NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

...Godaan Lara Season 4...

"Jadi. . .kamu beneran mau ikut Youth Music Fest itu?" tanya Cariss memulai, menatap Molly yang masih canggung dengan wamah.

"Aku. . .nggak yakin, Kak. . .," jawabnya ragu-ragu. "Aku cuma bisa mainin beberapa lagu. . ."

"Itu nggak masalah," ujar Cariss, tersenyum. "Nggak ada pianis hebat yang nggak berlatih dengan keras. Semua itu butuh usaha. Sekarang, tergantung diri kamu sendiri, Molly"

"Tapi. . .," Molly masih tertunduk ragu.

"Richard bilang kamu punya bakat," kata Cariss lagi, tampak sungguh- sungguh. "Kamu tahu nggak sih kalau dulu Richard juga nggak pedean waktu dia ikut empat tahun yang lalu? Richard masih kelas tiga SMP lagi"

Molly mengangkat kepalanya, menatap Richard yang sekarang malah canggung.

"Saingannya itu berat-berat lho. Tapi, kamu nyangka nggak Richard menang dan sampai diutus ke Jakarta untuk mewakili Bandung dalam festival nasional?" sambung dia, melirik Richard yang tersenyum.

"Apa?" Molly kaget. Richard menang?

"Sayangnya aku nggak menang di tingkat nasional kan?" Richard mengingatkan.

"Iya, tapi kamu sempat ke Austria untuk tampil sama musisi lain dalam festival music Eropa.," Cariss ikut mengingatkan dan mereka tampaknya saling mengenal satu sama lain. Seperti kakak dan adik. "Udah deh,

Richie, kamu harus kasih semangat Molly dong"

Richard menatap Molly yang memandangnya penuh kekaguman. "Itu hanya jalan pembuka," katanya. "Kalau kita sering ikut festival nama kita

bisa dikenal dan diperhitungkan, menang atau nggak menang. Yang penting ada usaha"

"Aku. . .," Molly masih ragu-ragu. Ada banyak hal yang berputar-putar dalam pikirannya yang bingung.

Main piano adalah hal yang nggak pernah terpikirkan. Ia hanya mengenal buku sketsa dan krayon sebagai hobi di waktu senggang -mengalihkan perhatiannya dari perlakuan orang-orang dan kesulitannya menghadapi mereka. Main piano berarti mengikuti jejak Mama yang sudah lama meninggalkan impiannya. Apa ia akan mampu dengan keadaannya yang seperti ini? Kata-kata disleksia selalu menghantuinya, membuat dinding tebal di sekitarnya yang menjadikannya berbeda dari anak-anak lain. dan itu harus selalu ia ingat, sekalipun ia dengan begitu mudahnya terlupa akan sesuatu.

****

"Lo masih marah sama gue?" wajah Chika masih terlihat sedih dan menyesal. Memperhatikan sikap Getta yang jadi dingin padanya.

Walaupun duduk berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter, Getta seolah berada di ujung meja yang panjangnya sepuluh meter. Lebih-lebih ia nggak bicara selain dari pertanyaan klise Chika yang mencoba membuatnya baikan.

"Gue nggak pernah marah sama lo," katanya. "Bukannya lo yang main pergi ninggalin gue waktu itu?"

Chika tertunduk lesu, sebelum pasang tampang memelas lagi. "Maafin gue, Getta. . .," ucapnya. "Gue janji nggak bakal ngelakuin itu lagi"

Getta mengangguk pelan. Memandangi Chika dengan sedikit jengah. Sebenarnya ada hal lain yang tengah ia pikirkan. Bukan cuma soal Chika yang akan ngomongin masalah status mereka yang menurutnya sangat penting. Tapi, saat ini posisinya kejepit dan Chika nggak tahu itu.

"Kenapa sih lo setega itu?" tanya Getta tiba-tiba.

"Maksud lo?" Chika tampak heran. "Tega gimana maksud lo?"

Getta mendengus, memalingkan wajahnya sebentar sebelum kembali menatap Chika yang belum sadar apa maksudnya.

Tapi, hanya beberapa saat raut sedih Chika yang memelas berubah menjadi wajah penuh penyesalan. Pasti ini soal Molly. Chika mulai siap- siap kalau Getta menuntutnya hari ini.

"Lo nggak pernah kasih suratnya ke Molly. Lo bohong kalau dia punya banyak teman," Getta memperjelas, sekarang terlihat kesal. "Teman apanya? Dia nggak jauh beda dari saat masih SMP. . ."

Chika diam.

"Yang gue nggak habis pikir. . . yang gue tahu kalian tuh sahabat. . .kenapa lo tega ngelakuin ini ke dia?" Getta beneran menuntutnya dan Chika belum punya balasan satu kata pun.

Chika menatapi ekspresi kesal Getta yang menurutnya nggak adil. "Itu gara-gara lo!" kata Chika, suaranya lantang. "Kalau lo nggak suka sama

Molly ini semua nggak akan terjadi"

Getta membelalak. "Gu. . .gue. . .?" ia tampak nggak mengerti.

Kenapa juga perasaan Getta sama Molly jadi masalah.

"Lo harusnya milih gue, bukan dia. . .," Chika memperjelas. Suaranya mulai gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca. "Karena orang bilang kita cocok. Menurut orang bakal bilang apa, Getta cowok keren di sekolah pacaran sama cewek kayak Molly? Sementara gue ada di sekitar kalian. . .lo mikir dong. . ."

Getta menggeleng-geleng nggak percaya, kenapa alasan Chika terdengar konyol di telinganya. "Peduli apa sih lo soal pendapat mereka?" balasnya, menghela nafas lelah.

"Gue suka sama lo!" kata Chika setengah teriak. "Kalau lo nggak mau terima alasan gue yang itu, apa bakal kedengaran masuk akal kalau gue bilang gue suka sama lo, Get?"

"Tapi, kenapa lo harus nyakitin Molly?" tuntutnya lagi.

Chika mulai terisak begitu setetes air mata membasahi pipinya dan Getta mulai bingung. "Gue nggak tahu. . .cuma itu yang kepikiran saat gue nggak bisa ngebiarin itu terjadi. . ."

Getta pun terdiam. Ia nggak sanggup menengok ke belakang -hari-hari yang telah berlalu, sebelum mereka tercerai berai. Ternyata masih tertinggal wajah sedih Molly yang diwarnai cat di hari pengumuman kelulusan. Seharusnya itu nggak menjadi hari terakhir Getta bisa melihat wajahnya.

Jika saja saat itu, Getta sedikit lebih peka, semuanya nggak akan sesulit ini.

Tapi, bagaimana dengan Chika yang terlanjur melakukan segala cara untuk tetap bersamanya?

Getta akhirnya berdiri dari kursinya sambil menyandang ransel, bergegas ingin pergi. "Gue kecewa sama lo," katanya dan benar-benar berlalu meninggalkan Chika yang hanya bisa menangis, menyaksikan sosok Getta menghilang di balik pintu caf pink.

****

"Dulu aku les di sana sejak kelas satu SMP," jelas Richard dalam perjalanan pulang. "Waktu itu Kak Cariss baru jadi instruktur setelah lulus dari sekolah musik di Belanda"

Molly diam dan mendengarkan, sambil tetap mikirin gimana caranya untuk bilang sama Papa dan Mamanya di rumah.

"Dia bantuin aku banyak hal," sambung Richard, lalu menoleh ke samping di mana Molly menjadi murung. Kelihatannya masih ragu dengan pamphlet di tangannya.

Mobil tetap melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Molly, tapi cewek ini sepertinya tengah mengembara entah ke mana. Hanya badannya saja yang ada di sini.

"Eh, eh!" tegur Richard tiba-tiba, menoleh ke samping lagi sebentar dan tetap hati-hati pada jalanan di depannya. "Kamu tahu nggak, Kak Cariss itu pacarnya Pak Heru?"

Molly tersentak. Pacar?, ia menoleh dengan mata membelalak. Cariss pacar wali kelasnya yang keren itu?

Richard tertawa. "Yah, mereka pernah dekat," jelasnya.

"Kok kakak bisa tahu?" Molly masih bingung.

"Aku lupa bilang ya kalau aku sama Pak Heru sepupuan?" Richard tertawa. "Di sekolah banyak yang nggak tahu kalau aku tinggal sama dia. Kan aku udah bilang orang tuaku dua-duanya di Australia"

Molly hanya melongo. Dua saudara sepupu yang sama kerennya.

Pantesan. . .

"Karena dulu sering di antar Pak Heru pergi les makanya dia ketemu Kak Cariss lalu dekat dan ya. . .gitu deh," jelas Richard lagi.

Cariss yang segitu cantiknya dan Pak Heru yang segitu kerennya. . ., membayangkannya aja seperti melihat Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Mereka cocok.

"Kenapa?" tegur Richard. "Kamu patah hati?"

Ejekan Richard barusan membuat raut Molly jadi cemberut. Tapi, ia hanya bisa diam sambil membayangkannya sekali lagi. "Mereka sama baiknya," kata Molly kemudian tersenyum. "Pak Heru itu baik banget sama aku. . ."

"Ya, dia emang tipe yang perhatian sih. . .tapi rada kaku gitu," kata Richard. "Ngebosenin dan nggak gaul!"

Molly tertawa. "Kakak ngatain sepupu sendiri. . .," katanya lalu cekikikan.

"Iya! Itu emang bener kok!" serunya, lalu melirik Molly lagi. "Tuh kan, akhirnya kamu bisa ketawa lagi"

Jadi Richard bilang begitu hanya supaya Molly ketawa lagi? Bener-bener cowok idaman. . .

"Jadi. . .kamu bakalan ikut festivalnya kan?" tanya Richard lagi.

Molly diam dan murung lagi.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!