Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Jalanan nampak sepi dan tidak ada keramaian sama sekali padahal ini masih belum terlalu malam.
Harya dan Lala berada di atas sepeda dengan Lala yang asik memakan Ice Cream yang dibelikan Harya.
"Hmm kak Harya, kira-kira mereka tadi kenapa ya" ucap Lala secara tiba-tiba
"Kakak juga tidak tahu, menurut Lala bagaimana?" jawab Harya dan membuat senyum kecil di wajahnya
"Mereka nampak memperlakukan kakak sangat baik seperti kakak ini anggota Keluarga mereka, apa jangan-jangan beneran ya" ucap Lala ala-ala Detektif
Harya tak bisa menahan tawanya mendengar perkataan Lala, "Haha mana mungkin lah! Lala juga sudah dengar kan tadi...kakak ini cuman orang biasa"
"Bohong, selalu bohong"
"Apanya yang bohong?!"
Harya dan Lala pulang dengan gelak tawa terdengar yang bisa memancing perhatian orang sedangkan di Kediaman Rayendra, seperti sedang terjadi Kerja Rodi.
"Ahren! cepat lah kau kemari!" teriak Tuan besar Arsenal memanggil pelayan serta Sekertaris pribadinya
"Ada apa Tuan besar memanggil sampai berteriak, saya sedang nonton Turnamen Bola loh!" balas seorang pria yang sama tua nya dengan Tuan Arsenal tetapi wajahnya lebih banyak kerutan
"Alah kau ini, bisa serius sedikit tidak saat bekerja" omel Tuan Arsenal
Tuan Harma datang dengan Nyonya Grisha disampingnya, mereka berjalan mendatangi si Tua Rayendra itu.
"Paman Ahren, bisa tolong panggil kan Paman Varo tidak?" tanya Tuan Harma pada Ahren
Tanpa basa basi, Ahren segera pergi untuk memanggil seseorang yang bernama "Varo" tersebut sedangkan Tuan Arsenal datang dan langsung menjentikkan jarinya di dahi sang putra.
"Bagaimana perasaan mu, Anakku" ucapnya dengan senyum
Tuan Harma memandangi sang Ayah sembari memegang dahinya dan ikut tersenyum juga, "Tentu saja bahagia, Dad"
"Grisha, panggil si Hanfi itu dan kita jelaskan situasi ini pada Cucu kedua ku itu" perintah Tuan Arsenal dan dibalas anggukan halus dari Nyonya Grisha
Saat Nyonya Grisha sudah pergi, kedua Tuan Rayendra itu duduk di Sofa putih yang empuk bersama dan saling bertukar candaan.
"Dad merasa bahwa semua ini mimpi anakku, padahal baru saja kemarin kau keluar dari rahim Istriku dan mengambil semua perhatiannya" ucap Tuan Arsenal memandangi langit-langit atap
"Yang benar saja Dad, umurku ini sudah mau 35 tahun dan kau berkata baru kemarin aku keluar dari rahim?!" jawab Tuan Harma tak terima
"Itu namanya kata-kata indah seorang Bapak bodoh!"
TWACK!
"Dulu kau memanggil ku Dad dan sekarang kau dipanggil seseorang dengan sebutan Dad juga, rasanya seperti mimpi" ucap Tuan Arsenal
"Itu hanya karna Dad terlalu menyayangi putra nya ini! kakak selalu mengeluh padaku kalau Dad tidak menyayangi nya" jawab Tuan Harma dan mencibir di akhirannya
"Itu semua salah anak itu, tiba-tiba mengundurkan diri dari posisi Pewaris dan pergi meninggalkan rumah, tau-tau sudah jadi Koki hebat saja di Canada...jujur masakannya lumayan enak"
Saat mengatakan hal tersebut, Tuan Arsenal mendengar suara tawa yang sangat ia kenal dan juga benci yaitu...suara tawa anak pertamanya.
"Haha Dad kau selalu saja tidak pernah jujur pada dirimu sendiri, datanglah kapan-kapan ke Canada...Cya~"
Tuuut...Tuuut.
"Mengapa kau menghubungi si bencong itu, apa kau mau air muka Dad mu hilang karna itu?" tanya Tuan Arsenal dan saling berpandangan.
"Tidak, aku hanya merasa bahwa kata-kata Dad tadi sangat bagus dan harus di cetak dan dijadikan pajangan di Museum" jawab Tuan Harma memancing amarah Tuan Arsenal
"Ayah, Sayang...Hanfi sudah ada disini" ucap Nyonya Grisha yang sudah sampai bersam Hanfi di sebelahnya
Arsenal memerintahkan Hanfi untuk duduk di sebelah nya dan perintah itu dituruti oleh sang cucu, sambil berdehem Tuan Arsenal memberitahu segalanya tentang situasi saat ini.
"Teman mu yang tadi itu, bisa jadi kemungkinan adalah kakak mu" ucap Tuan Arsenal singkat namun bisa mengoncang seluruh tubuh Hanfi
"Kakek tau darimana?! kakek jangan asal menyimpulkan sesuatu yang berkaitan dengan kakak!" bantah keras Hanfi membuat sang Kakek pusing
"Kakek juga belum terlalu yakin tetapi kita sudah mendapatkan rambutnya kan, tinggal kita cek saja DNA nya dengan milik Ayahmu...apakah cocok atau tidak" ucap Tuan Arsenal menjelaskan
"Baiklah aku akan tunggu, kalau tidak ada kecocokan sama sekali maka aku tidak akan mengakuinya" jawab Hanfo dan berdiri dari tempat nya
"Kalau misalnya cocok bagaimana?"
"Aku akan belajar, untuk menerimanya"
Saat Hanfi sudah pergi menjauh tampaklah Ahren datang bersama seorang pria tua, ialah Varo Alingga Dokter pribadi Kediaman Rayendra dan teman dekat Tuan Arsenal.
"Oh Varo kau sudah datang, cepatlah kemari" ucap Tuan Arsenal saat melihat keduanya
"Apa lagi kali ini Arsenal, kau mau ngapain lagi" jawab Dokter Varo
Tuan Arsenal langsung menyerahkan plastik klip berisi beberapa helai rambut Harya dan menatap Varo dengan serius sampai-sampai matanya seperti ingin tekeluar.
"Tolong cek DNA dari rambut ini sama rambut anakku, jangan diumbar karna ini rahasia Keluarga Rayendra yang sama dengan Rahasia Negara jadi...jangan sampai kau umbar" ucap Tuan Arsenal dan masih terus menatap Varo tajam
"Yaampun Arsenal, kau ini selalu saja seperti ini...tunggu saja kabar buruk dariku" jawab Varo dan pergi meninggalkan mereka dengan plastik klip ditangannya
"Si tua itu, tidak pernah mengatakan "tunggu kabar baik dariku" tapi malah kabar buruk yang dikatakan" ucap Ahren menghela nafas
"Ya begitulah dia, dia mengatakan itu agar kita tidak memiliki ekspetasi tinggi terhadap sesuatu" jawab Tuan Arsenal terkekeh pelan dan menabok pundak Harma
"Kok malah aku yang dipukul?!"
Cukup dengan suasana Kediaman Rayendra yang bising berbeda dengan suasana di Kost Harya yang sunyi senyap tanpa suara.
Hanya menampakkan seorang pemuda yang berdiri di balkon dengan buku pelajaran di tangannya, surai rambut yang bergerak halus karna ditiup angin seakan menari di bawah cahaya bulan.
"Semakin lama semakin aneh saja di Kota ini, dan masalah apa yang kubuat hingga Keluarga Rayendra selalu menargetkan diriku" ucap pasrah Harya
"Apa aku...harus pergi saja dari Kota ini"
PLAK
"Jangan bercanda! aku disini untuk melakukan banyak hal, bisa-bisanya aku menyerah disaat-saat seperti ini hei!" ucap Harya yang sudah kembali optimis
Suara nada dering Telfon terdengar membuat Harya segera mengangkat panggilan yang berasal dari nama kontak Bu Bella tersebut.
"Halo, selamat malam Harya"
"Oh, selamat malam bu...ada apa ya?"
"Cuman mau ngasih tahu kalau sebentar lagi ibu pulang bersama bapaknya, kondisi nya sudah mulai membaik jadi ibu bisa pulang lebih cepat"
"Wah syukur Alhamdulillah ya bu, titip salam sama bapaknya bu semoga sehat selalu"
"Iya makasih, dan makasih buat sudah jaga anak-anak ibu"
"Iya bu"
Telfon ditutup dan Harya tersenyum menatap Telfon genggamnya, ia berbalik dan meletakkan bukunya dan pergi memasuki Dunia Mimpi tempat dimana ia bisa beristirahat dengan damai.
...----------------...
Apa sudah terlalu lama?
Maaf karna baru bisa Up sekarang, banyak hal yang terjadi di tempat saya.
Harus terkubur dalam lautan penuh tugas dan ditambah koneksi internet yang buruk Hadueh, seperti jaman Baheula 😑
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing