di matanya.

"Kalau aku masih hidup! Kalian akan menerima balasannya!" teriaknya, suara itu bergema di dalam jurang.

"Kau pikir sampah sepertimu bisa apa?" sebuah balasan tajam dari atas terdengar.

Dunia terasa berputar dan langit semakin menjauh. Kegelapan semakin mendekat.

Luc menatap dirinya sendiri yang terus terjatuh ke dasar jurang. Ia merasakan amarah yang selama ini terkubur mulai meluap kembali. Bukan amarah karena diejek atau dianggap tidak berguna. Melainkan karena pengkhianatan dari orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya.

Ia menggigit bibir hingga terasa nyeri.

"Aku benci mereka," ucap Luc dengan suara serak.

"Aku benci apa yang mereka lakuin."

Ia mengangkat kepalanya dan menatap konstelasi Columba yang bersinar lembut di langit.

"Aku nggak bisa pura-pura baik-baik aja."

"Aku nggak bisa bilang kalau semuanya nggak masalah."

Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Kalau mereka ada di depanku sekarang..."

Luc terdiam cukup lama.

Dada dan tenggorokannya terasa sesak. Ia mengingat Lea yang berlari di tengah hujan untuk membantunya. Chiron yang tetap berada di sisinya. Ophiucus yang memberinya kesempatan kedua untuk hidup.

Lalu ia menundukkan kepala sambil tertawa kecil dengan getir. "Aku nggak tahu apa aku bisa memaafkan mereka."

Jari-jarinya perlahan mengendur.

"Tapi aku juga nggak mau hidup cuma buat membenci mereka."

Luc mengusap matanya dengan punggung tangan.

"Aku udah jatuh ke jurang karena mereka."

Ia menatap kembali bayangan dirinya yang terjatuh dalam kegelapan.

"Kali ini... aku nggak mau terus jatuh gara-gara kebencian itu."

Lautan di sekitar perahu perlahan kembali tenang.

Sementara cahaya Columba di langit malam bersinar semakin hangat, seolah mendengarkan setiap kata yang keluar dari hati Luc tanpa menghakimi sedikit pun.

1
Blueria
1 Vote untuk karyamu thor👍
Blueria
Ohhhh... gitu, terjawab sudah
Blueria
Konstelasinya manggil Ash Anda—... Apakah Ash atau Lucien punya indentitas tersembunyi ya
Blueria
Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏
Katsumi: Buat ngobrol ama bangsawan atau orang tua nanti pling pake bahasa formal. Selain itu pake informal, karena pengen kubuat santai
total 1 replies
Blueria
Recommended, alurnya mengalir dan percakapannya enak dibaca. Adapun yang paling membuatku ingin terus lanjut baca ialah konsep konstelasinya...
Blueria
Dari nama Ophiuchus di sinopsis, keinget Return The Disaster Class Hero. Lupa nama mc-nya karena udah lama gak baca manhwanya.
Deutsch
keren lanjut
Mr. Wilhelm
Sang Sepuh is Back! /Determined/
Katsumi: mana ada🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!