Velicia menikah dengan Arnold pria yang selama ini di kiranya yang pernah masuk dalam kenangan masa lalunya...
Cinta yang berawal dari lantunan piano dari seorang pria yang memainkan lagu Sleep in the deep sea yang biasa di mainkan ibu Velicia sewaktu sang ibu masih hidup...
Pernikahan Aliansi yang terjadi di antara mereka, bukan membuat Velicia bahagia namun malah membiat dia terluka hingga penyakit mematikan menyerang hidupnya...
akankah Arnold bisa mencintai Velicia??
yukk baca novelku...!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DALAM LUKA (Bab 28)
Andreas langsung menangkap tubuh Velicia, dia memapah tubuh Velicia, dia mengangkat dan menggendong tubuh Velicia yang semakin hari semakin kurus akibat penyakit yang di deritanya. Andreas melangkah cepat menuju mobilnya, dia membuka pintu mobil dengan susah payah lalu membaringkan tubuh Velicia di bangku belakang. Setelah itu , Andreas masuk ke dalam mobilnya melalui pintu kemudi. Andreas langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah sakit sambil sesekali menoleh pada Velicia. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Velicia.
Sesampai di rumah sakit, Andreas keluar dari mobil dia membuka pintu mobil bagian belakang, dia langsung mengangkat tubuh Velicia, mengeluarkannya dari dalam mobil, dia melangkah menuju IGD rumah sakit.
“ Dokter ” teriak Andreas panik memanggil-manggil tenaga medis.
Beberapa perawat menghampiri Andreas dengan membawa brangkar. Andreas membaringkan tubuh Velicia di atas brangkar pasien dengan hati-hati. Para perawat pun membawa Velicia masuk ke ruangan pemeriksaan, Andreas di minta untuk menunggu di ruang tunggu sementara itu Velicia di periksa oleh dokter.
Andreas berjalan mondar-mandir menunggu Velicia, entah mengapa ada rasa kekhawatiran yang menyelinap di hati Andreas. Dia takut terjadi hal yang tak di inginkan pada Velicia nantinya.
“ Keluarga nona Velicia “ seru seorang perawat setelah beberapa menit mereka memeriksa Velicia di ruangan pemeriksaan.
“ Maaf sus ... saya yang membawa nona Velicia kesini...,” sahut Andreas menghampiri perawat yang kini berada di samping seorang dokter.
“ Anda ada hubungan apa dengan pasien?” tanya dokter pada Andreas.
“ Saya teman pasien dok ... dia tidak memiliki keluarga di dunia ini ... saya sebagai temannya betanggung jawab untuk kesehatannya“ jawab Andreas jujur.
“ Baiklah ... kalau begitu bisakah anda ikut saya ke ruangan saya “ pinta sang dokter.
Andreas mengangguk lalu mengikuti langkah sang dokter menuju ruangannya. Di dalam ruangannya sang dokter duduk di kursi kebesarannya, Andreaspun ikut duduk di kursi yang ada tepat di hadapan sang dokter.
“ Begini tuan, nona Velicia mengidap penyakit kangkr serviks stadium 3” ujar sang dokter.
“ Nona Velicia telah mengetahui penyakit yang di deritanya,kemungkinan waktunya untuk hidup hanya tersisa beberapa hari lagi” jelas dokter membuat hati Andreas merasa sangat terpukul.
“ Tapi dok, apakah tidak ada cara lain untuk penyembuhan penyakit yang di derita oleh Veli?” tanya Andreas pada sang dokter dia berharap kesembuhan untuk Velicia.
“ Untuk penyakit yang di derita nona Velicia memang sangat mustahil bisa di obati, namun jika anda bisa mencari alternatif lain di luar negeri, mungkin ada sedikit harapan untuk kesembuhannya” jelas sang dokter.
Andreas tampak berfikir sejenak, dia mengingat sahabatnya yang merupakan seorang dokter kandungan di Paris. Andreas akan mencari tahu tentang pengobatan penyakit yang di derita oleh Velicia dari sahabatnya itu
“ Baiklah dok, terima kasih atas informasinya” ujar Andreas.
“ Bisakah saya menemui Veli dok?” tanya Andreas pada sang dokter.
“ Bisa, perawat akan memindahkan nona Velicia ke ruangan rawat, saat ini dia masih belum sadarkan diri” jawab sang dokter.
“ Terima kasih dok” ujar Andreas, dia berdiri dari duduknya lalu dia menjabat tangan sang dokter.Andreas pun melangkah euar dari ruangan sang dokter.
Di luar ruangan dokter, Andreas menghampiri seorang perawat.
“ Sus, dimana nona Veli?”tanya Andreas.
“ Massih di ruang pemeriksaan tuan, kami akan memindahkannya ke ruangan rawat ... tapi sebelum itu saya mohon tuan mengurus segala administrasinya terlebih dahulu ...,” ujar si perawat.
“ Baik sus ... terima kasih ..., “ ucap Andreas.
Andreas pun melangkah menuju resepsionis untuk melakukan pendaftaran, setelah mengurus berbagai hal yang menyangkut administrasi, Andreas pun kembali ke tempat Velicia berada yang kini telah berada di ruangan rawat.
Velicia terbaring lemah di atas brangkar, raut kesedihan dan luka yang di pendamnya masih tersirat di wajah anggunnya yang terlihat pucat menahan ras sakit yang ada di tubuhnya. Andreas mendekati Velicia, dia duduk di kursi yang ada di samping tempat brangkar Velicia.
Andreas menatap sendu pada Velicia, dia merapikan rambut Velicia yang terlihat berantakan. Ada rasa yang muncul di hatinya. Dia bertekad akan membantu Velicia untuk sembuh dari penyakit yang di deritanya saat ini.
Tak berapa lama, Andreas mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia mencari nomor kontak sahabatnya saat kuliah di Paris. Saat mendapati nomor kontak Katty, dia langsung men-dial nomor kontak tersebut.
“ Hallo” ucap seorang wanita dengan suara yang sangat lembut.
“ Katty, how are you?” tanya Andreas berbasa-basi.
“ I’m fine And, ada apa And tumben kamu menghubungiku?”tanya Katty heran saat mendapati panggilan dari sahabatnya yang sangat
“ Aku ingin bertanya sesuatu padamu Katty...” ujar Andreasterus terang.
Katty yang awalnya hendak membuka beberapa berkas pasien yang ada di atas meja langsung menutupnya lalu duduk santai di shofa yang terdapat di ruangannya, sebelum itu dia memberi isyarat kepada asistennya untuk istirahat sebentar. Karena saat ini Katty sedang bertugas praktek di sebuah klinik.
“ Kamu mau nanya apa And? Jangan sungkan” ujar Katty ramah.
“ Katty, aku memiliki seorang teman yang saat ini sedang sekarat melawan penyakitnya” ujar Andreas memotong ucapannya.
“Sakit apa And?” tanya Katty penasaran.
“ Dia mengidap sakit kangker serviks” jawab Andreas dengan nada yang sedih.
“ Lalu?” Katty masih belum mengerti maksud dantujuan Andreas menghubunginya.
“ Katty, aku ingin menanyakan padamu apakah temanku masih ada kesempatan untuk sembuh setelah dia di vonis dokter umurnya hanya tersisa beberapa hari lagi” jelas Andreas dengan nada yang sangat sedih.
Katty merasa penasaran dengan sikap Andreas, sepenting apakah teman yang di ceritakan Andreas padanya.
“ Aku tak bisa mengetahui seberapa parahnya penyakit yang di deritanya And, tanpa memeriksakondisinya” ujar Katty.
“Jika aku membawanya kesana apakah mungkn dia untuk sembuh ?” tanya Andreas mengharapkan suatu kepastian.
“ And ... hidup dan mati seseorang itu bergantung degan takdir Tuhan, kita sebagai seorang hamba hanya bisa berusaha. Untuk itu apa salahnya kita berusaha terlebih dahulu ...,” ujar Katty memberikan secercah harapan pada Andreas.
“ Baiklah Katty ... aku mohon bantuanmu untuk mengurus berbagai halnya di sana, aku kan mempersiapkan segala sesuatunya di sini” ujar Andreas penuh harap.
Andreas berusaha yakin dengan usaha yang akan di lakukannya untuk menyembuhkan Velicia. Di samping itu dia juga berharap pada Tuhan untuk memberikan kesempatan pada Velicia menyambung hidupnya. Sehingga Velicia dapat menemukan kebahagiaanya nanti.
Andreas dengan setia menemani Velicia di rumah sakit, dia menjaga Velicia dengan baik walaupun Velicia belum juga sadarkan diri dari pingsannya.
Bersambung...
.
.
.
.
.
Terima kasih Readers yang udah baca karya owner...🙏🙏.
Jangan lupa dukung terus karya Owner dengan meninggalkan jejak...
\=> Like
\=> koment
\=> Hadiah
\=> Vote...
Terima kasih atas dukungannya...🙏🙏🙏
Sukses bwt kk 😊💐