Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28 PERASAAN YANG JANGGAL
Anggara pov
Pagi-pagi aku sudah kerepotan karena Silvi yang mulai muntah-muntah lagi. Padahal di siang atau malam hari, Silvi terlihat fresh dan tidak sakit. Saran pergi kedokter selama ini tak ia lakui. Membuat aku sedikit terbawa emosi dan memarahinya sedikit.
Telepon dari papa yang tak biasa di jam pagi begini mengingatkan ku akan rapat penting pagi ini. Dengan gesit aku bersiap.
"Kamu ngajar jamberapa?"
"Jam 10 yang. Kamu kekantor sekarang?" Ucap Silvi lemas yang sudah berbaring kembali di kasur. Aku mengangguk.
Setelah siap aku hampiri dia, mengelus kepalanya sebentar dan mencium keningnya. Bagaimanapun juga aku harus perhatian padanya walaupun pagi ini tak ada sarapan yang ia siapkan atau hanya sekedar menyiapkan baju kantorku.
Ia tersenyum tenang. Setidaknya itu membuat hatiku hangat. Ini masih pagi, aku tidak mau merusak mood masing-masing. Sudah sering kami bertengkar.
Dengan waktu sepuluh menit saja aku sudah sampai di kantor. Apartemenku memang tak jauh dari sini. Kebetulan juga ini masih pagi sekali, sekitar pukul setengah tujuh pagi.
Beberapa pegawai menyapaku dengan hangat. Seperti biasa, aku hanya tersenyum datar. Saat baru saja aku akan masuk ke ruanganku, Cika menyapaku duluan dari mejanya.
"Pagi pak, hari ini bapak ada rapat di tiga tempat" ucapnya. Aku mengumpat kesal di senin pagi ini.
"Bisa gak sih mereka ngajakin rapat tuh hari lain selain senin?" Tanyaku pada Cika yang menatapku bingung.
Ah sudah lah, Cika hanya melaksanakan tugasnya. Dengan adanya dia pun pekerjaanku lebih mudah karena Cika orang yang kompeten.
Aku masuk keruanganku diekori oleh Cika. Ia membawakan berkas-berkasku dan langsung kami pergi lagi ke ruang rapat.
"Lewis kan? Tumben kita nunggu" ucapku. Biasanya Fadlan selalu tepat waktu, tapi kali ini dia yang terlambat.
"Kita aja yang kepagian pak" ucap Cika. Saat ku lihat jam, masih menunjukkan pukul tujuh. Benar juga.
Lima belas menit aku menunggu, akhirnya tim Lewis datang juga. Ku sambut mereka satu persatu. Tersentak aku bertemu dengan wanita yang selama ini dekat denganku tapi ternyata jauh.
Kulihat dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Ini seperti bukan dia. Baru kali ini aku melihat betisnya yang putih jenjang selama kami menikah sebulan lebih ini.
Wajahnya sama terkejutnya saat aku melihat wajahnya. Sangat imut! Dia memang dia tapi dia tak seperti dia. Ku akui sebagai lelaki, dia sangat cantik. Lekukan pinggangnya membuat dadaku berdegup kencang.
Tapi tunggu, apa pekerjaan yang ia lakukan sekarang adalah sebagai tim dari perusahaan teman dekat saat SMA ku dulu?
Dengan canggung kami bersalaman. Ku tahan tangan lembutnya lama, seolah aku ingin terus menatap wajahnya yang memerah. Dehaman Fadlan menyadarkanku dan ia berbisik padaku.
"Lo udah punya istri dua coy, yang ini punya gue" bisiknya.
Aku menatap pada Fadlan sinis. Ia tak tahu siapa istri keduaku. Seketika aku merasa puas karena sudah memilikinya.
Rapat dimulai. Aku tahu Luna gugup saat presentasi. Memang mau bagaimanapun aku akan menyetujui kerja sama ini, tetapi Luna pun cukup kompeten. Aku kira ia adalah sekertaris si Fadlan, tahunya dia dari divisi desain. Aku tahu gaji nya pun lebih dari uang bulanan yang aku berikan. Terdorong hatiku untuk menaikkan uang bulanannya lagi.
Presentasinya sangat berbobot. Ia tak mempresentasikan teknis kebanyakan, tetapi universalnya. Ini yang membuat aku kagum. Dari mana ia dapat ilmu seperti itu?
Kulihat dirinya seksama. Aku tahu dia sangat gugup apalagi tampil seperti ini didepanku. Cika yang tahu aku memandang kagum pada istriku sendiri, hanya bisa tersenyum meledek.
Satu jam sudah kami melakukan rapat dan tim Lewis berpamitan untuk pergi. Aku harus berbicara dengan Fadlan kali ini. Ku suruh ia menemuiku terlebih dahulu sebelum pergi.
Dan disinilah kami, diruanganku yang sejuk dibuat sejuk oleh interior ciptaan teman yang sedang duduk manis didepanku menatapku malas.
"Apa lagi pak Anggara? Ada yang kurang puas?" Tanyanya.
"Lo gak tahu istri gue yang kedua siapa?" Tanyaku. Ia menyerngit kala aku bertanya.
"Mana gue tahu. Kan gue gak dateng ke nikahan lo karena lagi di Singapur ngajak Fas jalan-jalan" ucap Fadlan. Aku langsung tersenyum menang.
"Luna. Dia istri gue" ucapku. Ia memandangku horor seperti meremehkan.
"Udah lah lo tuh aduh udah ada dua bini, masih aja genit dan ngaku-ngaku. Gue udah lama nih sendiri semenjak gue cerai" ucapnya kesal.
"Gak percaya lo? Yaudah, yang penting gue udah cerita sama lo" ucapku. Lama keadaan hening dan tiba-tiba wajah Fadlan berubah sangat menyebalkan.
"Eh gak apa-apa dia istri lo yang kedua, kan cuma sementara doang?" Ucapnya kali ini yang membuatku ingin menonjok wajahnya. Namun tak ku lakukan.
"Yakan? Lo yang bilang waktu gue kesini. Istri lo kan dikontrak" ucapannya memperjelas dan menimbulkan denyutan sakit di dadaku yang ntah mengapa.
"Pokoknya dia istri gue."
"Nope" ucapnya yang kini berdiri dan tersenyum balik padaku. Aku menatapnya datar.
"Dia memang punya lo, tapi dia bakal lepas dari lo. Gue bakan terima dia walau dia janda sekali pun, gue juga seorang duda. Punya anak satu lagi. Terimakasih ya, seenggaknya saingan gue cuma satu. Lo doang dan gue liat lo pun mengabaikan dia. Makasih banget dude" ucapnya yang mulai menghilang dibalik pintu. Aku mengepalkan tanganku dengan keras.
Kemarin yang membuat aku sedikit kesal adalah teman dekat lamanya Cheko. Kali ini teman dekatku sendiri. Aku heran, mengapa akhir-akhir ini aku mengkhawatirkan Luna?
Luna pov
Hari ini aku pulang cepat karena memang aku meminta izin ada keperluan. Dan keperluan itu adalah aku akan pindahan. Menyebalkan. Di hari kamis ini aku harus sibuk memindahkan barang-barangku.
Semua sudah diturunkan dari truk yang aku sewa. Bunda, Lala, Reno dan pak Dani supir bunda ikut membantu membereskan barang-barang. Ada interior yang sengaja suamiku pesan juga dan sudah mereka pasang. Aku juga memasang sidik jari ku oleh tukang untuk akses pintu dan memasang pin juga. Bunda enggan untuk memasang sidik jari, ia hanya meminta pin akses saja.
Beres semua dan mereka pulang. Asalnya bunda ingin menginap, tetapi aku tahu bunda pasti lelah terlebih kemarin-kemarin ia baru pulang dari Bogor. Papa benar, bunda tidak marah. Walaupun saat akan pulang kami saling menangis.
Disinilah aku. Sendirian. Aku tahu, apartemen ini sangat mahal. Terhitung 3 miliar lebih yang sudah suamiku belikan. Dan langsung dengan namaku sendiri.
Ada dapur lengkap dengan perkakasnya, ruang tamu dan televisi, balkon dari ruang tengah dan dua kamar lain.
Aku tersenyum sembari merebahkan badanku di sofa putih. Kulihat langit-langit ruangan dan ku sisir setiap sudut ruangan. Aku menyadari sesuatu. Aku.. sendirian.
Ya, aku akan sendirian lagi seperti pertama kali aku pindah ke kosan pertamaku dulu. Bedanya ini lebih luas dan aku tak kenal dengan teman kamar sebelahku.
Aku baru menyadari. Anggara pasti keberatan bila harus membagi waktu. Agar tidak terlihat oleh bunda atau papa, jadinya aku dipindahkan. Aku hanya bisa tersenyum. Baiklah setidaknya aku bisa menjauhi dirinya. Sepertinya memang aku tidak untuk ditakdirkan bersamanya. Aku harus tahan. Dua tahun lagi, aku kuat.
Hari pun sudah malam. Sebaiknya aku mandi membersihkan badanku yang lengket.
Kucuran air hangat menerpa bagian kepalaku. Terasa nyaman memberikan relaksasi kepada tubuhku yang hari ini sangat padat.
Ku pakai bathrobe biru kepunyaanku dan ku cari handuk lain untuk ku lilitkan dikepala. Malam ini aku akan tidur sendiri, tidak lagi dengan suamiku. Ku putuskan untuk memakai kaos longgar dengan celana pendek. Yah walaupun Anggara ada disini, dia mustahil akan tergoda.
Author pov
Anggara berjalan dengan langkah lebar di lorong lantai 25 menuju ruang apartemen istri keduanya. Jujur saja ia sangat kesal pada keadaan sekarang. Anggara kira jika Luna sudah pindah, ia akan terbebas dari kunjungannya. Namun tetap saja, ia malam ini harus repot-repot menengoknya untuk mengetahui bahwa dirinya baik-baik saja. Kalau bunda tidak menelfonnya tadi sebelum ia pulang kantor, mungkin Anggara sudah memeluk Silvi di ranjangnya dan tidur dengan nyenyak.
Lelaki berhidung mancung dengan memasang wajah menekuk itu menekan bel pintu besi mengkilap itu bebrapa kali hingga Anggara mengira istri keduanya itu sudah tertidur nyenyak. Luna yang sedang memotong buah apel terheran dengan suara bel apartemen barunya dijam hampir tengah malam begini.
Satu menit berdiri menunggu didepan pintu rasanya seperti satu hari untuk Anggara. Terlihat dari dentuman sepatu pantopel coklatnya yang mengisyaratkan kegelisahan. Sembari menopang satu buah apel yang sudah habis satu gigitan di lengan kanan dan handuk yang masih terlilit dikepalanya, Luna membuka pintu.
"Tuan?" tanya Luna heran. Pikirnya untuk apa suaminya ini menghampirinya kesini. Namun yang diherankan malah menatap Luna tak percaya. Bayangkan saja, Anggara sudah tergoda dengan Luna kemarin saat pertemuan mereka di kantornya. Sekarang dengan penampilan Luna yang minim membuat dada Anggara berdetak sangat kencang.
"Tuan?" tanya Luna sekali lagi karena Anggara diam saja. Sontak lelaki berpenampilan workholic itu terkejut dan salah tingkah. Yang asalnya ia akan bersikap dingin, malah menjadi mencari-cari pengalihan lain.
"Gimana? Enak?" ucap Anggara yang enggan untuk menatap Luna lama-lama lalu ia mengotak-atik kode pintu untuk ia cantumkan sidik jarinya. Ntah mengapa Anggara bisa dengan sendirinya mendaftarkan sidik jarinya sendiri.
"Enak. Disini banyak akses cahaya masuk." ucap Luna sembari melangkah mundur karena Anggara yang tiba-tiba menerobos apartemennya.
"Tuan, ngapain kesini?" tanya Luna menutup pintu dan mengekori Anggara yang sedang membuka dua kancing kemeja teratasnya ke sofa.
"Biasa, bunda" ucap Anggara. Luna tersenyum.
"Yaampun, tuan kan tinggal bilang aja iya ke bunda tapi gak usah kesini." ucap Luna sembari tertawa.
Menurut Anggara, Luna ada benarnya. Untuk apa dia repot kesini hanya untuk menengok keadaannya? Apa ia sudah mulai khawatir sekarang?
"Mau minum?" tanya Luna yang baru saja terduduk sembari memakan sisa apel yang digenggamnya. Anggara melihat paha mulus Luna dan membayangkan yang tidak-tidak. Seketika dirinya menggelengkan kepala mencoba menetralisir fikiran.
"Bo-boleh" ucap Anggara. Luna langsung berdiri lagi tanpa beban ke arah dapur dan langsung membuat minuman seadanya.
Anggara berkeliling. Masih banyak barang-barang yang harus dibereskan. Kardus buku bekas Luna dan karya ia saat kuliah masih bertumpuk. Anggara berjalan ke arah kamar Luna, sudah rapi. Kembali ke luar dan berjalan ke arah kamar yang satunya. Masih polos orisinilan desain dari apartemennya sendiri. Ia tahu ini pasti kamar yang akan ia tiduri bila kesini.
"Lun, kamu kalau mau pake kamarku buat jadi gudang mah pake aja. Saya juga gak akan tidur disini kok" ucap Anggara.
Sembari mengaduk teh dengan gula, Luna tersenyum. Perkataan Anggara membuat hatinya tersayat. Luna tahu ini adalah keputusan yang bagus karena mereka tak akan sering bertemu. Itu pun akan baik untuk menjaga perasaan satu sama lain. Lihat lah sekarang, menurutnya dirinya berpenampilan begini saja Anggara sama sekali tidak memunculkan hasrat lelakinya. Bukan karena Luna ingin disentuh, setidaknya ia hanya ingin tahu juga bagaimana Anggara memandangnya.
Luna tersadar, ia tak boleh memikirkan hal seperti itu. Ia sekarang berfikir bahwa dirinya sudah benar-benar gila. Mana mungkin Anggara akan tergoda. Yang benar saja.
Satu gelas teh manis hangat Luna letakkan di atas meja kaca. Terdengar dentuman antara tatakan dengan meja. Anggara yang terduduk menatap wajah Luna yang tak dapat ia artikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, Ada apa dengannya? Apa yang sedang ia fikirkan?
"Tuan saya tidur duluan ya, maaf gak bisa nemenin tuan habiskan minum. Terimakasih udah mau mampir" ucap Luna dengan suara pelan dan langsung berjalan menuju kamarnya. Anggara hanya menatap punggung mungil Luna yang mulai menjauh. Ntah mengapa fikiran Anggara menjadi kemana-mana.
***
Usai latihan band di Jakarta, Cheko meminta Julian untuk diam dirumahnya setelah yang lain pulang. Mereka duduk di halaman tengah dekat kolam renang sembari menyesap lintingan kecil tembakau dan dua cangkir kopi guna pemanis.
"Jul, ternyata Luna itu dimadu" ucap Cheko. Julian tersentak mendengar ucapan sahabatnya ini.
"Maksudnya?" ucap Jul sembari menatap Cheko bingung.
"Suaminya menikahi dia karena untuk balas dendam kepada istri pertamanya yang ketahuan selingkuh. Gue tahu dari Mesa karena Mesa temen deketnya si istri pertamanya itu" ucap Cheko. Jul masih mendengarkan dengan seksama menunggu lanjutan ceritanya.
"Oke kalau masalah poligami gue gak mau menyangkal karena agama tidak mempermasalahkan. Tapi yang bikin gue khawatir, Luna gak dianggap sebagai istri didepan gue sama Mesa. Bayangin! Gimana sakitnya hati dia?" ucap Cheko. Jul semakin terkejut dibuatnya.
"Enggak, tunggu. Lu ngerasa ada yang aneh gak sih kalau gitu? Gue kira karena si suaminya itu majikannya makanya si Luna mau. Mentahnya karena dia balas budi lah udah dikasih kerja enak. Tapi kalau jadi madu, menurut gue Luna punya alasan lain. Mana mungkin dia mau? Kita kenal anak itu Ko. Dan hubungan kalian udah deket banget kan?" ucap Jul yang bingung menjabarkan maksud di otaknya.
"Iya, gue juga berfikir kayak gitu. Nyesel gue gak gercep" ucap Cheko. Keduanya merenung saling diam.
"Mending kita tanya sama orangnya aja langsung. Biar kita gak asal ambil kesimpulan. Toh kalau ini sesuatu masalah, dia pasti butuh orang buat bantu dia menyelesaikannya. Kalau menurut gue, si suaminya gak terlalu minat deh sama Luna." ucap Julian. Cheko mengangguk mantap dan kembali menikmati indahnya menghirup lintingan tembakau kesukaannya.
***
Bergelut dengan laptopnya, Luna serius menatap layar terang itu. Ia sedang bekerja sekarang dan sebentar lagi rapat akan berlangsung. Tak terasa sudah hari senin lagi. Luna juga sedikit kerepotan karena ketitipan kucing kepunyaan Zahwa yang sedang pergi ke Semarang. Untungnya kucing itu tidak rewel atau terlalu merepotkan dirumah. Hanya saja Luna sedikit malas untuk membersihkan kotorannya dipasir.
Jam istirahat makan siang akhirnya datang. Luna menghentikan aktifitasnya dan meregangkan ototo-ototnya. Dengan semangat ia berdiri dan mengambil dompet juga ponselnya. Asti sudah menunggu Luna di pintu dan mereka berdua berjalan menuju kantin.
Keduanya sudah duduk di salahsatu meja disana. Luna mengotak-atik ponselnya dan terkejut saat Anggara mengirimkan foto jepretan layar. Disana seolah Anggara memberitahu bahwa ia sudah mentransfer sejumlah uang bulanan pada Luna. Yang membuat Luna terkejut adalah Anggara mengirim uang senilai 50 juta. Bagi Anggara nominal berjumlah tersebut tidak akan membuat usahanya bangkrut, tetapi bagi Luna ini sangat-sangat nominal yang banyak.
Langsung ia menelfon sang suami sembari bertekuk muka. Namun tak ada jawaban dari seberang sana. Setelah dua kali panggilan Luna tak mendapat respon, Luna akhirnya menyerah. Tetapi Luna berfikir, mungkin Anggara memberikan uang bulanan Luna lima bulan sekaligus.
Tak lama makanan mereka sudah ada di atas meja. Sembari mengobrol tentang pekerjaan, Luna dan Asti juga mengobrol tentang gosip-gosip yang ada di kantor. Dan kali ini Luna sedikit terkejut karena Asti memberitahunya bahwa Fadlan seorang duda.
"Ohiya Lun, kamu bakal ikut ke Palembang?" ucap Asti.
"Ngapain?"
"Lah, ya turun kelapangan buat projekan kita lah." ucap Asti.
"Ohiya ya, mbak Asti sendiri ikut enggak? Kalau mbak ikut, aku ikut" ucap Luna.
"Justru saya gak ikut, makanya kamu harus ikut. Dan kayaknya si bos juga bakal ngajak kamu secara langsung deh, tadi denger dari bagian divisi keuangan mah lagi ngomongin subsidi perjalanan proyek di Palembang."
"Kok gak ikut sih mbak? "
"Aku kan punya balita Lun. Suamiku juga sibuk dan kebetulan mama ku lagi sakit."
"Yaampun mbak Asti punya anak toh? Cepet sebuh atuh ya mamanya mbak" ucap Luna. Asti tersenyum dan mengangguk.
"Mending ikut aja Lun. Lumayan kan liburan dapet duit sembari pdkt sama si bos" ucap Asti menggoda.
"Apaan sih mbak. Mana mau pak bos sama aku"
"Ih tatapannya beda tahu kalau lihat kamu." ucap Asti membuat pipi Luna memerah. Ia tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa Luna dan Asti sadari, sedari tadi ada Fadlan yang memerhatikan mereka. Terlebih Fadlan menatap Luna yang berkali-kali tertawa. Ia turut bahagia karena gebetannya itu terlihat betah bekerja disini.
"Anggara.. lo udah sia-siain bidadari" gumamnya sembari terus menatap sang bidadari yang dimaksud.
***
Iya-iya aku up..
2500 kata nih btw sampe tanganku pegel🙃
Tapi gak apa apa, demi kalian para readers kesayangan aku. Yang betah ya baca nya.. dan jangan lupa klik like😘
Eh aku gak salah kasih bumbu kan? he he he
tbc-
kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.