Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Awal Pacaran
Dirumah keluarga Argas, sibuk seperti biasanya.
Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur besar, membuat ruangan terasa hangat dan nyaman. Aroma bawang goreng dan sup ayam memenuhi udara sejak subuh.
Di dapur, Aurel sedang membantu Feni memasak sarapan. Ia memakai celemek cokelat muda dengan rambut diikat asal seperti biasa, tangannya sibuk mengaduk sayur sambil sesekali membantu menata piring di meja makan.
Namun berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari ini wajah Aurel terlihat lebih cerah. Aurel malah tersenyum sendiri tanpa sadar.
Feni yang sedang memotong sayur sampai melirik heran. “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?”
Aurel langsung panik. “Hah? Enggak kok, Bi!”
“Tumben pagi-pagi semangat banget.” Tanya Feni.
Aurel tertawa kecil gugup. “Kan udah sembuh.”
Feni mengangguk pelan.
Namun sebenarnya, Aurel tahu alasan dirinya berbeda pagi ini. Karena mulai tadi malam, hubungannya dengan Arvano berubah. Mereka sekarang resmi berpacaran, walaupun diam-diam.
Dan memikirkan itu saja, sudah cukup membuat jantung Aurel tidak tenang sejak bangun tidur tadi.
Setelah masakan selesai, Aurel membantu menata makanan di meja makan besar keluarga Argas. Piring ditata rapi, gelas disusun lurus, sendok dan garpu diletakkan hati-hati.
Sementara Feni kembali ke dapur mengambil teh hangat. Aurel lalu mulai mengelap meja ruang tamu.
Pagi terasa tenang. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Aurel langsung refleks menoleh.
Indah turun lebih dulu dengan pakaian kerja elegan seperti biasa. “Selamat pagi.”
“Pagi, Bu,” jawab Aurel sopan sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Bagaskara ikut turun. Bagaskara langsung menuju ruang makan sambil membaca berita di ponselnya. “Pagi.”
“Pagi, Pak.”
Aurel kembali melanjutkan pekerjaannya. Suara langkah kaki lain terdengar dari tangga. Dan entah kenapa, jantung Aurel langsung berdebar lebih cepat.
Arvano turun dengan kemeja hitam dan jam tangan silver di tangan kirinya. Rambutnya masih sedikit basah, tatapannya langsung mencari satu orang, yaitu Aurel.
Dan begitu mata mereka bertemu, tatapan Arvano langsung berubah lebih lembut.
Hal kecil yang bahkan tidak ia sadari sendiri.
Aurel langsung gugup, Ia buru-buru menunduk pura-pura fokus mengelap meja.
Namun saat Arvano hampir sampai bawah tangga, tiba-tiba berkata santai, “Selamat pagi, sayang.”
Deg.
Kain lap di tangan Aurel hampir jatuh. Matanya langsung membesar, wajahnya memanas seketika.
Bagaskara yang sudah berjalan ke ruang makan tidak terlalu memperhatikan. Indah juga sedang sibuk melihat ponselnya.
Dan untungnya, feni masih di dapur mencuci piring, tidak mendengar apa pun.
Namun bagi Aurel, ucapannya sudah cukup membuat jantungnya hampir copot.
Aurel langsung melirik panik ke sekitar, lalu membalas pelan sekali, “P-pagi juga.”
Arvano menahan senyum kecil, namun Arvano sengaja mendekat sedikit. “Hm?”
Aurel makin panik. “Pagi juga… sayang…” Suaranya pelan sekali, hampir seperti bisikan.
Namun Arvano tetap mendengarnya, dan itu langsung membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Mereka lalu berjalan menuju ruang makan. Aurel buru-buru kembali ke dapur karena malu sendiri.
Sementara Arvano duduk di kursinya seperti biasa.
Namun sejak tadi, tatapannya beberapa kali diam-diam mencari Aurel.
Indah sampai menyadarinya sedikit. “Kamu kenapa dari tadi lihat belakang terus?”
Arvano langsung minum air. “Enggak kenapa-kenapa.”
Bagaskara tetap fokus membaca berita. “Meeting jam sembilan jangan sampai telat.”
“Hm.” Sahut Arvano yang singkat.
Namun sebenarnya, pikiran Arvano tidak fokus pada pekerjaan pagi itu. Karena setiap melihat Aurel, ada rasa hangat aneh yang terus muncul di dadanya.
Sementara di dapur, Aurel juga tidak jauh berbeda. Ia sedang membantu Feni mencuci piring kecil sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri. Karena sejak dipanggil “sayang” tadi, wajahnya masih panas.
Feni melirik heran lagi. “Kamu sakit lagi?”
“Hah?” Jawab Aurel bengong.
“Mukamu merah.”
Aurel langsung menutup pipinya. “Panas dapurnya.”
Feni mengangguk polos. “Oh.”
Aurel langsung menghela napas lega kecil.
Kadang, kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, bagi Aurel.
Panggilan sederhana seperti “sayang” saja sudah cukup membuat harinya berubah. Karena selama hidupnya, belum pernah ada seseorang yang memperlakukannya selembut itu, apalagi seseorang seperti Arvano.
Pria yang dingin pada semua orang, namun kini perlahan berubah hanya untuk dirinya. Dan itu membuat hati Aurel hangat.
Meski di sisi lain, Ia juga mulai takut.
Karena semakin bahagia dirinya, semakin besar rasa takut kehilangan semua itu.
Sarapan akhirnya selesai.
Bagaskara berdiri lebih dulu. “Ayo berangkat.”
Indah ikut bangun sambil merapikan tasnya. “Feni, nanti siang tolong cek stok dapur.”
“Iya, Bu.”
Tak lama kemudian, kedua orang tua Arvano keluar rumah lebih dulu.
Mobil mereka pergi meninggalkan halaman, kini tinggal Arvano yang belum berangkat.
Aurel sedang berdiri dekat meja ruang makan membereskan piring, sementara Feni kembali ke dapur mencuci peralatan.
Suasana rumah jadi lebih sepi. Arvano berjalan mendekati Aurel, jantung Aurel langsung berdegup lagi. “Mas…”
Arvano berdiri dekat sekali, tatapannya lembut. “Aku berangkat kerja dulu.”
Aurel mengangguk kecil. “Iya…”
Arvano sedikit membungkuk mendekat. “Hati-hati di rumah, sayang.”
Deg. Deg.
Wajah Aurel langsung merah total lagi. Ia refleks melirik ke dapur, untung Feni masih sibuk mencuci piring dan suara air cukup keras, jadi tidak mendengar apa pun.
Aurel lalu menatap Arvano gugup. “Iya.”
“Jawab yang bener.” Ucap Arvano.
Aurel langsung salah tingkah. “H-hati-hati juga.”
Arvano tersenyum tipis, senyum kecil itu benar-benar membuat Aurel makin tidak bisa tenang.
Sebelum pergi, Arvano sempat mengusap pelan kepala Aurel, sangat cepat. Namun cukup membuat gadis itu membeku di tempat. “Aku pergi.”
Setelah itu, Arvano benar-benar keluar rumah. Suara mobilnya perlahan menghilang dari halaman. Sementara Aurel masih berdiri diam sambil memegang dadanya sendiri, jantungnya benar-benar tidak normal hari ini.
Feni akhirnya keluar dari dapur sambil membawa lap. “Kamu kenapa bengong?”
Aurel langsung tersadar. “Hah? Enggak, kok Bi.”
“Tumben dari tadi senyum sendiri terus.” Kata Feni.
Aurel buru-buru mengambil piring. “Saya mau cuci piring dulu!”
Feni malah makin heran melihatnya.
Hari itu menjadi pagi paling membahagiakan untuk Aurel. Namun tanpa mereka sadari, kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung tanpa bahaya.