Misi tak terpecahkan Lucius Malcom, si jaksa tampan yang jenius adalah mencari seorang wanita muda nan cantik bernama Edith. Sudah hampir tiga tahun Edith menghilang tanpa jejak. Lucius sudah mencarinya ke segala penjuru dunia, namun hasilnya selalu nihil.
Sampai pada suatu malam, seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa mayat wanita muda yang mengenakan cincin berlian hijau milik Edith telah ditemukan.
Dan di tengah-tengah kesibukannya bekerja dan menyelidiki kasus tersebut, Lucius mulai mencurigai keterlibatan Monica, istrinya dalam kasus yang diselidikinya. Hingga mengancam keutuhan rumah tangga yang sudah mereka bangun selama tiga tahun.
Apakah dengan menyelidiki kasus cincin berlian hijau Edith, Lucius Malcom dapat menyelesaikan misinya?
Sebenarnya rahasia apa yang dipendam Edith hingga ia lenyap ditelan bumi?
Dan apakah pada akhirnya Lucius dan Monica berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka berdua?
Penuh ketegangan dan intrik, ikuti misteri yang ada di dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Curiga
"Sial, betapa bodohnya aku. Selama ini aku selalu percaya pada perkataan Monica tentang masa kecilnya, aku tak pernah sekalipun meragukannya. Jelas tak pernah terlintas sedikitpun di pikiranku untuk menyelidiki kebenaran cerita masa lalu Monica. Sekarang setelah ada kasus yang berhubungan dengan Edith, aku baru mengetahui segalanya," geramku mengepalkan kedua buku jariku keras-keras.
"Sebenarnya mengapa Monica harus berbohong tentang nama sekolah dan daerah asalnya? Bukankah tidak masalah untuk mengatakan yang sejujurnya padaku. Dia menerima beasiswa dari Hope Corporation dan lulus sebagai sarjana tehnik informatika dengan predikat cum laude, bukankah itu suatu prestasi yang membanggakan?" gumamku langsung terhenyak kaget sekali.
"Oh My God, jika Monica adalah sarjana komputer yang lulus cum laude, berarti orang yang memanipulasi rekaman cctv rumah ini dan meretas sistim data cctv pusat server adalah Monica?" tuduhku langsung karena sekarang aku sudah menemukan fakta bahwa Monica adalah seorang ahli komputer yang pandai dan cerdik bukan seorang gadis lulusan SMK Tata Boga yang hanya suka memasak.
Kepalaku langsung berdenyut-denyut kencang memikirkan tuduhanku kepada Monica. Kusandarkan kepalaku ke kursi kerjaku.
"Untuk apa Monica melakukan semua ini?" tanyaku sambil memijat kening kepalaku yang makin pusing.
"Apakah Monica adalah pembunuh Orlene?" tanyaku lagi mulai bergidik ngeri memikirkan dirinya berada satu atap dengan seorang pembunuh berdarah dingin yang kejam.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Tidak mungkin, istriku pasti bukan seorang pembunuh. Hatinya lembut dan baik. Dia selalu penuh kasih dan perhatian. Membunuh seekor cecak saja ia tidak berani, apalagi membunuh manusia. Aku pasti terlalu melebih-lebihkannya. Lebih baik aku tidur daripada berpikir yang aneh-aneh lagi," ujarku segera menutup laptopku.
Berjalan ke sofa empuk yang ada di tengah ruangan lalu berbaring santai di atasnya. Kulipat kedua tanganku di bawah kepala menjadikannya sebagai alas sandaran.
Pandanganku menerawang menatap eternit ruang kerjaku, memikirkan kenangan-kenangan romantis yang kulalui bersama Monica. Masa-masa pacaran dan saling jatuh cinta, bertunangan kemudian menikah kilat. Pergi bulan madu selama seminggu di pulau dewata, menikmati hari-hari santai hanya berdua dengan Monica di sebuah vila mewah yang menghadap ke pantai. Semuanya terasa begitu indah dan menyenangkan.
Kehidupan rumah tangga kami berdua termasuk kategori rumah tangga yang cukup mulus dengan sedikit kerikil. Walaupun sudah tiga tahun kami belum mendapatkan keturunan, kami berdua juga masih solid, tidak saling menyalahkan, tapi kami berdua tetap bekerja sama dan saling dukung.
Terkadang Monica juga pernah ngambek, menunjukkan kecemburuan yang berlebihan dan bersikap kekanak-kanakan karena aku lebih mengutamakan pekerjaan daripada bersamanya. Tapi itu hanyalah pertikaian-pertikaian kecil dalam mahligai pernikahan kami. Mungkin dapat diartikan seperti bumbu-bumbu penyedap yang sedikit pedas saat kita selalu menyantap makanan yang sama setiap hari, supaya tidak bosan saja.
Jika Monica sedang marah, akupun mengalah, memilih untuk diam tidak banyak membantah dan berusaha memakluminya. Begitupula jika aku sedang suntuk dan mudah tersulut emosi, Monica juga memilih diam, berusaha memahamiku, menenangkanku dan menghiburku. Jadi kemarahan Monica maupun kekesalan hatiku tidak berlarut-larut dalam waktu yang lama. Karena bertikai dengan pasangan hidupmu itu sangat tidak mengenakkan hati dan pikiran. Capek, tahu!
Setelah menelaah kembali sikap dan perilaku Monica sejak aku mengenalnya sampai hidup bersamanya dalam satu atap, perasaan curigaku berangsur-angsur berkurang, kekecewaan yang menyeruak di dalam hatiku juga menurun perlahan-lahan.
"Selama penyelidikan ini belum memasuki tahap final untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan Orlene, aku tidak boleh sembarangan memvonis Monica hanya karena informasi-informasi baru yang memojokkan Monica. Aku hanya merangkai informasi itu dan menduga-duga tanpa sebuah bukti yang akurat untuk memastikan bahwa Monica adalah pelakunya. Sungguh suami yang kejam jika lebih menuruti perasaan daripada menggunakan akal sehatnya," gumamku memikirkan diriku yang terbawa emosi sesaat karena merasa dibohongi Monica.
Kupejamkan mataku dan beberapa detik kemudian aku sudah terbuai masuk ke alam mimpi.
Enam jam kemudian, aku terbangun dari tidurku. Sinar mentari pagi masuk menerangi ruang kerjaku yang ada di lantai dua, ruangan yang didesain dengan dinding kaca. Pemandangan Danau Kelinci Hitam yang tenang berpadu indah dengan rerimbunan pohon cemara yang menyejukkan mata, terpampang jelas di hadapanku. Terasa sangat sejuk dan menenangkan hati. Itulah yang membuatku memilih membeli lahan yang sangat luas dan mendirikan properti pribadi di area Danau Kelinci Hitam.
Kugosok-gosok mataku sambil menguap lebar.
Hari Sabtu yang cerah, batinku.
Dan beberapa detik kemudian pikiranku langsung bekerja, aku teringat bahwa semalam aku telah membiarkan Monica tidur sendirian di kamar.
Aku harus minta maaf padanya karena mengingkari janji, batinku.
Aku melompat berdiri dari sofa empuk yang sudah menemani tidurku semalam. Berjalan cepat keluar kamar menuju kamar tidurku. Membuka handle pintunya secara perlahan.
"Syukurlah, pintunya sudah tidak dikunci lagi dari dalam, kumohon jangan ngambek ya, sayang," kataku bergegas masuk mencari istriku tercinta.
Ranjang king size yang ada di tengah ruangan sudah tertata rapi. Sepertinya Monica sudah bangun dan merapikan tempat tidur kami.
"Pasti dia ada di dapur," gumamku langsung menyusulnya ke dapur yang terletak di lantai satu.
Saat kutiba di dapur, aku hanya melihat Bi Mimi di sana. Bi Mimi sedang menggoreng telur mata sapi. Di sampingnya sudah ada dua mangkuk mie instan goreng.
"Bi, di mana Monica? Apakah bibi melihatnya?" tanyaku perlahan tak ingin mengagetkan Bi Mimi dengan kemunculanku secara tiba-tiba.
"Oh, Ibu pergi jalan-jalan keluar, Pak. Ibu berpesan supaya saya membuatkan sarapan pagi mie goreng dan telor ceplok untuk bapak," jawab Bi Mimi.
"Monica tidak sarapan, Bi?" tanyaku lagi, padahal aku sudah tahu kebiasaan Monica setiap ngambek, pasti dia hanya makan sebuah apel dan segelas susu, tidak mau memasak untukku dan meminta Bi Mimi menyiapkan sarapan instan untukku.
"Tidak, Pak. Ibu hanya minum susu cokelat setelah itu berpamitan ingin pergi ke pondok," jawab Bi Mimi.
"Kalau begitu saya pergi ke pondok dulu, Bi," ucapku sambil memutar badan keluar dari dapur.
"Sarapan dulu, Pak. Mumpung masih hangat. Kalau nanti ketemu ibu di pondok dan ditanya udah sarapan atau belum, lalu bapak jawab belum sarapan, nanti ibu makin marah, Pak. Tambah lama nanti ibu marahnya," ucap Bi Mimi yang sudah paham dengan kebiasaan Monica kalau ngambek.
"Ah, Bibi tahu aja kalau saya sedang ada masalah dengan Monica," tuturku malu sambil menggaruk-garuk leherku yang tidak gatal.
Bi Mimi tersenyum mendengar ucapanku lalu mengambil semangkuk mie goreng dengan telur mata sapi di atasnya dan meletakkannya di atas meja makan. Akupun segera mengikuti Bi Mimi ke ruang makan, duduk dengan manis di kursi kesayanganku, menikmati hasil masakan Bi Mimi, menghabiskannya dengan cepat lalu minum segelas air putih hangat yang sudah disiapkan Bi Mimi. Sementara Bi Mimi kembali ke dapur dan menikmati hasil masakannya sendiri.
Setelah mencuci tangan dengan sabun, aku juga mencuci mukaku dengan sabun pembersih wajah, sikat gigi dan berkumur mouth wash, sebelum pergi ke pondok kecil yang kubangun di dekat Danau Kelinci Hitam.
"Udaranya segar dan sejuk," ucapku saat berada di luar rumah. Kuhirup udara bersih untuk memenuhi rongga-rongga paru-paruku.
"Let's go!" perintahku segera berjalan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan rumah dengan pondok kecil.
Tak berapa lama pondok kecil yang terbuat dari kayu dengan bingkai pintu dan jendela warna putih terlihat.
Aku menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu pondok.
Tok... tok... tok...
"Apakah kau ada di dalam, sayang?" tanyaku sambil membuka pintu pondok.
Kriet...
Kulihat Monica sedang duduk di sebuah kursi kayu bulat, di depannya terdapat sisa buah apel yang teronggok di atas meja kayu bulat. Monica nampak cantik dalam balutan mini dress warna kuning muda dengan lengan terbuka.
Monica sengaja mendengus kesal dengan keras saat melihatku masuk ke dalam ruangan pondok, membuang muka seperti tidak peduli dan tak ingin bersitatap dengan manik mata hitam opalku.
Kudekati Monica yang sudah memasang tampang super cemberut, aku berlutut di hadapannya dan menggenggam jemari tangannya.
Monica buru-buru menarik tangannya, dia terlihat kesal saat aku makin mempererat genggaman tanganku.
"Maafkan aku, sayang," ucapku sambil mengecup punggung tangan Monica kemudian meletakkan kepalaku ke dalam pangkuannya, berniat untuk bermanja-manja pada istriku dengan harapan dia segera membukakan pintu maaf untukku.
"Jangan marah lagi ya, sayang," pintaku memelas dengan tatapan ingin segera mengakhiri perang dingin yang kumulai semalam.
"Ayolah, sayang. Jika semalam tertunda, kita bisa melakukannya pagi ini. Aku sudah meninggalkan ponselku di rumah, kupastikan pagi ini tidak seorangpun dapat mengganggu kebersamaan kita," janjiku dengan tatapan penuh cinta kemudian mulai mendekatkan wajahku ke wajah cantik Monica.
Kutatap manik cokelat hazel Monica, dan sebuah kilatan sinar penuh cinta berpendar di matanya.
"Rayuanmu selalu membuatku jatuh cinta, Lucius," ucap Monica langsung memberikan sebuah ciuman hangat dan dalam. Aku tak perlu lagi meminta ijin padanya, Monica sudah menyerahkan diri seutuhnya untuk kumiliki pagi ini.
"Oh Dear, I love you so much," bisikku di telinga Monica.
tapi kenapa peminatnya dikit ya🤔
Mampir ya ke Ibu Tunggal
Terima kasih 🙏