Suaminya berkhianat dan selalu mengabaikan nya, Calista malah tak sengaja bermalam dengan seorang Office Boy hotel tempat dia dijebak.
"Kamu masih perjaka?" tanya Calista pada lelaki tampan yang tidur dengan nya.
"Ya, Nona."
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab! Kita akan jadi kekasih!" tutur Calista dengan serius, dia adalah orang yang selalu bertanggung jawab pada hal yang telah ia lakukan.
"Tapi saya hanya seorang Office Boy miskin."
"Aku nggak perduli latar belakang mu, aku hanya harus bertanggung jawab telah mengambil keperjakaan mu! Aku orang yang berpikiran sangat kuno, dimana keperawanaan atau keperjakaan sangat penting!"
Siapa sangka, ternyata lelaki itu bukan lah seorang OB biasa... akan tetapi seorang Bos besar misterius yang menyembunyikan identitas aslinya dari Calista dan pria itu mencintai Calista dengan ugal-ugalan!
Bagaimana rasanya dikhianati dan diabaikan suami lalu diceraikan, namun malah dicintai secara ugal-ugalan oleh kekasih misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 27.
Akhirnya Calista sampai di rumah megahnya pemberian dari Ravindra, dia masih terlihat tenang setelah berita menggemparkan itu.
"Cal, Lo... its ok?" tanya Mutia setelah keduanya duduk di ruang tengah untuk istirahat, seorang asisten rumah tangga berusia paruh baya datang membawakan minuman segar jus lemon untuk keduanya dan juga cemilan.
"Non, diminum ya. Pasti capek."
"Nuhun ya, Bik. Bibik sama Putri sehat, kan?" Sudah lama Calista syuting di Bogor dan hanya menelepon Bibik satu kali.
"Sehat, Non. Nanti saya ijin bicara ya, Non. Takutnya Nona masih capek."
"Sekarang juga gapapa, Bik. Saya nggak capek kok."
Calista sangat baik pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya, ada juga mamang tukang kebun. Mereka dipekerjakan oleh Bram atas perintah Ravindra, jadi Calista menerima mereka.
"Begini, Non. Putri kan sudah lulus SMA, katanya mau kuliah tapi di kota. Jadi, boleh saya bawa Putri ke rumah ini dan tinggal sama saya Non. Saya bisa biayai kuliahnya, tapi untuk tempat tinggalnya... sayang kalau harus keluar uang Non." Bibik Art terlihat memilin-milin bajunya karena gugup.
"Boleh, di belakang ada 3 kamar kan Bik. Dua kamar udah ditempatin Bibik sama Mang Ujang, jadi ada kamar satu lagi. Nah... kamar itu boleh buat Putri." Ucap Calista.
"Aduh, makasih Non. Semoga Allah membalas semua kebaikan Non, seluruh biaya pengobatan buat Putri... pas Putri kecelakaan juga semoga Allah mengganti rezeki Nona Calista berkali lipat, Aamiin."
"Aamiin."
"Tunggu dulu, Bik." Mutia merasa tidak suka Bibik membawa orang lain tinggal di rumah Calista.
"Iya, Non Mutia."
"Bibik tau kan, pekerjaan Calista apa?"
"Tau Non, seorang selebritis. Sinetron Non Calista sudah banyak di iklankan, katanya tayang 3 hari lagi. Saya juga sangat menantikan nya, Non." Wajah Bibik berseri-seri.
"Syukur kalau Bibik ngerti pekerjaan Calista, tapi Bibik masih ingat kan apa syarat waktu kerja disini meskipun Bibik bawaan Tuan Bram." Tanya Mutia lagi.
"Saya paham, Non Mutia. Saya tidak boleh memotret apalagi merekam kegiatan Nona Calista di rumah ini. Tidak boleh mencampuri apalagi mengganggu Nona Calista jika tidak ada hal penting. Pekerjaan saya hanya mengurus rumah dan Nona Calista. Tidak boleh membicarakan apapun diluar rumah tentang Non Calista, baik itu ke tetangga ataupun orang lain."
"Ingatan Bibik bagus, nah... apa Putri bisa melakukan nya?" wajah Mutia penuh ketegasan, dia tak ingin ada masalah pada Calista depannya.
"Saya berjanji akan memberi pengertian pada anak saya, Non."
Mutia menoleh ke arah Calista dan menggeleng, artinya dia tidak setuju ada orang lain selain pekerja tinggal bersama Calista karena sangat rentan dengan kehidupan pribadi Calista. Sekarang saja pribadi Calista sudah terkuak, entah siapa pelakunya.
"Mut, gapapa. Ada impian seorang gadis muda, kita sebagai orang dewasa harus mendukung anaknya Bibik. Apa cita-cita Putri, Bik?"
Mata Bibik berbinar, "Katanya ingin seperti Non Calista, jadi artis. Putri memang punya bakat nyanyi, Non. Suara Putri bagus, kalau di kampung terkadang nyanyi di acara hajatan."
"Nyanyi dangdut?" tanya Mutia.
"Iya, tapi nyanyi yang lain juga bisa. Seperti nyanyi Pop..."
Calista tersenyum, "Kalau begitu bakat Putri bisa terus dikembangkan disini sambil dia kuliah, saya akan mendukung Putri. Kebetulan saya nggak punya sodara, hanya para sepupu jauh dari orang tua saya. Itu pun, setelah orang tua saya meninggal... mereka nggak mau saya dekat mereka katanya takut saya nyusahin. Pas kuliah, saya biayain kuliah saya sendiri. Sanak saudara pada menjauh, padahal saya juga nggak akan minta apa-apa sama mereka dan nggak mau ngebebanin. Tapi yah, terkadang jangankan orang lain... saudara pun kalau kita lagi susah pada menjauh." Calista tertawa miris mengingat pengusiran dari saudara-saudara orang tuanya saat orang tuanya telah tiada.
"Aduh, Non. Jangan sedih lagi ya. Lihat sekarang Non Calista, sudah sukses."
"Iya, Bik. Ya udah... siapin kamar buat Putri ya. Boleh kok anak Bibik tinggal disini tapi betul kata Mutia, Putri harus mematuhi aturan di rumah ini." Ucap Calista.
"Baik, Non. Sekali lagi, terimakasih ya Non."
Bibik pun pergi dengan membawa nampan di tangannya, wajah sang Bibik sangat bahagia karena bisa tinggal bersama dengan putrinya setelah suaminya meninggal lama dan Putri adalah anak yatim.
"Kenapa Lo ijinin, sih?" Mutia protes.
"Putri itu anak yatim, kata Bibik... bapaknya Putri meninggal setahun lalu makanya Bibik jadi Art disini buat biayain hidup anaknya. Anggap aja lagi bantu orang, Mut. Kita harus selalu berpikiran positif, tapi tenang aja... aku juga bakal hati-hati kok."
"Jangan mudah percaya pada orang lain, Cal. Zaman sekarang, sesuai katamu tadi... kadang saudara saja bisa jadi musuh apalagi orang yang nggak ada hubungan apapun." Mutia kembali mengingatkan.
Calista hanya tersenyum seraya mengangkat bahu, dia lalu menikmati minuman dingin menuntaskan dahaganya saat di perjalanan tadi.
•
Sementara Ravindra sebagai Indra tak pernah tinggal bersama Calista di rumah itu, karena untuk menjaga image Calista. Awalnya Ravindra sebagai Indra ingin protes, saat Calista meminta Ravindra tinggal di apartemen milik Calista dan tak boleh ikut tinggal bersama.
Bagai terkena getahnya sendiri, Dia yang melarang Calista terlibat affair dengan para pria malah dia sendiri yang dilarang tinggal bersama.
"Tuan, ingin datang ke rumah Nona Calista sebagai Indra?"
Sebagai Indra, kehadirannya diterima meksipun dengan penuh kehati-hatian demi menjaga image Calista. Ravindra juga mengerti, jika nama baik seseorang di industri hiburan sangatlah penting jadi dia selalu berhati-hati saat penyamaran dan bertemu Calista di rumah wanita itu.
"Pulang dulu ke apartemen."
"Apartemen milik Nona Calista?"
"Apartemen mana lagi, bagiku itu adalah rumahku karena disediakan oleh Calista."
Sudut bibir Bram berkedut geli, Ravindra selalu tinggal di apartemen yang disediakan Calista sementara Calista tinggal di rumah megah pemberian dari Ravindra. Jadi keduanya saling tukar tempat tinggal, membuat Bram terkadang tertawa di belakang sang Bos dengan keabsurdan keduanya.
Saat tengah malam, Ravindra mengendap masuk ke dalam kamar Calista dengan sangat mudah. Seluruh bodyguard sudah mengetahui identitas Indra adalah Ravindra, dan Calista pun memang sudah memberi arahan pada para bodyguard jika Indra datang agar di ijinkan masuk termasuk saat di hotel ketika di Bogor. Dari sudut pandang Calista, para bodyguard itu menuruti perintahnya untuk mengijinkan Ravindra sebagai Indra mendatanginya kapan saja, padahal para bodyguard itu mengenali Indra sebagai Ravindra dan tentu saja mereka tak bisa melarang Ravindra masuk.
Grep!
Ravindra sebagai Indra langsung naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Calista yang terbalut gaun tidur yang terbuat dari satin lembut. Tubuh wanita itu menegang tapi saat dia mengenali aroma maskulin dan wangi parfum Ravindra barulah tubuhnya rileks.
Parfum? Kenapa wangi parfum Indra dan Tuan Ravindra sama? Saat tadi siang Tuan Ravindra memelukku untuk melindungi ku dari serangan telur, parfum nya sama persis dengan wangi parfum yang selalu Indra pakai...!?
bener gak sih dia yg anuu sama Cal?/Awkward/