Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Party
"Bill, jika kau bisa menghidupkan kami, maka kau juga bisa menghidupkan Alex juga?" tanya Kevin.
Bill tersenyum tipis, "Sangat mudah. Namun, bagi vampire yang memangsa manusia, akan terjadi sedikit pemberontakan, dan menyebabkan ia kehilangan ingatannya."
Secara tiba-tiba Kevin terlihat penuh semangat, "Bill, aku yakin kau tak akan menyesal jika menghidupkannya."
"Oh sudahlah, lagi pula kita sudah mendapatkan tahta Dryford bukan? Untuk apa lagi kita bertarung?" keluh Alice yang tengah mengepang rambutnya.
"Wanita memang membosankan," ejek Kevin.
"Tujuan hidupku untuk menyingkirkan bangsa lain dari muka bumi. Aku akan menculik mayat Alex," Bill menyeringai. "Pasti pertarungan kali ini akan sangat menarik, kita akan melihat bagaimana reaksi mereka saat melihat calon raja mereka menghancurkan rakyatnya sendiri."
Alice memutar bola matanya dengan malas, "Buang-buang waktu saja," gumamnya lirih.
"Tapi jangan sekarang, kita harus benar-benar mepersiapkan rencana yang baik, karena mereka tak sebodoh yang kita kira," usul Kevin.
"Aku akan memikirkan itu nanti," Bill membalik badannya menuju pintu, "Kalian berdua bereskan kotoran sehabis perang kalian."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jane, ayo kembali. Ini sudah hampir malam, di sini akan ramai oleh rakyat, karena kita akan mengadakan pesta atas kehadiran werewolf baru dan atas kehidupanmu kembali serta hadirnya-" Leo menjeda ucapannya, kemudian menatap kepala Jane yang masih berbaring di dadanya. "-Istriku."
Jay si pelatih kamp pelatihan werewolf dan Hilda bertepuk tangan meriah di tepi taman.
"Romantis sekali!" seru mereka bersamaan.
Leo dan Jane langsung bangkit.
"Diam kalian!" pekik Leo.
"Hei Leo, berterima kasihlah pada kami, kami telah mepersiapkan kamar khusus untuk kalian berdua. Tak mudah menghias kamar pengantin baru, kau tau?" jelas Jay.
"Benar nona Jane, kami harus memetik ratusan bunga untuk hal ini," sambung Hilda.
Jane dan Leo saling menatap beberapa detik kemudian menatap tajam masing-masing anak buah mereka itu.
"Jadi maksudmu kami akan tidur bersama?" tanya Jane.
"Tak apa Jane, jika kau keberatan aku akan tetap tidur di kamarku sendiri."
Hilda dan Jay tertawa, "Kamarmu sudah kami hancurkan!"
"A-apa!? Sini kalian, akan ku hajar sekarang juga!" Leo berdiri dan mengejar Hilda serta Jay. Sudah pasti, Leo tak akan bisa mendapatkan Hilda, maka dari itu ia mengincar Jay.
Kecepatan lari Leo tak bisa diragukan, ia berhasil menangkap Jay dan menjitak kepalanya berulang kali, "Rasakan!"
"Ah, sakit! Ampun Leo!"
"Mana sopan santunmu? Memanggil majikan dengan nama! Akan ku pecat kau!" Leo mengunci tubuh Jay agar tak bisa bergerak.
"A-ampun Tuan!"
Sementara Jane hanya tertawa melihat kelakuan Leo dan Jay yang sangat kekanak-kanakan itu. Di belakangnya Hilda juga tertawa sangat nyaring.
"Hilda!" Jane menoleh spontan saat mendengar tawa Hilda, "Apa yang kau pikirkan hingga membuat kamar untuk kami?"
"Ah, 'kan wajar saja untuk pengantin baru."
"Hentikan! Kami bukan pengantin baru!"
"Kau tak menyukainya? Padahal pikiranmu tak bisa berbohong..."
"Apa--ah curang! Kau selalu membaca pikiran orang lain!"
Hilda tertawa kecil, "Maafkan aku nona."
Di senja hari ini, pelayan mulai berdatangan ke taman untuk mempersiapkan pesta nanti malam. Beberapa mengangguk meja, ada juga yang merapikan rumput, serta meletakkan makanan.
Leo setengah berlari menghampiri Jane, "Sayang, ayo kita masuk. Kita harus bersiap bukan?" goda Leo pada Jane.
Pipi Jane merona mendengar perkataan Leo, "Jangan panggil aku sayang!"
Leo mendekatkan wajahnya pada wajah Jane, "Bagaimana kalau, Honey?"
Jane melotot menatap wajah Leo yang berjarak hanya lima centimeter dari wajahnya itu, "Tidak," ia mengerjapkan matanya, Leo merangkul Jane dan menempelkan hidungnya ke hidung Jane.
Jane segera menutup mulut Leo, karena ia tahu bahwa Leo hendak menciumnya, "Jangan di sini! Kau tidak lihat? Banyak yang menatap kita,"
Pria yang terlihat sangat kecewa itu melepaskan tangan Jane dari mulutnya, "Baiklah."
Jane diam, ia menunggu Leo melepaskan tangannya dari pinggang rampingnya. Tangannya juga berjaga-jaga untuk menutup mulut Leo jika sewaktu-waktu menciumnya.
"Leo?"
"Hm?"
"Sampai kapan kita seperti ini?"
"Sampai mati."
Hilda dan Jay cengengesan melihat kedua majikannya tengah bermesraan.
"Leo! Apa yang kau lakukan?!" bentak James dari kejauhan, hal itu membuat semua pelayan menoleh padanya.
Jane berusaha melepas tangan Leo dari pinggangnya, namun Leo tak memberikan celah sedikitpun.
"Tenang saja kakak ipar, aku tak akan melukainya!"
James menepuk dahinya, "Maksudku, seharusnya jangan lakukan di sini, kau membuat Jane malu!"
"Leo, James benar, lepaskan aku!"
"Cium keningku, kemudian aku lepaskan dirimu."
Leo merenggangkan tangannya dan membiarkan Jane berusaha mencium keningnya. Bagi Jane, itu bukanlah hal mudah, kening Leo terlalu tinggi untuk ia gapai.
"Kau butuh keringanan?" tanya Leo, matanya tak henti menatap Jane yang terlihat menggemaskan meloncat untuk mencium keningnya.
"Ah, tidak! Aku bisa sendiri!" jawabnya sambil terus melompat.
Leo langsung menggendongnya.
Hilda langsung menjerit dan menggoncang tubuh Jay karena gemas.
Leo membawanya masuk ke dalam istana dan kemudian ke dalam kamar.
"Jangan diam saja, cium keningku!" rengek Leo seperti anak kecil.
Jane segera mendekatkan bibirnya pada kening Leo, ia memejamkan matanya dan mengecup kening Leo dengan lembut.
"Sekarang lepaskan aku!"
Leo menurunkan Jane.
"Kau benar-benar membuatku malu!"
"Lupakan itu, Honey! Bersiaplah untuk penobatan dirimu sebagai istri ke lima ku!" ujar Leo dengan nada serius sambil melepas bajunya.
"H-hah?! A-apa benar?" Jane terkejut setengah mati, ia melotot menatap suaminya yang sedang sibuk melucuti pakaiannya sendiri.
"Aku bercanda, haha!"
Jane cemberut kesal, ia menghampiri Leo dan menjitak kepalanya. "Lain kali, jika kau seperti ini, aku akan mengigitmu!"
Leo mengehentikan aktifitasnya, yaitu membuka kancing celana jeans nya. "Wah, kau cemburu?"
Jane memalingkan wajahnya, "Ti-tidak! Untuk apa?!"
"Tapi mengapa wajahmu memerah seperti itu?" Leo menunduk untuk menatap wajah Jane.
Tiba-tiba celana Leo melorot.
"Aaaa..., pergi dari sini!" jerit Jane sambil menutup matanya.
Leo hanya tertawa terbahak-bahak, entah mengapa Jane begitu histeris, padahal ia masih mengenakan celana pendek.
"Cepat pergi!"
"Baiklah, tapi lain kali kau harus terbiasa ya! Kita suami istri, bukan?"
"Leo!"
Leo segera berlari menuju kamar mandi sambil tertawa.
Jane kembali membuka matanya saat merasa Leo telah pergi ke kamar mandi.
"Ah, Leo tak pernah berhenti menggodaku," Jane tersenyum lebar, seperti layaknya anak remaja yang sedang kasmaran, namun dengan sekejap senyumnya memudar, "Aku jadi teringat Alex."
TOK TOK TOK
"Nona Jane? Apa kau sibuk? Aku mengantar gaun," seru Hilda dari balik pintu kamar Jane dan Alex.
Jane berniat menuju pintu kamarnya untuk membuka pintu, namun langkahnya terhenti saat menyadari kamar dirinya dan Leo dipenuhi bunga. Ia mengamati sekelilingnya, wajahnya langsung lesu. Kini ia benar-benar ingin mencekik Hilda dan membuang mayatnya ke laut, namun ia mengurungkan niatnya karena Hilda sudah banyak berbuat baik padanya.
Hilda yang mampu membaca pikiran Jane cekikikan di balik pintu, ia menggantung gaun Jane di gagang pintu, "Nona Jane, aku letakkan gaun anda di sini!" Hilda segera pergi dari hadapan kamar Jane untuk menghindari amukannya.
Jane membuka pintu kamarnya, "Dasar Hilda," ia menggeleng perlahan, "Omong-omong, gaun ini indah sekali!" senyum Jane kembali terukir saat melihat gaun berwarna biru muda yang senada dengan warna irisnya itu. Dengan kegirangan, gadis berambut pirang itu mengambil gaunnya dan segera menutup pintu.
"Gaunnya indah, apa lagi jika kau yang menggunakannya," ucap Leo yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kau akan menggunakan apa untuk pesta nanti malam?" tanya Jane tanpa mengalihkan pandangannya dari gaun yang ia pegang.
"Yah, karena ini pesta resmi, aku akan menggunakan setelan tuxedo," Leo melempar handuknya ke arah Jane dan mencari baju di lemarinya.
Jane yang masih terpesona dengan gaunnya itu tak memperdulikan handuk yang mendarat di kepalanya.
"Honey?-"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, menggelikan!"
"Oh baiklah, tapi segeralah mandi, aku yakin wanita akan memakan waktu banyak saat merias diri."
Jane meletakkan gaunnya di atas kasur, "Kau benar. "