Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Mata Yang Tersisa
Malam telah sepenuhnya jatuh di atas tebing Uluwatu, menelan warna jingga kemerahan dari matahari terbenam dan menggantinya dengan hamparan langit sepekat tinta hitam.
Angin malam bertiup jauh lebih kencang dari biasanya, menderu melintasi perbukitan batu kapur dan membawa suara deburan ombak raksasa di bawah tebing yang terdengar bagai gemuruh tabuh perang yang konstan. Di dalam kompleks vila, pendar lampu taman otomatis memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, menciptakan siluet pohon-pohon kamboja Bali yang menari liar mengikuti arah angin.
Namun, di dalam pos komando keamanan terdepan yang terletak di dekat gerbang besi utama Vila Dewangga, atmosfer terasa begitu dingin dan menekan. Ruangan berdinding beton tebal itu dipenuhi oleh deretan layar monitor resolusi tinggi yang menampilkan citra satelit terkini, umpan kamera pengawas pengelihatan malam (night-vision), dan grafik pemindai termal inframerah yang mendeteksi setiap tanda kehidupan dalam radius satu kilometer.
Marcus, sang komandan keamanan privat yang merupakan mantan instruktur militer taktis luar negeri, berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung. Pandangan matanya yang dingin mengunci salah satu layar monitor di sudut kanan atas.
Tiba-tiba, sebuah titik kecil berwarna kuning berkedip di area tebing bagian barat, berjarak sekitar tiga ratus meter di luar pagar perimeter luar vila.
Titik itu bergerak dengan sangat lambat, konstan, dan tampak mencoba menyatu dengan kontur topografi batu karang yang gersang.
Jika itu adalah hewan liar seperti monyet ekor panjang yang banyak berkeliaran di Uluwatu, grafis pemindai termal akan menunjukkan pola pergerakan yang acak dan tidak beraturan. Namun, bayangan termal ini memiliki tinggi dan tanda panas khas seorang manusia dewasa yang sedang merangkak tiarap.
"Unit dua, siaga di posisi. Periksa sektor silsilah tebing bagian barat sekarang juga," perintah Marcus melalui interkom privat berfrekuensi enkripsi khusus, suaranya terdengar sangat rendah namun sarat akan ketegasan militer.
"Ada indikasi tanda panas manusia yang bergerak konstan di luar jalur setapak umum. Lakukan pendekatan senyap, jangan nyalakan senter taktis sebelum kalian mengunci posisi target."
"Dimengerti, Sir. Unit dua bergerak menuju titik koordinat alfa-sembilan," sahut sebuah suara desisan dari seberang lini interkom.
Dua menit berlalu dalam keheningan yang menegangkan di dalam pos komando. Hanya ada suara detak jam digital dan dengung halus dari peladen komputer. Di layar monitor, dua titik hijau yang merupakan personel keamanan privat Marcus tampak bergerak cepat memotong jalur bukit kapur, mengepung titik kuning misterius tersebut dari dua arah yang berbeda.
"Sir, kami sudah berada di lokasi kejadian," suara dari personel unit dua kembali memecah kesunyian. Ada jeda sejenak sebelum suara itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit terkejut.
"Target fisik tidak ditemukan di tempat. Namun, kami menemukan sebuah perangkat kamera lensa jarak jauh (telephoto lens) berspesifikasi militer yang disembunyikan dengan sangat rapi di balik ceruk batu karang alami. Kamera ini terhubung pada sebuah aki portabel kecil dan menggunakan pemancar frekuensi seluler satelit mandiri untuk mengirimkan data."
Marcus menyipitkan sepasang matanya yang tajam.
"Apakah kamera itu masih aktif saat kalian menemukannya?"
"Benar, Sir. Lampu indikator transmisi data masih berkedip warna hijau. Tampaknya... ini adalah perangkat mata-mata independen berteknologi tinggi yang sengaja ditinggalkan oleh tim intelijen Dika dari Jakarta sebelum mereka kita lumpuhkan sore kemarin. Mereka memasang sistem ini sebagai rencana cadangan jika tim fisik mereka gagal menembus gerbang depan."
"Amankan perangkat itu dan bawa ke ruang laboratorium siber kita di pos depan. Aku ingin tahu data apa saja yang sudah berhasil mereka kirimkan ke Jakarta," perintah Marcus tegas sebelum meraih ponsel satelit khususnya untuk menghubungi Adrian yang saat itu berada di ruang kerja lantai atas vila utama.
Di ruang kerja atas, Adrian baru saja selesai merapikan beberapa berkas administrasi pasca-penandatanganan kontrak distribusi digital global dengan Singapura ketika ponsel satelitnya bergetar di atas meja kaca.
Begitu melihat nama Marcus yang tertera di layar, sepasang mata elang Adrian seketika menyipit tajam. Ia menggeser layar ponselnya, mengangkat panggilan tersebut tanpa mengeluarkan suara pengantar.
"Tuan Adrian, kami baru saja menemukan sebuah celah pengintaian di tebing barat," buka Marcus langsung pada inti masalah, melaporkan penemuan kamera pengintai jarak jauh berdaya satelit tersebut.
Mendengar laporan bahwa ada sisa-sisa mata-mata digital yang berhasil mengambil visual dari dalam area vilanya, rahang Adrian mendadak mengeras. Urat-urat di pelipisnya menegang, dan aura dingin yang sangat mengintimidasi seketika menguar memenuhi seluruh sudut ruangan kerjanya yang mewah.
"Apakah kamera itu sempat mengambil gambar wajah Alena atau detail di dalam area paviliun terbuka siang tadi, Marcus?" tanya Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, namun bergetar oleh kemarahan protektif yang tertahan di dalam tenggorokan.
"Tim siber kami baru saja selesai meretas memori penyimpanan internal kamera tersebut, Tuan," jawab Marcus dengan nada suara yang tetap profesional namun berhati-hati. "Berdasarkan analisis log pencitraan, lensa mereka sempat mengambil beberapa frame gambar siluet Nyonya Alena dari jarak jauh saat beliau sedang duduk membaca buku di tepi kolam renang siang tadi.
Namun, karena jarak pengintaian yang mencapai tiga ratus meter dan pencahayaan sore yang sangat kontras dari arah barat, detail fisik maupun tanda-tanda kehamilannya belum terlihat dengan jelas secara medis. Gambar tersebut terlihat seperti foto siluet estetis seorang wanita biasa."
Marcus menjeda ucapannya sejenak sebelum menambahkan informasi yang paling krusial.
"Masalahnya adalah, gambar siluet tersebut sudah terlanjur terkirim secara otomatis melalui jaringan satelit ke sebuah peladen (server) data privat milik divisi keamanan internal Dewangga Group di Jakarta sekitar tiga puluh menit yang lalu, sebelum tim kami berhasil memotong jalurnya."
Brak!
Adrian mengepalkan tangan kanannya, menghantam meja kerja kaca di hadapannya dengan kekuatan yang cukup keras hingga menimbulkan bunyi dentang yang bergaung di dalam ruangan. Mata elangnya menyalang penuh kilat amarah yang siap menghancurkan siapa saja.
Baskoro Dewangga benar-benar tidak mengenal kata menyerah; pria tua itu bersedia menggunakan metode kotor apa pun, mulai dari intimidasi finansial, penggerebekan fisik, hingga penanaman mata-mata digital independen demi bisa mengorek informasi tentang rahim Alena.
Bagi Baskoro, gambar siluet Alena di tepi kolam renang itu mungkin belum menjadi sebuah bukti medis yang sah, namun foto itu sudah lebih dari cukup untuk mengonfirmasi bahwa Alena memang berada di dalam vila tersebut bersama Adrian, dan bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dari publik Jakarta.
"Hancurkan perangkat itu sekarang juga, Marcus. Bakar seluruh komponen elektroniknya hingga tidak tersisa," perintah Adrian dengan nada yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah di dalam nadi siapa pun yang mendengarnya.
"Dan mulai detik ini, lakukan penyisiran ulang menggunakan drone pemindai termal berskala penuh di seluruh area tebing tanpa ada satu pun jengkal tanah yang terlewat. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, pastikan tidak ada satu pun celah lensa atau pasang mata yang bisa mengarah ke dalam area halaman dalam vila ini lagi. Jika kamu membutuhkan tambahan personel dari Singapura, datangkan mereka besok pagi menggunakan helikopter privat!"
"Dimengerti, Tuan Adrian. Operasi pembersihan siber dan penyisiran drone skala penuh akan langsung kami eksekusi malam ini juga. Area akan kami pastikan steril total sebelum matahari terbit," jawab Marcus dengan penuh rasa hormat sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon satelit tersebut.
Adrian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya dengan gerakan yang kaku. Ia berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mendekati dinding kaca besar yang menatap langsung ke arah kegelapan samudra. Kedua tangannya bertumpu kuat di atas pinggiran meja, napasnya memburu berat oleh gelombang emosi yang bergejolak di dalam dadanya.
Mendengar suara detak jantung anaknya di ruang medis bawah tanah pagi tadi telah mengubah seluruh prioritas hidup Adrian.
Janin itu bukan lagi sekadar subjek abstrak di dalam sebuah skandal kesalahan satu malam; melainkan sebuah kehidupan nyata, darah dagingnya sendiri yang sedang berjuang untuk bertumbuh dengan suci di balik perlindungan dinding beton vilanya. Dan kenyataan bahwa privasi tempat pelarian mereka sempat dinodai oleh lensa kamera suruhan ayahnya membuat naluri kebinatangan dan protektif Adrian sebagai seorang pria dewasa bangkit dengan kekuatan penuh.
Ia menyadari bahwa perang ini tidak akan pernah selesai selama Baskoro Dewangga masih merasa memiliki kendali atas takdir hidupnya. Penangkapan tim Dika sore kemarin ternyata belum membuat sang raksasa di Jakarta jera; sebaliknya, hal itu justru memicu Baskoro untuk menggerakkan bidak-bidak catur terselubung yang lebih agresif.
Adrian membalikkan badannya, menatap pintu kayu ek ruang kerjanya yang tertutup rapat. Di bawah sana, di ruang makan utama, Alena kemungkinan besar sedang menunggunya untuk melanjutkan makan malam mereka.
Adrian menarik napas panjang, mencoba memejamkan matanya selama beberapa detik untuk menekan seluruh riak kemarahan dan atmosfer ketegangan militer dari wajahnya. Ia tidak ingin membawa aura peperangan luar itu ke hadapan istrinya; ia telah berjanji untuk menjadi pelindung yang meneduhkan, bukan pembawa kecemasan baru di dalam rumah mereka.
Dengan langkah kaki yang perlahan disetel agar kembali relaks, Adrian membuka pintu ruang kerja dan melangkah menuruni anak tangga, bersiap untuk menghadapi Alena dengan topeng ketenangan seorang suami sejati, meskipun di dalam benaknya, strategi pembalasan yang jauh lebih mematikan terhadap Jakarta kini telah resmi ia susun di atas papan catur takdir mereka. Peperangan di atas tebing Uluwatu baru saja memasuki babak yang paling krusial, dan kali ini Adrian dipastikan tidak akan menyisakan ruang sedikit pun bagi musuh-musuhnya untuk bisa bernapas dengan lega.