4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Om Hendra
Darren memasang umpan di Rumah Besar, tetapi yang pertama menggigit justru datang dari luar keluarga Wijaya.
Sore itu, Naomi harus menjalani pemeriksaan lanjutan di RS swasta Kota Purnama. Dokter ingin memastikan paru-parunya bersih setelah insiden danau. Darren mendampinginya sendiri, dengan Billy, Arman, dan dua pengawal di mobil terpisah.
Hasil pemeriksaan tidak buruk. Tenggorokannya masih radang, memar di leher terlihat mengerikan, tetapi paru-parunya aman. Darren baru sedikit bernapas lega ketika ponsel Naomi menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Nomor itu mengirim foto sebuah kotak kayu tua.
Pesan berikutnya membuat Naomi terdiam.
Barang peninggalan ibumu. Kalau mau, temui Om Hendra di parkiran belakang RS. Jangan bawa Darren.
Darren membaca pesan itu dari sampingnya.
"Tidak," katanya langsung.
Naomi menatap foto kotak itu. Ia mengenal ukiran di tutupnya. Kotak kecil itu dulu milik ibunya, tempat menyimpan benang, jarum, dan beberapa foto keluarga.
"Aku tidak akan pergi sendiri," katanya.
"Kamu tidak akan pergi sama sekali."
"Dar."
"Nao, orang yang menulis jangan bawa Darren biasanya alasan utamanya adalah Darren."
Naomi tahu itu. Namun nama ibunya tetap menusuk bagian paling lembut di dadanya. Hendra Liem adalah paman yang selama ini ia hindari, penjudi yang pernah datang meminta uang saat ia baru membuka Maison de Belle. Jika kotak itu benar ada padanya, Naomi ingin mengambilnya sebelum dijual untuk membayar utang.
Darren melihat wajahnya, lalu menarik napas. "Baik. Kita ambil dengan caraku."
"Caramu biasanya melibatkan terlalu banyak orang."
"Kali ini secukupnya."
"Definisimu tentang secukupnya menakutkan."
Lima belas menit kemudian, Naomi berjalan ke parkiran belakang RS dengan jaket menutup leher, ponsel menyala di tangan, dan Arman berjarak delapan langkah di belakang. Darren tidak terlihat. Itulah bagian dari rencana yang paling membuat Hendra percaya diri.
Om Hendra muncul dari balik mobil tua berwarna silver. Tubuhnya lebih kurus dari ingatan Naomi, wajahnya kusam, tetapi senyumnya masih sama: licin dan penuh perhitungan.
"Naomi," katanya. "Keponakan Om sudah jadi orang besar."
Naomi berhenti. "Kotak Mama di mana?"
"Langsung begitu? Tidak tanya kabar Om?"
"Om pernah menanyakan kabarku saat aku hampir tidak bisa bayar sewa toko?"
Senyum Hendra kaku.
Dari sisi lain, Rina muncul membawa tas kain besar. "Sudah, jangan banyak drama. Suruh dia masuk mobil."
Naomi mundur setengah langkah. Arman langsung bergerak, tetapi dua pria bertopi dari belakang mobil mencoba menghalanginya.
Sebelum suasana benar-benar pecah, Hendra mengeluarkan pisau lipat kecil dengan tangan gemetar.
"Jangan teriak," katanya. "Om cuma butuh bicara. Suamimu kaya, kan? Bantu keluarga sedikit."
Naomi menatap pisau itu, lalu wajah Hendra. "Om menculikku di parkiran rumah sakit untuk minta uang?"
Rina menyahut, "Kalau minta baik-baik, kamu pasti sok suci."
"Tante Rina, terakhir Tante minta baik-baik, Tante mengancam akan menjual mesin jahitku."
"Itu dulu."
"Benar. Dulu Tante belum sekreatif ini."
Rina melotot. Hendra panik. "Masuk mobil dulu!"
Seseorang bertepuk tangan pelan dari belakang.
Hendra menoleh.
Darren berdiri di pintu keluar parkiran, satu tangan di saku, wajahnya tenang. Di belakangnya, Billy dan empat pengawal menutup semua jalan keluar.
"Aku harus mengakui," kata Darren, "ini penculikan paling tidak profesional yang pernah kulihat."
Hendra pucat. "Kamu... kamu dari mana?"
"Dari definisi secukupnya."
Naomi hampir tertawa meski situasinya buruk.
Rina langsung mendorong Hendra. "Katanya dia tidak ikut!"
"Memang tadi tidak kelihatan!"
"Bodoh! Orang kaya mana jalan sendirian?"
"Kamu yang bilang parkiran RS aman!"
"Aku bilang cepat, bukan aman!"
Pertengkaran mereka membuat dua pria bertopi saling melihat ragu. Pengawal Darren bergerak cepat, melucuti pisau Hendra dan menahan kedua pria itu tanpa banyak keributan. Rina mencoba lari, tetapi sepatunya tersangkut tali tas sendiri. Ia hampir jatuh, lalu menyalahkan Hendra lagi.
"Semua gara-gara kamu judi terus!"
"Kamu juga yang belanja online pakai paylater!"
Billy menutup mulut, berusaha tidak tertawa. Arman tetap profesional, meski sudut bibirnya bergerak.
Darren berjalan ke Naomi. "Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja." Naomi menatap kotak kayu yang jatuh dari tas Rina. "Itu benar milik Mama."
Darren mengambilnya, memeriksa sebentar, lalu menyerahkannya pada Naomi. "Kita bawa pulang."
Hendra yang ditahan pengawal langsung berseru, "Itu milik keluarga!"
Naomi memeluk kotak itu. "Keluarga tidak menjual kenangan orang mati untuk menutup utang judi."
Hendra terdiam.
Darren menatapnya. "Siapa yang memberi tahu kalian Naomi ada di RS ini?"
Hendra menggertakkan gigi. Rina langsung menunjuk suaminya. "Dia yang dapat pesan! Aku cuma ikut!"
"Kamu yang bilang kalau berhasil kita bisa minta lima miliar!"
"Karena kamu bilang keponakanmu sekarang nyonya konglomerat!"
Darren mengangkat alis. "Lima miliar? Untuk rencana seburuk ini?"
Naomi menutup mata sebentar. "Dar, jangan evaluasi bisnis penculikan mereka."
Billy akhirnya batuk keras untuk menahan tawa.
Rina, mungkin sadar Darren lebih menyeramkan saat santai, buru-buru membuka ponsel Hendra dengan sidik jari suaminya sendiri. "Ini! Nomor itu yang kirim jadwal rumah sakit dan bilang penjagaan belakang longgar."
Darren mengambil ponsel dengan sapu tangan dari Billy.
Nomor baru. Tidak ada nama. Pesannya singkat, dingin, dan terlalu rapi.
Kalau mau uang dari Naomi Liem, sore ini kesempatanmu.
Darren menatap layar lama.
Naomi merasakan udara parkiran berubah dingin.
"Nomor sekali pakai lagi?" tanyanya.
"Kemungkinan." Darren menyerahkan ponsel pada Billy. "Amankan. Jangan sampai hilang."
Hendra mulai meronta. "Kami cuma mau uang! Bukan mau menyakiti dia!"
Darren menatapnya tanpa ekspresi. "Kamu mengangkat pisau ke leher istriku."
"Bukan leher! Jauh kok!"
Rina memukul kepala Hendra dengan tas kain. "Diam! Makin ngomong makin bodoh!"
Darren memberi isyarat pada pengawal. "Serahkan mereka ke polisi dengan laporan percobaan penculikan dan pemerasan. Untuk dua pria itu juga."
Hendra langsung lemas. Rina menjerit bahwa semua ini salah suaminya. Suara mereka menjauh saat dibawa ke mobil keamanan.
Naomi memegang kotak ibunya erat-erat.
Petugas polisi yang dipanggil Billy datang melalui pintu belakang RS agar tidak memancing kerumunan. Darren menyerahkan rekaman kamera parkiran, pisau lipat, ponsel Hendra, dan identitas dua pria bertopi. Tidak ada teriakan tambahan, tidak ada drama publik. Hendra dan Rina baru benar-benar diam ketika borgol terpasang.
Naomi membuka kotak kayu itu sebentar. Di dalamnya masih ada gulungan benang, foto lama ibunya, dan satu jarum jahit yang sudah berkarat. Benda-benda kecil itu membuat dadanya lebih sakit daripada pisau Hendra tadi.
Darren merangkul bahunya. "Aku menyesal harus memakai kotak itu sebagai umpan."
"Kamu tidak memakainya. Mereka yang memakai."
"Tetap saja."
Naomi menatap ponsel Hendra yang kini masuk kantong bukti.
"Orang yang sama?" tanyanya.
Darren tidak langsung menjawab.
Namun dari cara matanya menjadi dingin, Naomi tahu: Rumah Besar bukan satu-satunya tempat perang itu bergerak.