PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
SELAMAT MEMBACA!
***
Ceklek!
Delima membuka pintu ruangan Erwin dengan perasaan yang pura-pura tegar padahal dia rapuh.
"Delima!!" kaget Erwin dan Tio lalu mereka saling menatap.
"Del sejak kapan kamu datang?" tanya Erwin berusaha setenang mungkin.
"Baru saja mas," bohong Delima. "Memangnya kenapa?" tanya Delima.
Erwin dan Tio bernapas lega kerena ternyata Delima tidak mendengar apa yang mereka bicarakan tadi, namun kenyataannya mereka salah besar.
"Kamu kenapa datang Del?" tanya Erwin berjalan mendekat lalu menuntun Delima untuk duduk di sofa.
"Mama memintaku membawakan mas makan siang," jawab Delima memperlihatkan rantang yang ia bawa. "Dan yah maaf aku datang tanpa mengabarimu, tapi tenang saja mas aku tidak bilang kalau aku adalah istrimu," tambah Delima berusaha tersenyum padahal hatinya sakit mengatakan itu semua.
"Loh, kenapa gak bilang saja Del?" timpal Tio yang duduk di single sofa.
"Aku tidak mau lancang Tio. Biarkan Mas Erwin sendiri yang mengatakannya pada mereka semua," ucap Delima memandang Erwin yang juga memandangnya. "Walau aku sadar jika itu adalah mimpi dan akan selamanya hanya menjadi mimpi," batin Delima meringis sakit.
"Sudah tidak usah di pikirkan lagi Sekarang kalian makanlah! Kalian berdua belum makan siangkan?" tanya Delima memastikan.
"Belum Del dan tadi itu gue mau ngajakin suami lo ini makan siang di luar tapi dia nolak," ujar Tio yang jelas-jelas berbohong namun Delima sebisa mungkin berpura-pura untuk percaya.
"Kalau begitu sekarang makanlah!" imbuh Delima lalu membuka rantang yang dibawanya.
"Kamu tidak makan Del?" tanya Erwin.
"Aku sudah makan baru ke sini mas," jawab Delima. "Oh iya di mana letaknya kamar mandi? Aku mau buang air kecil nih," ucap Delima.
"Di sana Del!" tunjuk Erwin pada kamar mandi yang ada di sudut ruangannya.
"Baiklah terima kasih aku harus ke kamar mandi dulu," kata Delima lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Delima menyandarkan punggunya pada pintu kamar mandi setelah menutup dan menguncinya.
"Kamu jangan nangis Del! Sudah cukup air matamu! Jangan jadi wanita yang lemah! Aku pasti kuat yah aku harus kuat," gumam Delima menyemangati dirinya agar tidak meneteskan air mata lagi.
Delima lalu mencuci mukanya setelah itu ia melihat pantulan wajahnya pada cermin kamar mandi.
"Baiklah, mari kita bermain drama mas. Aku akan mengikuti semua yang akan kau lakukan jika dengan berpura-pura kau bisa menganggapku ada," kata Delima lalu tersenyum miris.
Delima pun mengeringkan wajahnya dengan tisu dan kembali mempoleskan bedak agar kedua pria dewasa itu tidak curiga padanya.
Delima lalu keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di samping Erwin.
"Sudah habis?" tanya Delima ketika melihat rantangnnya sudah kosong tidak tersisa.
"Iya, Tio yang memakan semuanya," kesal Erwin karena setelah kepergian Delima tadi, Tio dengan rakusnya memakan semua makanan yang ada.
"Eh, sembarangan, tapi terima kasih yah Del! Gue sekarang sudah kenyang," ucap Tio mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit.
"Iya sama-sama," balas Delima tersenyum geli melihat tingkah absurd suaminya dan Tio.
Delima lalu kembali menyusun rantangnya, "Mas, Tio aku pamit pulang dulu yah," pamit Delima berdiri dari duduknya begitu pula dengan Erwin.
"Iya hati-hati yah Del," ucap Erwin dan dijawab anggukan kepala oleh Delima.
Cup!
Erwin mencium kening Delima sebelum membiarkan wanitanya itu pergi. Delima tersenyum miris, sebelumnya ia akan tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Erwin tapi kali ini dia merasa seperti boneka yang dijadikan mainan.
"Ehem... gue di sini bro!" sahut Tio berasa jadi obat nyamuk. Ada yang mau temani babang Tio? Wkwkwk...
"Sirik aja lo," ketus Erwin. "Sekali lagi hati-hati," ulang Erwin.
"Iya mas," balas Delima tersenyum lalu keluar dari ruangan suaminya.
"Gila lo Win! Lo bahkan bisa seromantis itu walau hanya pura-pura? Dasar baji*ngan!" ejek Tio namun Erwin hanya acuh tak acuh, toh kenyataannya memang begitu.
Delima lalu berlari menuju lift dan keluar dari perusahaan Erwin. Sesakit apapun hatinya sekarang, namun Delima rasanya enggan untuk menangis.
Dia juga capek terus menerus menangis dan alasannya sama, yaitu Erwin suaminya.
Delima lalu menyotopkan taksi da setelah berhenti Delima langsung masuk dan taksi itu pun berlalu menjauh dari perusahaan Erwin.
Drt-drt-drt!
Ponsel Delima berdering. Delima lalu mengangkat panggilan dari Dokter sarah bukan Dokter Tia.
"Halo del!" ucap Dokter Sarah dari seberang sana.
"Halo dok, ada apa? Bukannya kemo saya baru lusa yah?" tanya Delima beruntun.
"Iya betul Del, tapi karena lusa saya dan Dokter Tia ada urusan, jadi kemo kamu akan dilakukan hari ini. Bagaimana apa kau bisa?" jelas Dokter Sarah.
Delima terdiam sejenak, "Baik dok, saya ke sana sekarang," tutur Delima.
"Baik kami menunggumu," ucap Dokter sarah lalu memutuskan panggilan.
"Pak ke rumah sakit X!" kata Delima pada pak sopir taksi.
"Baik nona," balas pak sopir taksi lalu mengemudikan taksinya menuju rumah sakit X.
Delima lalu menghubungi Mama Isnah untuk meminta izin agar mama mertuanya itu nanti tidak cemas.
"Halo mah," ucap Delima setelah Mama Isnah mengangkat panggilannya.
"Iya Del, ada apa sayang?" tanya Mama Isnah.
"Mah, Delima izin ke rumah teman yah mah," bohong Delima.
"Baiklah tapi jangan pulang malam yah!" peringat Mama Isnah.
"Iya mah," balas Delima.
"Baiklah kalau begitu mama tutup telponnya yah, " kata Mama Isnah lalu menutup panggilan.
Taksi yang ditumpangi Delima pun akhirnya sampai juga di rumah sakit X. Delima lalu menyodorkan uang pada sopir taksi dan turun dari taksi.
Delima melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit dan langsung menuju ke ruang kemo di mana Dokter Sarah dan Dokter Tia sekarang berada.
Tok-tok-tok!
Delima mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan kemoterapi.
"Selamat siang dok," sapa Delima pada kedua dokter yang telah ia anggap sebagai keluarga sendiri.
"Siang Del ayo duduk!" tutur Dokter Sarah dan Delima pun mendudukkan tubuhnya di depan Dokter Sarah di sampinh kiri Dokter Tia.
"Sebelum kita memulai kemomu, saya mau bertanya sesuatu dulu padamu," seru Dokter Tia menatap Delima.
"Iya mau tanya apa dok? Silahkan!" kata Delima tersenyum.
"Apa setelah kemo waktu itu penyakitmu masih suka kambuh?" tanya Dokter Tia.
"Iya dok, semalam dan pagi tadi bahkan kali ini sudah semakin parah," jawab Delima apa adanya.
Dokter Tia dan Dokter Sarah saling tatap lalu menatap senduh Delima.
"Kenapa apa ada yang salah?" kikuk Delima merasa risih ditatap begitu.
"Tidak ada," jawab Dokter Sarah. "Del, apa tidak sebaiknya kamu di rawat inap saja? Penyakitmu sudah semakin parah jika hanya melakukan kemo dan kontrol saja, " saran Dokter Sarah.
"Tidak dok, saya tidak bisa. Kalau saya harus dirawat inap, lalu apa yang harus saya katakan pada keluarga saya?" lirih Delima menundukkan pandangannya.
"Maka dari itu katakan yang sebenarnya kepada keluargamu terutama suamimu," timpal Dokter Sarah.
Delima menggeleng lemah, "Tidak, saya tidak mau menyusahkan keluarga saya apa lagi itu adalah keluarga dari suami saya dok," ujar Delima.
Dokter Tia dan Doker Sarah hanya bisa mengikuti keinginan Delima karena semuanya ada di tangan Delima. Saat Delima meminta mereka merahasiakan penyakitnya, mereka telah berjanji dan tidak boleh mengingkari janjinya sebagai seorang dokter.
***
Follow Ig Risma @Noona_Risma14🤗 Dan yah hayuk ramaikan gc Risma😆😆 Jangan lupa likenya, komen dan vote😗
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘