"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Mendengar teriakan yang sangat familiar itu, Erlangga langsung memutar tubuhnya.
Sepasang matanya langsung melebar saat mendapati sosok Kara. Wanita yang biasanya selalu tampil angkuh dan keras kepala di matanya, kini berubah drastis menjadi sosok yang tampak begitu rapuh dan tak berdaya, dengan rambut yang sedikit berantakan.
Tanpa mempedulikan keberadaan Kimberly, Kara langsung berlari kencang dan dengan gerakan cepat langsung memeluk tubuh Erlangga erat.
"Erlangga... Gue... Gue takut banget, hiks..." ucap Kara sambil terisak. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Erlangga.
Erlangga langsung mengernyit bingung saat menatap puncak kepala Kara yang menempel erat di dadanya. Selama hampir 28 tahun ia mengenal wanita ini, baru kali ini ia melihat Kara menangis tersedu-sedu di hadapannya.
Kara perlahan mendongak, memperlihatkan sepasang matanya yang mulai memerah dan berkaca-kaca.
"Lo tau, gue udah susah payah datang ke sini cuma buat minta maaf sama lo soal kejadian semalam," ucap Kara dengan nada memelas, lalu ia melepaskan satu tangannya dan menunjuk ke arah jalan raya. "Tapi yang ada... hiks... yang ada gue malah diusir sama satpam kantor lo ke trotoar pinggir jalan itu!"
Kara kembali mengeratkan tangannya ke pinggang Erlangga. "Yang lebih parah lagi, gue rela mati-matian nungguin lo dua jam di sana. Tapi lo... lo malah kembali ke sini sambil bawa cewek lain..." Kara melirik sekilas ke arah Kimberly, sebelum akhirnya menatap Erlangga kembali.
Pria itu hanya menatap Kara datar, tanpa berniat untuk membalas pelukan wanita itu. "Terus?" tanyanya.
Mendengar respons singkat itu, tangis Kara mendadak terhenti.
"Hah? Cuma dijawab 'terus' doang?" gerutunya dalam hati. "Minimal lo hapus air mata gue atau kelihatan bersalah dikit kek."
Demi melancarkan aksinya yang hampir berantakan, Kara buru-buru mengatur nafasnya. Ia kembali memasang raut muka memelas dan bibir yang sengaja ditekuk cemberut. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Erlangga.
"Ya gue sedih banget, Erlangga..." jawab Kara dengan nada lembut.
"Udah kan?" tanya Erlangga lagi.
"Ya udah! Emang lo mau lihat gue ngapain lagi? Guling-guling di lantai? Dasar cowok aneh!" batin Kara geram.
Erlangga tidak mau membuang waktu lagi saat melihat Kara hanya diam mematung dengan wajah yang menahan kesal. Tanpa mengucap satu katapun, ia langsung membalikkan badan, dan meninggalkan kedua wanita itu di area lobi, lalu melangkah lebar masuk ke dalam kantor.
Melihat punggung Erlangga yang sudah menjauh, Kara langsung mengepalkan kedua tangannya erat. "Masa akting gue kurang totalitas sih?" batinnya kesal.
Sebelum melangkah untuk mengejar Erlangga, Kara memutar tubuhnya lebih dulu menghadap Kimberly. Sorot matanya yang semula memelas mendadak berubah menjadi tajam dan sinis. Ia berkacak pinggang menatap Kimberly dari atas ke bawah dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Ngapain lo lihat-lihat!" ketusnya sambil melotot galak.
Setelah menyemburkan kekesalannya pada Kimberly, Kara langsung berbalik dan melangkah lebar demi mengikuti langkah Erlangga yang sudah menjauh.
Kimberly yang sejak tadi hanya diam menonton langsung tersentak kaget. Matanya mengerjap beberapa kali karena syok setelah mendapatkan semburan yang tiba-tiba dari Kara. Sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang, ia menatap kepergian Kara dengan dahi yang berkerut dalam.
"Mau ngapain sih sebenarnya orang itu," gumamnya dengan bibir yang mengerucut sebal.
Kimberly akhirnya ikut melangkah masuk, menyusul langkah lebar Kara dan Erlangga. Saking bingungnya, ia bahkan melupakan kopernya yang masih tertinggal di dalam bagasi mobil.
Sebelum Kara benar-benar melewati pintu masuk kantor, ia mendadak menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah dua satpam yang mengusirnya tadi. Kedua satpam itu tengah berdiri tegap di samping pintu.
Kara langsung melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalian lihat sendiri, kan? Gue itu beneran istrinya Erlangga! Jadi kalian jangan macam-macam lagi sama gue, kalau kalian nggak mau gue pecat! Mengerti?!" ancamnya.
"Maaf, Nyonya. Kami mengerti," ucap kedua satpam itu serentak sambil menundukkan kepalanya.
Saat Kara hendak melangkah masuk kembali, sudut matanya melirik ke arah Kimberly yang juga ikut-ikutan mengekor di belakangnya. Kara langsung berbalik mendadak dan menghadang jalan Kimberly dengan tubuhnya.
"Ngapain lo ngikutin gue?!" ketus Kara sambil menatap Kimberly dengan tatapan penuh permusuhan.
Kimberly langsung menghembuskan nafas lelah. "Aku nggak ngikutin kamu kok. Aku tadi disuruh Erlangga masuk dan tunggu di dalam."
"Gue jelasin ya, bule! Gue itu istri sahnya Erlangga. Mending lo pergi sana deh, gak usah ganggu kita!"
Kimberly langsung memutar bola matanya malas. Wajahnya yang semula sabar kini berubah menjadi dingin dan tak peduli. "Mau kamu istri sahnya atau mamanya, aku nggak peduli! Minggir sana, aku mau masuk!" ucapnya sambil menabrakkan bahunya di tubuh Kara agar wanita itu menyingkir dari jalurnya.
Kara yang tidak terima diperlakukan seperti itu langsung tersulut emosi. Dengan gerakan cepat, ia langsung menjambak rambut Kimberly hingga kepalanya mendongak, memaksa wanita itu untuk berhenti melangkah.
"Heh! Lo itu cuma selingkuhan! Jadi lo jalan di belakang gue, jangan ngelangkahin istri sah! Nggak sopan!" bentak Kara tepat di depan wajah Kimberly.
Setelah melepaskan tangannya dengan kasar, Kara langsung melenggang masuk ke dalam kantor, meninggalkan Kimberly yang langsung meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut nyeri.
Kimberly menatap punggung Kara yang mulai menjauh, lalu sedetik kemudian senyum sinis langsung terukir di bibirnya.
"Apa dia ngiranya aku ini selingkuhan Erlangga, ya? Bagus deh, biar mereka cerai aja sekalian. Daripada Erlangga punya istri yang kayak setan begitu," batin Kimberly, lalu ia kembali melangkah masuk dengan santai.
Setelah bertanya kepada resepsionis di mana ruangan Erlangga berada, Kara langsung melesat dan menaiki lift untuk menuju lantai paling atas.
Sesampainya di depan ruangan Erlangga, langkahnya langsung dihadang oleh seorang pria.
"Maaf Nyonya, Tuan Muda Erlangga sedang tidak ingin diganggu," ucap Bima sambil merentangkan satu tangannya dengan sopan. Tentu ia tahu siapa wanita yang berdiri di depannya ini, karena waktu resepsi kemarin dirinya datang.
Kara langsung menghela nafasnya pelan. "Bapak ini orang yang kemarin kan?" tanyanya sambil menatap Bima dari ujung kepala hingga ujung kaki, karena Kara ingat betul waktu resepsi kemarin, pria ini selalu berada di belakang Erlangga.
"Benar Nyonya," jawab Bima sambil menganggukkan kepalanya sedikit.
"Pastinya bapak tau dong ya kalau saya ini istri sahnya Erlangga?" tanya Kara lagi, kali ini ia langsung berkacak pinggang.
"Tentu saya tahu Nyonya."
"Yaudah minggir! Saya mau menyelesaikan urusan saya dulu sama Erlangga," ujar Kara sambil mengibaskan tangannya, mengisyaratkan Bima agar menyingkir.
"Tapi Nyonya..."
"Kalau dia marah, saya yang tanggung jawab!" potong Kara cepat.
Tanpa mempedulikan kecemasan Bima lagi, tangan Kara langsung mencengkeram knop pintu dan mendorongnya kuat-kuat.
Ceklek!
Begitu pintu terbuka lebar, Kara langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Astaga.... Kenapa sih, semua yang berhubungan sama Erlangga harus mewah banget?" batinnya takjub sambil mengagumi interior di setiap ruangan tersebut.
Melihat pintu ruangannya yang tiba-tiba terbuka, Erlangga yang tengah sibuk dengan tabletnya itu langsung mendongak.
Pandangannya langsung menajam saat melihat kedatangan Kara di ambang pintu. "Ngapain lo ngikutin gue kesini?"
Mendengar suara Erlangga, Kara buru-buru mengubah ekspresi takjubnya menjadi memelas kembali. Lalu ia melangkah masuk dan mendekat ke arah Erlangga.
"Erlangga... Gue mau minta maaf soal kejadian semalam," jawab Kara.
Erlangga langsung menaruh tabletnya ke atas meja. Lalu ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap lurus ke arah Kara.
"Apa sebenarnya yang lo mau? Kenapa lo harus berakting seperti ini?"
Mendengar kalimat itu, tubuh Kara langsung menegang. Wajah melas yang sedari tadi ia pertahankan langsung luntur seketika.
"Hah? Dia tau kalau gue lagi akting? Sialan!" batin Kara panik, sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.