NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Atas Kaca Raksasa

Episode 27

Cahaya putih yang tadi menelan cakrawala perlahan-lahan mulai memudar, meninggalkan bintik-bintik perak yang menari di udara seperti kunang-kunang kosmik. Samudra Pasifik, yang beberapa saat lalu mengamuk dengan ombak setinggi gunung, kini mendadak menjadi sangat tenang, terlalu tenang. Permukaan airnya membeku dalam keheningan absolut, berubah menjadi dataran halus menyerupai kaca raksasa yang memantulkan langit dengan kejernihan yang menyakitkan mata.

Piramida hitam setinggi tiga kilometer itu telah lenyap. Tidak ada puing, tidak ada asap, dan tidak ada sisa-sisa logam cair. Struktur yang seharusnya menjadi benih kiamat bagi umat manusia itu seolah olah telah dihapus dari sejarah keberadaan bumi. Atmosfer di sekitar lokasi pendaratan kini terasa sangat murni, dipenuhi dengan aroma oksigen segar yang belum pernah dirasakan manusia sebelumnya.

Di tengah hamparan laut yang membeku itu, berdiri seorang bocah kecil. Arthur masih mengenakan seragam olahraganya, meskipun kini seragam itu tampak sedikit bercahaya keemasan di bagian serat-serat kainnya. Ia berdiri dengan santai di atas permukaan air, tangannya menepuk nepuk perutnya yang mungil seolah-olah ia baru saja menyelesaikan makan malam yang sangat berat.

"Terlalu banyak kalori," gumam Arthur. Suaranya kecil, namun karena keheningan absolut di sekitarnya, suaranya terdengar menggema hingga ke cakrawala. "Energi Architects benar-benar terasa seperti makanan cepat saji. Banyak lemak energinya, tapi kurang nutrisi spiritual."

Arthur menarik napas panjang. Ledakan Protokol Genesis yang seharusnya meruntuhkan tata surya itu kini tersimpan rapi di dalam "Vessel" tubuhnya. Ia telah mengubah energi penghancur tersebut menjadi energi murni yang menstabilkan inti bumi. Alih-alih menjadi kiamat, serangan Architects justru baru saja memberikan bumi cadangan energi untuk bertahan selama satu juta tahun ke depan.

Ia menoleh ke arah kapal induk The Absolute yang berjarak dua kilometer darinya. Kapal raksasa itu tampak seperti mainan kecil di atas meja kaca. Arthur bisa melihat Valerius yang masih bersimpuh di dek, matanya tertutup rapat karena silau yang luar biasa tadi.

Di dimensi tinggi, pusat komando para Architects diselimuti oleh kepanikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Layar-layar biologis mereka berkedip merah darah, menunjukkan bahwa seluruh armada yang terhubung dengan Benih Inti telah kehilangan pasokan energi secara mendadak.

"Laporan! Di mana Benih kita?!" teriak sang Pemimpin Architects, suaranya bergetar karena rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

"Lenyap, Yang Mulia," sahut operator dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Energi ledakannya... tidak menyebar. Energi itu seolah olah 'disedot' ke dalam satu titik massa tunggal di permukaan planet. Seluruh Protokol Genesis... baru saja dimakan oleh anomali itu."

Sang Pemimpin terhempas ke singgasananya. Selama jutaan tahun mereka memanen planet-planet, mereka belum pernah bertemu dengan sesuatu yang memakan serangan mereka. "Dia bukan manusia... dia bukan pahlawan... Dia benar-benar Sang Sovereign yang menguasai hukum kausalitas. Kita baru saja mencoba menembak matahari dengan korek api."

"Apa perintah selanjutnya, Yang Mulia? Jembatan masih terbuka, tapi kita kehilangan 90% daya operasional kita."

Pemimpin itu menatap Bumi melalui layar. "Tutup Jembatan. Tarik semua unit yang tersisa. Jangan biarkan dia melacak koordinat dimensi kita melalui sisa energi yang ia makan. Kita butuh rencana lain. Kita tidak bisa mengalahkannya dengan energi. Kita harus mengalahkannya dengan sesuatu yang ia cintai... kemanusiaannya."

Kembali di Pasifik, Valerius perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memulihkan penglihatannya yang sempat putih total. Saat ia berhasil melihat kembali, ia ternganga. Lautan di depannya bukan lagi air, melainkan cermin raksasa yang tidak bergerak sedikit pun.

"Arthur?" panggil Valerius dengan suara gemetar. Ia tidak melihat ledakan. Ia tidak melihat pertempuran. Ia hanya melihat keindahan yang mengerikan.

Ia melihat sosok kecil Arthur yang mulai berjalan kembali ke arah kapal induk. Setiap langkah Arthur di atas air menciptakan lingkaran emas yang meluas, secara perlahan mengubah kembali permukaan "kaca" itu menjadi air laut yang normal. Suara ombak mulai terdengar kembali, kecil dan lembut, seperti bisikan syukur dari samudra.

Arthur melompat ringan, mendarat di dek depan kapal induk tepat di hadapan Valerius. Tas ransel kuningnya masih ada di punggungnya, meskipun kini tas itu sedikit berasap karena menampung Heart of Gaia yang sudah mencapai titik jenuh energi.

"Urusan selesai, Paman," ujar Arthur datar. Ia merapikan topinya yang sempat miring. "Piramida itu sudah jadi sarapan sariku. Kau bisa memberitahu duniamu bahwa 'Meditasi Terlarang' mu telah berhasil menetralkan benih kiamat itu menjadi oksigen murni."

Valerius menatap Arthur dengan tatapan yang sangat kompleks. Ia ingin memeluk bocah ini, namun ia juga merasa ingin berlutut di hadapannya. "Kau benar-benar tidak terluka? Itu adalah ledakan yang seharusnya menghancurkan sistem tata surya kita, Arthur."

Arthur hanya menguap lebar. "Tubuh ini mungkin kecil, tapi kapasitasnya tidak terbatas. Hanya saja... aku merasa sedikit mengantuk sekarang. Menyerap energi kotor Architects benar-benar membuat pencernaan ku bekerja keras."

Arthur berjalan menuju jet The Phantom 0 yang masih terparkir rapi di dek. Ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Valerius. "Oh, satu hal lagi. Katakan pada Silas untuk membersihkan semua sensor satelit GDC di area ini. Aku tidak ingin ada ilmuwan yang bertanya-tanya kenapa kadar oksigen di Pasifik tiba-tiba naik tiga ratus persen."

"Aku akan mengaturnya," jawab Valerius patuh. "Tapi Arthur... Architects tidak akan berhenti di sini, kan?"

Arthur menatap langit yang kini mulai menampakkan bintang-bintang di sore hari karena atmosfer yang terlalu bersih. "Mereka ketakutan sekarang. Mereka akan bersembunyi di balik dimensi mereka untuk sementara. Tapi kau benar, mereka akan kembali dengan cara yang lebih licik. Untuk sekarang, nikmatilah medali emasmu, Paman. Dan jangan lupa kirimkan susu stroberinya. Aku butuh penawar rasa untuk energi pahit Architects tadi."

Arthur masuk ke dalam jet siluman tersebut. Pintu kabin tertutup, dan dalam hitungan detik, pesawat itu melesat hilang dari pandangan, meninggalkan Valerius sendirian di tengah samudra yang kini kembali normal.

Malam itu, dunia kembali diguncang oleh berita kemenangan Valerius yang paling spektakuler. GDC mengumumkan bahwa Komandan Valerius telah menggunakan "Teknik Puncak Kemanusiaan" untuk menelan kiamat ke dalam dirinya sendiri dan mengubahnya menjadi udara segar bagi bumi. Nama Valerius kini bukan lagi sekadar pahlawan, ia dianggap sebagai juru selamat yang setara dengan dewa.

Di apartemen nomor 402, Arthur sedang berbaring di sofa sambil menonton televisi. Di depannya ada mangkuk besar berisi camilan dan segelas besar susu stroberi dingin. Clara duduk di sampingnya, memandangi layar televisi dengan mata berkaca-kaca.

"Valerius benar-benar luar biasa, ya Arthur?" bisik Clara. "Dia menyelamatkan kita semua lagi. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak ada."

Arthur menyesap susunya, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan Valerius sedang melambaikan tangan ke arah kamera drone. "Ya, dia sangat berisik... maksudku, sangat hebat, Kak. Kita benar-benar beruntung paman itu suka pamer."

Clara tertawa kecil, mengacak acak rambut Arthur. "Kau ini. Sekarang cepat habiskan susumu dan tidur. Besok sekolah sudah dibuka kembali, dan kau punya banyak PR yang harus dikumpulkan karena libur mendadak kemarin."

Arthur menghela napas panjang. Baginya, mengerjakan PR bahasa Inggris terasa jauh lebih melelahkan daripada menelan ledakan Protokol Genesis. Ia meraba tas sekolahnya yang diletakkan di bawah meja. Heart of Gaia di dalamnya sudah kembali tenang, berwarna hijau zamrud yang hangat.

"PR ya..." gumam Arthur sambil berjalan menuju kamarnya. "Sepertinya aku lebih suka menghadapi Architects lagi daripada harus menulis esai tentang cita-cita."

Di luar sana, di markas rahasianya, Silas sedang menatap data satelit yang benar-benar mustahil. Ia melihat bagaimana Arthur berjalan di atas laut yang membeku. Ia melihat bagaimana benih kiamat itu menghilang ke dalam tubuh seorang anak kecil. Silas menutup laptopnya, lalu melepaskan kacamatanya.

"Dunia ini selamat bukan karena keadilan," bisik Silas pada kegelapan ruangannya. "Tapi karena seorang penguasa semesta lebih memilih susu stroberi daripada kehampaan."

Di dimensi tinggi, Architects mulai menyusun rencana baru. Mereka menyadari bahwa senjata fisik tidak akan mempan. Mereka mulai mencari catatan sejarah bumi, mencari hubungan emosional, mencari celah dalam hidup Arthur yang tampak normal.

Fase Ketiga telah berakhir dengan kegagalan total, namun benih konflik baru baru saja ditanamkan. Dan target mereka selanjutnya bukan lagi Sektor Tujuh secara fisik, melainkan sekolah Arthur. Mereka akan mengirimkan sesuatu yang tidak tampak seperti ancaman: seorang murid pindahan.

Arthur, yang sedang menarik selimutnya di kamar, tiba-tiba bersin. Ia merasakan sebuah riak kecil di takdirnya. "Seseorang sedang membicarakan ku," pikirnya. "Semoga bukan Bu Hera yang ingin menambah PR-ku lagi."

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!