NovelToon NovelToon
Menjadi Figuran

Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Fantasi / Romansa / Masuk ke dalam novel
Popularitas:119.6k
Nilai: 4.7
Nama Author: sayaa aull.

Tidak disangka, aku masuk ke dalam tubuh seorang figuran yang tak lama lagi akan mati tertabrak saat menyelamatkan pemeran utama. Bisakah aku mengubah takdir ini?


cerita tidak terlalu berat, karna kalo berat dilan yang nanggung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayaa aull., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Hari ini, kelas Ara sedang menjalani pelajaran olahraga. Saat menunggu giliran untuk lari cepat tiba, Ara menunggu dengan sabar. Sambil menunggu, dia melihat sekeliling dan tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan sepasang mata tajam yang memperhatikannya. Mereka saling menatap, dan Ara merasa seolah-olah waktu berhenti sejenak. Pemilik mata itu adalah Kairi, yang tampaknya tidak bisa mengalihkan pandangannya sejak Ara masuk ke lapangan olahraga indoor ini.

Ara merasa jantungnya berdebar lebih cepat dan segera mengalihkan pandangannya saat tiba gilirannya untuk berlari. Mengikuti instruksi, Ara berlari dengan penuh semangat. Di sisi lapangan, Kairi terus memperhatikan Ara. Bagi Kairi, pemandangan Ara yang berlari dengan keringat yang mulai muncul adalah sesuatu yang memesona. Ada sesuatu tentang Ara yang membuat Kairi sulit untuk melepaskan pandangannya. Rasanya, dia ingin berlari ke arah Ara dan memeluknya erat-erat, meskipun otaknya tahu itu tidak masuk akal.

Setelah menyelesaikan larinya, Ara terduduk kelelahan di pinggir lapangan. Dia menoleh ke tempat duduk tadi dan mendapati Kairi masih menatapnya. Mata mereka bertemu lagi. Kali ini, Ara memberanikan diri untuk tersenyum kecil ke arah Kairi sebelum mengalihkan pandangannya kembali, memutuskan kontak mata yang intens itu.

Kia, yang duduk di samping Ara, memperhatikan Kairi dengan mata penasaran. "Aku perhatikan deh, Kairi terus memandangmu dari tadi. Apa mungkin dia menyukaimu?" tanya Kia, sedikit tergoda oleh spekulasi.

Ara tertawa kecil, merasa tidak percaya. "Iya, dia melihatku. Tapi untuk menyukaiku? Itu nggak mungkin, Kia."

Kia menggelengkan kepala dengan senyum yang penuh keyakinan. "Tapi lihat deh, dia benar-benar nggak pernah lepas pandangannya dari kamu. Bahkan temannya ngajak ngomong, matanya tetep tertuju sama kamu."

Ara mencoba menyangkal dengan senyum tipis. "Mungkin dia cuma kebetulan melihatku. Lagipula, Kairi itu kan terkenal dingin. Nggak mungkin dia menyukaiku."

...****************...

Setelah pelajaran olahraga selesai, para siswa kelas Ara berhamburan keluar dari lapangan. Ketika Ara menuju pintu keluar, dia terkejut melihat Kairi sudah berdiri di sana, tampak menunggu seseorang. Di tangannya, Kairi membawa sebuah botol minum.

Saat Ara melewati Kairi, dia tiba-tiba menyodorkan botol itu ke arahnya. Ara terpaksa berhenti dan menatap Kairi dengan bingung. "Apa, Kairi?" tanya Ara, merasa aneh dengan tindakan Kairi yang tak terduga.

"Ini untukmu," jawab Kairi singkat.

Ara mengerutkan kening, merasa canggung. "Ah, untukku? Sebenarnya nggak perlu, Kairi. Aku bisa beli sendiri kok," ujarnya dengan sopan, sadar bahwa teman-teman sekelasnya sedang melihat mereka dengan penasaran.

Teman-teman Ara terdiam, terkejut melihat Kairi yang biasanya begitu dingin kini menunjukkan perhatian pada Ara. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Kairi bersikap seperti ini.

Kairi tetap tenang dan berkata, "Minum." Dia dengan lembut menaruh botol itu di tangan Ara, lalu berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Setelah itu, teman-teman sekelas mereka juga kembali ke kelas, masih terkejut oleh kejadian yang langka ini.

Kia, yang melihat semuanya, tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, "Nah, kan? Apa aku bilang? Kairi pasti suka sama kamu."

Ara, yang masih terkejut, mencoba menolak kenyataan itu. "Nggak mungkin, Kia. Mungkin Kairi cuma punya air minum lebih dan nggak tahu mau dikasih ke siapa."

Kia tertawa kecil, melihat Ara yang jelas-jelas terkejut. "Ya, ya, kita lihat saja nanti," ujarnya, dengan senyum penuh arti.

Ara tersenyum, masih merasa bingung dan sedikit canggung dengan perhatian yang baru saja diterimanya. Meskipun dia mencoba menyangkal, perasaannya tidak bisa berbohong. Ada sesuatu yang berubah dalam cara Kairi melihatnya, dan Ara tidak bisa mengabaikan itu begitu saja.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari ini, suasana hati Raina terasa buruk. Duduk sendirian di bangkunya, dia tak melakukan apa pun selain menatap kosong ke depan. Ia merasa enggan untuk berinteraksi, takut suasana hatinya yang buruk akan meledak pada orang lain. Di dalam kelas, hanya ada dua teman lainnya: seorang gadis yang sedang menulis dan sesekali melirik ke arah Raina, serta seorang laki-laki yang tidur di pojokan kelas, tidak ada yang berani menegurnya, bahkan guru pun enggan.

Raina menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya yang ditopangkan pada meja, bersiap untuk tidur, berharap bisa melupakan suasana hatinya yang buruk. Namun, ketenangannya terganggu oleh suara yang menghentak.

"RAINA!" teriak Arya dari pintu kelas, suaranya menggema di ruangan dan mengejutkan semua orang kecuali pria yang tidur di pojokan.

Arya berjalan cepat ke arah Raina, menariknya berdiri dengan kasar, dan tanpa peringatan, menampar wajahnya dengan keras.

"PLAK!" Suara tamparan itu terdengar jelas, dan kepala Raina tersentak ke samping. Pipinya langsung memerah, menandakan bekas tamparan itu.

"Kau yang membuat Ruby terjatuh di tangga, kan?! Kau mendorongnya, iya? Apa maumu?! Apa salah Ruby padamu?!" Arya berteriak penuh amarah. Ruby, yang terjatuh di tangga dan kakinya terkilir, membuat Arya meledak dalam kemarahan tanpa memikirkan kebenaran tuduhannya.

Raina tetap diam, masih shock dengan apa yang baru saja terjadi, sementara Arya terus menyudutkannya dengan kata-kata kasar.

"Ruby selalu baik padamu! Kenapa kau begitu jahat padanya, Raina? Kau tidak punya hati, ya?!" Arya melanjutkan, suaranya semakin meninggi.

Dari pintu kelas, Ruby muncul dibantu oleh beberapa teman, terlihat kesakitan dan meringis. Namun, dengan suara yang lemah, Ruby mencoba meredakan situasi. "Arya, sudah. Ini bukan salah Raina. Mungkin aku tidak melihat jalan dengan baik. Mungkin Raina tidak sengaja..."

Arya tidak mempercayai kata-kata Ruby. "Kau dengar itu, Raina? Bahkan Ruby masih membela dirimu!" Arya mendesak, seolah tidak ada yang bisa membela Raina dari tuduhan yang dilemparkan padanya.

Mata Raina mulai berkaca-kaca, marah dan tersakiti. "Atas dasar apa kau menuduhku?! Apa kau punya bukti aku mendorongnya? Atau kau ada di sana saat aku melakukannya?" Suaranya naik, bergetar dengan emosi yang tak tertahankan. "AKU BERTANYA, SIALAN!"

Arya terdiam, terguncang oleh kemarahan Raina yang jarang terlihat. Raina melanjutkan, "Kau menuduhku tanpa alasan! Dari awal kelas sampai sekarang, aku tidak pernah keluar! Semua orang di sini bisa menjadi saksiku."

Raina berbicara dengan nada yang semakin tegas dan penuh emosi. "Kau berbicara seolah-olah aku adalah orang yang paling jahat di sini, padahal kalianlah yang sangat kejam! Menuduh dan menamparku, sesuatu yang bahkan keluargaku tidak pernah lakukan padaku."

Arya mulai terdiam, tatapannya beralih ke tangannya sendiri, menyadari kesalahannya. Bekas tamparan di pipi Raina tampak jelas dan terasa seperti cambuk pada hatinya.

Seorang teman sekelas yang merasa simpati akhirnya berbicara. "Arya, Raina memang di sini sejak tadi. Dia tidak keluar kelas, bahkan tertidur di bangkunya. Aku tidak bermaksud membela, tapi itu kenyataannya." Meskipun dia berbicara, Arya masih diliputi keraguan, berpikir bahwa ini mungkin hanya alibi yang dibuat oleh Raina.

Raina mengalihkan pandangannya ke arah Ruby. "Kau, Ruby. Sebutkan dengan jelas. Di mana dan jam berapa aku mendorongmu?" tantang Raina dengan tajam.

Ruby tergagap, terperangkap oleh kebohongannya. "Di tangga timur lantai 3... jam 9..." jawab Ruby dengan suara bergetar.

Raina tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. "Kau bercanda, kan? Menuduhku mendorongmu di tangga lantai 3 timur? Tempat itu jauh dari kelasku. Dan jam 9 tadi, kelasku masih ada guru. Bagaimana mungkin aku bisa ke sana? Aku duduk di sini sepanjang waktu."

Arya masih mencoba merasionalisasi, "Mungkin kau berbohong."

Raina menjawab tegas, "Kau bisa tanya pada Pak Agus, guru yang sangat galak dan tidak mungkin aku berani meninggalkan kelas saat pelajarannya."

Ruby mulai menangis lebih keras, tahu bahwa kebohongannya akan segera terbongkar. "Aku... aku..."

Seorang teman Ruby mencoba membela, "Raina, apa-apaan sih? Kasihan Ruby."

Arya terdiam, memikirkan kembali semua informasi yang baru dia dapatkan. Sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan menampar Raina yang jelas-jelas tidak bersalah.

Raina menahan tangisnya, merasa hancur oleh ketidakadilan yang dia alami. Betapa ironisnya, pikirnya. Tunangannya yang dulu berjanji akan selalu ada untuknya kini menjadi orang yang paling menyakitinya. Raina menatap kosong ke luar jendela, mencoba meredakan rasa sakit yang membakar di dalam hatinya. Di luar sana, hidup terus berjalan, sementara di dalam kelas itu, dunianya terasa hancur.

Raina berpikir, seandainya Arya bisa melihatnya dengan mata yang dulu mencintainya, mungkin semuanya akan berbeda. Tapi sekarang, yang tersisa hanya luka dan penyesalan. Baginya, kisah cintanya yang dulu indah kini hanya tinggal serpihan yang menyakitkan.

1
Dewi Yanti
kak othor keren pilihan visualnya bagus" dan sesuai sm karakter nya👍
Syaquilla Mbull
oke KK kami tunggu
Retno Isma
yg jelas jgn cha eun woo thorr....
sayaa aull.
aku udah update ya, mulai dari 10 disitu udh revisi, jadi kalian bacanya dari atas lagi. maaf ya aku bakal segera selesaikan semua revisinya
hile sivra: ga jadi dilanjutkah thor?
total 3 replies
Angel
keren
Batara Kresno
ceweknya terlalu lemah sih tegas didikit gt ke
mommy lala
lanjut.....
Ahsin
buang itu Arya laki2 bangke,, cari yg lain yg LBH baik
Ahsin
membosankan... seharusnya Ara tu bar bar bukan lembek hajar tu ulat bulu
Ahsin
hadehh bertele2...
Armyati
semangat terus kak 💪💪💪 ditunggu kelanjutannya 🙏🤗
Grey
semangat kak, ku tunggu versi terbaru yang lebih baik lagi😁
Hikam Sairi
semangat
Bailu
Apa aku doang yg ngerasa percakapan mereka Terkesan Kaku banget
Bailu
Kok jadi begini bunyinya😭
Grey
Luar biasa
Fauziah Tallya
belum up lagi ka
Tia Saputri
ga lanjut lagi Thor?sayang loo kalo ga di lanjutin lagi, apalagi cerita nya lagi seru bgt
Retno Putri
kasian ibuk kantinnya.... tiap minggu pasti beli piring baru karna banyak yg pecah dujatohin truss sama si ruby... 🙁🙁
devi aryana
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!