Natasha Bleecker berusia 30 tahun seorang sekretaris CEO tampan bernama Dimas dijodohkan dengan Reza Permadi berusia 26 tahun. Natasha adalah cinta pertama Reza sewaktu kecil dulu. Sedangkan Dimas sangat terobsesi memiliki Natasha membuat jalan perjodohan mereka sedikit rumit. Kerikil kerikil tajam selalu datang dalam hubungan Natasha dan Reza.
Apakah mereka dapat berakhir bahagia seperti cerita pada novel novel romansa lainnya?
Dukung terus Author dengan Like, coment, fav & share. Dengan begitu memberi semangat Author untuk cepat menyelesaikan kisah Natasha dan Reza.
Terimakasih untuk teman teman penyuka noveltoon 🙏😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggraini Gita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Accident
Bandara Soeta
Natasha dan Reza sudah berada di bandara, mengantarkan papa dan mama. Natasha yang sedaritadi hanya menangis, begitu berat melepaskan kepergian kedua orang tuanya. Reza terus memeluk dan mengusap punggung istrinya itu.
"Mama Papa baik baik disana ya? sering sering telfon Natasha. Nat pasti kangen banget. hiks hiks" Natasha berkata sambil menangis.
"iya sayang..kamu juga baik baik ya sama Reza" papa memeluk anak semata wayangnya, matanya berkaca kaca.
"Semoga segera dapat momongan. Cup" Mama mengecup pipi Natasha dan mengusap lembut perut Natasha yang masih rata.
"Amin"
Mama mendorong kursi roda Papa melambaikan tangan, masuk ke dalam pesawat, karna akan segera take off.
Natasha dan Reza melihat dari jendela kaca besar yang berada tepat didepan pesawat yang mama papa naiki. Bani dan Raya menunggu tak jauh dari tuan dan nona mudanya berdiri. Pesawat itu sudah mulai bergerak terus naik ke langit dan beberapa saat terlihat kepulan asap yang muncul di sayap kanan.
Duarrr...pesawat meledak diudara.
Semua orang yang masih berada di bandara melihat jelas peristiwa itu termasuk Natasha dan Reza. Natasha berteriak kencang, menangis lalu lemas dan tak sadarkan diri. Reza menangkap tubuh Natasha, digendongnya berjalan cepat sambil berteriak meminta pertolongan pada tim medis bandara. Tim medis segera mendekat, membaringkan Natasha pada brankar lalu mendorongnya membawa Natasha masuk ke dalam ruang perawatan. Bani dan Raya berjaga didepan ruangan.
Di semua laman berita baik media online maupun televisi menayangkan detik detik pesawat itu meledak. Video itu didapat dari salah satu pengantar yang sedang merekam tanpa dia tahu bahwa pesawat itu akan meledak di udara. Banyak spekulasi yang beredar. Dari adanya *******, konspirasi, human error dan pembajakan. Semua bergerak cepat, mengumpulkan puing puing yang tersisa yang terjatuh ke tanah dan menyelidikinya dengan teliti.
Bandara saat ini ramai akan wartawan yang siap meliput kondisi terkini. Tak berapa lama mereka mendapatkan daftar nama awak kabin dan penumpang pada pesawat tujuan jakarta singapore. Ditampilkannya semua daftar nama pada layar televisi. Terdapat nama Papa Doni (dr. Doni John Bleecker, Sp.S 60) dan Mama Dira (Dira Rianti Bleecker 55).
Gawai Reza terus saja berbunyi disaku celananya, namun dihiraukannya. Tangannya masih memegang tangan Natasha yang belum siuman.
'Bagaimana nanti saat Natasha bangun? dia pasti akan kembali terguncang' batin Reza. Reza menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi istrinya. Dipandanginya wajah pucat itu.
"Kenapa kau sangat lemah sayang? sudah berapa kali kau terus saja terbaring seperti ini. Aku sangat khawatir" gumam Reza.
Gawai Reza kembali berdering, ia memutuskan untuk melihatnya. Muncul nama Daddy di layar.
"Halo Assalammualaikum dad" sapa Reza.
"Walaikumsalam..Daddy dapat kabar dari Mommy tentang berita pagi ini. Apa itu benar?" suara daddy terdengar bergetar.
"iya dad, aku dan Natasha masih dibandara. Natasha sekarang belum juga sadar dad" Reza mengusap wajahnya kasar.
"Daddy dan Mommy akan segera kesana" Daddy langsung mematikan telefon.
******
tok tok tok
suara ketukan pintu terdengar.
krek
Reza bangkit berjalan lalu menggeser pintu itu.
"Tuan" Bani membungkukan badannya.
"Ada apa Bani?" tanya Reza dengan penampilan kusutnya.
"Kai sudah datang" Bani berkata lirih.
"Oke..Raya temani istriku. Kalau dia sudah sadar segera hubungi" titah Reza lalu pergi diikuti Bani.
******
Reza menghampiri laki laki tampan berusia matang 35 tahun, Kai seorang detektif handal. Memang semua kejadian sudah diatur oleh Allah tapi Reza ingin memastikan sebab pesawat itu bisa meledak, bahkan baru saja take off. Kai sedang duduk dikursi pojok coffee shop StarB***.
"Kai.." sapa Reza lalu duduk berhadapan. Bani berdiri disamping Reza.
"Bani, duduklah!" titah Reza. Bani langsung duduk disebelah tuannya.
"Kai, kau sudah tau maksudku menghubungimu bukan? Bani pasti sudah menjelaskan"
"Iya Tuan, saya akan selidiki semua. Anda jangan khawatir"
"Bagus, aku ingin secepatnya kau melaporkan semua. Jangan mengulur waktu!" perintah Reza tegas.
"Baik Tuan" jawab Kai.
Mereka bertiga menikmati kopi yang sudah dipesan. Reza merilekskan pikirannya. Dia tidak ingin menampakan kesedihan dihadapan istrinya. Ia harus dapat menguatkan Natasha.
Sedangkan diruang rawat bandara, Natasha sudah sadar. Raya menghampiri.
"Nona Nata sudah sadar? sebentar nona, saya beritahu tuan muda" belum sempat Raya memencet gawainya, Natasha menarik selang infus yang terpasang hingga darah segar tak disadarinya terus menetes. Berteriak histeris ingin keluar mencari papa mamanya. Jelas jelas dia tahu pesawat itu meledak diudara. Menangis meraung raung, sesenggukan terduduk dilantai depan ruangan perawatan. Raya terus memeluknya menenangkannya.
"Halo Tuan..Tuan. Nona Natasha terus saja menangis" Raya menghubungi Reza. Reza mendengar tangisan Natasha yang kencang, lalu berlari menghampiri istrinya.
"Dokter dokter, suster...tolong" Raya berteriak meminta pertolongan. Tangisan Natasha mulai melemah. Raya terus menekan pergelangan tangan nona mudanya yang terus mengeluarkan darah.
Tepat saat dokter dan suster datang, Reza juga telah sampai. Melihat kondisi istrinya yang terbaring lemah dipelukan Raya. Reza segera membopong Natasha masuk kembali, meletakkannya ke ranjang. Dokter menyuntikkan obat penenang dan suster kembali memasang selang infus ditangan yang berbeda.
"Sayang..hiks hiks" suara lemah Natasha dan kembali menangis menatap wajah Reza dengan mata penuh kesedihan.
"Tenang sayang, ada aku disini yang menjagamu. Istirahatlah dulu. Hemm?" Reza mengusap air mata yang kembali menetes. Wajah cantik istrinya kini sembab, mata bengkak terlalu banyak menangis. Dikecupnya kening istrinya lama. Kesadaran Natasha mulai berkurang, efek dari obat penenang itu dan sekarang sudah tertidur pulas.
Bagi Reza dan Natasha, hari ini adalah hari yang sangat berat. Ditinggalkan oleh kedua orangtua yang sangat dicintainya. Natasha benar benar terpukul. Dalam lelapnyapun air mata itu menetes disudut matanya, Reza melihat itu langsung mengusap dan mencium punggung tangan Natasha. Hatinya bergetar melihat kesedihan yang teramat dalam pada istrinya.
"Natasha" suara papa dan mama terdengar ditelinganya. Mencari cari dimana sosok kedua orangtuanya. Semua serba putih.
"Papa mama" Natasha terus memanggil, namun tetap tidak melihat keberadaan mama papa.
"Kami disini sayang" seketika bayangan mama papa muncul dihadapannya dengan pakaian serba putih. Natasha berlari menghampiri keduanya dan langsung memeluk.
"Mama Papa, Natasha sayang kalian. Jangan pergi, jangan tinggalin Nat!" menangis tersedu.
"Mama Papa harus pergi selamanya. Jagalah baik pernikahanmu dengan Reza. Bahagialah. Mama Papa sayang Natasha" Lalu bayangan itu menghilang. Natasha kini hanya mendekap udara, kosong. Ia kembali menangis.
Mimpi singkat itu sangat berarti bagi Natasha. Setidaknya ada sedikit kelegaan dihatinya.
Reza masih menjaga istrinya yang masih terlelap. Penampilan yang terbiasa rapih, bersih dan maskulin, berubah memprihatinkan.
Krek
pintu ruangan tiba tiba bergeser. Mommy Daddy masuk, memeluk putranya yang terlihat kacau. Mommypun menangis melihat Natasha yang jauh lebih menyayat hati memandangnya terkulai lemah tak berdaya.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Mommy bertanya lirih pada Reza, duduk di sofa bersebelahan.
"Kami juga tidak tau mom, tiba tiba saja pesawat itu mengeluarkan asap lalu meledak diudara" Reza menduduk menceritakan kejadian tadi.
"Apa kau sudah menyelidikinya?" kini daddy yang bertanya.
"Sudah dad, aku menyuruh Kai menyelidiki semua. Semoga ada titik terang kenapa pesawat itu bisa meledak" jelas Reza pada daddynya.
"Amin..Semoga semua cepat terungkap. Untuk saat ini kita tidak bisa berspekulasi sendiri. Ini juga demi kebaikan Natasha. Dia harus kuat menerima kenyataan" ujar Daddy menepuk bahu putranya.
"iya dad" Reza mengangguk dan kembali menatap wajah Natasha.
*******
Author : Apakah ada sesuatu dibalik kejadian pesawat itu meledak? ataukah hanya human error? Tunggu next episodenya yang lebih seru ya guys.
Terus dukung Author dengan vote, like, komen, favorit dan share.
Dan judul ini ikutan contest juga. Dukung ya teman teman Noveltooners 😊
Gomawo 🙏