“Cinta tidak memberikan apa pun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apa pun selain cinta itu sendiri. Terluka dalam pemahaman tentang cinta. Berdarah dengan penuh ikhlas dengan penuh sukacita.”
Bagaimana memulai rumah tangga jika sama sekali tidak ada cinta? Hanya mendasarkan hubungan pada kompromi dan rasa hormat. Itu yang dijalani Ravendra Jaya Wardhana dan Medhina Kartika. Menjalani rumah tangga hanya sekadar formalitas, tidak ada rona dalam rumah tangganya. Kenyataan makin pelik karena Medhina masih begitu mencintai mantan kekasihnya, Andreas Saputra. Dalam upaya menggapai rumah tangga yang bahagia, Ravendra justru akan merelakan istrinya itu untuk kembali bersama dengan mantan kekasihnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Pekan
Kali ini adalah akhir pekan pertama bagi Medhina dan Ravendra. Bagi mereka pengantin baru dengan hubungan yang harmonis, menikmati akhir pekan tentu bisa bersantai dan bercinta bersama. Akan tetapi, tidak bagi Ravendra dan Medhina. Ingin menyibukkan diri, tetapi juga bingung harus melakukan apa. Terlebih apartemen milik Ravendra memang tidak begitu luas. Kendati demikian, apartemen itu memang mewah dan juga nyaman. Hanya saja, hubungan yang masih dingin justru membuat akhir pekan terasa berjalan begitu lama dan penuh dengan kegabutan.
"Ada ide enggak mau ngapain?" tanya Ravendra yang sudah merasa gabut sejak pagi.
Medhina mengedikkan bahunya perlahan, "Tidak, aku tidak tahu," balasnya singkat.
Kemudian Ravendra menghela nafas, bertanya kepada Medhina pun tak ada gunanya karena istrinya itu memang terlalu pasif. Ravendra akhirnya memilih masuk lagi ke dalam kamar dan rebahan di ranjang. Masak iya, akhir pekan dia justru akan bekerja. Rasanya juga tidak mungkin.
Sementara Medhina berada di ruang tamu, hanya sibuk dengan handphonenya. Benar-benar akhir pekan yang sepi dan juga tidak memberikan semangat bagi Medhina dan Ravendra yang notabene adalah pengantin baru. Lantas Ravendra kembali berdiri, kali ini pria itu kembali keluar ke ruang tamu.
"Mau ikut aku enggak?" tawarnya.
"Kemana?" sahut Medhina.
"Ke proyek. Melihat pembebasan lahan untuk proyek kerja sama Agastya Properti dengan Saputra Grup," ucap Ravendra.
Mendengar nama Saputra Grup, tentu saja Medhina merasa begitu kaget. Sebab, Medhina begitu kenal dengan Saputra Grup. Lantas apa yang membuat suaminya itu berhubungan dengan Saputra Grup.
"Mau membangun hotel yah? Setahuku Saputra Grup itu pemilik sejumlah Hotel Bintang Lima," balas Medhina.
Ravendra pun menganggukkan kepalanya, karena memang Saputra Grup adalah perusahaan yang bergerak di bisnis perhotelan. Kiprah CEO nya di kancah perhotelan sudah tidak perlu diragukan lagi. Paradise Hotel yang dimiliki oleh Raffael Saputra dikenal sebagai hotel bintang lima terbaik di Jakarta. Selain itu, masih ada Paradise Hotel lain di kota-kota besar di Indonesia yang terus berdiri.
Bagi mereka yang menginginkan pengalaman menginap di hotel bintang lima dengan fasilitas yang benar-benar luxury, Paradise hotel menjadi pilihannya. Kali ini Agastya Properti dan Saputra Grup merancang pembangunan sebuah hotel yang terintegrasi dengan Pusat Perbelanjaan.
"Kamu tahu Saputra Grup?" tanya Ravendra dengan tiba-tiba.
Dengan cepat Medhina menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak begitu maksudnya. Cuma tahu tentang Paradise Hotel. Salah satu Hotel Bintang Lima yang dimiliki Saputra Grup," balas Medhina.
"Oh, aku kira kamu kenal dengan Saputra Grup atau orang di dalam perusahaannya sana," balas Ravendra yang masih bersikap biasa saja.
Itu semua juga karena Ravendra tidak tahu mengenai istrinya yang dulunya memiliki hubungan dengan anak CEO Saputra Grup yaitu Andreas Saputra. Sehingga reaksi yang ditunjukkan Ravendra masih biasa-biasa saja.
"Enggak, mana aku kenal dengan pengusaha," balas Medhina dengan menundukkan kepalanya.
Sungguh, sangat tidak enak berbohong kepada suami sendiri. Tentu Medhina mengenal Om Raffael dan Tante Clara. Hanya saja, tidak mungkin juga Medhina mengungkapkan semua itu kepada Ravendra. Bahkan Medhina juga sudah beberapa kali bertemu dengan orang tua Andreas, hanya saja itu hanya sebatas pertemuan biasa. Pertemuan yang tidak pernah mengarah ke sebuah hubungan yang lebih serius.
“Ya sudah, aku ke proyek dulu … kamu tidak ingin ikut?” tanya Ravendra.
“Tidak … aku istirahat di rumah saja, lagipula besok aku sudah harus terbang lagi,” sahut Medhina.
Kali ini Medhina tidak bohong, memang dia hanya memiliki waktu libur dua hari dan setelahnya akan kembali terbang. Sehingga, memang Medhina memilih untuk istirahat saja, daripada harus mengikuti Ravendra ke proyek. Mengikuti suaminya ke proyek sama sekali tidak aman, jika bertemu dengan Om Raffael dan Tante Clara yang mengenal baik dirinya, semuanya justru bisa menjadi keadaan gawat darurat baginya.
Sementara Ravendra memilih tidak berkomentar. Mungkin saja jadwal pekerjaan seorang pramugari memang seperti itu. Hanya saja, jika nanti hubungan keduanya sudah baik, Ravendra akan meminta Medhina untuk tinggal di rumah saja. Sebab, Ravendra benar-benar takut dan berdebar-debar tiap kali melihat posisi pesawat udara dengan menggunakan flight radar. Berharap Medhina benar-benar safe flight dan safe landed saja.
“Baiklah, aku pamit dulu yah … hati-hati di apartemen. Jika ada sesuatu yang ingin dititip, Whatsapp saja. Sudah ada paket data kan? Jadi, tidak ada alasan tidak memiliki paket data,” sahut Ravendra.
“Iya,” sahut Medhina dengan menundukkan wajahnya lagi.
Kali ini tidak ada lagi kata mengelak untuk bisa berkomunikasi dan membalas pesan, karena memang Ravendra sendiri yang sudah mengisikannya pulsa. Setidaknya di rumah adalah alasan yang baik untuk Medhina, semoga saja Ravendra tidak akan tahu masa lalunya atau kisahnya yang belum usai dengan putra pemilik Saputra Grup itu. Jika, Ravendra sampai tahu, entah bagaimana lagi Medhina bisa memberikan penjelasan kepada suaminya atas semua sikap penolakannya selama ini.
Ravendra pergi dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya, setidaknya kali ini Medhina akan membalas pesannya, karena Ravendra sendiri yang mengisikan pulsa untuk istrinya itu. Dalam hatinya, Ravendra berkata bahwa nanti dia akan mencoba mengirim pesan kepada istrinya itu, mungkinkah pesannya terbalas atau tidak. Hanya saja, semoga saja Medhina akan menepati janjinya dan akan membalas pesannya.
Biar nggak putus komunikasi juga dan medina serta anak2nya bisa di perhatikan juga tiap harinya..
tapi dhina segampang itu lebih mempercayai orang lain, ragu dengan masa lalu suaminya, dhina cinta mu memang tulus tapi hati mu tidak ikhlas pada suamimu
.
utk Indi & Satria tdk dilanjut thor
terima kasih thor utk cerita indahnya.