JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN CERITANYA! Karya ini mengadakan Event. ikuti ceritanya dan menangkan hadiahnya.
Menikah muda adalah pilihan Putri Anis (18) dengan Angga Prabowo (20). Alih-alih karena beralasan tidak ingin berpacar-pacaran dan menghindari zina di jaman modern seperti ini. Akhirnya mereka memutuskan menikah tepat ketika Putri lulus sekolah.
Gosip simpang siur tentang pernikahan Putri dan Angga yang terkesan buru-buru membuat para lambe tureh memiliki cerita hangat untuk mereka gosipkan.
Kata menikah, terkadang dalam benak para muda-mudi adalah sesuatu yang mudah untuk di jalani.
Sang istri masak, mengurus rumah dan mengurus anak, dan suami bekerja di luar. Benar-benar terdengar sangat mudah.
Tetapi ... Apakah akan semudah itu?
Apakah beberapa kalian setuju dengan ku jika tidak akan semudah itu?
Mari kita simak bersama-sama cerita kelanjutannya seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamaperi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Please, jelaskan.
Di kantor polisi, terlihat Angga yang sedang melakukan interogasi.
Namun, sepanjang interogasi, Angga hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Lisannya terkunci tak sanggup mengutarakan sepatah katapun.
"Ini akan sia-sia, akui saja perbuatan mu. Karena semua bukti sudah menyatakan jika kamu bersalah!" polisi mencoba untuk lebih menciutkan nyali Angga.
"Aku tidak perlu, aku hanya ingin berbicara dengan istriku!"
Angga selalu hanya mengatakan ingin bertemu dengan Putri.
Entah apa yang ingin Angga katakan, namun dia enggan menjawab pertanyaan polisi menyangkut apa yang terjadi.
Tidak lama, Mico dan Putri sampai ke kantor polisi. Mereka ingin menyerahkan barang bukti di mana Angga yang sudah menampar Istrinya dan juga menghajar Mico tanpa ampun.
Ketika melihat Putri datang, Angga pun langsung tersenyum. Matanya mulai berkaca-kaca, rasanya tidak sabar untuk bersimpuh pada kedua kak Putri.
Kaki Putri pun berhenti ketika dia melihat sosok pria yang sudah membuatnya jatuh sedalam-dalamnya pada hati yang rapuh.
Angga tergesa-gesa berlari ke arah Putri dan langsung melekukkan lututnya ke lantai.
Tangannya yang di rantai oleh borgol besi bergetar hebat ketika ingin menyentuh kaki sang istri.
Namun, Putri dengan cepat memundurkan kakinya. Ia enggan untuk di sentuh oleh Angga dengan segala apapun yang sudah suaminya lakukan padanya.
Angga tersentak ketika melihat Putri memundurkan kakinya. Rasanya sangat sakit sampai air matanya bercucuran seperti air buaya.
"Dek, maafkan mamas dek, sungguh mamas telah salah kepadamu. Ma-mamas tidak melihat semuanya dengan jelas sayang, maafkan mamas ya?"
Angga sangat gugup untuk menjelaskan bagaimana perasaanya saat ini. Sungguh Angga sangat menyesal.
"Benar mas, kamu telah salah. Ke salah mu adalah, kamu menentang orang tua mu dan memilih tetap menikahi aku. Padahal, kamu tau sendiri bahwa sedari awal ibu dan mbak kamu tidak menyukai aku. Setelah kamu menikah, lalu apa yang ingin kamu buktikan pada dunia? Kamu berjanji akan selalu menjaga dan melindungi ku, tapi selama ini kamu membiarkan aku untuk berdiri sendiri di atas penderitaan yang kamu dan keluargamu berikan padaku.
Selama ini, kamu telah menyalahkan gunakan kesetiaan dan juga sebaran aku. Sekarang, kamu harus membayar mahal setiap air mata yang terbuang dengan sia-sia."
Putri memalingkan wajahnya ketika berbicara, dia sangat enggan untuk menatap mata suaminya yang terus menandingi setiap duka di matanya.
"Sayang, aku tau, aku tahu aku sudah salah, aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Apakah kamu mau membuat masa depan anak kita hancur, bagaimana jika dia mengetahui jika ayahnya adalah seorang narapidana. Bagaimana dengan masa depannya. Pikirkanlah masa depan anak kita, sayang!?"
Angga mengeluarkan jurus kelemahan Putri. Karena Angga tahu, Puteri akan luluh ketika menyangkut soal anak.
"Itu tidak akan terjadi, karena aku akan menjadi satu-satunya ayah yang akan Aurel kenal. Aku menjadi ayahnya untuk saat ini dan selamanya."
Deg
Perkataan Mico membuat jantung Putri serasa ingin copot dari tempatnya. Bahkan Angga pun langsung merasakan lahar telah membakar perasaanya.
"Matilah kau!"
Angga pun langsung bangkit dan langsung mencoba untuk mencekik Mico.
Namun para polisi langsung bergegas untuk untuk menolong Mico dan langsung memenjarakan Angga.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN, BAJ*NGAN ITU MENCOBA UNTUK MEREBUT ISTRIKU! LEPASKAAAAN!" Angga meraung-raung tidak terkendalikan.
"Diam kamu!" Pak polisi melototi Angga dengan geram.
"Pak, biarkan aku bertemu dengan isteri ku sekali saja, pak! Aku mohon pak!?" Angga bersujud di dalam jeruji besi.
Pak polisi tidak menggubris ucapan Angga yang sangat membualkan. Mereka pun langsung kembali ke arah Putri dan Mico yang ingin menyerahkan barang bukti.
Putri yang tidak ingin berlama-lama di dalam penjara pun akhirnya memutuskan untuk pulang setelah barang bukti sudah di berikan kepada polisi.
Di perjalanan, di dalam mobil mico dan Putri sama-sama tidak saling berbicara. Situasi menjadi sangat canggung ketika Mico mengatakan jika dirinya akan menjadi ayah dari anaknya.
Ingin sekali Putri bertanya apa maksudnya, namun, Putri tertahan karena dia tidak siap untuk mengerti apapun saat ini.
Putri hanya menganggap jika perkataan Mico hanyalah gurauan saja. Jadi, Putri tidak ingin membahasnya lebih jauh.
Begitu pun dengan Mico. Dia hanya membisu tak berniat menjelaskan apa yang barusan yang dia ucapakan. Seolah semuanya hanyalah angin lewat saja. Diamnya Mico, membuat Putri menambahkan keyakinannya jika Mico hanyalah bergurau. Mungkin, Mico ingin membuat Angga cemburu.
Ketika mobil mereka melewati ruko Putri yang terpaksa tutup hari ini. Tidak terasa, air matanya menetes begitu halus.
Bagaimana tidak, usaha yang baru saja dia dirikan, selalu ada saja musibah yang membuatnya merasa tidak semangat dan kurang percaya diri lagi.
"Apakah kamu ingin kembali lagi ke toko?" tanya Mico.
"Aa, tidak kak. Aku ingin pulang dan menjelaskan semuanya kepada bapak," jawab Puteri.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mico.
Putri sedikit terkejut dengan perhatian Mico. Apakah dia mencoba topping pembicaraan yang tepat. batin Putri.
"Aku baik, kak. Aku tidak papa. Mungkin ini sudah saatnya. Mas Angga memang harus di beri pelajaran supaya dia tidak asal main pukul orang."
"Aku bisa langsung mencabutnya jika kamu keberatan?"
"Tidak masalah kak, insyaallah Aurel akan memaafkan bapaknya. Aku tidak akan berkata buruk yang membuat Aurel berburuk sangka pada bapaknya."
"Mengapa mengatakan sesuatu pada bapaknya. Karena ketika Aurel bisa berbicara dan berjalan, akulah yang akan pertama kali dia sebut dan dia kejar."
Mico dengan percaya diri berkata seperti itu. Tatapnya sama sekali tidak menoleh ke arah lawan bicara, membuat Putri sangat sulit untuk mencerna perkataan Mico.
"Maaf kak, bercandaannya udahaan dulu ya, lagian sekarang sudah gak ada mas Angga," ucap Putri dengan gugup.
"Aku tidak perduli dengan Angga. Yang aku pedulikan adalah masa depan kamu dan juga anak-anak mu."
DUOR!
Di siang bolong, terik matahari yang menyengat, awan yang cerah bercahaya, tak menghentikan badai petir menyambar hati Putri.
"K-kak, apa maksud mu?" tanya Putri gugup. Tangan dan kakinya bergetar dengan sangat jelas.
"Aku sudah memutuskannya."
Mico benar-benar terlihat enggan untuk menjelaskan dari apa yang dia katakan.
"Kak, kamu memutuskan apa!? Apa yang kamu putuskan? tolong jelaskan padaku, kenapa keputusan mu harus menyangkut aku dan juga Aurel!?"
Putri memburu tidak tahu harus berkata apa. Dia benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan Mico.
Selama ini Mico hanya diam.
Selama ini, Mico selalu dingin.
Tidak pernah dia memberikannya perhatian sesama teman, atau kenalan selayaknya orang yang di kenal.
Namun sesat ini dia berkata, akan bertanggung jawab penuh atas kehidupan Putri dan juga Aurel.
Bukannya menjawab, Mico tetap memilih untuk diam dan membisu.
..................
...****************...
slm sukses
semoga sukses selalu untuk semua karya-karya nya 🥰
Happy Ending
My Bestie mampir