Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Maya menghilang sebelum subuh.
Kamar utama kosong saat Baskara akhirnya naik. Lemari sebagian terbuka, beberapa pakaian hilang, kotak perhiasan kosong, dan ponsel lama di laci sudah tidak ada. Satpam depan mengatakan Bu Maya keluar pukul tiga lewat sedikit dengan mobil pribadi. Ia mengaku akan ke klinik karena sakit kepala.
Tidak ada yang berani menahannya.
Baskara berdiri di kamar itu dengan wajah kaku. Dinda duduk di lantai dekat ranjang, memegang syal ibunya.
"Mama tidak akan pergi begitu saja," bisiknya.
Alya berdiri di pintu. "Dia pergi karena tahu kita menemukan rekaman."
Dinda menggeleng. "Tidak. Mama pasti takut. Mama pasti..."
"Takut pada siapa? Fajar?"
Dinda terdiam.
Raka masuk membawa tablet. "CCTV kompleks menunjukkan mobil Maya keluar menuju jalan tol dalam kota. Setelah itu kamera kehilangan jejak. Plat mobil kemungkinan diganti."
Baskara memejamkan mata. "Dia sudah menyiapkan ini."
Alya menatapnya. "Tentu saja. Orang yang menyimpan rekaman tua di laci juga pasti menyimpan rute kabur."
Baskara tidak membantah.
Raka berkata, "Kita lapor polisi?"
"Dengan bukti apa?" tanya Alya. "Rekaman lama yang belum jelas konteksnya, foto, dan dugaan koneksi dengan Fajar. Kalau lapor sekarang, Maya akan bilang dia pergi karena tertekan oleh anak tiri yang menuduhnya."
Dinda berdiri. "Kakak bicara seolah Mama musuh."
Alya menatapnya. "Dia memang musuhku."
"Tapi dia mamaku."
"Itu urusanmu."
Kata-kata itu dingin, tetapi jujur.
Dinda mundur selangkah. Untuk pertama kalinya ia tidak menangis. Ia hanya menatap Alya dengan luka yang terlalu dalam untuk air mata.
Baskara memerintahkan orang mencari Maya diam-diam. Raka menghubungi sekretarisnya. Rafi mengirim jaringan sendiri. Alya justru kembali ke kamar dan membuka semua file dari flashdisk.
Nama Fajar Santoso muncul di beberapa transfer lama. Tidak banyak. Orang seperti itu tidak menaruh jejak langsung terlalu sering. Tetapi ada pola: setiap kali ada masalah berkaitan dengan Rumah Pelita, Melati Merah, atau Nadira, ada transaksi dari perusahaan konsultan lama milik Fajar kepada yayasan yang dikelola Maya.
Maya dibayar untuk diam.
Atau untuk membantu.
Pukul sepuluh pagi, Baskara memanggil Alya ke ruang kerja.
Wajahnya berubah sejak malam tadi. Lebih lelah, lebih kosong. Di meja ada foto Nadira yang pernah ia sembunyikan.
"Aku ingin menjelaskan."
Alya duduk. "Aku mendengar."
Baskara menatap foto itu. "Saat ibumu hamil, dia sering pergi tanpa memberitahuku. Aku pikir dia tidak percaya padaku. Kami sering bertengkar. Dia menyebut yayasan, anak-anak sakit, dokter yang hilang. Aku mengira dia terlalu sensitif karena hamil."
Alya tidak bereaksi.
"Lalu Fajar datang. Dia bilang Nadira terlibat orang-orang berbahaya. Dia bilang Laras juga menyembunyikan banyak hal. Setelah ibumu meninggal, dia menyarankan agar kamu dijauhkan dari Jakarta demi keselamatan."
"Dan Papa percaya."
"Aku ingin percaya. Karena kalau tidak, berarti aku harus menerima bahwa kematian Nadira bukan kecelakaan medis biasa."
Alya menatapnya. "Jadi Papa memilih kebohongan yang paling nyaman."
Baskara menutup mata. "Ya."
Pengakuan itu tidak membuat Alya lega.
"Kenapa tidak pernah mencariku setelah itu?"
Baskara diam sangat lama.
"Karena setiap kali melihatmu, aku ingat Nadira. Dan aku pengecut."
Kalimat itu akhirnya jujur.
Alya berdiri.
Baskara tampak panik. "Alya."
"Aku tidak bisa memaafkan Papa hanya karena Papa akhirnya jujur."
"Aku tahu."
"Bagus."
Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Kalau Papa ingin membayar utang, bantu aku menangkap Fajar."
Baskara mengangkat wajah.
"Jangan melindungi nama keluarga. Jangan melindungi Maya. Jangan melindungi masa lalu Papa sendiri. Pilih."
Ia keluar sebelum Baskara menjawab.
Di sekolah, Alya datang terlambat. Kelas sudah mulai. Guru menatapnya, tetapi tidak menegur setelah melihat wajahnya. Kesha menggeser kursi sedikit saat Alya duduk.
"Kamu terlihat seperti habis menggali kuburan."
"Hampir."
"Aku bercanda."
"Aku tidak."
Kesha langsung diam.
Saat istirahat, Pak Harun memanggil Alya. Di ruang kepala sekolah, ia memberikan amplop.
"Ada orang mengantar ini untukmu. Tidak mau menyebut nama."
Alya membuka amplop.
Di dalamnya ada salinan artikel lama tentang kecelakaan dr. Mahendra dan satu kartu nama usang.
Fajar Santoso - Konsultan Strategis.
Di belakang kartu ada tulisan tangan:
Dia tidak pernah bekerja sendiri.
Alya menatap Pak Harun. "Siapa yang mengantar?"
"Perempuan muda. Bukan siswa. Pakai masker."
"CCTV?"
"Sudah saya minta staf simpan."
Alya mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Pak Harun menatapnya. "Alya, sekolah bisa memberi ruang aman kalau kamu butuh."
"Ruang aman tidak ada, Pak. Yang ada hanya ruang yang belum diserang."
Pak Harun tampak sedih mendengar itu. "Kamu terlalu muda untuk bicara begitu."
"Saya juga ingin begitu."
Sore hari, Rafi mendapatkan lokasi Maya.
Bukan di luar kota.
Maya berada di sebuah rumah aman di kawasan Menteng, properti lama yang terhubung dengan perusahaan Fajar Santoso.
Raka ingin langsung membawa orang. Baskara ingin ikut. Dinda diam di tangga saat mendengar kabar itu.
"Aku ikut," kata Dinda tiba-tiba.
Semua menoleh.
Alya menatapnya. "Untuk apa?"
"Dia mamaku."
"Dia juga orang yang membantu membuangku."
"Aku tahu." Suara Dinda gemetar, tetapi ia tidak mundur. "Tapi kalau dia benar-benar bekerja dengan Fajar, dia mungkin tahu sesuatu tentang Mama Nadira. Aku ingin dengar sendiri."
Alya menilai wajah Dinda.
Untuk pertama kalinya, Dinda tidak meminta perlindungan. Ia meminta masuk ke luka.
"Baik," kata Alya.
Baskara menolak, Raka tidak setuju, tetapi keputusan sudah dibuat.
Malam itu, mereka menuju Menteng.
Namun ketika sampai, rumah aman itu kosong.
Di meja ruang tamu hanya ada satu ponsel menyala dan secarik kertas.
Di layar ponsel, video Maya terikat di kursi muncul. Wajahnya lebam. Matanya penuh ketakutan.
Suara pria tua terdengar dari balik kamera.
"Alya Maheswari, kalau kamu ingin ibu tirimu hidup, berhenti mencari Fajar."
Dinda menjerit.
Alya menatap layar tanpa berkedip.
Maya memang musuhnya.
Tetapi orang yang bisa menculik Maya semudah ini jauh lebih berbahaya.
Dinda masih menangis ketika video itu mati. Raka memegang bahunya, tetapi Dinda menepisnya, bukan karena benci, melainkan karena tubuhnya tidak tahu lagi siapa yang aman.
"Aku harus cari Mama," katanya.
"Kita cari," jawab Alya.
Dinda menatapnya seperti tidak percaya kalimat itu datang dari mulut Alya. "Kenapa?"
Alya menatap ponsel gelap di meja. "Karena orang yang menculik Maya tidak sedang menghukummu. Dia sedang mengirim pesan padaku."
"Tapi Mama..."
"Maya akan bertanggung jawab atas dosanya saat dia hidup. Bukan saat dia dijadikan mayat untuk menakut-nakuti kita."
Dinda menutup mulutnya, tangisnya pecah lagi.
Untuk pertama kali, Alya melihat Dinda bukan sebagai pencuri tempatnya.
Ia melihat gadis yang seluruh dunianya dibangun oleh orang dewasa pembohong.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔