Kirana Larasati, menghadapi problema hidup yang sangat berat ketika usianya beranjak 23 tahun. Dia harus menerima kenyataan ketika kekasihnya Darren menikah dengan Tiara kakaknya sendiri, dan di saat yang hampir bersamaan dia juga harus mengetahui bahwa ibu yang sangat dia sayangi ternyata bukanlah ibu kandungnya.
Dengan duka Lara yang datang bertubi-tubi, dia harus mampu melanjutkan hidupnya. Hingga pada akhirnya dia bisa menemukan cinta seorang Joshua, yang ternyata justru lebih menghancurkannya karena kesalahpahaman yang terjadi.
Mampukah Lara menghadapi kisah hidupnya yang seperti roller coaster? Bagaimana akhir kisah cintanya dengan Joshua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku harus bagaimana?
Lara melangkah ringan menuju cafe yang terletak di ujung jalan, siang ini dia ada janji dengan Joshua untuk makan siang bersama di cafe yang memang sengaja dipilih karena letaknya yang tak jauh dari kantor Lara. Dengan berjalan kaki saja Lara bisa menghemat waktu istirahatnya, karena memang sangat dekat jaraknya. Awalnya Joshua akan menjemputnya di kantor, tapi karena Lara tidak ingin jadi bahan pembicaraan orang-orang kantornya yang memang hobi bergosip, akhirnya mereka sepakat untuk bertemu saja di cafe itu.
Setibanya di cafe itu Lara melihat Joshua yang sudah menunggunya di sudut cafe, dia melambaikan tangan pada Lara, memberitahukan keberadaannya. Dengan senyum manisnya, Lara segera menghampiri Joshua. Dia langsung duduk di samping Joshua dengan santainya, Joshua mengecup pipinya sekilas, membuat pipi Lara yang mulus itu bersemu merah. Dia menyadari keadaan cafe yang sedang ramai pengunjung, ada juga beberapa rekan sekantornya sedang menikmati makan siang di sana. Pasti ramai lagi nih di group whatsapp, pikir Lara.
"Kok melamun sih, Ki?" tanya Joshua sambil menyelipkan anak rambut Lara yang jatuh ke wajahnya. "Mau makan apa, sayang?" ujarnya lagi dengan lembut.
"Aku mau salad sajalah, lagi program diet nih," jawab Lara manja.
"Takut gemuk ya? Padahal sekalipun kamu gemuk, aku tetap cinta," gombal Joshua membuat Lara terkekeh.
Sambil menunggu pesanan makanan tiba, mereka mengobrol ringan. Sesekali terlihat tawa mereka yang tanpa beban sedikitpun. Lara sudah mulai bisa mengalihkan pikirannya dari Darren dengan memberi kesempatan pada Joshua untuk mengisi hari-harinya, sedikit banyak Lara mulai bergantung pada Joshua. Ada rasa rindu sedikit menyelinap di hati Lara apabila Joshua tak bisa menemuinya, dia mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu.
"Josh, kau membohongiku," teriak seorang perempuan cantik yang entah sejak kapan berdiri di hadapan mereka.
Seketika berpasang-pasang mata yang ada di cafe itu melayangkan tatapan pada meja mereka, semua dikarenakan teriakan perempuan cantik itu yang cukup menarik perhatian orang-orang di sana.
"Ellen, bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Joshua terkejut begitu menyadari gadis yang ada di hadapannya adalah Ellen.
Perempuan berparas cantik khas oriental dengan kulit putih mulusnya itu bernama Ellen, dia adalah gadis yang akan dijodohkan dengan Joshua oleh kedua orang tua mereka. Sebenarnya Ellen dan Joshua adalah teman masa kecil yang terpisahkan dari Joshua ketika orang tuanya harus hijrah ke Australia karena urusan bisnisnya. Sekarang mereka dipertemukan kembali dalam perjodohan yang sudah diatur oleh kedua orang tua mereka.
Ellen menerima perjodohan tersebut karena pada dasarnya sejak kecil dulu sudah menaruh hati pada Joshua, sementara Joshua menganggapnya tak lebih dari seorang sahabat masa kecil saja.
Tadi pagi Ellen mengajaknya bertemu, akan tetapi Joshua menolak ajakan tersebut dengan alasan ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, walaupun pada kenyataannya karena Joshua sudah terlebih dulu ada janji dengan Lara .
Dan kamu, siapa kamu? Mau merebut calon suamiku ya?" teriak Ellen lagi dengan nada sinis dan telunjuknya yang tepat menunjuk wajah Lara.
Masih dalam mode bingung luar biasa, Lara melirik Joshua yang sudah terlihat memerah wajahnya, pertanda dia sedang menahan marah. Kemudian Lara mengedarkan pandangannya dan segera tersadar saat ini mereka sedang jadi tontonan.
"Ellen cukup, jangan mengganggu makan siangku. Kurasa sudah cukup jelas kan tentang status kita? Aku bukan calon suamimu," Joshua berkata tegas tapi dengan volume suara yang sangat kecil.
Dia tidak ingin Ellen dipermalukan karena penolakannya, tapi memang Ellen sekali-sekali harus diajarkan tentang sopan santun.
"No, kau hanya milikku, Josh. Aku akan mendapatkanmu dengan cara apapun, aku janji," Ellen membalas kalimat Joshua tak kalah tegasnya
"El, aku tak ingin kau berharap banyak. Maka dari itu dengan tegas kukatakan di hadapan orang tua kita waktu itu, supaya menghargai pilihan dan keputusanku ini. Kamu cantik, El. Pasti banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik dariku tentunya," ujar Joshua lagi masih dengan nada sopan.
"Aku cuma mau kamu, Joshua. Tidak laki-laki lain, dan kamu perempuan tidak tahu malu, jauhi calon suamiku," bentak Ellen pada Lara.
Joshua berdiri dari duduknya, dia merasa geram dengan tindakan Ellen yang terus menerus memojokkan Lara. Diliriknya Lara yang masih diam tak bergeming, hanya tangan kanannya memegang lengan kiri Joshua, berusaha menenangkan Joshua.
"Aku balik ke kantor dulu, ko. Kamu bicaralah baik-baik padanya," Lara memilih pamit memberikan mereka ruang untuk bicara.
"Tapi, Ki..." Joshua berusaha menahan langkahnya.
"Ko, please..." Lara tidak ingin berdebat sekarang ini, dan Joshua tahu dia tidak bisa memaksanya.
Akhirnya Lara melangkah keluar cafe, meninggalkan Joshua dan Ellen yang terus memandangnya dengan sikap bermusuhan. Ada kebencian tersirat dari tatapan mata Ellen, dia merasa Lara telah merebut Joshua darinya, dan dalam hal ini Lara sangat bisa memakluminya.
Lara menghembuskan nafasnya, karena waktu istirahat makan siang sudah hampir habis, Lara langsung berjalan balik menuju kantornya. Setibanya di lobi, Lara dihadang oleh seorang wanita yang ternyata sudah menunggunya dengan wajah yang dipenuhi kemarahan. Lara mengenali wanita itu, beliau adalah ibu dari Joshua.
"Apa kamu tidak mengerti ucapanku waktu itu? Bukankah saya sudah katakan untuk menjauhi anak saya?" tanyanya dengan nada suara tinggi.
Tak ada jawaban sedikitpun dari Lara, dalam hatinya dia berdoa supaya bisa cepat berlalu dari hadapan wanita itu.
"Joshua sudah mau menikah, jangan mengacaukannya hanya karena kamu terobsesi dengan kekayaan keluarga kami," ibunya Joshua berujar dengan sombong. "Kamu mau berapa? Tinggal sebut nominalnya, akan saya berikan asal kamu menjauhi anak saya."
Ya Tuhan, berikan kesabaran padaku untuk tetap berlaku sopan pada wanita ini, gumam Lara dalam hatinya.
"Bu, saya minta maaf, masalah uang yang ibu tawarkan, saya sama sekali tidak berminat. Saya juga tidak terobsesi dengan kekayaan keluarga ibu, kalau saya harus menjauhi Joshua ya saya akan lakukan tanpa syarat apapun," Lara memilih menanggapi ucapan wanita itu tanpa emosi. "Tapi saya juga butuh bantuan ibu untuk bilang pada Joshua untuk menjauhi saya," tandasnya lagi.
"Sombong sekali kamu," tukasnya bertambah emosi. "Jadi dengan kata lain kamu mau bilang bahwa Joshua anak saya yang mengejar kamu?"
Lara mulai jengah karena menjadi pusat perhatian kembeli, dengan berat dia menghela nafas. Dia mulai habis kesabaran, diusapnya dadanya menahan gemuruh yang sewaktu-waktu siap meledak.
"Maaf, bu. Saya tidak bermaksud demikian. Waktu istirahat saya sudah habis, saya harus kembali ke ruang kerja saya. Permisi," Lara tetap bersikap sopan.
"Kamu, kurang ajar sekali," ibunya Joshua menunjuk wajah Lara.
"Ma, apa-apaan sih?" Joshua yang tiba-tiba datang menarik Lara ke balik tubuhnya menghadapi ibunya.
"Tadi Ellen mengganggu makan siang kami, sekarang mama juga ada di sini. Apa maksud kalian?" Joshua mengecilkan volume suaranya, dia tidak mau membuat kegaduhan di kantor tempat Lara bekerja.
"Mama hanya ingin memberitahu supaya dia menjauhimu, karena kamu akan segera menikah dengan Ellen," ujar mamanya berapi-api.
"Please jangan seperti ini, Ma. Ini kantor Andreas, aku merasa tak enak karena mama membuat kegaduhan disini. Apa yang harus aku katakan padanya? Pulang ya, Ma. Kita bicarakan di rumah," Joshua meminta dengan tegas.
"Mama akan pulang denganmu, mana Ellen? Tadi mama datang bersamanya," ujar ibunya Joshua sambil menatap tajam pada Lara.
"No, mama pulang bersama Ellen. Ada yang masih harus kubicarakan dengan Lara," Joshua menolak mamanya.
"Jam istirahatku sudah habis, ko. Aku harus kembali ke ruanganku, permisi."
Lara melepaskan pegangan tangan Joshua dan melangkah meninggalkan lobi tanpa menoleh lagi ke belakang. Pikirannya kacau, berkecamuk penuh dengan bayangan-bayangan kejadian yang baru saja terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Batin Lara.
***
From author :
Maaf telat update ya guys, author sok sibuk soale. Happy reading ya pembaca setiaku, jangan lupa vote for me please. Like n comment juga ya, bintang 5 juga deh, hehhe... Neh author banyak maunya ya... Anyway tq buat yang selalu support author, semoga ceritanya ga membosankan ya...
Luv,
Lanny Tan
g usah munak..giliran dituduh mencak²... aneh lu
meskipun tiara atau keluarganya sklipun.melihat itu yg sangat gak pantas dipikir klian berdua berselingkuh
itu kan karna kebodohanmu sendiri. kenapa tidak bisa berterus-terang dan menjadi laki² pengecut.
ingat ya.. mgkin menurut orang tua pilihan meraka itu tepat tapi belum tentu terbaik bagi anaknya
ntar jdi bingung bacanya . ribet
Dia memperkosa istri,, melecehkan dg kata2x, berbohong pd istrinya bhw ada kerjaan sampai mbiarkan anak istrinya pdhal berduaan dg mantan,,, apapun alasannya Joshua bkn suami yg baik n penuh cinta,,,, Cinta tdk akan menyakiti fisik maupun mental,,,