Reina tak menyangka kalau pria bernama Gerald itu berani melamarnya, Pria abg itu berani melamar wanita itu di depan teman-teman sekolahnya.
Gerald memang tergila-gila pada Reina,Tetangga nya yang bekerja sebagai notaris di kantor pemasaran Grand wisata Bekasi.
Siapa yang gak tertarik pada Reina? Cantik, baik, pintar, dan lembut hal itulah yang membuat Gerald jatuh cinta pada Reina.
Awal nya Gerald dapat penolakan dari Reina tapi tak menyerah dan pantang mundur.
Pada akhir nya, Reina luluh juga oleh kekuatan cinta abg tampan itu dan mau menerima lamaran pria muda itu dengan hati bahagia.
Tapi kebahagiaan itu tidak di rasa oleh Risa gadis abg yang memiliki hati buat Gerald.
Diam-diam dia ingin menyingkirkan Reina dari kehidupan Gerald.
Bagaimana nasib Reina selanjutnya? Kebahagiaan apa yang di rasa Reina setelah menikah dengan abg? Apa yang membuat Reina kagum pada Gerald?
Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmanika Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manager Hotel yang Sombong 2
"Kamu?"
"Iya, mengapa?" Ivran balik tanya.
Krisna tersenyum, mengejek.
"Ob tetap.saja ob, mana pantas duduk di tempat yang seperti itu, kamu mau di pecat pak Derawan?" ancam Krisna.
"Oh..mengancam?silahkan kalau kamu mau lapor." balas Ivran, tenang di balik amarah nya.
"Oke,baik, awas ya! dasar ob pengganggu masih saja bersandiwara." umpatnya sambil mengambil smartphone Huawei nya dalam tas dengan wajah emosi.
Kediaman keluarga Wira.
Sepulang sekolah Gerald langsung istirahat dulu, tugas sekolah nya akan di selesaikan nya sore ini, dia menghempaskan tubuh nya sambil jari-jari nya dengan lincah memainkan sebuah kata di whats app.
Setelah itu, pikiran nya menerawang jauh
"Gerald! Gera..aaaald!" bu Wira memanggil dengan suara merdunya sehingga kuping tetangga pada sakit.
Sedang Gerald asyik dengan pikiran nya.yang menerawang tentang pak Ramu yang baik hati.
Flash back on:
"Pak, saya mohon jangan pecat saya." ratap Gerald sambil mengatup kedua tangan nya.
"Lho..siapa yang memecat kamu?" tanya pak Ramu sambil tertawa kecil.
"Lantas?"
Pak Ramu menghempaskan napasnya, pria seumur.ayah nya itu masih saja awet.
"Duduk lah, santai saja."
Seperti di hipnotis Gerald pun menurut, dia duduk berhadapan dengan pak Ramu.
"Begini, kamu kan sebentar lagi mau menikah, nantinya kamu menjadi tulang punggung keluarga." tekan pak Ramu.
Gerald mengangguk sambil mencerna apa yang di sampaikan pak Ramu.
"Walaupun kamu masih sekolah, saya sangat bangga akan pertanggung jawabmu sebagai lelaki, mencari nafkah untuk keluarga." sambung nya dengan wajah senyum.
"Sebagai lelaki, saya memang harus bertanggung jawab,Pak maka itu saya berani melamar jadi pelayan di cafe ini walaupun hanya hari sabtu, bukan kah semua lelaki yang sudah berkeluarga harusnya begitu?" ucap Gerald, tegas.
"Iya, memang benar tapi tidak semua laki-laki itu seperti kamu." puji pak Ramu, tulus.
"Saya dulu.tidak seperti kamu, Gerald." Gumam pak Ramu dalam hati, penuh sesal.
"Akh...bapak terlalu memuji."
Pak Ramu terkekeh.
"Maka itu saya memanggil kamu keruangan saya ini, hanya ingin menaik kan gaji kamu." umgkap pak Ramu, serius.
"Apa?" Gerald terlonjak.
"Ya..seluruh karyawan di.sini yang sudah berkeluarga berhak mendapatkan gaji lebih tinggi dari karyawan masih single." kata pak Ramu.
"Tapi, pak saya kan bar..."
"Saya tahu." potong pak Ramu, cepat.
"Maka dari itu saya menaik kan gaji kamu agar nantinya keluarga kamu tidak kekurangan satupun lagipula kamu itu pekerja yang rajin dan ulet dan yang penting perjuangan kamu yang gigih." sambung nya, serius.
Mendengar itu Gerald terharu, pak Ramu pun menyodorkan sebuah amplop kecil warna cokelat berisi uang dengan jumlah fantastis.
Gerald kaget saat membuka amplop itu.
"Banyak amat." seru nya dalam hati.
"Itu sih jumlah nya.gak seberapa, karyawan yang lain juga di gaji tapi tentu saja jumlah nya berbeda." kata pak Ramu.
"Kalau kurang, kamu tinggal keruangan saya saja."
Gerald menggeleng keras.
"Gak pak, ini lebih dari cukup kok, terima kasih, pak..sekali lagi terima kasih." ucap Gerald penuh haru.
Flash back off..
"Oh..disini rupanya?" Gerald kaget dan cengegesan.
"Eh..ibu."
"Eh..ibu....eh.
ibu, bagus ya..dipanggil orang tua gak ada sahutan!" geram bu Wira sambil menjewer telinga Gerald.
"Adu..du! bu,sakit, bu! ampu..uun."
Perusahaan Oil papers.
"Ampun, Pak saya gak tahu kalau bapak pemilik perusahaan ini, saya tadi cuma bercanda, pak." Krisna mulai ketakutan.
"Kamu perlu tahu, itu adalah nama belakang saya"De-ra-wan."
"Iy..ya, pak maafkan saya, pak, apa kerjasama kita akan di teruskan?" tanya Krisna.
"Kerjasama apa?kerjasama kita di batalkan! " sentak Ivran.
"Apa?" amarah Krisna sudah di ubun-ubun.
"Kenapa? marah?saya berhak dong memecat atau mengeluarkan pekerja, apalagi manager sombong kayak anda, baru jadi manager saja sudah menghina pekerjaan yang lebih rendah." kritik Ivran.
Mendengar itu, Krisna malu tapi dengan picik dia mengeluarkan sesuatu.
"Pak, ini pemberian dari saya asal bapak tidak membatalkan kerjasama kita." ucap Krisna sambil meletak kan amplop cokelat di meja.
"Deva..aan!Deva..aaan!" panggil Ivran.
Devan sudah berada di hadapan Ivran dan Krisna, Ivran dengan wajah mengeras nya dan Ivran dengan wajah tak tahu malu nya tersenyum kecil.
"Iya, pak." sahut Devan.
"Tolong, keluarkan orang ini, saya batal bekerjasama dengan orang ini!" perintah Ivran.
"Tapi, pak..."
"Ambil amplop mu! saya gak butuh kamu suap!" potong Ivran, Tegas.
"Dave, cepat bawa dia keluar saya gak sudi melihat wajahnya lagi."
"Baik, pak."
"Mari, pak Gunawan." Dave mempersilahkan Krisna keluar dan mengantar kan nya.
Wajah yang tadi nya penuh kemenangan kini telah layu, ya..Krisna ternyata selama ini salah tidak semua pejabat dia suap, kini dia hanya tertunduk dan menurut menyesali semua nya.
Kediaman keluarga Handoyo.
Jam 18.30.
Rheina tersenyum-senyum sendiri di pembaringan nya saat membaca wa dari sang pujaan hati.
"Waktu dan hari akan terus.berganti
tetapi di hatiku kau tak akan terganti.."
Wajah Rheina merona, lalu membaca nya kembali.
"Terlihat bayang wajahmu di bawah naungan rembulan
menari indah di pelupuk mataku..."
Rheina semakin terbang melayang saat membaca ungkapan indah dari Gerald.
Lalu terlelap..
Bersambung..