NovelToon NovelToon
Sapphire Blood

Sapphire Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romantis / Chicklit
Popularitas:86.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ellen Ashiana D.

[Season 1: The Lady]

Ini adalah kisah hidupku, seorang Assassin dari kelompok penjahat terlegendaris Sapphire Blood yang pandai menyamar dan menyembunyikan identitas kelompok kami. Cita-citaku adalah menjadi pemimpin kelompok terhebat yang tak kenal ampun, tapi siapa sangka aku justru harus mengalami kegagalan saat menyamar menjadi seorang Lady bangsawan yang akan menikah dengan seorang pangeran.

Karena di saat hari kepergianku yang seharusnya berjalan lancar, kekacauan terjadi di istana akibat kemunculan seorang ahli sihir alias Warlock. Tak sampai disitu, salah satu anggota kerajaan melepaskan sihir terlarang di tengah-tengah banyak orang.

Itu adalah hari terburuk bukan hanya bagi diriku, melainkan semua orang di kerajaan. Apa yang terjadi selanjutnya? Apa aku berhasil melarikan diri dari kehidupan istana dan kembali ke kehidupan awal sebagai seorang penjahat, atau malah menyesal?

[Season 2: The Assassin]

Seorang Assassin yang telah mengalami kegagalan pada misinya. Itulah aku. Dibesarkan sejak kecil oleh kakekku alias Sang Lord pemimpin kelompok penjahat terlegendaris, Sapphire Blood. Aku hanyalah seorang perempuan yang berusaha bertahan hidup dengan berbagai cara dan berkelana ke mana saja, disetiap saat harus selalu berhati-hati menjaga rahasia kelompokku.

Dua bulan yang lalu, istana kerajaan yang kelewat besar adalah tempat bagiku untuk menjalankan perintah dari Sang Lord. Sekarang aku telah berhasil keluar dari tempat itu, memenuhi misiku untuk membawa pulang sesuatu yang berharga. Batu pusaka kerajaan Amberstone tentu sudah cukup, pikirku. Batu pembawa keberuntungan karena harganya yang tak main-main. Apalagi saat mendengar bahwa tak ada seorangpun yang pernah berhasil mencurinya selama ratusan tahun.

Lantas kenapa aku merasa gagal? Apakah benar penyebabnya hanya berupa cincin pertunanganku, cincin pengingat segalanya mengenai Sang Pangeran dan kehidupan istananya? Atau karena ini cincin yang telah disihir, dan kini aku terpaksa hidup penuh penyesalan dan keingintahuan yang besar terhadap Warlock dan ilmu sihir yang ternyata bukan hanya kisah belaka rakyat?

ig: ellennn_ws

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellen Ashiana D., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

My True Self

"Apa kau yakin akan melakukan ini?"

Tanpa menoleh ke belakang, aku sudah tahu suara siapa itu. Masih sambil membenarkan sabuk pinggangku, aku mengangguk dan menjawab untuk yang kesekian kalinya. "Aku tak akan berubah pikiran, Gideon."

Pria di belakangku itu mendesah, kemudian berjalan mendekatiku. Ia lalu memberikanku sebuah pedang dengan batu merah di sepanjang gagangnya.

"Evaline." Gideon menyentuh kedua bahuku, memutar badanku secara lembut ke arahnya. Aku bisa langsung melihat raut wajahnya yang penuh kekhawatiran.

"Kalau kau sampai terluka-"

"Itu akan menjadi pengalaman yang sangat berarti."

Aku dan Gideon menoleh secara bersamaan. Dari kejauhan, pangeran James terlihat lebih gagah dibanding biasanya. Rambut pirang keemasannya seolah beterbangan tertiup angin sepoi. Ia mengenakan jubah panjang berwarna hitam yang hampir mengenai lantai, kemudian di tangan kirinya terdapat pedang yang sama persis dengan yang kugunakan sekarang.

Aku tidak tahu pria itu ternyata kidal.

Mata James hanya terpaku pada wajahku. "Kelihatannya kau akan bergabung dengan kami, Evaline?"

Aku tersenyum dan mengangguk. Matanya kemudian menelaah penampilanku, dari atas rambut sampai ujung kaki. Wajar ia sedikit terkejut melihat penampilan baruku. Kali ini rambut panjangku dikuncir ekor kuda ke atas, dan aku memakai baju ketat berwarna perak yang memperlihatkan lekukan tubuhku.

"Kalau begitu, kita mulai saja sekarang." James mengisyaratkan Lord Matthew yang sedari tadi berdiri menunggu kami di luar arena untuk memasuki ring.

"Babak pertama adalah perlawanan antara Yang Mulia Prince James dan Prince Gideon." Matthew lalu melirik sebentar ke arahku. "Untuk sementara Anda bisa menunggu di luar ring, My Lady."

Aku mendengus tak percaya. Padahal sejak pagi tadi aku sudah sangat bersemangat untuk melakukan ini. Tentu saja. Sudah lama tanganku tidak memegang senjata. Sudah lama juga aku tidak berlatih dan meregangkan otot tubuhku.

Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

"Evaline." James memberikanku tatapan peringatan. Sepertinya pria itu dapat membaca ekspresi wajahku. Pada akhirnya aku memutar bola mata dan berjalan keluar dari ring arena sambil menghentakkan kaki.

Setelah duduk di atas rerumputan hijau yang menggelitik dan meluruskan kaki, aku mulai menonton pergerakan dua pangeran itu. Setelah Matthew memberi aba-aba, kedua pria itu sudah saling berhadapan. Dan setelah bunyi siulan, mereka mulai bergerak.

Aku tahu segala macam ilmu bela diri yang telah diajarkan oleh Sang Lord. Aku juga tahu tipe-tipe serangan, tangkisan, dan perlindungan yang harus dilakukan.

"Tidak boleh hanya mengandalkan pedangmu."

Itu adalah salah satu pesan Sang Lord yang masih kuingat.

"Manfaatkan anggota tubuhmu. Lengan, kaki, kepala. Bahkan lutut. Karena senjata yang sesungguhnya terletak dalam dirimu. Pedang hanyalah alat tambahan untuk mengalihkan perhatian lawan."

Bunyi keras pedang yang saling bersentuhan membawaku kembali ke masa kini. Aku lalu memperhatikan gerakan James. Pria itu sepertinya mengerti betul trik bela diri. Sama halnya dengan Gideon.

Bruukk!! Tiba-tiba tubuh Gideon terhempas ke tanah. James langsung menggunakan kesempatan itu untuk menghunuskan pedangnya. Tapi Gideon tak menyerah. Pria itu secepat kilat mengangkat pedangnya secara horizontal di atas kepalanya.

Sriingg!! Akibatnya, pedangnya terbelah dua karena hunusan pedang James. Gideon sempat terbelalak, tapi tak lama ia tertawa terbahak-bahak.

Saat kupikir latihan telah selesai, ternyata aku salah. Aku bahkan tak sempat berkedip saat Gideon bangkit dari tanah dan mulai meninju perut James.

James yang masih memegang pedang pada tangan kirinya hanya mengangkat alis untuk sebentar, setelah itu ia membuang pedangnya ke tanah.

Apa ia sengaja melakukan itu agar terkesan adil karena telah mematahkan pedangnya? Aku kurang yakin. Kalau aku berada di posisinya, aku akan langsung memanfaatkan pedang untuk membunuh lawan. Tapi tentu saja James tak akan melakukan itu, karena itu hanya latihan.

"Tiga puluh detik lagi!" Teriak Matthew dari luar ring. Tapi sepertinya kedua pangeran itu tidak mendengarkannya. Mereka malah asyik saling memukul, mendorong, dan menendang menggunakan sisa kekuatan mereka.

Saat Gideon hendak meninju kakaknya lagi, James langsung menahan pergelangan tangannya dan memutar badan. Kemudian, tubuh Gideon melayang dan akhirnya ia kembali terhempas ke tanah.

"Lagi?" Kata Gideon di sela-sela pernapasannya. Meskipun mulai terdapat luka lebam pada wajahnya, ia hanya memejamkan mata dan terus berbaring di atas tanah.

James tertawa kecil dan membantu adiknya untuk berdiri. Matanya tiba-tiba menoleh ke arahku, membuat jantungku hampir terlepas dari tempatnya. Bagaimana tidak? Aku terkejut karena rupanya pria itu masih tak melupakan kehadiranku.

"Kurasa tidak," balas James sambil menyeringai ke arahku.

Itu membuat Gideon menoleh juga ke arahku. Dan seolah-olah baru pertama melihatku, ia terbelalak. "Evaline?"

"Ya." Aku bangkit dari tanah dan meraih pedangku. Setelah itu aku menghampiri mereka. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat keringat yang telah membasahi wajah mereka.

Tapi yang membuatku tak bisa berkedip adalah James. Pria itu masih mengunci pandangannya denganku. Rambut pirangnya berantakan dan beberapa helaian poninya menusuk matanya, tapi itu tetap tak mengurangi ketampanannya sedikitpun.

Aku bahkan tak menyadari Gideon yang sudah berjalan keluar dari area latihan, memberi kami ruang yang cukup untuk berlatih.

"Matthew, apakah kita bisa mulai?" Tanya James, masih menatapku dengan ekspresinya yang tak terbaca.

Aku tidak tahu kenapa susah sekali untuk menelan ludah. Jantungku berdetak cepat, mungkin karena akhirnya aku bisa berlatih menggunakan pedang.

Aku menggenggam erat pedangku, dan mulai meregangkan otot leherku serta lenganku tanpa memperdulikan tatapan tajam James. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Mungkin saja ia sudah merendahkan kemampuanku. Lagipula, apa yang bisa dilakukan oleh seorang Lady bangsawan sepertiku?

Lihat saja nanti, James, batinku. Aku akan menumbangkanmu.

"Ya," jawab Matthew dari luar arena. "Babak kedua. Yang Mulia Prince James dan Lady Evaline. Dimulai sekarang."

1
Yohana Paulina
ya ampun....kok lama banget y up x
Silvi viranda
kyknya novel ini gk d lanjutin lg sama authornya. sudah brbulan2 menunggu tak kunjung up
Kurniah Santoso
semangat 💪
Kurniah Santoso
lanjut
Mitha
udah kepo nih, sma kelanjutannya
Mitha
Kpn di lanjutin kak?
mrs. J~
lanjut lg dong kak
Silvi viranda
kaaaaaak aq terbayang lanjutannya
Silvi viranda
aku sangat suka ceritamu Ellen....
ku tunggu sampai pangeran James bertemu liana
Silvi viranda
kapan mereka ktemu
Silvi viranda
aku sedih bangetttt
Silvi viranda
James jahatttt
Silvi viranda
sukaaaaa
Silvi viranda
penasarannnn
Darah Biru (Bangsawan)
mantap ❤️
Darah Biru (Bangsawan)
Jejak diriku hadir lagi ya say❤️
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
10 like sudah mendarat, semangat terus ya kak.


salam hangat juga dari "Aster Veren". 😊
₦⑂. Ⓙυ☂€✘
Ok,,
tetap semangat ya thor
Flora
semangat untuk ujuiannya Ellen 👍
LINA
tetap semangat Ellen 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!