NovelToon NovelToon
JODOH PILIHAN AYAH BUNDA

JODOH PILIHAN AYAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:6.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Binti Ulfa

Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkunjung

SELAMAT MEMBACA

Malam ini semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah sambil menonton tivi. Tak terkecuali Baby Aam yang ada dipangkuan Sofi, dan Baby Ra didalam stroller bayi dan ditunggui mbak Rumi, pengasuh mereka. Sedangkan Izzah di samping Sofi sibuk mentoel toel dagu baby Aam dengan gemas, sehingga baby merasa terganggu lalu mengerucutkan bibirnya lucu.

Tubuh kecilnya menggeliat dan bibirnya yang mungil bergerak gerak sehingga membuat Izzah tak tahan untuk tidak mengucel ngucel pipinya, akhirnya si bayi benar benar terusik dan menangis. Bibirnya yang menyebik membuat Izzah bukannya kasian malah memperlebar senyumnya. Benar benar Onty yang menyebalkan bukan?

Mama Sarah dan Papa Hendra yang menyelonjorkan kaki duduk di karpet lelah karena seharian bekerja, menoleh pada Izzah.

" Izzah, daripada kamu ganggu si kembar tidur, sini! Lebih baik kamu mengurut bahu papa nih. Pegal bahu Papa, ada manfaatnya." ucap Pa Hendra menarik narik tangan Izzah.

" Uhh papaaa, masa sih tiap hari pegal pegel, perasaan baru kemarin Izzah pijit. Kayak jadi tukang pijit beneran dong akunya, Pah!" jawab Izzah sambil cemberut. Namun tak ayal Izzah menghampiri Papanya dan memijit mijit bahunya.

" Tapi, ya gak apa sih, asal uang sakunya ditambah," berubah mode senyum senyum gaje.

" Boleh boleh, asal Mama juga dipijitin tiap hari!" Mama Sarah ikut menyahut.

Izzah :" Ya Tuhan, ini beneran aku jadi tukang pijat nih?" memutar bola matanya jengah.

Papa Hendra, Mama Sarah dan Sofi tertawa, sedang mbak Rumi senyum senyum di kulum mendengar obrolan majikannya.

Sofi :" Asal gak ada plus plus nya ya Zah, hehehe."

Izzah :" Tergantung plus nya apa? terserah, yang penting bisa bikin orang ketawa aja. Puas puasin ya ketawanya semuanya aja," Izzah merajuk.

"Cieee! yang tadi bersemu merah waktu di godain dia!" bisik Sofi ganti menjahili adik iparnya. Ia melihat tadi Izzah yang merona wajahnya saat bertemu dan berbincang dengan Marwan. Sofi melihat ada bunga bunga di hati Izzah yang bermekaran saat bersama Marwan. Biasanya ia adalah korban kejahilan duo kakak beradik, Faiz dan Izzah. Dan sekarang ia membalas sang adik.

"Apaan sih, mbak!"

Sofi " Eh, nanti habis mijit Mama sama Papa, aku juga mau dong Zah di pijitin kamu. Aku juga pegel nih, tiap hari jaga keponakanmu ini!" belum puas Sofi menggoda Izzah.

Izzah, " Keponakanku? Lah dia berdua kan anaknya mbak."

" Baby Ra yang cantik dan Aam yang ganteng! Ntar Mamamu pijitin sendiri ya, katanya capek tuh jaga kalian." Baby Aam menoleh pada Onty nya.

"Huhuhu, Nasib aku, kenapa sih aku selalu ditindas, suruh inilah suruh itulah. Dasar nasib rakyat jelata!" Izzah pura pura sedih, sambil masih terus memijit pundak Papanya.

Sofi :" caya cuka, caya cuka, caya cuka gaya Onty !" Sofi meniru suara anak kecil sambil senyum melirik Izzah..

Izzah :" Pada seneng banget ya kalau aku menderita? udah aku cuman jadi pemeran pembantu lagi."

Dih ya aku mau protes ah ke authornya " (Eh ya! nyambung gak sih wkwkwk. Ini authornya lagi sepaneng) Mode gak serius lagi ini.

Malam itu mereka bercanda dan bergurau setelah sekian lama seisi rumah selalu murung dan berkabut mendung sejak kepergian Faiz.

Sementara itu ditempat lain,

Farhan " Wan, aku kok kangen sama anak anaknya Sofi, pantes gak ya kalau aku kesana nengok mereka?" Farhan duduk bertopang dagu. Sedang tangan kanannya masih memegang pensil dan kertas gambar teronggok di atas meja didepannya.

Hari ini ia benar benar susah dapat inspirasi. Pikirannya berlarian mengingat masa lalunya yang udah hampir terkubur namun kini datang lagi.

Marwan " Cieee, yang lagi kangen. Kangen anaknya apa kangen sama ibunya?" goda Marwan pada kakaknya. Mereka baru saja pergi ke luar kota menemui klien yang tertarik dengan desain rumah yang Farhan buat dan meminta sedikit perubahan karena lokasi tanah tak memadai.

Farhan :" Dua duanya sih! Eh tiga ding," kata Farhan meralat omongannya masih dengan menopang dagu.

Marwan " Kalau sekarang kan kira kira sudah lebih 4 bulan ya? kalau perempuan cerai atau ditinggal mati suaminya, kan mereka udah selesai masa iddahnya, jadi kalaupun seorang perempuan mau nikah kayaknya udah boleh dilamar tuh!."

Farhan " Kayaknya Sofi gak bakalan semudah itu, terakhir kita ke sana aja dia sinis dan juteknya minta ampun. Padahal dulu itu dia janji setia dan cinta mati sama aku, ternyata Alloh lebih Maha membolak balikkan hati manusia ya!"

" Yang semula benci jadi cinta, yang semula cinta setengah mati, bisa jadi saling benci. Kita tak pernah tahu, bahkan dulu Faiz yang semula dia benci, sekarang dia cinta dan rindu keberadaannya."

Marwan :" Ya, Bang. Alloh juga membolak balikkan hatiku Bang!" Marwan berubah menjadi mode serius.

Farhan :" Maksudnya?"

Marwan :" Sekarang aku menyesal kenapa kuliah di FISIP, kenapa gak dulu di Fakultas Tehnik saja biar kayak Bang Farhan. Jadi arsitek, penghasilan gede, sering dapat bonus, udah punya mobil sendiri, tabungan udah banyak, rumah juga hampir jadi, cuman satu yang belum!"

"Bini alias pendamping hidup alias guling bernafas alias istri alias apa lagi ya ....?"

Sebuah tepukan keras hinggap di bahu Marwan." Aaaww, sakit mas,"

Farhan :" Kamu jangan begitu, Nasib manusia itu tak ada yang tahu Wan! Hidup, Jodoh, rezeki dan mati itu kan Rahasia Alloh, tak ada manusia yang tahu siapa jodoh kita, bagaimana rezeki kita, kapan kematian kita? Yang kita diharuskan itu usaha dan doa, agar menjadi yang terbaik." Pak Ustadz lagi ceramah.

"Lagi pun kalau kau kuliah di Fisip kamu kan bisa jadi anggota legislatif misalnya, enakkan jadi abdi negara, punya tunjangan, punya gaji tetap. Bisa berkarir di pemerintahan."

Marwan :"Eh, katanya tadi mau ke rumahnya mbak Sofi, hampir kelewat beloknya mas. Jadi nggak?"

"Oh iya. Ya jadilah. Biarpun dijutekin, tapi ngangenin." Farhan terkekeh mengingat perlakuan Sofi akhir akhir ini.

"Aku juga mau ketemu Izzah, anaknya asyik diajak ngobrol. Dia gak beda bedakan temannya semua sama !"

Farhan :" Rupanya kamu cukup dekat ya sama adik iparnya Sofi, kalau kamu jadian sama dia, trus aku sama mbaknya, kan kita bisa jadi doubledate. hehehe ," Farhan bicara sambil berbelok arah ke kompleks rumah elit dimana rumah Mama Sarah berada.

Marwan, " Memang mbak Sofi mau gitu ngedate sama mas?" mereka tertawa berdua, sebelum masuk halaman rumah Mama Sarah.

"Ya, doain dong! Aku betah ngejomlo kalau dia masih terus nolak aku!" keluh Farhan.

"Siapa suruh. Lagian yang single banyak yang mau, malah ngejar ngejar perempuan punya buntut dua. Emang enak."

"Ya, namanya juga cinta Wan, Nanti kamu bisa ngerti sendiri kalau sudah jatuh cinta. Ada yang bilang, kalau cinta sudah melekat taik kucing pun rasanya coklat!"

"Kalau udah cinta, tukang ngaritpun di pandang serasa seganteng David Beckham, hahaha!" menggelegar tawa kedua pria itu.

Mereka masih tertawa cekikikan saat mobil sudah memasuki halaman rumah Mama Sarah. Di depan terlihat sangat sepi.

Farhan :" Assalamualaikum!" ucap Farhan di depan pintu utama. Tak ada sahutan sehingga Marwan memencet bel rumah.

Tak berapa lama mbak Santi membukakan pintu.

Farhan :" Assalamualaikum mbak, apa mbak Izzah nya ada?"

Mbak Santi:" Waalaikum salam. Oh, nyari Non Izzah ya. Ada, sebentar saya panggilkan. Maaf, dari mas siapa ya?" mbak Santi memandang kedua pria didepannya bergantian.

Farhan :" Bilang saja, Marwan yang datang ya mbak." Marwan mendelik kearah Abangnya dan protes tanpa suara.

"Loh, kok aku Bang!" mbak Santi terbengong di depan pintu menatap kedua tamunya yang berdebat itu bergantian.

Mbak Santi:" Iya sebentar, kalau begitu silahkan masuk mas, monggo!" Mbak Santi segera berlalu ke ruang tengah setelah Farhan dan Marwan masuk dan duduk diruang tamu.

"Abang ini, ngeselin ya, masak aku yang dikorbankan! Yang mau ketemu kan Abang mau ketemu mbak Sofi." bisiknya dengan jengkel pada abangnya.

"Lah, kan kamu juga mau ketemu Izzah. Terus nanti minta tolong dia panggilin mbaknya, gampang kan!" ucap Farhan tak mau kalah, dan tersenyum senang manakala Marwan cemberut mukanya.

Tak berapa lama Izzah datang dan terkejut melihat siapa yang datang.

"Loh, bang Farhan, mas Marwan. Mau ketemu mbak Sofi kan? Biar aku panggilkan." Izzah yang grogi karena ada Marwan ia langsung ngeloyor pergi lagi, dan dipanggilnya Sofi untuk ke ruang tamu. Tak berapa lama Sofi datang dengan alis mengerut dengan baby Aam ada di gendongannya.

Sofi :" Mas Farhan, dek Marwan! Loh, kalian kenapa malam malam kesini?" tanya Sofi dengan raut heran.

Farhan :" Assalamu'alaikum Sofi, apa kabar? Gimana keadaan Aam dan Meera?" Farhan tak menanggapi pertanyaan Sofi.

"Waalaikum salam. Alhamdulillah mereka sehat mas."

Farhan :" Nggak kok, Ini aku cuman nganterin Marwan katanya mau ketemu Izzah." kata Farhan membuat alasan.

Kalau aku sih mau ketemu kamu.

Marwan menyikut perut kakaknya kesal,

Marwan :" Kok jadi aku mas? mas Farhan kan tadi yang bilang kalau mau ketemu baby kembar katanya kangen," Duuh Marwan gak tau orang lagi bingung nyari alasan, batin Farhan. Farhan nyengir dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ah, nggak kok. Kita memang ada perlu semua. Aku kangen si kembar, terus dia juga mau ketemu Izzah!" Izzah yang baru datang dengan dua gelas teh diatas nampan tersenyum.

Keempat orang duduk berhadapan.

"Diminum dulu tehnya, mas!" keduanya mengangguk dan mengucap terimakasih.

Farhan:" Begini Sofi dan, Izzah. Aku sama Marwan baru pulang dari luar kota, nah kebetulan lewat jalan dekat sini, terus reflek kami mampir."

"Karena tadi Marwan bilang pengen ketemu Izzah, terus aku juga kayaknya pengen liat perkembangan baby Aam sama Ra. Sebab itulah kami mampir, maaf ya kalau kami ganggu malam malam begini!" Sofi berwajah datar menanggapinya, sedang Izzah terlihat mukanya bersemu merah, sambil mencuri pandang pada Marwan dan sebaliknya.

"Ini baby Aam? udah tidur ya?" merasa dibicarakan bayi itu berusia empat bulan lebih itu menoleh. Memandang Farhan.

Farhan tersenyum ke arahnya." Waah, belum tidur rupanya. Aku bolehkan memangku Baby Aam, Sof?" pinta Farhan. Bayi itu tersenyum lebar, menampilkan gusi merahnya.

Farhan tertawa." Waah, lucu sekali anak kamu, Sof! udah umur 4 bulan kan dia, sekarang?" Sofi mengangguk menatap putranya.

Itu artinya kepergian mas Faiz juga sudah empat bulan.

"Hai baby Aam, Om kangen nih." Farhan menggerak gerakkan mulutnya, hingga bayi itu tertawa. Farhan lalu mengulur tangan hendak menyentuh bayi itu.

Namun Sofi menjauhkan baby Aam dari jangkauan Farhan lalu menggeleng. Raut Farhan terlihat bingung.

Sofi:" Maaf, mas Farhan dari perjalanan jauh kan? Gak baik pegang bayi kalau baru bepergian apalagi dari luar kota, Mas Farhan bisa bersih bersih dulu baru boleh pegang." Farhan langsung tersenyum kecut.

Farhan:" Oh ya maaf aku lupa, boleh pinjam kamar mandi sebentar?"

Izzah menyahut :" Mas bisa ke kamar mandi ruang tamu yang paling dekat, mari saya antar, mas!" Izzah menunjukkan dimana kamar mandi, tak berapa lama Farhan kembali.

Setelah bebersih gantian dengan Marwan, Farhan mengambil Baby Aam dari Sofi lalu duduk di sofa panjang, bertiga dengan Marwan ditengah dan Izzah disebelah Marwan, sedangkan Sofi duduk agak jauh dari mereka bertiga.

Farhan :"Kaka, om panggil baby yang ini kakak ya, uuuuh lucunya," Baby Aam tangan kecilnya menggapai gapai wajah Farhan.

"Udah bisa apa nih cayangnya, Om?

" sambil menciumi baby Aam dipangkuan nya.

" Udah bisa tengkurap, Om!" Izzah yang menjawab. Sedangkan Sofi memperhatikan dalam diam mereka bercanda.

Farhan :" Waah, ponakan Om ternyata dah pinter ya. Berapa lama ya Om gak kesini liat kakak. Maaf ya, kita tadi gak bawa oleh oleh!"

"Kalau kesini lagi Om janji deh bakalan bawain hadiah buat kak Aam sama adek Ra!" Farhan mengoceh sendiri.

Memang bayi bisa ngerti bahasamu? Sofi.

Sofi :" Gak usah di biasain bawa hadiah mas, gak baik. Nanti anaknya bisa ketergantungan sama kamu." Sahut Sofi.

Farhan :" Kan cuma sekali sekali Sof, lagian aku belum pernah ngasih mereka hadiah,"

Sofi:" Mas Farhan, jangan pikir Sofi gak tahu mas, mas sering kan ngirimin mereka hadiah lewat Izzah dan Marwan? Izzah pura pura beliin mainan buat mereka, padahal semua itu dari mas Farhan!" nada suara Sofi seakan menuduh dan tak enak di dengar.

Farhan dan Marwan saling pandang. Tak menyangka Sofi tahu. Entah dari siapa. Farhan pun nyengir plus salah tingkah, Memang benar sih apa yang dikatakan Sofi kalau dia sering belikan mainan buat si kembar, tapi dia menyuruh Izzah dan Marwan tutup mulut dan mengatakan kalau Izzah yang belikan itu semua.

Farhan menatap Marwan dan Izzah bergantian, dan mereka berdua menggelengkan kepala, jadi kesimpulannya, Sofi tahu dari orang lain, tapi siapa?

Semula Farhan juga heran dengan Sofi yang duduk agak jauh dari mereka, tapi dia akhirnya mengerti kalau Sofi tak mau duduk berdekatan dengan laki laki, apalagi mereka pernah ada hubungan dan juga dengan statusnya.

Hampir setengah jam, mereka bertiga bercanda dengan baby Aam, sedangkan Sofi pergi menengok baby Ra. Lalu kembali lagi setelah agak lama.

Farhan ," Sof, aku mau bicara sebentar." Farhan menyerahkan baby Aam pada Izzah lalu mendekati Sofi yang beranjak dari tempat duduknya. Mereka duduk berdampingan, dan agak jauh dari pasangan Izzah dan Marwan yang saling bercanda. Rupanya baby Aam menjadi perantara mencairnya kekakuan Izzah dan Marwan.

"Sof, dulu kau baca surat yang aku selipkan di tas boneka yang aku kasih dulu itu"

"Yang waktu mau aqiqahan?" Sofi mengangguk mantap. Ia benar benar masih ingat.

"Bagaimana tanggapan kamu?"

Sofi :" Maaf mas, sudah kubilang aku sama sekali belum pernah memikirkan hal itu, waktuku habis untuk membesarkan dan merawat mereka berdua. Di dalam pikiranku mas Faiz masih hidup, walaupun kami berumah tangga dengan sangat singkat, hanya 8 bulan. tapi saat ini aku belum bisa berpaling darinya."

Farhan :" Belum bukan berarti tidak kan? masih ada kesempatan kan?" potong Farhan cepat, dan dia sangat optimis Sofi akan menerimanya kembali, mereka berpisah bukan karena ada orang ketiga atau ada salah satu yang menghianati, tapi karena memang orang tua Sofi yang menjodohkan dengan Faiz.

Sofi:" Mas, aku mohon jangan mendesak ku, carilah saja gadis baik baik untuk jadi istri kamu, kau lihat status kita sangat berbeda, kau masih bujang dengan karir yang sukses, sedang aku hanya seorang janda dengan dua anak, apa kata orang nanti?"

Farhan :" Jangan pernah berpikir tentang status Sof, dan jangan pikirkan reaksi orang. Aku takkan pernah mempermasalahkannya, aku juga mau menunggu , asalkan kamu mau memberiku kepastian."

Sofi :"Sudah kubilang jangan mendesakku mas."

Farhan :" Maaf!"

Kini mereka berdua duduk terdiam. Sofi menjalin kedua tangannya sambil menatap interaksi Izzah dan Marwan yang sudah cukup akrab dan tak canggung lagi.

Farhan memilih diam, sambil sesekali melirik wanita disampingnya. Rasa cintanya semakin tumbuh dengan subur. Dan berharap penuh wanita itu akan membalas perasaannya.

Farhan teringat dulu, bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sofi.

Saat itu Farhan telah bekerja menjadi sopir pribadi sembari kuliah dan tinggal menunggu wisuda. Ia mengikuti majikan perempuannya dengan beberapa tas belanjaan ditangannya. Setengah menggerutu karena ia memang tak begitu suka mengikuti wanita yang sedang berbelanja.

Pegang ini pegang itu, namun diletakkan kembali, tak jadi dibeli. Begitu seterusnya, ia mengikuti sang nyonya menyusuri pusat perbelanjaan, hingga saat didepan toko buku, ia tanpa sengaja menabrak Sofi yang terburu buru keluar dari toko bersama temannya. Saat itu Sofi sedang mencari buku untuk materi penunjang skripsinya.

Tabrakan antara lengan Farhan dan bahu Sofi tak dapat dielakkan, hingga Sofi yang sedang menerima telfon terpental ponselnya, hingga pecah layarnya.

Farhan meminta maaf, dan hanya memberikan nomor ponselnya untuk bertanggung jawab.

Semula Sofi merasa ragu, apa benar laki laki itu akan bertanggung jawab atas kerusakan ponselnya, namun ia mencoba menghubunginya dan diangkat. Ponsel Sofi memang bisa diperbaiki, namun biaya perbaikannya yang cukup mahal dan hampir sebanding dengan ponsel baru.

Akhirnya Farhan membelikan Sofi ponsel baru sebagai bentuk pertanggungjawabannya, dan setelah kejadian itu mereka menjadi cukup akrab dan akhirnya berpacaran selama hampir empat tahun.

Farhan adalah pria yang setia dengan satu cinta, mengingat ia adalah anak yang ditinggalkan pergi oleh ayahnya tanpa jejak saat berusia 10 tahun, ia bertekad untuk menjadi laki laki bertanggung jawab. Ia sangat benci pria yang tidak setia terhadap pasangannya, walaupun itu dalam konteks masih pacaran.

Bahkan ia putus persahabatan dengan salah seorang teman baiknya saat temannya itu kedapatan menduakan kekasihnya. Ia benar benar tak suka.

"Hei, Bang! Senyum senyum sendiri?" sapa Marwan adiknya mengagetkan Farhan dari lamunan.

1
Rahma Lia
Luar biasa
Adi Nugroho
sofi sama kayak aq kalau ngjdam nyiun bau ketiak gk mau makan nasi
Yeni Eka
mungkin Nisa salah paham aja x
Yeni Eka
selamat ya Sof, akhirnya hamil lagi
Yeni Eka
kayaknya sih iya Farhan lagi ngidam 😂
Yeni Eka
kaget ya Sof ternyata pak Dani ayah mertua mu. Awas jgn sampe kesedak baco merson ya Sof
Yeni Eka
Iya X Nad, nyalain kompor aja gak bisa. Nyalain yg lain bisa ga tuh?
Yeni Eka
Izah izah semoga kamu gak hamidun
Yeni Eka
Farhan enggak usah teriak-teriak kali
Yeni Eka
pelakor tiba
Yeni Eka
Alhamdulillah Akhirnya sah juga. Beruntung banget deh Sofi dpt bujangan
Yeni Eka
Batu sandungan menghampiri calon pengantin nih
Yeni Eka
Itu Jihan mantan nya Faiz kan
Yeni Eka
kok Farhan nyosor gtu sih org blm halal
Yeni Eka
mungkin ditolak dulu nanti ujung2nya diterima
Yeni Eka
luar biasa nih cowok kayak Farhan mau menyayangi anak mantannya
Yeni Eka
cerita nya beda. baru kali ini baca tokoh utamanya dibikin meninggal. Sayang banget padahal sama Faiz yg lagi mesra2 nya
Yeni Eka
akhirnya Farhan sama Sofi lagi ya
Yeni Eka
😭😭
Yeni Eka
Sofi yang kuat ya 😭. Baca sinopsisnya Faiz meninggal ya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!