NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Mobil melaju perlahan meninggalkan gedung perusahaan. Di dalam kabin... Tidak banyak percakapan. Calista masih memandang keluar jendela Pikirannya dipenuhi kejadian beberapa menit lalu.

Danis.

Pria yang pernah menjadi suaminya. Pria yang dulu tidak pernah menganggap keberadaannya. Kini justru menangis dan memohon agar ia kembali.

Aneh.

Dahulu Calista akan melakukan apa pun agar Danis mengatakan bahwa dirinya dicintai.

Namun sekarang... Saat kalimat itu benar-benar keluar dari mulut Danis, hatinya tidak lagi bergetar seperti dahulu. Yang tersisa hanya luka. Dan rasa lelah.

"Calista." Suara Arga membuatnya tersadar.

"Iya, Pak?"

"Kamu mau ke rumah?"

Calista mengangguk. "Iya."

"Alamatnya?"

Calista menyebutkan alamat tempat tinggalnya.

Arga mengangguk dan kembali fokus mengemudi. Beberapa menit berlalu.

Kemudian Calista berkata pelan, "Pak..."

"Hm?"

"Terima kasih."

Arga tersenyum tipis. "Sudah saya bilang, kamu tidak perlu berterima kasih."

"Tetap saja." Calista menunduk. "Karena Bapak tidak bertanya macam-macam."

Arga meliriknya sekilas. "Saya bukan orang yang berhak mengorek masa lalu orang lain."

Calista terdiam.

"Kalau suatu hari kamu ingin bercerita..." Arga kembali menatap jalan. "...saya akan mendengarkan."

Calista menatap wajah pria itu dari samping.

Entah kenapa... Perkataan sederhana itu terasa begitu berbeda. Tidak ada tuntutan. Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Hanya sebuah tawaran untuk mendengarkan.

Calista tersenyum kecil.

"Baik, Pak."

 

Beberapa saat kemudian...

Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

Arga mematikan mesin.

"Sudah sampai."

Calista melihat keluar jendela.

"Iya."

Ia membuka sabuk pengaman.

Namun sebelum turun...

Arga berkata,

"Calista."

Calista menoleh.

"Besok..."

Arga berhenti sebentar.

Ia sebenarnya ingin bertanya apakah Calista masih bersedia makan siang bersamanya.

Namun melihat wajah perempuan itu...

Ia mengurungkan niatnya.

"Kalau kamu belum siap kembali bekerja, ambil waktu."

Calista tersenyum.

"Saya baik-baik saja, Pak."

"Kamu yakin?"

Calista mengangguk.

"Saya tidak ingin masa lalu mengganggu pekerjaan saya."

Arga tersenyum.

"Itu baru Calista yang saya kenal."

Calista tertawa kecil.

Kemudian membuka pintu mobil.

"Terima kasih sudah mengantar."

"Sama-sama."

Calista turun.

Namun sebelum menutup pintu...

Ia kembali menoleh.

"Pak Arga."

"Iya?"

"Besok..."

Arga menunggu.

"Jadi makan siang?"

Senyum Arga langsung muncul.

"Kalau kamu mau."

Calista mengangguk.

"Saya mau."

Pintu mobil tertutup.

Arga memperhatikan Calista berjalan menuju rumahnya.

Sampai perempuan itu masuk dan pintu tertutup...

Barulah Arga kembali menyalakan mesin.

Senyumnya belum hilang.

Untuk pertama kalinya sejak pagi...

Dadanya terasa ringan.

 

Di apartemen Danis... Danis masih duduk sendirian di ruang tamu. Tatapannya kosong. Perkataan Calista terus terngiang.

"Kesempatan itu pernah ada."

"Bahkan berkali-kali."

Danis menundukkan kepala. Ia mengusap wajahnya kasar. Dahulu... Calista selalu ada. Ketika ia pulang larut malam, perempuan itu menunggu. Ketika ia sakit, Calista yang merawat. Ketika ia marah, Calista tetap mencoba berbicara. Bahkan ketika Danis mengatakan ingin menikahi perempuan lain... Calista masih memberikan kesempatan terakhir kepadanya.

Danis memejamkan mata. Malam itu... Untuk pertama kalinya mereka benar-benar menjadi suami istri. Danis masih mengingat bagaimana Calista menatapnya malam itu.

Ada cinta. Ada luka. Dan ada sebuah harapan kecil. Namun keesokan paginya... Ia justru menceraikan perempuan itu.

Danis mengepalkan tangan. "Kenapa aku sebodoh itu?"

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari ibunya.

|Danis, kapan kamu pulang? Kita perlu membicarakan sesuatu.|

Danis tidak membalas. Beberapa detik kemudian... Pesan lain masuk.

|Tentang Calista.|

Danis langsung mengangkat wajah. Tentang Calista? Ia segera berdiri.

 

Keesokan harinya...

Pukul 11.50.

Calista sedang merapikan beberapa dokumen. Ia sesekali melihat jam. Entah mengapa... Hari itu terasa berjalan lebih lambat.

Nita yang duduk di sebelahnya memperhatikan. "Kamu lihat jam terus."

Calista tersentak. "Enggak."

Nita tertawa. "Sudah lima kali."

Calista memalingkan wajah. "Aku cuma menunggu jam istirahat."

"Jam istirahat atau seseorang?"

"Nita!"

Nita terkekeh. "Baik, baik."

Calista mencoba kembali bekerja.

Namun senyum kecil tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Pukul 12.00 tepat...

Ponselnya berbunyi.

Satu pesan masuk.

Arga: |Saya sudah di bawah.|

Calista membaca pesan itu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia segera berdiri.

Nita langsung bersiul kecil. "Pergilah."

Calista menatapnya. "Jangan macam-macam."

"Aku tidak bilang apa-apa."

Calista mengambil tas kecilnya. Kemudian berjalan menuju lift.

Sementara di lantai dasar... Arga sudah menunggu. Namun kali ini... Ia tidak sendirian. Dimas berdiri di sampingnya.

Dan begitu melihat Calista keluar dari lift...

Arga langsung tersenyum.

Calista membalas senyum itu.

Dimas memandang keduanya. Kemudian menggeleng pelan. "Sepertinya saya memang harus mencari alasan untuk makan siang sendirian setiap hari."

Arga menoleh. "Dim."

"Iya, Pak?"

"Pergi."

Dimas tertawa. "Siap, Pak."

Ia berjalan menjauh.

Arga kemudian mengulurkan tangannya ke arah pintu restoran. "Silakan."

Calista tersenyum. "Terima kasih."

Mereka berjalan berdampingan. Dan tanpa mereka sadari... Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir.

Di dalamnya... Danis duduk diam. Tatapannya tertuju kepada Calista dan Arga. Kedua tangannya mengepal. "Aku nggak akan pernah biarkan kamu jatuh di pelukan pria lain, Cal!!"

1
Melda indah
please jangan sampai hamil , masa balik lagi ke mantan 🥹
Adinda
semoga cuma magh jangan smpai hamil kasihan calista lebih baik sama arga
Adinda
jangan balikkan sama arga aja calista
Adinda
gak rela calista balikkan sama danis
Adinda
gak usah balikkan sama danis buat apa hanya sakit hati, lebih baik sama Arga
Adinda
jangan balikkan lagi sama danis,calista
Melda indah
berharap Calista sama pak Arga ☺️
Eva Karmita
Denis tetap semangat tunjukkan kamu bisa berubah... sangat sulit untuk melupakan perlakuan keluargamu dulu Denis ke Calista 😩
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!