Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Apa ? Kamu di tinggal sama istri kamu dek?" Teriakan Rani juga mengejutkan orang lain yang berada dalam rumah itu.
Randi menarik nafas panjang dan mengangguk. Sebenarnya dia juga heran kenapa Dewi pulang tanpa memberitahukan kepadanya. Dia bertanya tanya apakah Dewi mendengar pembicaraannya bersama Mariam.
Ting....
"Kak, saya nggak sempat pamit lagi. Amalia mau memakai mobilnya juga. Hari ini. jadi pagi pagi sekali saya pulang. Nggak sempet kerumah ibu lagi"
Pesan masuk dari Dewi, Randi sedikit bernafas lega karena tau alasan Dewi pulang. Bukan karena pembicaraan mereka
"Baiklah sayang, kakak barusan dari rumah ibu cari kamu" Balas Randi
"Oh maaf ya kak"
"Jadi dia nggak pamit sama kakak ya ?' Tanya Reni lagi, Jack di sampingnya hanya tersenyum tipis. Dia senang dengan cara Dewi. Randi memang pantas di perlakukan seperti itu.
"Mungkin kak Dewi terburu buru lah Ren " Kata Jack, semua mata melihat Jack.
Jack tidak memperdulikan tatapan mereka. Bahkan Jack ingin menunjukkan pada mereka kalau dia tertarik pada Dewi namun dia tidak ingin Dewi yang akan jadi sasaran mereka.
"Tapi sayang.... " Reni tidak melanjutkan kalimatnya, Jack terus menatapnya.
Sedangkan Randi menarik nafas lega setelah membaca pesan Dewi.
"Nggak apa-apa kak, Amalia ingin memakai mobilnya. Dewi nggak sempat pamit lagi. Dia juga terburu buru" Kata Randi membela Dewi. Mariam tidak suka dengan sikap Randi seperti itu
"Istri kamu itu berlebihan dek " Kata Rani
"Kalau menurut saya itu biasa saja, kak Dewi seorang pekerja. dia juga menggunakan mobil orang. Jadi wajarlah dia panik dan pergi tergesa gesa seperti itu " Sahut Jack
Reni tidak suka kekasihnya membela Dewi, Rani dan Mariam juga tidak suka Randi tidak seperti biasanya yang akan marah jika Dewi seperti ini.
Pukul sepuluh pagi, Jemi saudara beda ibu Mariam dan Dewi masuk ke dalam rumah Mariam
"Ibu mana Mariam? Tolong panggilkan?"
Mariam bergegas memanggil ibunya..
Tak lama kemudian datanglah ibu dan dua orang kakak laki-laki Mariam yang belum menikah masih berada dalam rumah itu juga.
"Ada apa nak ?" Tanya ibu Mariam, semua mata menatap Jemi Dengan banyak pertanyaan.
"Bu... Sebaiknya ibu batalkan rencana ibu menjual rumah dari ibu kandung kak Dewi" Kata Jemi, Randi Rani Reni dan ayah ibu mereka sangat terkejut mendengar Jemi mengatakan itu.
"Apa maksud kamu nak?" Tanya ibu Mariam
"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu ?" Tanya Toni kakak Mariam
"Ibu kalian sudah menawarkan rumah dari ibu kandung kak Dewi pada anak pak Hendra. Kemarin sepulangnya saya dari sini mereka ke rumah ingin menanyakan kepastian keadaan rumah itu dan kata mereka ibu kalian yang sudah menjual rumah itu " Terang Jemi
Ibu Mariam terlihat gelisah, dia bahkan tidak bisa bicara apapun.
"Mungkin maksud ibu, dari pada nggak ada yang tempati lebih baik di jual aja kak " Jawab Mariam dengan kebodohan yang bisa di lihat dari cara bicaranya
"Pemilik sah rumah itu masih ada dan saya yakin, orang tua kita juga tau kalau rumah itu adalah warisan dari orang tua ibu kak Dewi. Bukan rumah yang di belikan ayah" Terang Jemi lagi dan semua menatap ibu Mariam.
Kakak laki laki Mariam pun tidak bisa menjawab, mereka akan sangat malu kalau sampai itu betul di lakukan oleh ibu mereka. Karena mereka juga tau tentang rumah yang di tempati oleh ibu mereka, ibu Dewi dan rumah ibu Jemi.
Rumah milik ibu Dewi adalah hadiah pernikahan dari Kakek dan nenek Dewi dari ibunya. Mereka juga menatap ibu mereka. Mereka berharap semoga ibu mereka tidak melakukan itu.
"Lagian apa hak ibu kamu menjual rumah itu? Ayah pun nggak berhak menjual rumah itu karena rumah itu masih atas nama dari kakek Dewi dan kalian nggak tau kan, walaupun kita tinggal di kampung, kakek Dewi sebelum meninggal Lima belas tahun lalu dia sudah membuat surat wasiat. Surat itu ada pada Dewi beserta sertifikatnya "
"Apa, Jadi sertifikat rumah itu selama ini ada di tangan Dewi?" Tanya ibu Mariam tanpa sadar.
"Loh ayah nggak kasih tau ibu? Pertama kali Dewi kembali ke kampung ayah langsung menyerahkan sertifikat beserta surat wasiat kakeknya "
"Ayah kalian membohongi ibu selama ini, dia mengatakan sertifikat itu hilang " Sekali lagi tanpa sadar ibu mertua Randi bicara
"itulah sebabnya ibu juga tanpa berpikir panjang langsung menawarkan rumah itu pada pembeli dan ibu sudah mengambil uang setengah dari penjualan rumah itu"
"Apa? Ibu.. Ibu serius sudah melakukan itu?" Kali ini kedua kakak Mariam yang terkejut. Mereka akan sangat malu kalau sampai itu terjadi.
Ibu Mariam semakin gelisah, dalam hati dia merutuki Jemi yang sudah lancang ikut campur
"Bu.. Apa ibu benar telah menjual rumah itu?dan mengambil setengah dari uang hasil penjualan rumah itu?" Tanya kakak laki laki Mariam yang lain
"Apakah ibu mertua saya ini masih normal?" Batin Randi menatap tajam ibu mertuanya.
"Hum..um.. Sebenarnya ini semua saran dari ibu mertua Dewi dan Mariam juga " Ujar ibu Mariam
"Loh kok malah saya yang kamu salahin " ibu Randi bicara, Kening ke tiga anaknya berkerut.
"Keluarga mu dan keluarga kakak ipar kamu Mariam sedikit unik Ren" pesan masuk di ponsel Reni dari Jack
Reni menatap Jack, dia melihat senyum sinis dari Jack padanya.
"Saya heran sama tante, Dewi itu keponakan kandung tante juga sama seperti saya, Mariam dan yang lainnya. Kami satu ayah tapi kenapa tante begitu membenci Dewi. Bukan hanya rumahnya yang tante incar. Rumah tangga Dewi juga Tante hancurkan" Jemi mengeluarkan Kata kata menohok kepada adik dari Ayahnya.
"Kamu kurang ajar sekali bicara seperti itu sama tante" Teriak ibu Randi
"Di sini, dan di keluarga kita hanya Dewi yang tidak tau bukan tentang pernikahan diam diam Randi dan Mariam kan ?" Tanya Jemi menatap mereka semua.
"Toni, Alex, Mariam...Dewi adalah anak ayah juga. Kesalahan yang dia lakukan sudah dia tebus dengan menghilang bertahun tahun dari kita semua karena dewi nggak mau mempermalukan keluarga kita tapi kalian menjadikan itu sebagai alasan untuk membuatnya rendah diri "
Randi membeku, Debaran jantungnya semakin kencang. Ada rasa nyeri dalam hati mendengar kata kata Jemi.
"Kalian nggak tau gimana perasaan ayah pada Dewi, pada kita semua anak anaknya" Terang Jemi
Tapi bagi Mariam apapun yang di katakan oleh Jemi tidak berpengaruh terhadap nya. Dia hanya berpikir Randi adalah miliknya.
"Saya dan ibu saya bukanya nggak berani mengatakan yang sebenarnya pada Dewi tapi kami nggak tega. Ibu memaksa kami untuk tutup mulut dan nggak ikut campur dalam urusan kalian. tapi kalau sudah mengenai rumah warisan dari kakek Dewi. Saya harus tanya karena itu bukan hak ayah dan kita semua. Itu hak Dewi " Kata Jemi lagi
"Apa bener yang di katakan Jemi Bu, Kalau ibu juga ikut membantu ibu mertua saya menjual rumah itu?" Tanya Randi dan berharap ibunya tidak melakukan itu.
Anggukan kepala dari ibunya membuat Randi benar benar malu.
"Kami melakukan bersama-sama, Hendra adalah tetangga lama tante semasa kecil dulu di sini. Dia ingin mencari rumah di kampung kelahiran ibunya. Dia menghubungiku tante. Kebetulan rumah ibu Dewi nggak ada yang jaga dan ketika ibu ngomong sama ibu mertua kamu. dia juga sepemikiran sama ibu. Dia juga menawarkan rumah ibu Dewi " Terang ibu Randi pada Jemi
"Dan Tante sama ibu bagi hasil?" Tanya Jemi
Sekali lagi anggukan kepala dari ibu Randi membuat Randi semakin malu. Karena dia tau ibu nya tidak punya hak apapun tapi berani melakukan itu. Ini sudah keterlaluan. Dan beruntung Dewi tidak mengetahui itu.
"Sekarang ibu dan tante silahkan kembalikan uang pak Hendra, saya belum mengatakan yang sebenarnya pada pak Hendra. Kalian sebagai anak juga harus mencari jalan untuk masalah ibu kalian. Seperti yang biasa kalian lakukan. Bukankah kalian selalu kompak menutupi segala sesuatu dari Dewi ?" Kata Jemi kepada mereka semua lalu berlalu pergi tanpa pamit
Mereka terdiam beberapa saat..
"Berapa banyak uang hasil rumah itu yang sudah ibu ambil dari pak Hendra Bu?" Tanya Toni kakak laki laki Mariam
"Dua puluh juta nak " Jawab ibu Mariam pelan
"Dua puluh juta Bu ? Kapan ibu ambil uang itu, padahal Ayah baru saja di makam kan kemarin "
"Beberapa hari yang lalu sebelum ayah kamu di makamkan. Tante kamu yang mengatakan kalau Hendra sedang mencari rumah di kampung ini dan kebetulan ibu sama tantemu sepemikiran ke rumah mendiang ibu Dewi " Kata ibu mereka.
Kedua kakak laki laki Mariam berpikir, pasti di mata orang orang mereka sudah melakukan hal yang sangat jahat pada Dewi. Wajar saja orang berpikiran seperti itu.
Mereka ikut menyetujui hubungan Randi dan Mariam saja itu sudah keterlaluan. Hanya karena kata kata ibu mereka yang mengatakan bahwa mereka harus memikirkan perasaan Mariam saudara kandung mereka. Ayah mereka saja bahkan tidak bisa melakukan apapun karena ancaman ibu mereka yang mengatakan bahwa Mariam akan bunuh diri jika mereka tidak merestui pernikahan Mariam dan Randi.
Ayah mereka setuju dengan satu syarat, Dewi tidak boleh tau tentang pernikahan Randi dan Mariam. Mungkin itu juga yang menjadi beban ayah mereka.
"Ibu, tante.. Yang di katakan Jemi itu betul, ayah dan kami anak anak ibu selama ini terlalu mengikuti kemauan ibu. saya lupa kalau dalam tubuh Dewi dan kami juga mengalir darah ayah. Dewi adalah kakak saya, Mariam dan yang lainnya juga "
"Terus kamu mau adik kandung kamu yang jadi korban? Dia mencintai Randi,. mereka saling mencintai.Ayahmu saja yang nggak pernah bertanya. Langsung menyodorkan Dewi menjadi istri Randi " Teriakan ibu mertua Randi membuat mereka diam lagi.
"Sekarang sebaiknya ibu berdua kembalikan uang pak Hendra yang sudah kalian bagi " Kata Randi. Dia tidak ingin lagi mendengar penjelasan dari ibunya dan ibu mertuanya.
"Tapi...tapi.. uang itu..hum..."
.
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa 🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 5 nya ya...🫰🏼🫰🏼
sudahlah miskin belagu pulak tuh