NovelToon NovelToon
Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Konflik etika / Romantis
Popularitas:106.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Christina

"Ayu gak punya uang, Bu. Kan ibu tahu sendiri, penghasilan Mas Bagas sebagai pemula baru dua juta. Setiap hari ibu minta di talangin terus, ya habis dong uangnya."

"Kamu ini, sama mertua pelitnya minta ampun. Udah sana belanja, gak usah banyak drama. Pakai dulu uang kamu, nanti ibu ganti."

Menyebalkan sekali. Tapi aku malas melayani ibu mertuaku lebih lama untuk berdebat.
Aku ikuti saja kemauannya. Tapi aku punya ide, supaya mertua ku kapok menyuruh ku belanja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Christina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas Adit Dipecat

Hari ini aku dan suami mengecek laporan. Dan benar, sesuai dugaan. Laporan untuk lapak Mas Adit sama seperti hari-hari sebelumnya, rugi.

"Kita panggil pakde Eko dan Mas Adit."

Aku menunggu suamiku memanggil pakde Eko dan Mas Adit. Tak lama, mereka sudah kumpul di ruang kerja suami. Mereka tampak kebingungan dan sedikit gelisah saat aku menatap intens siap untuk menginterogasi.

"Pakde, Mas Adit, coba jelaskan apa maksudnya ini ?" Aku serahkan laporan keuangan dan foto semalam.

"Kenapa laporan dan kenyataannya berbeda ? Aku lihat dengan kepala sendiri, dagangan Mas Adit habis. Kenapa Mas Adit memberikan uangnya hanya sedikit dan ditulis rugi di laporannya. Kemana uang atau pentolnya ?"

"I-itu..."

"Jangan banyak alasan apalagi berbohong. Aku sudah tahu semua yang kalian lakukan. Hanya mau mendengar kejujuran kalian saja. Mungkin kalau kalian jujur, aku masih bisa memaafkan."

Sengaja bicara dengan penuh percaya diri, seolah-olah aku tahu semuanya. Padahal aku hanya punya bukti itu saja. Mereka bisa saja membelokkan logikaku dan suami agar bisa percaya. Tapi aku akan terus menekan agar mereka jujur.

"Keterlaluan kamu, Ayu ! Kamu curiga kalau aku korupsi keuntungan pentol ?" Mas Adit malah marah-marah.

"Iya, Mas. Soalnya aku lihat sendiri dagangan Mas habis, tapi ditulis gak habis dan rugi terus selama lima belas hari ini. Lagipula, aku paham betul, di alun-alun tempatnya sangat ramai, gak mungkin sampai gak habis, apalagi rugi."

"Sok tahu kamu ! Aku yang jualan, kamu hanya dirumah terus, mana paham situasi di lapak."

"Aku gak bodoh, Mas. Emang Mas pikir aku gak punya mata-mata ? Aku punya mata-mata di setiap lapak, jadi tak ada satupun yang luput dari pengawasanku."

Hahaha, sok-sokan aja dulu. Padahal aku tak punya mata-mata sama sekali. Tapi feeling ini sangat tajam, setajam bambu runcing yang dipakai pahlawan memperjuangkan tanah air, hehehe.

"Bagas, Ayu, pakde minta maaf. Nanti pakde cek lagi."

"Cek lagi gimana, pakde ? Aku sudah cek laporan sebulan ini. Dan banyak kejanggalan. Coba jelaskan, kenapa bisa pemasukan Mas Adit, rugi. Ditambah lagi dua tiga lapak lainnya, tapi tak dilaporkan ke Mas Bagas. Pakde gak tahu, atau pura-pura gak paham ? Atau aku dipindahkan ke bagian lain ? Atau... dipindahkan ke rumah pakde saja."

Pakde tampak kaget dan gugup mendengar ucapanku. Aku yakin, dia pasti paham apa yang aku katakan adalah ancaman baginya. Namun, berbeda dengan Mas Adit, dia malah tak terima dengan sikap kami.

"Sombong sekali kalian, baru punya usaha begini saja sok berkuasa. Harusnya kalian berterima kasih sama aku dan pakde. Kamu saudara, harusnya dikasih posisi yang enak, bukannya malah jadi kacung."

"Hahaha, mabuk jengkol yah, Mas Adit ini." Asli ngakak parah. Mas Adit percaya diri sekali, dia yang butuh kerjaan, dia juga yang minta, tapi seolah-olah aku dan Mas Bagas yang menyuruhnya bekerja.

"Jangan ketawa kamu, ini bukan lelucon !" Sentak Mas Adit.

"Jadi gimana, kalian mau jujur atau terus berbohong ? Kalau mau bohong, silahkan angkat kaki dari sini." Ucapku kembali ke mode tegas.

"Ayu, Bagas, pakde minta maaf. Pakde ngaku sudah bohong, ini semua ide Adit. Pakde kapok bohong, tolong jangan pecat pakde. Nanti anak sama istri pakde mau makan apa kalau pakde gak kerja."

Pakde mengatupkan kedua tangannya tanda memohon. Terbongkar sudah kejelekannya. Mas Adit langsung pucat, tapi masih bergaya seolah tak bersalah.

"Keterlaluan pakde sama Mas Adit ! Sudah kami kasih kerjaan, malah berbuat curang."

"Bagas, tolong jangan pecat pakde. Pakde minta maaf."

"Ini semua karena sikap kalian. Makanya kasih upah tuh yang bener. Aku ini kakak ipar kalian, harusnya gak disamakan dengan karyawan lain." Mas Raka terus membela diri.

"Gak merasa bersalah juga, Mas ?"

"Kalian yang salah, memperlakukan saudara seperti sapi perah."

"Ya sudah, silahkan berhenti bekerja, beres."

"Ayu, pakde masih mau disini. Pakde mengaku salah, Pakde janji akan berubah. Tolong, Ayu, Bagas, nanti anak-anak pakde bisa kelaparan kalau pakde gak kerja."

"Tenang saja, pakde, kalau pakde merasa bersalah, mau mengakui dan mau berubah, kami kasih kesempatan kedua. Tapi sebagai hukuman, posisi pakde kami pindahkan ke bagian produksi. Sekali lagi ketahuan, gak ada ampun lagi. Silahkan kembali bekerja, pakde."

Pakde tersenyum senang dan bergegas keluar. Sementara Mas Adit, menunjukkan raut emosi dengan kedua tangan mengepal kuat.

"Mas Adit bisa pergi dari tempat ini."

"Kalian pecat aku ?" Geramnya.

"Iya. Mas Adit itu salah, tapi gak merasa bersalah. Silahkan cari kerjaan ditempat lain."

"Awas kalian !!!"

Mas Adit pergi dengan penuh emosi. Aku dan Mas Bagas tak bisa memaafkan perbuatannya, apalagi dia saja tak merasa bersalah. Manusia memang tempat salah dan dosa, tapi kalau tak sadar diri, tak mau introspeksi, maka tak akan berubah menjadi lebih baik.

.

.

Pulang dari tempat produksi, Mbak Dita sudah menghadangku di ruang tamu. Mukanya tampak sangat kesal.

"Ayu !!!"

"Kenapa Mbak ? Aku mau tidur siang, jangan ganggu deh."

"Mana Bagas ?"

"Masih kerja lah, Mbak."

"Kalian ini keterlaluan, yah. Makin kesini makin bertingkah. Kita ini keluarga, gak seharusnya kamu memperlakukan saudara kayak maling." Bentak Mbak Dita.

"Soal Mas Adit, yah. Emang dia udah maling, Mbak. Masih untung aku baik, gak aku lapor polisi."

Tangan Mbak Dita terangkat hendak menamparku.

"Jangan nampar, Mbak. Nanti tandu badakku keluar, nih." Aku berhasil menahan tangan Mbak Dita. Dia berusaha melepaskan cengkeramanku. Matanya melotot.

"Kamu harus dikasih pelajaran biar sadar diri. Kamu hanya istri Bagas, kami keluarganya. Dulu kami yang urus Bagas, udah banyak duit, kamu yang nguras."

"Terserah, Mbak. Aku lagi malas debat, capek. Mbak debat sama tembok dulu, yah. Nanti catat aja omongannya, atau rekam. Kalau aku udah mode santai, aku tanggapi."

Aku berusaha menghindar, tak enak sekali perut ini. Perutku terasa mules. Bagian MissV ku juga kayak ada yang keluar. Mau istirahat dulu, mungkin kecapean. Tapi Mbak Dita tetap saja menghalangi. Dia mencengkram tanganku kuat-kuat sampai terasa perih.

"Mbak, udah kayak hantu penunggu pohon pisang aja sih, ganggu terus." Teriakku kesal, menahan sakit dan berusaha melepaskan tangan Mbak Dita.

"Kamu takut ? Hah ? Sini, kita ribut aja ! Sumpah, aku udah emosi tingkat tinggi."

"Nanti aja ributnya, Mbak, perutku lagi sakit." Bentakku emosi.

"Halah, banyak alasan ! Sini kamu, kita adu Jambak !"

Mbak Dita berusaha menjambak kerudungku, tapi aku berusaha menghindar. Benar-benar kewalahan menghadapi tingkah abstrak kakak iparku ini.

"Aduh... Mbak !" Teriakku saat aku terduduk di lantai. Terasa ada air yang mengalir ke kaki.

"Jangan akting ! Sini, lawan lagi. Kali ini kamu sudah benar-benar keterlaluan. Gak bisa dibiarkan !"

"Perutku sakit, Mbak. Kayaknya mau lahiran." Ucapku menahan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan.

"Halah, mana mungkin. Bilang aja kamu gak berani lawan aku."

"Stres kamu, Mbak ! Aduh... Sakit banget. Bu... ibu... tolong, Bu !"

"Halah, akting ! Bilangnya sakit, tapi masih bisa ngumpat !" Cibir Mbak Dita.

"Ayu, kamu kenapa dilantai ?" Tanya ibu mertua yang baru datang dari luar.

"Bu, perut Ayu sakit. Kayaknya mau lahiran."

"Halah, jangan percaya, Bu. Dia hanya akting, sengaja karena gak berani lawan Dita."

"Astaga ! Banyak air... Ketuban kamu pecah, Yu."

"Bu, bawa aku ke rumah sakit, Bu. Perutku sakit banget, gak kuat, Bu."

"Dita ! Buruan cari bantuan, malah bengong disitu. Cucu ibu mau keluar !!!"

1
Ayu Rizka
ko gk ada kelanjutannya kak udah nunggu lama banget
Veni Damayanti
Luar biasa
Fatmah Abujahja
bagus ceritanya bisa jadi pembelajaran
Duda Fenta Duda
waduh suamimu ayu dakda tegasnya
vi
cerita nya 👍
Maulida Hayati
Luar biasa
Er Ropah
ska nih klo critanya menanntu bar2.....😄
sweetpurple
Luar biasa
Ritmaridu
kesel banget dgn org kayak mbak Dita,selalu nyalahin org atas takdir dia,padahal dia yg buat kesalahan,org kayak mbak Dita enaknya di apain ya😡😡
Norizah Mat Isa
Biasa
novita setya
yowes itu buah dari perbuatanmu dita. nikmati jalani..sukur2 sambil bertobat
novita setya
ciee ngarep banget siii..maap2 aja y gus fatih ga doyan sm lea..bukan muhrim
R. Kamal
pasti bekum nyesek tu jantung... msh luassssss heee
novita setya
sing salah bakale seleh..tuhkaaan kaaan disimpan serapat apapun ttp ketahuan..wuhuuu bakal dinikahin sm siapa nih..
R. Kamal
penyakit ngeyel dan pikun dipelihara akhirnya ketahuan juga ada janin...
novita setya
hasil tespek hoax tuh😄urine melia yg dipake. gus fatih udh ancang2..
R. Kamal
lanjutkeunnnn
novita setya
panggung part 2 digelar..pemeran utama princes lele dan ratu lelel. keknya 11-11,5 sm induk lelel
novita setya
td lea dan dita dipanggilin odong2 aja..
novita setya
usilnya ayu nurun ke kiara. si lea bener2 setan kw kelakuannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!