Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. TRIGGER PAST
Ruang tamu yang tadinya sudah kacau karena amukan, mendadak makin mencekam. Suara vas pecah yang masih bergulir di lantai dan tetesan cairan merah yang membuat suasana semakin menusuk.
Raisa terkulai di pelukan anak buahnya. Cairan merah segar mengalir dari bagian belakang kepalanya, membasahi baju Alex, bahkan menetes ke lantai hingga meninggalkan noda merah yang cepat melebar. Pandangannya sempat kosong, lalu perlahan kelopak matanya menutup rapat. Tubuhnya yang sudah lemah benar-benar terkulai tak berdaya.
Anak buah Raisa yang memeluknya langsung histeris. “Raisa!!” teriaknya parau sambil mengguncang pelan tubuh Raisa. Air matanya bercampur dengan cairan merah di pundaknya, tangannya gemetar tak tahu harus menekan luka atau sekadar memeluk erat.
Sahabat Raisa terpaku beberapa detik, wajahnya pucat pasi. Matanya melebar penuh horor melihat dua orang yang paling berarti baginya ambruk bersamaan. Tubuhnya kaku, napasnya tak beraturan karena penyakitnya kambuh. Tangisan, teriakan, dan kepanikan bercampur jadi satu.
Lantai penuh noda, serpihan kaca, dan tubuh dua orang yang paling mereka sayangi dan hormati tergeletak tak berdaya. Jam dinding berdetak keras, seolah mengejek mereka bahwa waktu terus berjalan sementara mereka bisa kehilangan Raisa dan ayahnya kapan saja.
Sahabat Raisa akhirnya menjerit ketakutan. "Aaaa...tidak mungkin..."
Suara itu parau, penuh tangis, tapi cukup membuat orang yang mendengar merasa merinding.
Dia menatap wajah Raisa sehingga hidung mereka beradu, berbisik tanpa henti dengan suara serak,
“Raisa, buka matamu sedikit aja… tunjukin kalo kamu masih dengerin aku. Jangan diem kayak gini… please…”
Tangannya terus mengusap lembut pipi Raisa, meski jemarinya penuh noda merah. Saat itu, ia terlihat lebih rapuh daripada siapa pun, meski tubuhnya kekar dan seharusnya kuat namun rasa penyesalan menghantuinya karena tak berhasil melindungi sosok yang ia sayangi.
"Aaa...Aku gak sanggup kehilangan kamu Raisa...gak mungkin..gak.."
Bobby mulai tak terkendali, rasa panik dan cemas berlebih mulai menyelimutinya. Rasa sesak mulai menjalar menyiksa paru-parunya, tatapan matanya mulai kosong, badannya gemetar hebat dengan kedua tangannya yang tak henti menutup kedua telinganya, tubuhnya melemah hingga ambruk terduduk menghadap kedua orang yang tergeletak tak sadarkan diri.
Hingga jantungnya berdegup kencang tak beraturan, keringat dan airmata mulai bercampur menjadi satu antara cemas, panik, dan rasa takut mulai merasukinya. Melirik sekilas ke arah Raisa yang sudah tak berdaya "Ra...rai..sa" nadanya mulai melemah, hingga disadari oleh Alex dan berpikir bahwa tidak boleh ada lagi korban yang jatuh lagi.
"Aku harus bisa bertahan dan menolongnya, gak boleh ada lagi yang jadi korban." Alex menatap wajah Raisa sebentar "Kamu bertahan ya, Aku yakin dan percaya kamu kuat, My queen," benaknya pilu.
Malam itu terasa malam yang penuh dengan kepanikan, ketakutan, dan teriakan. Sebuah tragedi merah yang mungkin akan berbekas dan sulit untuk dilupakan. Antara seorang anak buah yang berusaha melindungi pemimpinnya. Antara seorang ayah yang takut kehilangan putrinya hingga ia tak sengaja melukai putrinya sendiri.
Seorang pemimpin sekaligus sebagai seorang anak yang berusaha menutupi lukanya dan mencegah semua orang yang ia sayangi tidak terluka walaupun mungkin dia bisa menjadi korban.
Dan seorang Sahabat yang mencoba membantu namun tak mampu mengontrol dirinya sendiri akibat teringat masa lalu yang sama-sama menyakitkan, bagai sebuah dejavu yang membuat trigger itu muncul.
Alex melirik kearah Bobby dengan wajah sendu, mencoba menarik napas dan bersikap tenang walau dia tahu dirinya sendiri sedang bergulat dengan rasa penyesalan dan bersalah. Ia mencoba berpikir jernih dan berusaha tidak ambruk agar semua yang ada disana bisa ia selamatkan terutama Raisa.
"Bob...sadar! Lo harus kuat, Bob! Lo pasti bisa!" teriaknya, kedua tangannya masih erat memeluk Raisa di pangkuan. Namun, Bobby tak merespon dirinya. Ia hanya berteriak histeris seakan dia juga merasakan sakit yang sama dengan mereka.
"Tidak...tidak mungkin..." Tatapan matanya masih kosong, helaan napasnya mulai terasa berat seakan tubuhnya ingin ambruk tak kuasa menahan dejavu yang mulai mengikis kesadarannya.
"Bob..." Alex menggelengkan kepalanya "Sial, dia gak boleh pingsan! Gue gak bisa nyelamatin mereka semua sendiri," gerutunya pelan dan perlahan terpaksa meletakkan tubuh Raisa dengan hati-hati. Dengan tubuh yang masih belum kuat dan pikiran yang masih menyisakan penyesalan, ia berjalan pelan menghampiri Bobby yang masih histeris.
"Bob, liat gue! Tatap mata gue! Sadar Bob!" nadanya pelan namun sedikit gemetar, memaksa Bobby untuk melawan rasa paniknya.
"Bob, liat gue sekarang! Lo gak sendiri, lo kuat dan lo pasti bisa melawannya. Demi Raisa, Bob!" Mata yang semula kosong kini mulai melirik menatapnya namun, tak ada kata yang terucap di mulutnya, hanya menyisakan helaan napas yang berat.
"Bob, jangan diem aja!" kedua tangan kekarnya menepuk tipis kedua pipinya agar tetap tersadar. "Pegang tangan gue, Bob! Sini...lo gak sendirian. Ada gue dan a..ada Raisa."
Alex menggenggam erat tangan Bobby, mencoba menepis egonya sementara agar orang yang berharga untuk Raisa bisa tersadar dan jauh lebih baik.
"Bob, lo tenang ya. Tarik napas pelan-pelan..gue yakin lo bisa!" Satu tangannya mengusap lembut pundak Bobby seraya memberikan sedikit ketenangan.
Ia mulai merasa lebih baik namun saat kata Raisa teringat di pikirannya, ia beralih melirik ke arah Raisa yang tak berdaya penuh dengan noda merah dan melirik sekilas ke arah Ayahnya Raisa yang pingsan. Semua tragedi itu menyeruak kembali dalam ingatannya, membuat rasa sesak itu muncul kembali. Alex menyadari hal itu dan memegang wajah Bobby dengan kedua tangannya yang kotor akan cairan merah segar yang kini menempel di wajah Bobby yang bercampur dengan air mata.
"Jangan liat kesana! Tatap mata gue! Semua pasti baik-baik saja. Lo gak usah khawatir ya..lo dan gue..." Tatapan itu semakin dalam, bukan tatapan sepasang kekasih ataupun kebencian namun tatapan seseorang yang tulus menerima dia apa adanya dan membantu dirinya keluar dari kabut hitam yang membelenggu kesadarannya.
"Lo harus tenang! Kita pasti bisa nyelamatin mereka, Bob!" perlahan Bobby mulai tenang dan kesadaran perlahan kembali walau sedikit, kini napasnya mulai teratur.
Walau tak ada kata yang terucap dari mulutnya seakan masih meraba keadaan antara dia harus tersadar atau ambruk seperti yang lainnya. Alex berusaha membantu Bobby untuk bangkit walau semua orang tahu bahwa mereka pun kini sedang terluka baik fisik maupun mental. Namun mencoba bertahan demi seorang pemimpin dan seorang Sahabat yang harus mereka lindungi dan selamatkan.
"Kita harus selamatin mereka, Bob! Lo harus bertahan, lo kuat..lo pasti bisa melawannya," Alex menepuk pelan punggung Bobby seraya menguatkan. Walau dia sendiri masih bergulat dengan rasa bersalah, tapi hari ini dan malam ini ia berjanji tidak ada lagi orang yang terluka setelah mereka.
Bersambung...
Apa Raisa dan Ayahnya baik-baik saja?
Masa lalu seperti apa yang membuat Bobby histeris?
Kalian tim mana nih tim Alex atau tim Bobby?🤭
Jika kalian penasaran dengan masa lalu Bobby, komen ya aku akan spil kisah pilunya yang membuat trigger itu muncul kembali!🥰
kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya ya dan terimakasih yang sudah setia semoga aku tetap semangat melanjutkan kisah Raisa.