NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Di dalam ruang perawatan Rumah Sakit, suasana terasa hening dan penuh dengan bunyi alat medis yang teratur. Yuda terbaring lemah di atas ranjang pasien, wajahnya masih terlihat pucat dan lelah sekali setelah mendapatkan penanganan dari dokter.

Selang infus sudah tertancap di tangannya, dan cairan obat perlahan mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Dokter menjelaskan bahwa kondisi ginjal Yuda semakin memburuk, kadar racun dalam darahnya meningkat drastis karena keterlambatan cuci darah jadwal bulan ini, sehingga menyebabkan tubuhnya lemas parah dan gangguan fungsi organ lainnya. Dia harus dirawat intensif selama beberapa hari sampai kondisinya stabil kembali.

Mendengar penjelasan itu, hati Jonathan terasa seperti diremas kuat-kuat. Tapi di saat yang sama, tekadnya semakin kuat. Dia duduk di samping ranjang Yuda, tangannya menggenggam erat tangan Yuda yang terasa dingin dan kurus. Matanya menatap wajah Yuda lekat-lekat, penuh dengan kasih sayang dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.

"Papah adalah satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidup gue," batin Jonathan sambil menahan air matanya.

"Sedangkan mamah sibuk dengan dunianya sendiri, tapi papah... Papah selalu ada buat gue, papah yang membesarkan gue dengan susah payah, papah yang selalu mengerti dan mendukung gue apa pun yang terjadi. Papah adalah segalanya bagi gue, dan gue nggak akan pernah membiarkan Ayah menderita sendirian."

Sejak saat itu, Jonathan benar-benar mengabdikan waktunya sepenuhnya untuk merawat Yuda. Dia tidak mau beranjak dari sisi Yuda sedikit pun.

Siang dan malam dia berjaga, membantu membersihkan diri Yuda, menyuapi makan dan minum, membantu membalikkan badan, mendengarkan keluh kesah Yuda, dan selalu berbicara lembut untuk menyemangati Yuda agar tetap kuat melawan penyakitnya.

Wajah lelah dan kantuk tidak pernah dia tunjukkan, setiap kali Yuda bertanya apakah dia lelah atau mengantuk, Jonathan selalu tersenyum lebar dan menjawab dengan semangat.

"Papah jangan khawatir ya, Meldi nggak capek sama sekali kok. Justru Jonathan senang bisa nemenin papah di sini. Papah harus semangat sembuh ya, kita masih banyak hal yang belum kita lakukan sama-sama," kata Jonathan lembut sambil mengusap punggung tangan Yuda.

Yuda menatap wajah putranya dengan mata berkaca-kaca, rasa haru dan bersalah bercampur menjadi satu. "Nak... Maafkan papah ya. Papah tahu kamu capek, papah tahu kamu berat memikul semuanya sendirian. Papah merasa jahat banget harus menyusahkan kamu terus-menerus begini. Padahal seharusnya papah yang menjaga dan merawat kamu, bukan malah sebaliknya..."

"Jangan bicara begitu, pah!" potong Jonathan cepat dengan nada tegas namun lembut.

"Bagi anak, merawat orang tua yang sakit itu bukanlah beban atau kesusahan, tapi itu adalah kewajiban sekaligus kebahagiaan terbesar. Anggap saja ini cara Jonathan membalas sedikit dari milyaran kebaikan dan kasih sayang yang pernah papah berikan pada Meldi sejak kecil. Papah jangan pernah merasa bersalah ya, karena selama papah ada di sini bersama Jonathan, Jonathan sudah merasa sangat bahagia dan lengkap."

Mendengar ucapan tulus itu, air mata Yuda akhirnya menetes jatuh membasahi bantal. Dia merasa sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberinya putra sebaik, sesabar, dan setulus Jonathan.

Sementara itu, setelah beberapa jam berusaha menghubungi Jonathan namun tidak kunjung ada jawaban, ponsel Aletta akhirnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Jonathan. Dengan jantung berdebar kencang, Aletta segera membukanya dan membaca isinya.

"Al... Maaf baru balas sekarang. Papah masuk Rumah Sakit tadi sore. Kondisinya kritis karena ginjalnya kambuh parah. Aku lagi di Rumah Sakit sekarang, lagi jagain papah."

Begitu membaca pesan itu, darah Aletta seolah berdesir hebat. Wajahnya langsung pucat dan tangannya gemetar ketakutan. Tanpa berpikir panjang, dia segera berlari menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah.

"Ibu, Ayah...Jonathan baru saja mengirim pesan. Papahnya sakit parah dan sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit. Aku... aku mau ke sana sekarang ya, aku mau melihat keadaan mereka dan menenangkan Jonathan," kata Aletta dengan nada tergesa-gesa dan cemas.

Namun, mendengar itu, Baskara dan Puspa saling berpandangan melihat Aletta dengan wajah ragu. Puspa segera menanggapi dengan nada khawatir.

"Ya ampun... Kasihan sekali mereka. Tapi Nak, sekarang kan sudah malam sekali. Lagian besok pagi kamu harus mulai bertugas lagi di Puskesmas, kamu butuh istirahat yang cukup. Kalau kamu pergi ke sana sampai larut malam, nanti kamu kelelahan dan sakit. Bagaimana kalau kamu ke sana besok pagi saja setelah bertugas?" kata Puspa menyarankan.

"Ibu benar, Aletta. Kami juga khawatir dengan keamananmu kalau pergi malam-malam begini. Biarkan mereka istirahat dulu di sana, nanti kamu bisa menjenguknya kapan saja," tambah Baskara.

Mendengar penolakan itu, wajah Aletta tampak sedih dan memohon. Dia tahu orang tuanya sayang dan khawatir padanya, tapi dia juga tahu betapa beratnya beban yang sedang dipikul Jonathan saat ini. Dia tahu Jonathan sedang kesepian, sedang sedih, dan sedang berjuang sendirian. Dia tidak tega membiarkan kekasihnya melewati masa sulit itu sendirian.

"Ayah, Ibu... Aku mohon izinkan aku pergi sebentar saja ya... Cuma sebentar kok, aku nggak akan lama di sana," kata Aletta memohon dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tahu besok aku harus kerja, aku pasti akan istirahat cukup kok pulang dari sana. Tapi aku nggak tenang rasanya kalau nggak melihat keadaan mereka langsung. Jonathan sedang butuh aku sekarang, Bu, Yah... Dia sendirian di sana, mamahnya saja bahkan belum tentu ada. Kalau aku nggak ada di sisinya saat dia susah begini, siapa lagi yang akan menghibur dan menyemangati dia? Aku janji aku hati-hati, dan aku akan pulang cepat. Tolong izinkan aku ya..."

Melihat ketulusan dan keprihatinan di mata putri semata wayangnya itu, akhirnya hati kedua orang tuanya luluh. Mereka tahu betapa besar rasa sayang Aletta pada Jonathan, dan mereka juga tahu bahwa hubungan yang baik adalah hubungan yang saling mendukung saat senang maupun susah.

"Baiklah... Ibu dan Ayah izinkan kamu pergi. Tapi ingat ya, jangan lama-lama, jangan pulang terlalu larut. Dan Ayah akan menyuruh Pak Supir mengantarmu dan menunggumu di sana sampai kamu siap pulang," kata Baskara akhirnya menyetujui.

"Terima kasih banyak, Ayah, Ibu! Kalian baik sekali!" seru Aletta senang sekali, lalu dia segera bersiap dan berangkat ke Rumah Sakit ditemani oleh supir keluarga yang setia.

Sesampainya di sana, Aletta segera berlari menuju ruang rawat inap tempat Yuda dirawat. Saat membuka pintu ruangan itu, dia melihat pemandangan yang membuat hatinya teriris.

Jonathan duduk lemas di samping ranjang, matanya merah dan bengkak, wajahnya pucat dan terlihat sangat lelah. Namun saat melihat kedatangan Aletta, mata lelah itu seolah berbinar seketika.

"Kamu... kok kamu ada di sini, Al?" tanya Jonathan lemah, dia mengira Aletta tidak akan datang mengingat kejadian tadi siang.

Tanpa menjawab banyak kata, Aletta segera mendekat dan memeluk Jonathan dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan kasih sayang yang dia miliki.

"Aku di sini, Jo... Aku ada di sini buat kamu. Maafkan aku baru datang sekarang," bisik Aletta lembut di telinga Jonathan. "Kamu nggak sendirian, ada aku di sini. Kita hadapi semuanya bareng-bareng ya."

Jonathan yang selama ini menahan tangisnya sekuat tenaga akhirnya pecah juga. Dia membalas pelukan itu dengan erat, menangis sejadi-jadinya di bahu Aletta, meluapkan semua rasa sakit, lelah, dan ketakutan yang ia rasakan selama ini.

Aletta hanya diam dan terus mengusap punggung serta rambutnya dengan lembut, menenangkannya sebaik mungkin. Sepanjang waktu di sana, Aletta terus menghibur Jonathan, membantunya melakukan hal-hal kecil, dan bicara lembut pada Yuda agar beliau tetap semangat. Kehadiran Aletta seolah menjadi obat penenang yang paling ampuh bagi jiwa Jonathan yang sedang rapuh.

Waktu berlalu begitu cepat saat mereka sedang bersama, dan tanpa terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mengingat besok pagi Aletta harus sudah bangun pagi dan siap untuk bertugas di Puskesmas, Aletta pun terpaksa berpamitan untuk pulang.

"Jo... Aku harus pulang sekarang ya. Sudah malam sekali, dan besok pagi aku harus mulai kerja lagi," kata Aletta lembut sambil melepaskan pelukannya.

Jonathan mengangguk mengerti, meskipun hatinya berat sekali melepaskan Aletta pergi. Dia merasa begitu nyaman dan tenang saat gadis itu ada di sisinya. "Iya, Sayang. Kamu harus istirahat, jangan sampai kamu sakit juga. Terima kasih banyak ya sudah datang dan menemaniku malam ini... Kamu nggak tahu betapa berartinya kehadiranmu buatku."

"Sama-sama, Sayang. Jangan lupa istirahat juga ya, jaga kesehatanmu. Kalau ada apa-apa, telepon aku langsung ya, apa pun jamnya," pesan Aletta tulus.

Saat Aletta bersiap keluar ruangan, tiba-tiba bertemu dengan Rosa, kakak perempuan Meldi yang baru saja tiba di Rumah Sakit setelah dihubungi oleh Jonathan sebelumnya. Rosa adalah sosok kakak yang tegas namun penyayang, meskipun ia tinggal terpisah dan sudah berkeluarga.

"Lho, kamu mau pulang, Dik?" tanya Rosa ramah.

"Iya, Kak. Ini sudah malam, besok aku harus kerja pagi-pagi," jawab Aletta sopan.

"Kalau begitu, biar Kakak yang mengantarmu pulang ya naik motor. Supir kamu kan sudah pulang duluan tadi katanya ada keperluan mendadak. Kebetulan Kakak bawa motor, rumah kita kan searah," tawar Rosa ramah.

Aletta pun menerima tawaran itu dengan senang hati. Di perjalanan pulang di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, Rosa sering tersenyum sendiri dan sesekali melirik ke arah Aletta yang duduk di boncengannya. Dia bisa melihat betapa bahagia dan berubahnya adik laki-lakinya semenjak mengenal gadis yang duduk di belakangnya ini.

Di lorong rumah sakit, saat Aletta dan Rosa hendak berjalan keluar, tanpa sengaja mereka bertemu dengan mamahnya Jonathan, Rinjani. Beliau baru saja tiba, tampak cantik dan modis seperti biasa, namun terlihat tergesa-gesa seolah hanya meluangkan waktu sejenak di sela kesibukannya.

"Bu Rinjani..." sapa Aletta sopan dan menunduk hormat.

Rinjani berhenti sejenak dan menatap Aletta dari atas sampai bawah dengan tatapan yang meneliti dan penuh rasa ingin tahu. Dia sudah sering mendengar nama Aletta dari Jonathan, dan dia tahu gadis inilah yang mampu membuat wajah suram putranya kembali ceria dan bersinar. Namun, karena dia terlalu sibuk dengan kariernya, dia belum pernah benar-benar berkenalan dan mengobrol lama dengan gadis ini.

"Eh, kamu Aletta kan? Pacarnya Jo?" tanya Rinjani dengan nada bicara yang halus namun penuh selidik.

"Iya, Bu. Saya Aletta," jawab Aletta sopan.

Rinjani tersenyum tipis. "Kamu cantik dan sopan ya. Pantas saja Jo sangat menyayangimu. Ceritanya sih, kamu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya belakangan ini. Saya penasaran sebenarnya, apa sih yang membuat kalian begitu dekat? Apa yang membuat Jo sampai segitunya sayang dan percaya padamu?" tanyanya terus terang, matanya menatap tajam ke mata Aletta seolah ingin membaca isi hati gadis itu.

Meskipun merasa sedikit terintimidasi dan gugup, Aletta tetap menjawab dengan sopan dan tenang. "Bu... Bagi saya, Jo bukan sekadar pacar. Dia adalah sahabat, pendengar setia, dan orang yang paling mengerti saya. Kami saling melengkapi, saling mendukung saat senang maupun susah. Saya menyayangi Jo apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan saya rasa, Jo juga merasa hal yang sama."

Mendengar jawaban itu, Bu Rinjani mengangguk-anggukkan kepalanya seolah puas. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya. "Bagus... Bagus sekali. Saya senang mendengarnya. Lanjutkan ya hubungan kalian. Saya harap kalian bisa saling menjaga dan membahagiakan satu sama lain."

Setelah percakapan singkat itu, Rinjani segera berjalan masuk menuju ruang rawat Yuda, sementara Aletta dan Rosa melanjutkan perjalanan pulang. Rinjani yang biasanya dingin dan acuh tak acuh tentang urusan pribadi anaknya, kali ini benar-benar merasa penasaran dan kagum pada gadis sederhana namun teguh hati itu.

Sesampainya di rumah sudah lewat pukul sebelas malam, Aletta langsung masuk ke kamarnya dengan langkah lelah namun hati yang tenang dan bahagia. Dia senang sekali bisa menemani dan menghibur Jonathan malam ini, dan dia merasa sedikit lega melihat kondisi ayahnya meskipun masih kritis.

Meskipun matanya sudah sangat berat dan mengantuk, Aletta tidak langsung tidur. Dia ingat betul besok pagi adalah hari pertamanya bertugas di Puskesmas, dan dia harus datang dengan penampilan rapi, bersih, dan perlengkapan yang lengkap. Dia tidak boleh datang terlambat atau tidak siap.

Dengan sisa tenaga yang ada, dia segera menyiapkan seragam dinasnya, menyetrikanya hingga rapi dan licin. Dia menyiapkan buku catatan, pulpen, alat tulis, serta kartu identitas dan perlengkapan kesehatan yang wajib dibawa.

Dia juga menyiapkan baju ganti dan perlengkapan mandi jika nanti dibutuhkan. Dia menata semuanya dengan rapi di atas meja belajarnya agar besok pagi dia tidak terburu-buru dan mencari-cari barang.

Sambil menyiapkan semuanya, pikiran Aletta terus melayang pada Jonathan dan Yuda. Dia berdoa dalam hatinya semoga kondisi ayah Jonathan segera membaik dan pulih kembali, serta semoga Jonathan diberi kekuatan dan kesabaran yang melimpah.

Setelah semuanya siap dan rapi, barulah Aletta membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Dalam sekejap mata, dia pun terlelap dalam tidurnya, membawa rasa bahagia karena bisa membantu orang yang dicintainya, dan semangat baru untuk memulai tugasnya di Puskesmas esok hari.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!