NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:862
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C026: Lima Tahun Yang Sepi

...Selamat Baca...

Sore itu udara di beranda belakang terasa sangat teduh. Angin sepoi‑sepoi membelai dedaunan tua di sekitar kediaman, membawa aroma tanah basah dan bunga liar khas kaki bukit.

Semua peralatan perekam sudah dimatikan dan disimpan di ruangan lain; Leo, Ryan, serta anggota tim lainnya beristirahat di ruang tamu depan,

Memberikan ruang pribadi yang utuh bagi masing masing keluarga kecil itu. Liana bersama ayahnya Gerald, dan Viviane bersama putra angkatnya Alexander.

Mereka berkumpul bersama, dan menikmati sore hari ketiga, pada tanggal 3 september. Musim yang berganti mulai merubah beberapa tanaman hijau menjadi kemerahan. Menandakan musim panas berakhir, dan musim gugur tiba.

Yang tersisa Liana, Alexander, Viviane, dan Gerald mereka duduk di di sofa balkon teras rumah tua. Tidak ada hal lain, mereka hanya duduk untuk menikmati sore.

Tidak ada aturan duduk, tidak ada sapaan kaku—hanya keheningan yang perlahan menyapa, seolah memanggil segala hal yang selama ini terpendam untuk akhirnya terucap.

Liana menatap wajah ayahnya lekat‑lekat. Meskipun penampilannya kini tampak muda, tegap, dan bersinar, matanya masih menyimpan bayangan lelah yang tak bisa disembunyikan.

Ia perlahan mengulurkan tangan, menggenggam jemari Gerald yang terasa kasar namun hangat. “Ayah… apakah Ayah ingin bercerita?” tanyanya pelan, suaranya lembut namun tegas.

“Tentang apa yang terjadi selama kita terpisah? Aku siap mendengarkan apa saja. Aku tidak akan menghakimi.”

Gerald menatap putrinya, lalu mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengangkat beban batu yang dipikulnya bertahun‑tahun lamanya.

“Semua bermula saat kau berusia tujuh belas tahun, Liana…” suaranya terdengar berat dan bergetar.

“Saat itu aku menemukan kenyataan pahit yang menghancurkan seluruh duniaku. Ibumu, Elena… ternyata selama ini berselingkuh."

"Hatinya sudah bukan milikku lagi.”

Ia terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah.

“Kami bercerai tak lama setelah itu. Aku hancur lebur. Aku tidak tahu harus ke mana, harus berbuat apa."

"Dulu aku berpikir dengan minum, berjudi, dan melupakan segalanya, rasa sakit itu akan hilang. Tapi ternyata aku hanya menggali lubang yang lebih dalam untuk diriku sendiri."

"Utang menumpuk, dan aku semakin terjerat, semakin terpojok, semakin tenggelam dalam kegelapan...”

Gerald menunduk dalam, air mata mulai membasahi matanya.

“Sampai akhirnya aku benar benar berani mengambil langkah besar, aku meminjam uang dari keluarga Sterling."

"Aku pikir aku bisa melunasinya. Tapi ternyata tidak. Saat mereka menagih dan aku tak punya apa‑apa…"

"Aku melakukan hal paling menjijikkan dalam hidupku. Aku menyerahkan kau, putriku sendiri, sebagai jaminan utang.”

Suaranya pecah, tangannya gemetar dalam genggaman Liana.

“Saat kau pergi dari hadapanku setelah beberapa bulan… barulah aku sadar sepenuhnya apa yang sudah kubuat."

"Aku kehilangan segalanya. Kehancuran rumah tangga, kehancuran diriku sendiri, dan yang paling menyakitkan—aku kehilangan hak untuk menjadi ayahmu yang baik."

"Aku menyesal setiap detiknya, Liana. Setiap detiknya.”

Keheningan melanda sejenak. Namun Liana tidak melepaskan genggamannya. Justru ia bangkit, bergerak duduk di samping ayahnya, lalu memeluk lengan Gerald erat‑erat.

“Aku tahu, Ayah,” bisiknya di sela isak tangis pelan.

“Aku tahu saat itu Ayah juga sedang hancur. Aku tahu Ayah tidak memiliki niat jahat. Aku tidak pernah membencimu. Aku hanya… selalu rindu ingin berada di sampingmu.”

Kata‑kata itu seolah menjadi kunci yang membuka pintu damai di hati Gerald. Pria itu menangis sejadi‑jadinya,

Memeluk putrinya dengan rasa syukur yang tak terlukiskan. Viviane mengusap sudut matanya yang ikut berkaca‑kaca,

Sementara Alexander tersenyum tipis, menatap mereka dengan penuh kelegaan.

Setelah emosi perlahan mereda, giliran Liana yang mulai bercerita. Ia menceritakan lima tahun yang panjang di kediaman keluarga Sterling:

Tatapan merendahkan, hinaan karena dianggap mandul, kesepian yang menyakitkan, serta bagaimana Alistair semakin menjauh dan akhirnya melupakan keberadaannya sepenuhnya.

“Banyak hal yang membuatku ingin menyerah,” tuturnya pelan, lalu menoleh ke arah Alexander dengan senyum yang mulai merekah.

“Tapi sampai akhirnya… ada seseorang yang datang.”

Liana menatap wajah pria di sebelahnya, lalu menahan tawa sejenak sebelum melanjutkan ceritanya dengan nada yang sedikit jahil.

“Kalian tahu? Saat itu, di sebuah pesta besar perayaan kehamilan Seraphina hamil besae, saat aku sedang bersembunyi di ruangan sepi karena aku sudah ingin menyerah…"

"Orang ini tiba‑tiba muncul. Wajahnya dingin sekali, datar seolah tak punya perasaan. Tapi tahukah kalian apa yang dia katakan padaku?”

Ia berhenti sebentar, menahan kegembiraan melihat Alexander yang mulai curiga. "Apa yang akan kau katakan?" kata Alexander mencoba menyela,

Liana membungkamnya dengan sebuah buah yang dia kupas setelah pelayan membawa buah buahan. Sampai Alexander tidak bisa bicara karena harus mengunyah buahnya.

“Dia bertanya dengan sangat serius: ‘Kenapa kamu tidak bercerai saja?’ Padahal saat itu aku belum berani memikirkan hal itu sedikit pun."

"Dan yang lebih hebat lagi… setelah mengaku sudah mencintaiku sejak hari pernikahanku sendiri…"

"Dia dengan berani menyarankan agar aku kabur bersamanya!”

Tawa kecil Liana pecah di udara.

“Bayangkan! Dia mengajakku lari malam itu juga, meninggalkan segalanya, memulai hidup baru. Padahal saat itu… aku adalah istri sah keponakannya sendiri, Alistair!”

"Kami bahkan belum resmi bercerai, Dia sudah mengajakku kabur duluan." kata Liana sambil tertawa kecil.

Seketika suasana beranda itu hening sejenak. Namun detik berikutnya—

“Hahaha! Astaga, Alexander!” Viviane tertawa terbahak‑bahak hingga pundaknya berguncang, menutup mulutnya dengan tangan tak percaya.

“Kau benar‑benar berani saat itu ya!”

Gerald pun ikut tertawa lebar, matanya berbinar di sela sisa air mata. “Membawa kabur istri keponakan sendiri… benar‑benar keberanian yang tak terduga!”

Bahkan dari arah pintu belakang, terdengar suara tawa tertahan dari beberapa kru yang kebetulan lewat dan tak sengaja mendengarnya.

Sedangkan Alexander? Masih dengan mengunyah buah, wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini memerah padam seperti tomat matang.

Ia buru‑buru menundukkan kepala, menutupi separuh wajahnya dengan satu telapak tangannya, terlihat sangat malu namun tak bisa menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya.

“Saat itu… aku hanya berpikir kau harus selamat,” gumamnya pelan, suaranya terdengar samar dari balik telapak tangannya.

“Tidak ada rencana lain di kepalaku saat itu. Aku hanya ingin kau bebas dari sana.”

Melihat tingkah laku pria yang biasanya dingin itu, tawa mereka semakin meledak, mengusir sisa kesedihan yang tadi sempat menyelimuti hati.

Perlahan tawa itu mereda, digantikan kehangatan yang tenang. Gerald menatap Alexander dengan tatapan yang kini penuh rasa hormat dan kasih sayang.

Ia mengulurkan tangan, menepuk bahu pemuda itu dengan lembut namun mantap. “Terima kasih, Tuan Alexander,” ucapnya tulus.

“Terima kasih sudah berani melakukan langkah besar itu. Terima kasih sudah menjaga putriku, saat aku sendiri tak sanggup melindunginya.”

Alexander mengangkat wajahnya, merah di pipinya perlahan memudar digantikan ketenangan yang hangat.

Ia menatap Gerald, lalu Liana, dan mengangguk pelan. “Itu adalah hal paling tepat yang pernah kulakukan.”

Matahari kini semakin condong ke barat, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyelimuti keempat orang itu.

Luka masa lalu belum hilang sepenuhnya, namun tidak lagi terasa tajam menyakitkan. Di kediaman tua ini, di bawah langit Virlan yang sama,

Benih‑benih kebahagiaan baru mulai tumbuh kembali—kini dengan akar yang jauh lebih kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!