"Lo mau sampai kapan hura-hura seperti ini tanpa tujuan hidup yang jelas?"
"Nanti kalau ada yang serius sama gue. Lo sendiri kapan mau nentuin masa depan lo. Nyari suami kek!"
"Gue masih gini-gini aja, Za. Gue nunggu suami yaitu orang yang tepat bisa bertanggung jawab sama gue dan ada waktu buat keluarga."
"Kalau seandainya lo udah nikah terus suami lo punya masa lalu yang buruk gimana?"
"Gue terima. Karena bukan kuasa kita untuk menghakimi masa lalu orang lain. Setiap orang punya masa lalu yang buruk. Mereka punya potensi untuk jadi lebih baik lagi. Hidup itu bukan dari dilihat dari masa lalunya, akan tetapi dilihat dari masa yang sekarang ketika ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ."
Reza menatap perempuan yang berdiri dibelakangnya. Di usia yang sudah terbilang dewasa dia justru lebih sering senang-senang dengan beberapa perempuan. Kecuali perempuan yang sedang bersamanya kini. Bukan munafik, ia hanya ingin menjaga adik almarhum sahabatnya itu. Untuk jatuh cinta, rasanya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Sebab ia akan merasa bahwa Semesta tidak adil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA LALU MENYAKITKAN
‘Andai dulu kamu tidak pernah membuka hati dan kesempatakan untukku memberikan kebahagiaan dan kehidupan baru untuk kamu. Tentu aku tidak akan pernah sebahagia ini sama kamu’ –Raka.
Selesai mandi sore dan berpakaian rapi. Mereka berdua berbaring di ranjang yang sama dengan posisi Adelia berada di tengah-tengah. “Ma,”
“Hmmm?”
“Papa nggak mimpi, kan?” Raka berusaha untuk tetap mencari arti kehidupan pada istrinya. Perempuan itu menatapnya dengan tatapan yang penuh makna. Semenjak melahirkan perempuan itu tidak pernah berdandan lagi. Akan tetapi Raka tetap mencintai istrinya apa adanya. Bukan saat istrinya berdandan saja. Bahkan, melihat tubuh perempuan itu sedikit lebih gemuk dan sudah tidak seindah lagi. Ia tahu bahwa penyebab dari semua itu adalah dirinya. Maka dari itu Raka tidak akan pernah mengeluhkan tentang fisik istrinya.
Sambil mengelus kepala Adelia dan menciumnya. Aroma dari bedak bayi dan juga minyak telon Adelia menusuk hidungnya. “Papa sayang Adelia,”
“Sama Mamanya nggak?” celetuk perempuan itu dari seberangnya.
Raka memutar bola matanya. “Kalau nggak sayang, nggak mungkin dong Adelia ada,”
“Oh, gitu ya, Pa?”
Usia Adelia yang sudah menginjak usia empat bulan dan sebentar lagi bayi kecilnya itu bisa diberikan makanan pendamping asi. Akan tetapi, meski usianya yang sudah segitu. Raka tidak pernah memaksa kepada istrinya untuk memenuhi nafsunya.
Dia pun tahu bagaimana istrinya sangat lelah setiap kali menjaga bayinya tengah malam. Belum lagi saat Adelia sakit, semua beban itu sepertinya ditumpahkan dipundak istrinya.
“Ma, pindah! Tidur di samping Papa!” pinta Raka.
“Mau ngapain?”
“Ma, kalau anak lagi tidur. Itu kesempatan untuk mesra, loh,” rayunya kepada perempuan itu yang seketika pipi istrinya merona tetapi tetap menuruti perintah Raka.
Perempuan itu berbaring di sebelah Raka. Dia ingin tahu mengapa Fania begitu cemburu kepadanya setiap kali dia pulang terlambat dan perempuan itu selalu mengendus ke setelan kerjanya.
“Ma, Papa boleh tanya sesuatu?”
Perempuan itu menatap Raka dan melonggarkan pelukan yang sedari tadi terasa begitu nyaman dan langsung mendongakan kepalanya dan menatap Raka begitu dalam. “Papa mau tanya apa?”
“Papa nggak mau berantem sama Mama. Tapi, Papa boleh kan tanya kenapa Mama tuh cemburuan banget? Mama selalu nuduh yang nggak-nggak setiap kali Papa pulang terlambat. Kenapa Mama lakukan itu?”
Perempuan itu menggigit bibir bawahnya dan menatap suaminya. “Mas mau tahu jawabannya?”
Raka menjawab dengan kedipan yang begitu pelan. Kemudian istrinya menarik napas dan menggenggam tangan Raka begitu erat. “Semua karena kepercayaan aku pernah dikhianati, Mas. Semuanya berawal dari Reza, yang di mana aku berusaha percaya sama dia. Semua yang terlihat indah, semuanya terlihat begitu baik, Mas. Tapi, aku nggak sadar dibalik ucapan manis Reza, dia sembunyikan kepahitan yang luar biasa…--“
Raka mengarahkan telunjuknya di depan bibir istrinya. “Jangan dilanjutin, kalau memang semua itu yang bikin kamu masih takut kehilangan. Aku nggak bakalan lakuin. Nggak semua orang yang mesra justru kayak dia. Aku nggak mau ingat-ingat itu lagi. Biarin semuanya jadi masa lalu kamu, aku nggak mau lagi lihat kamu sedih. Biarlah semua itu jadi pelajaran di hidup kamu yang lalu. Memang nggak ada orang yang mau hidupnya berantakan, nggak ada manusia yang mau hidupnya hancur. Pun sama dengan aku, sekarang saat aku sudah berhasil buat kamu jatuh cinta sama aku. Nggak seharusnya aku lakukan hal yang sama, kan? Nggak ada kata berkhianat. Saat kamu dulu pergi ninggalin aku demi dia, jujur aku sempat benci sama kamu. Benci saat kamu mulai ninggalin perasaan sayang aku dan justru dia yang terlihat begitu sempurna justru buat kamu menjadi yang paling terluka,”
“Maka dari itu, aku yang nggak pernah mau untuk ngerasain itu lagi. Aku curiga bukan karena aku mau nuduh kamu yang nggak-nggak. Aku nggak pernah mau nuduh kamu yang macam-macam. Aku udah pernah ngerasain kecewa yang begitu dalam. Jadi aku nggak mau ngerasain hal itu lagi. Kalau aku cemburu dengan cara yang keterlaluan, aku harap kamu ngerti,” jelas istrinya.
Seseorang yang pernah dikhianati akan merasakan kecurigaan yang teramat besar untuk menjaga perasaanya agar tidak terjadi hal yang seperti dulu lagi. Barangkali tidak ada orang yang suka dicurigai. Akan tetapi semua itu ada sebabnya. Tidak mungkin seseorang tiba-tiba curiga dan melakukan hal yang begitu memalukan jika tidak adanya hal yang mengganjal dihati untuk dicurigai.
Kejadian masa lalu itu memang cukup menampar Raka dan membuatnya tersadar betapa istrinya takut kehilangan untuk kesekian kalinya. Pertama Reza, kedua Rania. Dan kali ini perempuan itu memang terlihat begitu menyebalkan. Apalagi semenjak Adelia lahir. Dia memang pernah berjanji untuk pulang lebih awal. Tetapi, jika dia pulang lebih lambat. Maka istrinya akan bertindak layaknya orang yang benar-benar mencari masalah dengannya.
“Kalau kamu takut kehilangan aku. Kamu mau semua milik aku atas nama kamu?”
“Maksud kamu?”
“Semuanya. Perusahaan, rumah, mobil dan juga semua yang aku punya, kamu mau?”
“Kenapa kamu lakukan itu?”
“Karena seandainya kalau aku lakukan hal yang salah sama kamu. Kamu bisa usir aku, karena ini semua milik kamu. Bukan berarti kita pisah. Tapi semuanya adalah hak kamu, sayang. Adelia juga. Dia akan aku wariskan semuanya selama dia belum punya adik,”
“Adik?”
Raka menyeringai. “Hehe, siapa tahu kamu mau hamil lagi. Untuk adiknya Adelia. Dan setelah itu kamu bakalan ngalamin hal yang begitu panjang. Merawat anak, dan sekarang kamu juga udah ngerasain kan gimana rasanya jadi orang tua. Tapi, kalau kamu nggak masalah, aku siap nambah,”
Ekspresi istrinya langsung membuat Raka tertawa. Bagaimana tidak? Istrinya langsung cemberut di saat Raka membahas mengenai dia yang akan menambah keturunan.
“Tapi, Mas. Aku nggak butuh itu kok. Yang penting kamu bisa sayang sama Adelia dan aku saja sudah cukup. Nggak perlu atas nama ini itu segala,”
“Gimana kamu mau semuanya di atasnamakan. Karena perusahaan dan apa yang aku punya itu nggak ada apa-apanya sama milik Mama,”
“Bu-bukan gitu, Pa,”
“Terus?”
“Karena aku pengin kepercayaan itu adalah hal yang paling utama untuk kamu jaga, Mas. Bukan hanya demi uang dan rumah ini. Aku sudah bilang sama Mas kan. Kalau aku pengin kita bakalan bersama-sama. Baik itu susah maupun senangnya, Mas,”
Raka menarik hidung istrinya hingga perempuan itu menjerit. “Mama Adelia ini ngegemesin banget sih, hmmm? Apalagi selalu bikin suami senyum-senyum sendiri kalau lagi di luar,”
Suara tangis Adelia pun memecahkan keromantisan keduanya. “Anak Papa kenapa senang banget sih gangguin Mama sama Papanya lagi mesra?”
Raka pun langsung bangun dan menggendong anaknya. “Biar Papa yang gendong sekarang,” ucapnya kepada sang istri.
Saat Adelia sudah tidak menangis lagi, dia pun memangku Adelia dan bermain bersama anak itu. “Mas, aku masak dulu ya,”
Raka menggeleng. “Malam ini kita jalan-jalan, kita makan di luar. Sekali-sekali ajak Adelia jalan-jalan nggak ada salahnya. Mama juga nggak capek urus dia terus. Dandan yang cantik oke!”
“Mas?”
“Papa!” Raka menekankan ucapannya. “Panggilnya, Papa! Biar terbiasa,”
Istrinya menyeringai. “Oke suami, dandan yang cantik. Baju waktu ABG keluar nih kayaknya,”
“Kalau muat ya pakai aja, kan sekarang gendutan,”
Baru saja perempuan itu hendak ke lemari, dia langsung berhenti. “Nggak jadi pergi,”
Raka salah ucap dan menggendong Adelia. “Mama walaupun gendutan tetap cantik, sumpah,”
“Nggak gombal, kan?”
“Nggak,”
“Papa kenapa sering banget bikin Mama kesal, sih?”
“Karena kalau terlalu kaku. Rumah tangga itu nggak ada warna-warninya. Makanya gombalin istri, bikin istri kesal. Nggak ada salahnya, daripada nyakitin. Itu yang nggak baik,” ucapnya sambil bercanda bersama Adelia hingga tawa anak itu pecah.
aku cuman ingin Reza sadar Thor
FANIA LAGI HAMIL ANAKNYA RAKA 🙂,
FANIA & RAKA SEMOGA BAHAGIA TERUS 🙂
SEMOGA REZA CEPAT DAPAT KARMA 🤬🤬🤬🤬🤬