BIANCA DEALOVA, gadis tengil yang suka sekali dengan tantangan,ia menjadi pusat perhatian di SMA Karya Bakti semua murid cowok pasti mengenalinya.Hingga pada akhirnya, dia ditantang oleh teman-temannya untuk menaklukkan hati seorang siswa baru, EDGAR GRISSHAM pemuda berwajah dingin dan misterius.
"apakah Allexa berhasil menaklukkan hati seorang pemuda dingin itu atau tidak.yuk, Kepoin kisah mereka selanjutnya!!"👋🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Days Of Chasing Love
Bianca gadis itu kini sedang berjalan mengelilingi apartemen, dari dapur, ruang tengah, dan terakhir kamar. Ia melangkahkan kakinya membuka lemari-lemari yang terisi penuh dengan pakaian wanita. Kamar itu tampak rapi. Di atas nakas ada beberapa buket mawar putih yang tampak terlihat kering, ada kartu ucapan juga dengan kata-kata yang terlihat manis.
Note 💐:Hay sayang kesayangan nya Edgar, selamat pagi, jangan lupa senyum untuk hari ini karena senyuman kamu mampu buat aku bahagia tiap harinya.
Note 💐: malam kesayangan nya Edgar, cewek manis calon istri dan calon ibu dari anak-anakku nanti, jangan lupa senyum ♡‿♡
Note 💐: Hay sayang, manis nya aku,aku cuman mau Bilang,aku beruntung banget bisa memiliki kamu aku ngak bisa banyangin kalo hidup tanpa kamu di masa depan, tetap jadi kesayangan Edgar yah
Note 💐: untuk nona Ailiy Atmaja kesayangan nya Edgar kamu adalah bagian hidupku yang paling berharga.
Bianca mengerutkan keningnya. Ini apartemen Edgar atau siapa? Kenapa ada nama Edgar di sini? Tidak masuk akal jika Edgar menulisnya untuk dirinya sendiri.
"Ini beneran apartemen Edgar kan?" gumamnya sambil melihat sekeliling.
Akhirnya, mata gadis itu tertuju pada laci meja. Ia membuka laci itu dan terdapat satu foto yang membuat hatinya benar-benar sakit sekarang. Terlihat Edgar tersenyum manis menunjukkan cincin tunangannya bersama satu wanita yang tak lain adalah Ailiy. Gadis itu juga tampak tersenyum lebar, dengan mata yang berbinar.
"beruntung banget jadi Ailiy di cintai secara ugal-ugalan sama Edgar kaya di kejar tapi bukan mengejar"senyum kecut Bianca menatap note dan foto itu
"ini mungkin apartemen Edgar hanya, Ailiy sempat menginap, Oke ca pikir positif aja kan sebelum Lo, Ailiy lebih dulu lagi pula mereka sudah tunangan"ujar Bianca mencoba berpikir positif
"Oke, gue harus cari kerja, pokoknya nggak gue nggak akan pake sepeserpun uang dari orang tua itu," ujar Bianca penuh tekad.
Mengambil ponselnya, untungnya ia mempunyai ponsel lebih dari satu, dan semua ponsel ada nomor teman-temannya, termasuk nomor Edgar.
"Vic, kemarin Lo bilang cafe Lo butuh karyawan kan?" tanya Bianca saat panggilan tersambung.
"Yes, seng. Kenapa Lo udah dapat orangnya?" jawab Victoria dengan nada penasaran.
"Gue, gue mau kerja di cafe Lo, boleh nggak?" tanya Bianca dengan nada antusias.
"Ada angin apa ini? Tumben seorang anak tunggal kaya raya cari kerjaan? Biasanya pangku kaki tinggal perintah,"
"Gue mau mandiri," jawab Bianca dengan nada tegas.
"Lo nggak ada masalah kan sama bokap nyokap Lo?" t
"Gue ada masalah besar sama mereka, jadi gue harus cari kerja dan mandiri," jawab Bianca dengan nada serius.
Victoria terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Oke, kalau begitu. Gue akan tunggu Lo di cafe. Jam berapa Lo bisa datang?"
"Sekarang, sekarang bisa kan gue mulai kerjanya?" tanya Bianca dengan nada antusias.
"Bisa, kebetulan gue ada di cafe,"
"Udah, makasih banyak, gue otw," ujar Bianca dengan nada gembira.
Bianca tersenyum menatap layar ponselnya, bersiap untuk pergi ke cafe milik Victoria yang baru saja dibuka beberapa minggu yang lalu. Dia mengambil tasnya dan bergegas keluar dari rumah.
Saat berjalan ke cafe, Bianca merasa sedikit gugup tapi juga bersemangat. Dia tidak sabar untuk memulai pekerjaan barunya dan membuktikan dirinya bisa tanpa uang dari orang tuanya
Ketika Bianca tiba di cafe, dia melihat Victoria sedang sibuk menyiapkan tempat. "ca!!," panggil Victoria dengan senyum.
"Sekarang, sekarang bisa kan gue mulai kerjanya?" tanya Bianca dengan nada antusias.
Victoria tertawa kecil, "Sebentar, sebentar. Gue harus ajarin Lo dulu cara kerja di cafe. Nggak bisa asal masuk aja."
Bianca mengangguk, "Oke, gue siap belajar."
Vic tersenyum, "Baiklah, mari kita mulai. Gue nunjukin Lo cara buat kopi, mengoperasikan mesin, dan lain-lain."
Bianca mengikuti Victoria ke belakang cafe, dan mulai belajar cara kerja di cafe. Meskipun awalnya sedikit bingung, Bianca cepat memahami dan mulai menikmati pekerjaannya.
Setelah beberapa jam, Bianca sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Victoria memuji Bianca, "lo hebat ca,ngak sia sia gue ajarin Lo"Victoria memeluk Bianca erat-erat
"Bianca gitu loh"ujar Bianca sombong tersenyum tengil
...----------------...
"gue mohon,Lo bisa bunuh gue jangan Edgar"ujar Ailiy bersimpuh di kaki seorang gadis
"CK,Lo nolak Gue sebelum Lo mati di tangan kita gue nikmati dulu tubuh Lo yang aduhai ini"suara seseorang lelaki yang tampak tak asing di telinga Edgar
"dan siapa pun nanti bakalan kayak Lo,jika berani rebut Edgar lagi"
"jangan gue mohon!!"Ailiy memberontak mendang lelaki itu tapi gadis yang bersama lelaki itu menahan tangannya
"tolong jangan lakuin ini, gue mohon"pinta Ailiy
"CK, kakak Lo tau kan dari kecil gue Uda dekat banget sama Edgar, sampai pada akhirnya Lo masuk dalam kehidupan Edgar dan Lo tunangan sama dia"teriak gadis itu sambil terus mengikat tangan Ailiy
"Edgar tolong toooo....."
80****: kalo lo ngak mau mati jauh jauh dari Edgar
pesan itu tertulis jelas di layar ponsel Bianca gadis yang tak tau apa apa
Video itu tak lagi berlanjut karena Edgar tak kuasa melihat sampai akhir video, gadis yang paling ia cintai meninggal dalam keadaan di lecehkan orang
"SIALAN ARKK, BODOH KENAPA GUE TERLAMBAT WAKTU ITU!!" teriak Edgar menggema, suara kesedihan dan penyesalan memenuhi ruangan.
"Bukan salah Lo, Ed. Ini juga salah gue nggak bisa jaga sepupu gue buat Lo," ujar Samudra memeluk Edgar untuk menenangkan pemuda itu.
"Tenangin Edgar dulu, gue ambil minum," ujar Vellix berlari mengambil air mineral.
"Gue takut ini terjadi pada Bianca, kalo Varsya tahu hubungan gue sama dia bisa hancur!!" ujar Kelvin dengan nada khawatir.
"Lo tenang, ini nggak bakalan terjadi kedua kalinya," ujar Vellix mencoba menenangkan Kelvin.
"Kita jangan bocorin ini ke siapa-siapa dulu," lanjut Vellix setelah memberikan air kepada Edgar.
"Suara cewek tadi nggak asing, kaya pernah gue denger, tapi di mana?" ujar Samudra sambil mengingat-ingat, menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.
"Bukan hanya cewek, tapi cowoknya juga," ujar Vellix, menatap Samudra dengan mata yang sedikit terpejam, seolah-olah sedang mencoba mengingat sesuatu.
"Benar, kan? Suara familier kaya pernah gue denger," ujar Kelvin, mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin.
Tiba-tiba, Edgar berbicara dengan nada yang sedikit terkejut, "Wilona dan Aksara." Ketiga temannya menatap Edgar dengan mata yang lebar, penuh dengan pertanyaan.
"Iya, Wilona suaranya persis banget," ujar Kelvin mengiyakan, sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke udara.
Samudra dan Vellix saling menatap, "Apa maksudnya, Ed?" tanya Samudra, dengan nada yang sedikit penasaran.
Edgar tidak menjawab, ia hanya terdiam, pikirannya kembali ke masa lalu, ke Wilona dan Aksara.
"Lo ingat kan, ketua geng yang kita cari selama ini namanya Arkana Aksara Bumintara?" ujar Edgar, dengan mata yang tajam menatap Samudra.
Samudra mengangguk pelan, "Iya, gue ingat. Tapi apa hubungannya dengan video tadi?" tanya Samudra, dengan alis yang terangkat.
"Dan Lo ingat nggak, Ailiy juga pernah bilang bahwa dia nembak Ailiy?" ujar Edgar, menatap wajah Samudra dengan intensitas yang meningkat.
Samudra terkejut, "iya iya gue ingat " kata Samudra, dengan suara yang sedikit meninggi.
"Dan Wilona, sebelum Ailiy pulang dari Jerman, Lo berdua sempat dekat kan?" tanya Samudra, dengan nada yang sedikit penasaran.
"hmmm"jawab Edgar
"jadi bisa kita simpulkan dalang dari ini semua adalah Aksara dan Wilona"ujar Kelvin dengan yakin
"terus Bianca dia di mana sekarang?"tanya Samudra membuat Edgar ingat bahwa Bianca sendirian di apartemen
"Gue harus ke apartemen, Bianca dia sendirian di apartemen," panik Edgar memakai jaketnya dan berlari meninggalkan teman-temannya.