Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Yudistira dan Inggrid 08
menyesal
.
.
.
usia kandungan Inggrid sudah memasuki bulan ketujuh. ruang geraknya pun menjadi lebih terbatas, karena perutnya yang semakin membesar. Yudistira menjadi over protective dengan keadaannya saat ini.
Inggrid sering mengeluh karena Yudistira melarangnya melakukan banyak hal. Yudistira mengijinkannya pergi ke kantor, namun ia tak mengerjakan apapun di sana. ia hanya duduk menunggui Yudistira di dalam ruangannya dengan seabrek makanan yang di belikan oleh Yudistira sebelum berangkat ke kantor.
"gak ada yang bisa aku bantu gitu mas, bosen tahu diem terus," rajuk Inggrid sambil tetap mengunyah makanan.
"ada,"
seketika Inggrid langsung berdiri, mendengar jawaban Yudistira.
"tetap duduk di sana," lanjut Yudistira sambil menunjuk kursi yang tadi di duduki Inggrid.
Inggrid menghentakkan kakinya kesal, kemudian kembali duduk dengan bibir mengerucut dan komat Kamit. Yudistira tersenyum melihat Inggrid duduk kembali dengan mulut komat Kamit.
esok paginya Yudistira melarang Inggrid pergi ke kantor bersamanya, walau Inggrid memaksa untuk ikut.
"masih banyak kerjaan yang belum aku selesaikan mas,"
walau memang tidak mengerjakan apapun di kantor, ia harus tetap ikut daripada terkurung di dalam rumah itu lebih membosankan. begitu menurutnya.
"Kamu bisa ikut aku ke toko,"
namun, Kamelia menawarkan diri untuk mengajak Inggrid ke toko roti. yang di angguki oleh Inggrid.
"gak usah kamu, di rumah saja, kalau butuh apa minta tolong bibi," Yudistira menolak usulan Kamelia.
"di sana kan ada kamarnya juga mas, Inggrid bisa istirahat," bujuk Kamelia.
walau tidak yakin Yudistira mengizinkan Inggrid ikut dengan Kamelia. setelah mengantar kedua istrinya ke toko roti Yudistira langsung melajukan mobil menuju kantor.
sempai di kantor pun, ia tidak fokus pada pekerjaannya. beberapa kali ia melihat handphonenya, berniat untuk menghubungi Inggrid. namun selalu ia urungkan, ia takut jika Kamelia mengetahui maka akan menyulut kecemburuan Kamelia.
"kamu istirahat di sini ya, kalau butuh apa apa panggil Sari saja, teriakin dari situ," ucap Kamelia sambil menunjuk kearah ujung tangga. dan di angguki oleh Inggrid.
"Ingat! jangan kemana-mana. apalagi naik turun tangga, lantainya masih basah baru di pel sama anak anak," imbuh Kamelia mengingatkan kembali.
"Iya, aku gak akan kemana mana. mbak, kok jadi cerewet kaya mas Yudis sih. sudah, sana turun,"
Inggrid mendorong Kamelia agar keluar kamar. kemudian mereka tertawa, bersamaan dengan Inggrid menutup pintu kamar. namun, saat ia berbalik kepalanya mendadak pusing.
ia meraba salah satu sisi tembok yang paling dekat dengan tempat berdirinya saat itu. pusing yang sangat luar biasa, membuat seisi kamar terasa berputar putar di atas kepalanya.
ia terjatuh dengan bertumpu pada sebelah pahanya, karena tidak dapat menahan beban tubuhnya sendiri. ia pun tak menyadari jika jatuhnya terlalu keras. seketika itu, ia juga merasakan mulas dan sakit di bagian pinggul.
ia memegangi perutnya yang terasa semakin mulas. dengan mata terpejam dan bibir mengatup rapat. ia berusaha berdiri dengan berpegang pada sisi tembok.
"sayang, bunda mohon bertahanlah di sana" ucapanya dengan suara mendesis dan mengabaikan pusing di kepalanya.
dengan berjalan setengah membungkuk, ia berjalan mendekat di ujung tangga untuk mencari bantuan. ia memanggil manggil nama Sari dengan suara lemah dan terbata.
tangannya semakin menggenggam erat pagar tangga, untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, kedua sara sakit yang ia rasakan, memaksanya untuk segera memanggil seseorang. namun saat ia kembali berdiri tegak tubuhnya terasa semakin lemas dan akhirnya limbung.
semakin ia menahan rasa sakit di perutnya, semakin terasa sekali benda menekan perutnya berulang ulang.
...****************...
"bagaimana keadaan Inggrid?" tanya Yudistira dengan nafas terengah engah.
setelah mendapat telepon dari Kamelia yang mengatakan Inggrid jatuh dari tangga, ia segera pergi menuju rumah sakit yang katakan Kamelia melalui telpon.
ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, menembus jalan raya yang ramai dengan lalu lalang kendaraan saat itu.
"sial!" ia memukul kemudi dengan keras lampu merah menyala. setelah lampu kembali hijau, ia menginjak pedal gas lebih kuat, tak peduli lagi dengan keselamatannya sendiri.
"Woi! brengsek,"
ia juga tidak peduli dengan makian pengendara lain, yang kendaraannya hampir terserempet. yang ada di dalam kepalanya saat ini hanyalah segera sampai di rumah sakit dan mengetahui keadaan Inggrid.
"bagaimana keadaan istri saya dokter," tanya Yudistira, pada dokter yang keluar dari kamar UGD.
"masih kami tangani, dan ada yang harus kami pastikan," jawab sang dokter, kemudian meninggalkan Yudistira dan kamelia.
setelah beberapa menit, dokter itu kembali dengan bersama Vika dan masuk ke dalam UGD.
sebelumnya, Vika sempat menghentikan langkahnya sejenak untuk menatap Yudistira. tatapan menunjukkan kemarahan besar pada Yudistira.
"keluarga pasien?" Yudistira langsung berdiri di ikuti oleh Kamelia di belakangnya.
setelah mendapatkan penjelasan tentang keadaan Inggrid, bahwa bayinya harus segera di keluarkan Yudistira menandatangani surat persetujuan tindakan.
bagai kehilangan separuh nyawa, hatinya terasa perih. mana mungkin, bayi yang baru berusia tujuh bulan dalam kandungan harus segera di keluarkan.
Namun, apa yang dia lakukan saat ini?
ia hanya pasrah saat dokter memberinya selembar kertas untuk di tandatangani.
"kalau sampai terjadi sesuatu pada Inggrid dan anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
ia benar-benar marah, hingga mengangkat telunjuknya di depan Kamelia.
hatinya sedikit mencelos saat menatap wajah polos Kamelia saat itu. ia tahu bahwa kejadian yang menimpa Inggrid di luar kendali Kamelia. namun, ia benar benar marah saat mengingat Kamelia memaksa Inggrid untuk ikut dengan nya.
tak hanya sampai di situ, bahkan ia juga melarang Kamelia masuk ke dalam ruangan Inggrid.
"berhenti! jangan pernah berpikir untuk masuk kedalam ruangan Inggrid,"
Kamelia menatap punggung Yudistira dengan air mata berderai. ia berdiri mematung dengan perasaan yang telah hancur. sebesar itukah kemarahan Yudistira padanya.
walau Yudistira melarangnya untuk masuk ke dalam kamar Inggrid, Kamelia tetap berjaga di sana. sesekali ia mencuri kesempatan untuk mengintip Inggrid melalui kaca pintu kamar Inggrid.
Yudistira menatap wajah pucat Inggrid yang terbaring di atas ranjang. ia menggenggam tangan Inggrid kemudian mengecupnya.
"cepatlah bangun, putra kita sudah lahir. kita harus memberi nama untuk anak anak kita,"
begitu sulit untuknya mengatakan itu. hatinya perih melihat wanita yang ia cintai berbaring tak berdaya. kemudian ia keluar dari ruangan itu berniat untuk menenangkan hati yang terasa terhimpit. namun, ia harus melihat pemandangan yang lebih perih saat Kamelia tidur meringkuk di atas sebuah tikar kecil tanpa selimut menutupi tubuhnya.
ia tahu, dirinya brengsek. tapi ia masih punya hati untuk tidak membiarkan Kamelia tidur seperti itu. ada penyesalan di dalam hatinya, bagaimana ia bisa menyalahkan Kamelia atas sesuatu yang menimpa Inggrid.
sedangkan Kamelia tidak pernah menyalahkan nya, atas pengkhianatan cinta dan kepercayaan yang dia berikan.