Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara satu laki laki dan satu wanita yang di dalamnya ada tanggung jawab dan kewajiban. Hampir semua orang menikah mempunyai tujuan untuk hidup berbahagia.
Begitu juga dengan Arya. Dulu, dirinya pernah menikah dengan Ayumi yang pernikahan mereka penuh kebahagiaan dan dikaruniai dua keturunan. Kebahagiaan bersama Ayumi sudah berakhir. Cinta mereka sungguh benar benar suci. Tidak pernah ada pengkhiatan sepanjang hubungan mereka mulai dari berpacaran hingga pernikahan.
Sekarang, istrinya bukan lagi Ayumi. Melainkan Rania. Bersama Rania. Kebahagiaan itu masih samar samar. Mereka belum saling mencintai. Entah bagaimana akhirnya pernikahan itu nanti.
Tapi satu yang pasti. Arya sudah berjanji dalam hatinya untuk menjalani pernikahan itu dengan ikhlas. Meskipun dirinya belum mencintai Rania. Arya sudah berjanji dalam hatinya untuk membuka hati untuk istrinya itu. Selama satu Minggu ditinggalkan. Arya semakin sadar. Jika wanita yang benar benar layak menggantikan Ayumi sebagai istri dan ibu untuk anak anaknya hanyalah Rania.
"Ran, pakaianmu sudah aku pindahkan ke kamar atas ya!" kata Arya. Mereka saat ini sedang di teras rumah. Arya dan Rania baru saja mengantarkan Hanin dan suaminya hingga masuk ke dalam mobil.
Seketika Rania mendadak gugup. Untuk menyembunyikan kegugupannya. Rania mencium Rio yang ada di pangkuannya.
Berada di kamar yang sama. Tentu saja bukan hal yang baru bagi Rania. Mereka sudah pernah tidur bersama bahkan mereka sudah melakukan malam pertama. Saat itu, hubungan mereka belum sebaik hari ini.
"Kamu keberatan, Ran?" tanya Arya sambil menatap wajah Rania.
"Tidak kak. Hanya saja. Aku takut. Sofia semakin membenci ku jika ketahuan tidur di kamar kakak."
Arya merasakan hatinya berdenyut nyeri. Perkataan Rania apa adanya. Tapi justru itulah membuat Arya semakin bersalah. Selama ini, dia menutup mata akan sikap putrinya itu terhadap Rania.
"Maaf. Maafkan aku yang tidak tegas sejak awal pernikahan kita. Aku berjanji akan terus memberikan pengertian pada Sofia tentang pernikahan kita. Sampai Sofia bisa menerimamu. Maaf ya, Ran."
Semakin kesini. Arya semakin menyadari dirinya kurang dewasa. Tak seharusnya dia menyakiti Rania dengan berkata kasar pada wanita itu. Dan yang membuat Arya semakin merasa bodoh. Bukan hanya dirinya yang menyakiti Rania tapi juga Sofia.
Jika ada yang harus disalahkan atas sikap Sofia itu. Maka Arya lah orang itu. Sebagai seorang ayah. Arya merasa sudah gagal mendidik putrinya. Kini di saat dirinya ingin memperbaiki pernikahannya. Sikap Sofia menjadi ancaman.
Arya sudah mencoba memberikan pengertian pada putrinya. Jika secara halus, bujukannya tidak berhasil. Akankah dirinya bersikap memaksa supaya Sofia bisa menerima Rania?. Memikirkan itu. Rasanya kepala Arya mau pecah. Sungguh, dia tidak bisa bersikap kasar pada putrinya.
"Papa."
Arya dan Rania spontan menoleh ke sumber suara. Anak yang baru saja dipikirkan oleh Arya kini sudah berjalan ke arah mereka.
"Mau coklat," kata Sofia manja. Anak perempuan berumur sepuluh tahun itu langsung duduk di pangkuan papanya.
"Di kulkas kan ada, sayang."
"Sudah habis pa."
"Sofia mau coklat ya. Kebetulan Tante ada stok. Tante ambil ya!"
"Tidak perlu Tante. Coklat milik Tante pasti yang S*lver itu kan. Aku tidak suka itu."
Rasanya hatinya Rania sakit sekali. Awalnya dia berpikir jika Sofia akan senang dengan tawaran coklat dari dirinya. Ternyata coklat kesukaan Sofia bukan coklat seperti biasa yang dia beli. Cokelat kesukaan Sofia ternyata coklat import.
"Pa. Ayo, kita beli sekarang."
Sofia dengan manjanya berdiri dan menarik tangan papanya supaya berdiri juga.
"Oke, kita beli. Tunggu sebentar. Papa ambil stroller adik Rio dulu."
"Adik Rio ikut?"
"Iya. Bunda Rania juga," jawab Arya.
Arya membuktikan perkataannya. Dia ingin memperbaiki pernikahannya dengan tidak mengabaikan Rania lagi. Dengan membawa keluarga kecilnya sore ini. Arya berharap hubungan Sofia dan Rania berangsur membaik. Bagaimana pun, Arya berkewajiban untuk membuat putrinya dan istrinya harus bisa akur.
Harapan Arya terhempaskan dengan wajah masam yang ditunjukkan oleh putrinya. Wajah cerianya langsung lenyap hanya karena mendengar bahwa Rania juga ikut.
Arya mengabaikan wajah masam putrinya. Arya memilih masuk ke dalam rumah untuk mengambil stroller.
Rania semakin tidak enak dengan wajah Sofia. Jika biasanya ibu sambung yang keberatan dengan anak sambungnya yang ikut bepergian. Situasi itu berbalik sekarang.
Rania mengabaikan perasaannya sendiri. Untuk membuat Sofia bisa menerima dirinya. Bukan hanya kewajiban Arya. Rania juga merasa perlu berusaha. Dengan bepergian bersama seperti ini. Rania berharap kehadirannya sebagai ibu sambung tidak akan mengubah kasih sayang Arya pada Sofia.
"Ayo, berangkat," ajak Arya. Stroller dan kunci mobil sudah di tangannya.
Rania pun beranjak dari duduknya. Tapi tidak dengan Sofia yang tadinya sudah berdiri kini kembali duduk di bangku.
"Aku tidak mau pergi jika Tante Rania juga ikut."
Deg
Demi apapun penolakan Sofia kali ini membuat sakit hati Rania bertambah. Dia ingin marah. Tapi sadar yang dia hadapi saat ini seorang anak kecil yang masih labil.
"Tidak apa apa jika Bunda tidak boleh ikut. Pergilah kak. Biar aku dan Rio di rumah saja," kata Rania akhirnya. Kata Tante dia ganti menjadi bunda. Rania berharap, dalam waktu yang tidak lama lagi. Sofia memanggil dirinya dengan kata bunda.
"Apa sih salahnya. Kalau bunda Rania ikut. Rame kan lebih seru daripada berdua," kata Arya lagi.
"Tidak mau," jawab Sofia setengah marah.
Rania memberikan isyarat pada Arya supaya pergi saja berdua dengan Sofia. Jika dipaksa pergi bersama. Rania khawatir, Sofia semakin membencinya.
"Ya sudah. Kalau begitu. Ayo kita pergi berdua," kata Arya akhirnya. Binar wajah Sofia kembali. Anak itu berlari menuju mobil Arya.
"Bun, kami pergi dulu. Titip apa?"
Seketika Rania salah tingkah. Wajah bersemu merah. Panggilan Arya berubah bukan lagi memanggil namanya.
"Ehh, eh. Tidak titip apa apa kak."
Arya hanya tersenyum melihat sikap kikuk istrinya. Rania menunduk melihat wajah Rio untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah terasa panas.
Bukan hanya panggilan dari Arya yang berubah. Kini Arya belajar bersikap seperti suaminya yang semestinya pada Rania. Arya juga mencium kening istrinya itu sebelum masuk ke dalam mobil.
"Bunda Rania, istri papa sekarang. Jadi papa harus memperlakukan bunda Rania seperti memperlakukan mama Ayumi di masa hidupnya."
Di dalam mobil, Arya kembali menjelaskan pada putrinya jika Rania adalah istrinya.
"Apa Tante Rania senang dengan kematian mama, pa?" tanya Sofia. Terlihat Sofia bertanya dengan polos membuat Arya hampir melonjak dengan pertanyaan putrinya itu.
"Tentu saja tidak senang, sayang. Mama Ayumi adalah saudara kandung bunda Rania. Bunda Rania sama seperti kita yang sangat bersedih karena kehilangan mama."
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁