NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DON'T FALL

Karel kembali ke rumah James dengan hati campur aduk. Ia merasa perlu bicara dari hati ke hati. Tapi saat membuka pintu, suara musik keras menghantam telinganya. Aroma alkohol dan asap rokok begitu menyengat. Rumah itu tampak seperti habis pesta. James duduk di lantai, dikelilingi botol kosong, dan tanpa ia ketahui ada seorang wanita asing yang sedang bersembunyi.

“James,” panggil Karel pelan, tapi tegas.

James menoleh, tidak langsung marah, tapi tatapannya kosong. Ia berpura-pura tahu Karel datang. Padahal ia sudah tahu dan sempat menyembunyikan wanita sewaannya. “Seneng, ya? Lo lebih dia milih dia, bukan gue.”

Karel mendekat, duduk di lantai di hadapannya. Mengelus pelan sudut bibir James yang basah juga sudut matanya. Nelangsa melihatnya semarah itu hanya karna memilih menemui Luz. “Gak gitu.” Karna kita semua korban perasaan yang kita gak ngerti sendiri arahnya ke mana.

James menatap Karel, seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya. “Dengan lo kayak gitu, secara gak sengaja ngasih dia harapan, Karel. Lu pikir... lu bisa bahagiain dia dengan kondisi lu yang gak bisa ng*ceng kalo sama cewe? Dia cewek hyper, gue tau itu, udah ke baca. Dia tetap milih lo, karna lo janjiin banyak hal yang menurut gue itu too much.”

Karel menggenggam tangan James. “Aku sayang kamu, kalau harus di perjelas, ke dia beda. Bukan seperti aku ke kamu, James. Maaf....”

James diam. Dada Karel sesak. Ia gak pengen kehilangan Karel, tapi di saat yang sama, dia tahu Luz sudah mulai berarti lebih dari sekadar istri pura-pura baginya, terlihat dari perhatiannya akhir-akhir ini. Tanpa ia sadari, ia melupakan bahwa Karel memang orangnya peduli akan hal kecil. “Perlahan tapi pasti dia bakalan jatuh cinta sama kamu, karna dia cewek normal. Beda sama kamu.”

“Aku tetap sama kamu James.” Karel menangkup pipi James, memandangnya sesaat lalu mengecup singkat bibirnya.

James memejamkan mata. Menikmati sentuhannya, untungnya ia tahu kalau Karel bakalan beneran Dateng jadi bisa pulang cepat dari diskotik. “Aku capek, Karel.”

Karel mengangguk. “Istirahat.” Ia pun memeluk James erat. Dan saat itu, wanita yang bersembunyi mengendap keluar membawa chek yang James berikan.

--✿✿✿--

Karel memang terbiasa selalu bangun pagi mau jam berapa pun ia tidur. Ia mengucek matanya dan memencet room chat Luz.

Luz: pin kartunya apa?

Karel ingat, ia membalasnya cepat. Lalu beranjak turun. Mengusap kepala James, mengecup dahinya singkat lalu pergi. Sebelum Luz berangkat ke Bandung. Di chat gak di bales di telepon gak di angkat.

Menghubungi Mireya sama belum di jawab. Akhirnya ia hubungi sopirnya.

“Hallo Pak, pagi ada apa?”

Karel kini sudah di dalam mobilnya, tengah parkir. “Luz udah pergi belum? Saya telepon dia gak di jawab.”

“Orang masih pada tidur Pak.”

“Oke saya kesana sekarang. Soalnya ada perlu penting.”

Tanpa cuci muka dulu, Karel benar-benar pergi begitu saja. Ada hal yang menurutnya penting harus di kerjakan. Jadi ia bergegas kesana tanpa pulang dulu.

Cuman mampir beli bubur. Setelah tahu riwayat kesehatan Luz dari hasil pemeriksaan dari dokter yang ia temukan waktu itu. Selalu kelupaan. Sampai di rumah Mireya, ART nya mempersilahkan masuk, jadi bisa ikut ke kamar mandi buat cuci muka. Ya masih gantenglah aman.

“Eh ada lo?” Mireya keluar dari kamar dengan wajah bantalnya. “Mau ketemu Luz? Masih tidur dia, samperin aja gapapa.”

Karel meletakkan semangkuk bubur hangat di samping Luz, uapnya mengepul pelan seperti embusan napas yang lembut. “Luz gue tau kalo lo punya pola makan gak sehat, cuman mau ngingetin, biar anak lo gak stunting, banyak makan yang bergizi,” ucapnya tanpa menatap, tapi nada suaranya hangat, pelan, dan... terlalu tulus hingga membuat mata Luz yang terlelap nyenyak perlahan membuka mata.

Luz mengangguk pelan, tak tahu harus berkata apa. Ia menatap sendok, lalu menatap wajah Karel sekilas—wajah yang selama ini dingin, sekarang terlihat seperti manusia yang bisa peduli.

Bahkan mungkin... bisa disayang. Luz rasa ini terlalu berlebihan jika hanya perhatian biasa. Mengapa dirinya jadi berpikir seperti ini? Ada atmosfer apa yang ia rasakan di hatinya.

Jangan... jangan sampai dirinya jatuh cinta.

Tapi sialnya, hati Luz mulai bergerak. Bukan sekadar berdebar karena kebaikan tiba-tiba, tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya ingin bertahan lebih lama di momen itu. Dan itu... menakutkan.

Dia menunduk, jantungnya berdebar tak beraturan, memaki dirinya sendiri dalam hati. Luz membuang pandangan, kenapa—kenapa dia begitu perhatian membuatnya terenyuh seketika? Apa mungkin ini bentuk sandiwaranya.

Luz enggak boleh, jangan. “Dia pacarnya James. Dia enggak bisa semudah itu jatuh hati sama lo, Luz. Jangan bodoh,” makinya dalam hati.

Karel duduk di ujung ranjang memainkan sendoknya. Tidak ada obrolan, hanya keheningan yang anehnya... tak mengganggu.

Tiba-tiba, Luz merasa ingin menangis. Karena damai seperti ini tak pernah ia punya sebelumnya. Dan karena ia tahu, damai ini bukan miliknya. Ini hanya sementara dan ia ingin semua ini abadi, tapi mustahil.

“Kamu kenapa diem?” suara Karel pelan.

Luz menggeleng cepat, lalu tersenyum palsu. “Gapapa... Cuma lagi mikir.”

Tapi dalam hati, ia berkata sekuat hati. “Jangan jatuh. Jangan berharap. Jangan jadi lemah lagi, cinta itu bulshit.”

“Gue bukan orang sakit gausah di suapin,” pinta Luz sambil duduk. Cuman Karel maksa sekalian ada yang mau di omongin. “Ada apa, kok kayaknya serius banget?”

Karel terdiam, apa mungkin keputusannya benar? Karna terasa tergesa dan aneh. “Mau gender reveal gak? Cuman mau nanya itu aja sih, kalau iya, mau dimana? Gue rasa kayaknya lo juga pengen kayak gitu, mau gue wujudin. Karna lo, udah lebih dari cukup ngejalanin misi bahkan dapet banyak bonus.”

“Kenapa lo sepeka itu?”

“Karna raga gue emang cowok jiwa gue cewek.”

Luz tertawa lalu menutup mulut Karel saat itu juga. “Jangan bilang gitu, nanti Mireya denger. Thanks ya, gue seneng deh di perhatiin, tau aja gue kurang perhatian. Ya pengen nya sih di peluk, di sayang, tapi gue sadar kok, gue gak berhak nuntut itu sedangkan kita cuman pura-pura dan gatau sampe kapan.”

Ada timbul rasa bersalah, kasihan dan lainnya. “Sorry.”

“Karel... kalo misalkan gue tetep mau ngejalin pernikahan tanpa cinta ini buat seterusnya gapapa?”

“Gapapa sih, keuntungan buat gue bisa terus sama James di balik layar. Tapi buat lo gimana? Lo pasti pengen di belai---“

“Gampang, ada vibr*tor, lu beliin gue banyak kan waktu itu.” Enteng banget itu congor si Luz kalo ngomong.

Karel menaruh mangkok di meja. “Kalo mau gender reveal pulang aja yuk, nanti atur jadwal. Abis itu ke Bandung nanti bonusnya gue anterin.” Bujuk dikit gapapa kali, takutnya tuh cewek sampe sana cepu ke keluarganya terus minta cerai tiba-tiba. Gak akan Karel biarin Luz pulang gitu aja dalam situasi gak baik-baik saja.

“Gue mau roti bakar, beliin sana. Gausah ngoceh mulu berisik.” Padahal itu hanya ide Luz ngusir dia secara perlahan untuk sementara. Agar bisa berbincang dengan Mireya.

Tapi bagaimana caranya biar bisa ngasih kode supaya Mireya peka kalau cowok yang dia cintai itu mendua?

Luz menatap langit-langit kamar. Kandungannya makin besar, dan emosinya semakin kacau. Tapi satu hal yang ia sadari sekarang yang penting ia harus mulai memikirkan dirinya sendiri. Bukan James, bukan Karel, bukan siapa pun. Ingin bangkit, bukan demi siapa pun.... Jika cinta harus terus menyakitkan, maka harus belajar melepaskan. Jika cinta itu benar, maka ia akan kembali dengan sendirinya. Luz harus tetap pada keputusannya untuk tidak bergantung pada siapa pun, ia harus berdiri sendiri dengan kokoh, tak boleh goyah sedikitpun.

“Yang jelas jangan jatuh cinta sama dia, atau lo bakalan lebih sakit ninggalin nya dan situasi bakalan makin rumit,” batin Luz berusaha manifestasi dirinya kalau hatinya tidak bisa di isi oleh Karel hanya karna perhatian.

Pas buka mata, Luz kaget ternyata Mireya udah ngintip dari celah pintu sejak tadi.

“Cie di samperin ayang, Karel perhatian banget njir. Tau dia semanis itu mana gue tolak perjodohannya haha bercanda!”

Apa mungkin Mireya penasaran dengan Karel?

“Gue gamau terlalu baper meskipun dia suami gue, emang tugasnya kan? Takutnya dia baik ke gue cuman buat nutupin sesuatu. Misalnya dia selingkuh? Gataukan kita harus lebih proteksi, lebih gongnya kalo dia selingkuh sama orang di deket kita.” Semoga aja Mireya ngeh kalau Luz lagi kasih kode. “Kita harus tetep jadi cewek kece itu, jangan tertipu daya cowok yang congornya bisa menyala-nyala, contohnya cowo lo. Pernah overthinking gak sih dia punya yang lain makanya bosen?”

Kena mental.

Mental Mireya break down langsung, itu si Luz emang kalau udah bersabda gak pake bumbu dulu gas terobos ajalah, semua yang jadi penghalang di tabrak. “Pernah sih, cuman gue liat hape nya aman.”

“Curiga gue dia pemain, gak pengen coba tes?”

Mireya pun kepikiran. “Oke gue bakalan coba, dulu pernah minjem hape nya selalu gak di bolehin. Iya tau privasi tapi aneh aja, hape gue selalu di cek.”

“Iya itu bisa jadi, gue takut aja lo sehat dia HIV. Mending buang aja, cewek tanpa cowo bakalan awet muda kek gue nih.” Luz bergaya lagak songong lalu keduanya tertawa.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!