Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Jodoh Ayah
"Done!"
"Sudah selesai, Lin?"
"Sudah, kamu bisa cek sekarang!"
Aku menyerahkan laptop Febri yang sempat eror di serang virus, hingga mengakibatkan beberapa tugas kuliahnya yang hampir selesai hilang. Dengan sedikit keahlian yang aku punya, aku bisa kembalikan seperti semula termasuk tugas kuliah Febri.
Febri adalah anak pertama pak Ujang, penanggung jawab Vila satunya. Pak Ujang dan keluarganya juga yang 3 bulan ini, banyak membantu aku dan ayah bagaimana cara mengolah villa.
Bahkan Febri dan ambunya, yang mengajariku mengolah catering untuk para penyewa villa, yang bisa menambah pemasukan buat tabungan pribadi ku, selain job dari hacker.
"Aku kok gak percaya kalau kamu cuma lulusan SMA, apa jangan-jangan kamu sudah pernah kuliah, tapi sedang cuti kuliah."
Aku tertawa renyah mendengar ucapan Febri, setelah selesai melihat tugas kuliahnya kembali seperti sedia kala.
"Aku belum pernah kuliah, tapi aku pernah bekerja di warnet hampir 5 tahun atau malah mungkin lebih. Dari sana aku sedikit paham mengenai programmer, perangkat komputer, laptop dan sejenisnya, ya maklum sering otak-atik kalau rusak." jujurku, selain emang aku sudah hobby dengan teknologi sejak dulu.
Jika sebelum ayah jatuh miskin, aku hanya bermain dengan satu laptop dan satu komputer yang ada di rumah, tapi sejak bekerja di warnet pengetahuanku jadi bertambah.
"Berarti bisa betulin HP dan laptop atau komputer yang rusak, dong?"
"Hehe sedikit, tapi tidak yang rusak parah."
"Bagaimana kalau buka servis laptop dan HP, banyak temanku yang ngeluh laptop dan HP sering rusak, eh dia buang karena biaya perbaikannya lebih mahal."
"Tidak, aku tidak bisa bersantai nanti kalau harus jaga konter segala."
Jujur hidupku sekarang lebih santai, bahkan aku bisa memanfaatkan kolam renang di saat villa kosong.
"Mau kuliah gak?"
Aku terdiam berpikir, "umurku sudah mau 21 tahun ini, gak deh. Jadi yang paling tua, di antara yang lain kok, gak sanggup rasanya aku."
"Hai, apa kamu lupa, kalau sedang jalan berdua sama aku, kamu di kira adikku. Padahal kita seumuran." candanya, membuatku tertawa kecil.
"Belajar tidak mengenal umur," serunya, membuatku tertawa kecil dan membenarkan di dalam hati, apalagi tabunganku juga sudah lebih dari cukup, kalau untuk biaya kuliah.
"Kuliah bareng aku, yuk!" Febri lebih sering bolak-balik pulang dari puncak ke kota, meski di kota juga menyewa kosan.
"Kamu mau lulus, yang benar aja." ucapku membuatnya tertawa kecil.
"Ehh lihat bibiku, sejak kapan jadi akrab sama ayahmu, Lin?"
Aku langsung melihat kearah ayah yang sedang mengobrol dengan bibi Febri, yang merupakan adik pak Ujang.
"Sudah sebulan ini deh, kayaknya. Kan bibirmu yang membantu aku masak kalau sedang ada tamu di Villa."
Sebenarnya bukan membantuku, tapi membantu ayah. Karena selama ini ayah lah yang masak dan aku hanya membantu, karena aku juga masih harus banyak belajar dari ayah, tentang resep masakan.
"Pasti kamu jago masak ya, wah sepertinya bibiku banyak belajar masak darimu." tawa kecilnya, membuatku nyengir kuda.
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku juga sama kaya bibimu, tidak terlalu bisa masak."
"Jadi yang masak selama ini?"
"Ayah," ucapku membuatnya tertawa kecil.
"Ternyata sama aja ya, di rumah ku juga gitu." ujarnya membuat kami tertawa bersama.
"Jika mereka ada jodoh, dan ingin menikah kamu ijinkan tidak. Kan ibumu sudah menikah lagi?"
Aku terdiam, mendengar pertanyaan Febri, selama ini aku tidak pernah terpikir kalau ayah menikah dan punya istri lagi.
"Ya siapa tahu dengan menikah lagi, ayahmu bisa melupakan ibumu dan bisa hidup bahagia."
"Aku sih terserah ayah aja, asal ayah bahagia."
"Semoga mereka berjodoh ya, jadi kita bisa jadi keluarga." ujarnya membuatku menganggukkan kepalanya.
Bibi Febri dulunya seorang guru SMP swasta dan bernama Ayu, tapi memilih berhenti dan pindah ke puncak, setelah memilih bercerai daripada di madu suaminya.
Ternyata ucapan Febri menjadi kenyataan, sebulan kemudian ayah meminta ijin menikah padaku. Ayah yang sudah berusia 47 tahun dan bibi Ayu 40 tahun. Tidak ada perasaan sedih atau senang yang aku rasakan, aku setuju aja dan berharap ayah bahagia.
Tapi, sehari setelah menikah aku bisa melihat ayah tersenyum, senyum yang sudah lama tidak pernah aku lihat, saat bibi Ayu menyiapkan sarapan dan melayani ayah sarapan, yang tidak pernah ibuku lakukan untuk ayah..
"Bibi tidak keberatan di ajak ayah hidup susah, hanya menjadi penjaga Villa?"
Bibi Ayu tersenyum dan melihat kearahku. "Hidup susah, tidak di lihat dari pekerjaan atau materi yang dia punya. Karena di saat kita bahagia atau tidak, hanya diri kita yang tau."
"Apa bibi bahagia bersama ayahku?"
"Bibi tidak bisa bilang iya karena kami baru nikah, tapi Bibi merasa nyaman dan di hargai sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri oleh ayahmu. Menikah dengan ayahmu, bibi juga dapat bonus kamu." candanya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya, Bibi Ayu janda tanpa anak, bukan karena mandul. Karena pernah punya anak dan meninggal saat masih bayi, karena penyakit jantung bawaan, juga pernah keguguran.
Itu juga salah satu pertimbangan ayah mau menikah lagi, karena tidak harus membagi kasih sayangnya dengan anak tiri.
"Aku berdoa untuk kebahagiaan ayah dan Bibi, semoga segera di beri momongan dan aku punya adik." candaku, membuat ayah yang sedang minum kopi langsung tersedak dan Bibi Ayu melotot.
"Bibi sudah 40 tahun, gak usah aneh-aneh ya."
"Kamu ini ya, kalau bercanda aneh-aneh aja. umurmu sudah 21 tahun, sudah pantas punya anak bukan punya adik."
"Apaan sih ayah ini, aku masih muda. Aku ingin mengejar cita-citaku."
Ayah langsung terdiam dan melihat kearahku. "Lin, tabungan ayah suda cukup buat bayar nak Rama. Jadi kamu bisa daftar kuliah tahun ini, kamu bisa jadi dokter atau wanita karier sesuai keinginan mu."
"Ayah...."
"Nanti malam Pak Juna dan keluarganya akan datang, katanya mau ngucapin selamat atas pernikahan ayah, jadi nanti kamu kembalikan uang nak Rama, ya."
"Tunggu pak Rama dan pak Juna apa hubungannya?"
Pak Juna adalah nama orang yang punya Villa, tapi aku belum pernah bertemu sama sekali dengan pak Juna, karena waktu dulu datang ke villa, aku sedang ke pasar bersama Febri.
"Tunggu, apa mereka ada hubungannya?"
"Pak Juna, adalah papanya nak Rama."
"Apa!" kagetku mendengar penjelasan ayah.
Seketika aku teringat pernah bertemu dan berkenalan dengan papa mamanya, pak Rama.
"Ya Tuhan kenapa aku gak ingat," sesalku.
"Ayah tidak pernah cerita, karena ayah pikir kamu juga sudah kenal, karena mereka bilang mengenalmu."
"Aku emang pernah kenalan, yah. Bahkan sama saudara kembar pak Rama, tapi aku tidak sangka mereka orang yang sama." ucapku dengan mengigit bibirku sendiri, menyesali kebodohanku yang kenapa baru tahu sekarang.
"Aku pikir beberapa bulan ini, aku sudah hidup menjauh dengan pak Rama, tapi ternyata dia anak majikan ayah."
"Tidak usah dipikirkan, keluarga mereka tidak pernah memandang orang dari status sosial. Habis makan kita ke pasar, kita belanja buat makan malam, masak ada tamu kita gak ngasih suguhan." kata Bibi Ayu.
"Apa aku menghindar aja ya, nanti malam. Aku ajak Febri jalan-jalan aja kemana, ya?" pikir ku, mencari jalan untuk menghindar.
"Ayo habiskan sarapannya, terus temanin Bibi ke pasar!"
"Ehh, iya bi."
Bibi Ayu dan ayah tidak mengharukan aku, untuk memanggilnya ibu demi kenyamanan ku.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in