NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi di luar Sudut Sebuah Gang

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Aluna dalam perjalanan pulang. Hari ini dia memiliki kelas tambahan dan entah kenapa energinya seakan terkuras habis hingga ke akar-akarnya. Dengan sekantong belanjaan yang sempat dia beli di swalayan dekat bus stop yang berada di kawasan rumahnya, ia berjalan gontai.

 Langkahnya terjeda dan matanya memandang heran sesuatu di depan sana. Ia tidak asing, tapi … “Kenapa ada disini?”

 Mendekat selagi mengamati, Aluna yakin kalau BMW i8 Roadster ini milik orang itu setelah memastikan angka pada plat nomor.

 Lantas, Aluna mengedarkan indera penglihatan di sekitar lokasi. Tempat ini bukanlah kawasan ramai dengan bangunan pencakar langit juga pusat perbelanjaan. Hanya kedai-kedai kecil dan taman berfasilitas playground yang tersedia. Tentu saja hal itu menjadikan Aluna terheran mendapati kuda bermesin itu terparkir di sini.

 Dengan teliti memandangi keadaan, tidak ada tanda-tanda dari si pemilik kendaraan.

 Meski haus akan rasa penasaran, Aluna harus membiarkan dahaga itu hilang dengan sendirinya ketika ia memilih acuh; menganggap hal ini bukanlah sesuatu yang berarti untuk dirinya.

 BRAAAKKK!

 Suara itu muncul dari gang kecil yang berada di belakang Aluna. Tidak ada pemandangan aneh sejurus ia menoleh. Sepertinya, sumber suara berasal dari belokan pertama gang dengan lebar sekitar tiga meteran tersebut. Dia pun tanpa ragu mengarahkan langkah untuk mencari tahu apa itu.

 Refleks Aluna langsung menarik badannya mundur selangkah. Tercekat ia saat mendapati tiga sosok berbalut hoodie hitam sedang mengintimidasi seseorang. Satu diantaranya tengah mencengkram kerah baju sang korban yang berdiri diatas kedua lututnya.

 Dapat Aluna simpulkan bahwa suara tadi berasal dari mereka. Sebab, posisi korban berada di antara beberapa tong sampah yang sebagian sudah tergeletak tanpa arah.

 “Lo jangan macam-macam dengan kami, Bintang Mahendra. Atau kami akan hancurkan lo seperti lo bukan siapa-siapa di dunia ini.” Begitulah ancaman yang dapat ditangkap rungu Aluna.

 Aluna pun dapat melihat, orang itu mengarahkan telunjuknya di depan wajah Bintang–pemilik mobil yang menyita perhatiannya beberapa saat lalu. Namun sayang, gadis itu tidak bisa mengira-ngira siapa mereka karena masker dan kepala hoodie yang dikenakan.

 “Harus berapa kali gue katakan? Gue nggak kenal gadis itu. Dan siapa pun namanya, gue nggak pernah kenal.” Bintang kini mulai membela diri. Menolak semua yang mungkin menjadi alasan tiga manusia itu mengambil tindakan yang demikian.

 “Kalau lo memang nggak kenal, kenapa adik gue bisa nangis karena lo, bod*h?! Berhentilah bohong atau lo akan habis di tangan gue malam ini juga!”

 Jantung Aluna serasa jatuh ke perut. Jemarinya gemetar kecil sebelum mengatup—satu menggenggam tali kantong plastik dan satunya meremas rok seragam. Dadanya sesak oleh rasa takut dan bingung yang datang bersamaan. Sementara itu, matanya menyapu sekitar dengan tergesa, berharap menemukan siapapun yang bisa melihat keadaan ini.

 “Apa yang harus aku lakukan?” pikir Aluna begitu sadar bahwa tak berhasil menemukan batang hidung seseorang untuk dimintai tolong.

 “Apa aku telepon polisi saja? Tapi …, itu pasti akan memakan waktu,” monolog Aluna dalam pikir.

 “GUE NGGAK BOHONG!” bentak Bintang tidak tahan akan tuduhan.

 “Lo berani bentak gue?!”

 Satu tamparan mendarat pada pipi Bintang.

 “Benar! Aku harus melakukannya!” tekad Aluna.

 “GUE UDAH PUNYA PACAR! APA LO PUAS SEKARANG?!”

 Jeda.

 Aluna melewatkan kesempatan untuk mengambil ponsel dari jas almamater. Dengan mata terkejut, dia kembali menitikkan fokus pada mereka.

 “Hentikan semua ini,” tutur Bintang. “Gue mohon.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!