" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Ambang Pintu
Pagi itu, ruko baru "Wangi Arumi" di pusat kota sedang dalam tahap renovasi. Aroma cat baru dan kayu pinus memenuhi ruangan yang luas dan elegan. Arumi berdiri di sana bersama Adnan, sedang mendiskusikan letak etalase bumbu organik mereka yang akan dibuat sangat estetik.
"Aku ingin pencahayaannya hangat, Adnan. Biar pelanggan merasa seperti di dapur rumah sendiri," ujar Arumi sambil menunjuk ke sudut ruangan.
"Ide bagus. Kita akan pakai lampu gantung tembaga," sahut Adnan, tatapannya tak lepas dari wajah Arumi yang kini terlihat jauh lebih segar dan berwibawa.
Tiba-tiba, seorang wanita tua dengan kebaya lusuh dan kerudung yang sudah pudar warnanya berdiri di pintu ruko yang masih terbuka. Tubuhnya ringkih, tangannya memegang tongkat bambu, dan matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
Ibu Maryam. Mantan mertua Arumi.
Arumi membeku. Kenangan pahit tentang rumah pengap dan suami yang malas mendadak berputar kembali. Namun, ia juga ingat bahwa Ibu Maryam adalah satu-satunya orang di rumah itu yang dulu diam-diam memberinya nasi tambahan saat Baskara tertidur.
"Arumi... nak..." suara Ibu Maryam parau, hampir hilang ditelan bising kendaraan di luar.
Arumi melangkah mendekat, hatinya berdenyut sakit. "Ibu? Kenapa Ibu ada di sini? Siapa yang mengantar Ibu ke kota?"
Ibu Maryam langsung jatuh bersimpuh di kaki Arumi, tangisnya pecah seketika. "Maafkan Baskara, Rum... Ibu mohon. Dia memang anak bodoh, anak tidak berguna... tapi Ibu tidak kuat melihat dia di penjara. Dia sakit, Rum. Maag-nya kambuh parah, dia muntah darah di sel..."
Adnan mendekat, wajahnya mengeras namun ia tetap diam menghormati privasi Arumi.
"Ibu, bangun... jangan begini," Arumi mencoba mengangkat tubuh mantan mertuanya itu.
"Ibu tidak akan bangun sebelum Arumi mau cabut laporannya! Baskara bilang dia diprovokasi orang kaya jahat... Dia cuma rindu Kinan, Rum! Dia cuma ingin lihat anaknya!" Ibu Maryam meracau, memegang ujung gamis Arumi dengan erat.
Kinan yang sedang berlarian bersama Leo di lantai dua turun karena mendengar suara tangisan. Ia berhenti di tangga, menatap wanita tua itu dengan bingung.
"Eyang?" bisik Kinan. Ia masih ingat sedikit wajah neneknya yang dulu sering memberinya permen diam-diam.
"Kinan! Cucu Eyang!" Ibu Maryam merentangkan tangan yang gemetar.
Dania yang baru datang membawa kopi pesanan Arumi langsung pasang badan. "Heh, Nek! Jangan bawa-bawa anak kecil! Anak Nenek itu penjahat! Dia hampir hancurin bisnis Mbak Arum!"
"Dania, tolong... jangan sekarang," bisik Arumi, matanya mulai berkaca-kaca.
Rendra yang ada di sana menghela napas panjang, merapikan kemeja sutranya. "Aduh... secara narasi, ini namanya emotional blackmail. Arum, jangan luluh. Secara logika, kalau dia bebas, dia bakal jadi parasit lagi buat kamu."
Arumi menatap Ibu Maryam yang terus memohon. "Ibu... Mas Baskara datang ke restoranku bukan untuk rindu Kinan. Dia datang membawa keributan karena dibayar orang. Dia rela menghina aku di depan orang banyak demi uang amplop. Apa Ibu tahu itu?"
Ibu Maryam terdiam, wajahnya pucat. "Dia... dia bilang dia cuma mau pinjam uang..."
"Dia berbohong pada Ibu, seperti dia membohongi aku selama bertahun-tahun," suara Arumi mengeras namun getir. "Ibu orang baik, tapi putra Ibu sudah menghancurkan sisa-sisa rasa hormatku."
"Tapi dia bisa mati di sana, Rum... Siapa yang urus Ibu kalau dia tidak ada? Siapa yang kasih Ibu makan?" tangis Ibu Maryam semakin menjadi.
Adnan melangkah maju, ia merangkul bahu Arumi untuk memberinya kekuatan. "Ibu Maryam, perbuatan putra Ibu sudah masuk ranah pidana pencurian dan pencemaran nama baik. Hukum harus tetap berjalan agar dia belajar bertanggung jawab."
"Tolong... sekali ini saja, Rum..." Ibu
Maryam terus memohon, membuat orang-orang yang lewat di depan ruko mulai berkerumun.
Arumi menatap Kinan yang tampak ketakutan melihat neneknya menangis histeris. Ia menatap Adnan, lalu menatap Dania yang sudah siap memanggil pengawal untuk mengusir wanita tua itu.
"Aku tidak akan mencabut laporanku, Ibu," ucap Arumi tegas, meski air matanya akhirnya jatuh juga. "Tapi... aku akan menanggung biaya pengobatan Mas Baskara di penjara sampai dia sembuh. Dan untuk Ibu... Ibu tidak perlu khawatir soal makan. Aku akan mengirimkan uang bulanan untuk Ibu, tapi Ibu tidak boleh lagi memintaku membebaskan Mas Baskara."
Ibu Maryam tertegun. Ia melihat ketegasan di mata mantan menantunya—ketegasan yang lahir dari luka yang sangat dalam.
"Mbak Arum terlalu baik! Kalau aku jadi Mbak, mending kasih cabe aja itu duit!" gerutu Dania kesal.
Rendra menyikut Dania. "Sstt... ini namanya classy move. Arum tetap jadi malaikat tanpa harus mengorbankan keadilan. Skor moral: 100/100."
Ibu Maryam akhirnya dipandu keluar oleh Maya yang baru sampai. Arumi terduduk lesu di kursi kayu yang belum dicat. Adnan berjongkok di depannya, menggenggam tangannya dengan hangat.
"Kamu melakukan hal yang benar, Arumi. Kamu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi kamu juga tidak membiarkan dirimu diinjak lagi," bisik Adnan.
Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Adnan, merasa sangat lelah. Di balik dinding ruko, Erick yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan, hanya bisa mengepalkan tangan. Ia tahu, kelembutan hati Arumi adalah kekuatannya, tapi juga celah yang bisa dimanfaatkan orang jahat.