NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Sore itu, suasana di rumah keluarga Wira terasa sedikit lebih hangat. Setelah berbincang panjang dengan Mala, Kayla akhirnya bersiap untuk pulang. Ia merapikan tas, sementara bodyguard berjaga di setiap sisi rumah, waspada terhadap segala kemungkinan.

“Mal, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat.”

Mala mengangguk sambil memegang tangan sahabatnya. “Hati-hati, Kay.”

Saat Kayla melangkah menuju pintu, ia bertemu Aurelia yang baru saja turun dari lantai dua. Rambut panjang Aurelia terurai, wajahnya masih menyimpan ketegangan dari tekanan beberapa hari terakhir.

Kayla langsung memeluknya erat.

Suara Kayla bergetar lirih, “Yang sabar ya, Lia… Ibu kamu lagi khilaf.”

Aurelia mengangguk pelan, tapi air matanya menggenang. “Aku cuma… takut, Kay. Dia udah nggak seperti ibu yang dulu.”

“Tenang. Kamu punya kami,” jawab Kayla sambil mengusap punggungnya.

Setelah berpamitan pada semua orang, Kayla keluar rumah. Namun ada satu hal yang membuat semuanya menjadi lebih rumit—dirinya mengenakan baju milik Mala. Hal itu bukan kebetulan. Dalam diskusi singkat sebelumnya, Tuan Armand sengaja merencanakan skenario ini.

Perawakan Kayla mirip dengan Mala: tinggi hampir sama, rambut sepinggang, dan bentuk tubuh yang tidak jauh berbeda. Dari kejauhan, siapa pun bisa salah lihat.

Langkah Kayla terasa berat ketika ia menuju mobil. Dimas—bodyguard sekaligus sopir Mala—sudah menunggu di depan mobil hitam itu.

“Sudah siap, Nona Kayla?”

Suara Dimas tenang, tetapi matanya awas terus memindai lingkungan sekitar.

Kayla menarik napas. “Y-ya… mari.”

Mobil itu bergerak meninggalkan halaman rumah, diikuti dua mobil bayangan yang sama sekali Kayla tak sadari keberadaannya. Itulah tim “pasukan bayangan” yang disiapkan khusus oleh Tuan Armand—unit elit yang bahkan Daren jarang bertemu langsung dengan anggota-orangnya.

Kayla memperhatikan dari balik jendela. Desa mulai tertinggal jauh. Ia tidak tahu bahwa beberapa mata sedang mengikuti mobilnya dari awal ia keluar pagar.

Di ujung jalan desa, sebuah mobil hitam lain melaju pelan, kemudian seakan-akan kecepatan mereka disesuaikan.

Kayla menelan ludah. Ia merasa diawasi.

“Mas Dimas… kayaknya ada mobil yang ngikutin,” katanya lirih.

“Abaikan. Fokus saja ke depan,” jawab Dimas tanpa menoleh.

“Mas… beneran aman kan?”

Kayla memegang dadanya, deg-degan bukan main.

Dimas tersenyum tipis. “Tuan Armand bukan tipe orang yang menaruh Anda di mobil tanpa perhitungan.”

Jawaban itu sedikit menenangkan, tapi tetap membuat Kayla gelisah.

---

Di Perbatasan Kota

Setelah beberapa menit, mereka sampai di jalan besar yang menuju ke perbatasan kota. Tidak ada rumah di sekitar, hanya pohon, kebun, dan jalan memanjang.

Tiba-tiba—

DOR!

Suara tembakan menghantam body mobil Kayla dari belakang.

Kayla langsung menjerit. “YA ALLAH!!”

DOR! DOR!

Dua tembakan lagi, lebih keras dari sebelumnya. Mobil berguncang.

Kayla menutupi kepalanya. “MAS DIMAS!! APA ITU?!!”

“Pegangan!” seru Dimas.

Ia menginjak pedal gas kuat-kuat, memacu mobil ke depan.

Tapi mobil penyerang melaju lebih cepat.

Namun di detik berikutnya…

Tiga mobil gelap tanpa plat nomor tiba-tiba keluar dari kiri jalan, seperti muncul dari semak-semak.

Kayla terpana. “Itu… mobil siapa?!”

“Pasukan bayangan,” jawab Dimas singkat.

Mobil-mobil itu memotong laju mobil penyerang, memaksa mereka berhenti. Jeritan dan sumpah serapah terdengar dari para pelaku.

Tapi pasukan bayangan tak memberi waktu sedikit pun.

BRAAKK!!!..

Suara senjata otomatis mengisi udara. Beberapa tembakan presisi menghantam mobil penyerang.

Kemudian—

BOOM!!

Mobil para penyerang meledak, api membumbung tinggi di langit sore.

Kayla langsung menutup wajah, tubuhnya gemetar hebat. “A-apa mereka… mati?”

Dimas menjawab datar, tanpa nada emosional, “Kalau mereka tidak mati karena tembakan, pasti mati karena ledakan.”

Kayla memandang lelaki itu dengan mata membelalak.

“Kamu ngomongnya tenang banget, Mas… Aku hampir kena serangan jantung!”

Dimas hanya tersenyum tipis, seperti menikmati reaksi panik itu.

“Ini masih ringan, Nona Kayla.”

“WHAT—??!!”

Kayla hampir berteriak.

Dimas bahkan menambahkan, “Biasanya kalau Tuan Armand sudah bertindak, korban bisa jauh lebih… tragis.”

“Mas… MAS… aku cuma asisten keuangan, bukan anggota film action!”

“Makanya tenang saja. Kalau Tuan Armand bilang Anda aman, berarti Anda aman.”

Kayla menatapnya dengan wajah setengah mati, setengah mau pingsan.

---

Kembali ke Rumah

Setelah memastikan situasi bersih, mobil Kayla kembali diarahkan ke desa. Sesampainya di rumah, Mala, Daren, Aurelia, Tuan Armand, dan Pak Wira sudah menunggu dengan tegang.

Begitu pintu mobil terbuka—

Kayla langsung turun dengan wajah pucat seperti kapur.

“Mal… aku… aku hampir mati…” suaranya bergetar.

Mala langsung memeluknya erat. “Astaga Kay! Kamu nggak apa-apa?!”

Kayla menggeleng cepat. “Tidak apa-apa sih… cuma traumanya besar banget.”

Daren menghampiri Dimas. “Detail.”

Dimas menjelaskan singkat, dan Daren mengangguk gelap. Wajahnya seperti siap membunuh siapa pun yang mengancam keluarganya.

Tuan Armand berdiri dengan tangan terlipat.

“Aku sudah menduga,” katanya tenang. “Itu sebabnya aku tempatkan pasukan bayangan dua kilometer dari gerbang desa.”

Kayla menatap pria itu seperti melihat makhluk ajaib.

“Tuan Armand… bapak kok bisa setenang ini? Mobilnya meledak lho. ME-LE-DAK.”

Tuan Armand meliriknya sambil tertawa kecil.

“Nona Kayla… itu belum seberapa.”

“APA LAGI YANG BISA LEBIH PARAH DARI MOBIL MELEDAK?!”

Kayla memekik panik.

Dimas menyahut dari samping, wajahnya serius namun matanya berbinar puas,

“Kami belum keluarkan setengah kemampuan, Nona.”

Kayla membeku.

“Mas… jangan gitu ngomongnya… Aku mau hidup lebih lama…”

Aurelia sampai menutup mulut menahan tawa.

Mala mengusap punggung Kayla.

“Tenang, Kay. Kamu aman di sini.”

Kayla menghela napas panjang.

“Tolong jangan suruh aku pakai baju kamu lagi, Mal. Itu hampir jadi kamuflase terakhir dalam hidupku.”

Semua tertawa kecil.

Kecuali Daren—yang kini wajahnya gelap penuh amarah.

Dan jauh di sudut ruangan, Tuan Armand berkata dingin:

“Kalau Melisa ingin perang… dia akan mendapatkannya.”

Assalamualaikum selamat siang

Selamat membaca....

jangan lupa like dan komen nya ya....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!