"Jangan paksa Humaira Mi... Aku itu Humaira, Humaira bukan Kak Asyifa yang bisa tahan menutup diri pakai jilbab."
Seluruh keluarganya selalu memaksanya menjadi seperti kakaknya yang muslimah namun Humaira merasa belum siap dan sikapnya tidak pantas untuk di jilbapin.
Dunia Humaira yang damai berubah 180 derajat setelah bertemu Bang Ashraf, lelaki yang membuat semua orang salah paham terhadapnya hingga mengikat keduanya di ikatan pernikahan.
Akankah Humaira menemukan cintanya dan bisa bahagia????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi goreng rasa cinta
"Ehm... Baru ini ya sarapan kita enak Bang... Bisa gak sih tugas masak gantian Abang aja... Aku mending yang beres-beres rumah... Prihatin Aku bang sama perut Abang dan perut Humay... Lama-lama sakit tiap hari makan masakan buatan Humaira yang gak pernah benar..." Kata Humaira menunduk merasa bersalah sambil menikmati nasi goreng buatan suaminya.
Bang Ashraf tersenyum "Namanya juga berproses Yang... Aku dulu juga gitu... Pernah malah masak rasanya kaya lautan... " Tutur Bang Ashraf membesarkan hati Humaira istrinya. Humaira termenung sambil memperhatikan suaminya itu yang masih makan, apa perasaanya saja atau bagaimana, semenjak menikah dirinya sudah tidak melihat sisi begajulan suaminya ini. Bang Ashraf yang sekarang terlihat dewasa, bertanggung jawab dan halus jangan-jangan yang sekarang ini kembarannya bukan suaminya.
"Bang... "Humaira ragu-ragu.
"Hmm Apa Yang?" Jawab Bang Ashraf lalu mengambil minumnya kemudian di minum sembari melihat istrinya yang makin hari menurutnya semakin cantik di matanya.
"Abang bilang sama Humay, kamu itu Bang Ashraf apa Bang Aryan??? Jujur???" Tanya Humaira sambil memandang wajah tampan di depannya ini.
"Hahahaha" Bukannya menjawab justru malah tergelak, konyol sekali pikiran istrinya itu bagaimana bisa bertanya hal seperti itu.
"Kenapa sih Yang, kok tiba-tiba tanyanya kaya gitu???" Bang Ashraf bertanya balik karena penasaran.
"Ya abisnya dulu tu yang aku kenal Bang Ashraf itu begajulan, usil terus suka sekali slengean, tidak pernah bisa serius, sekarang Abang beda... " Kata Humaira sambil minum karena grogi.
"Bedanya??" Tanya Bang Ashraf makin penasaran.
"Abang lebih dewasa gitu..." jawab Humaira malu-malu hingga pipinya memerah.
Bang Ashraf tersenyum "Mungkin Humaira Nuranisa yang udah buat hidup Abang makin dewasa... Dulu Abang tidak pernah punya pikiran menikah di usia muda, namun begitu kenal Humaira Nuranisa bin Harun As Syafi'i pikiran ini hanya ingin menikahinya..." Kata Bang Ashraf masih dengan senyum manisnya yang membuat hati gadis di depannya makin berdebar.
"Resepnya Apa sih ini tadi nasi gorengnya kok bisa enak banget???" Humaira mengalihkan pembicaraan karena tak ingin terjebak dengan perasaan yang mendalam.
"Ya iyalah... Itu resepnya pakai cinta... Coba kamu masak pakai cinta di hatinya tentu rasanya enak..." Jawab Bang Ashraf makin membuat Humaira meleleh.
Apa iya karena itu aku masaknya gagal terus ya, batik Humaira, pantesan rasanya hancur terus tiap kali aku masak, batinnya lagi. Humaira pun memandang suaminya lalu ingin bertanya namun suaminya sudah tidak ada di hadapannya, kemana Abang, hatinya lagi.
Cup
Kecupan di pipi reflek dirinya menoleh karena terkejut.
Cup
Pertemuan dua baris merah membuat dada Humaira berdetak ribuan volt seperti ada listrik di dalam jantungnya. Humaira mundur seketika namun Bang Ashraf semakin mengikis jaraknya masa iya sudah 3 bulan menikah gini-gini aja perkembangannya batin Bang Ashraf.
Humaira tersudut sudah tidak ada tempat untuk lari, ingin menghajar masa iya mau menghajar suaminya sendiri, Humaira menelan ludahnya, mendadak tubuhnya menjadi lemas hingga kaki-kakinya ingin terperosok ke bawah jika saja Bang Ashraf tidak menahan pinggangnya.
"Gila tubuhku kenapa mendadak kaya orang lumpuh begini ya..." Batin Humaira syok di tempatnya.
Bang Ashraf makin mendekat wajahnya, lalu memberikan kecupan ke seluruh wajah Humaira hingga merona wajah putihnya itu, dan yang terakhir hal yang ingin dia coba, tidak hanya sebuah sentuhan di luar saja, namun perkenalan yang dalam, dengan sapuan rasa di dalamnya, ini pertama kalinya bagi keduanya, masih amatir namun Bang Ashraf mampu belajar dengan cepat.
Perkenalan awal yang indah bagi keduanya, mereka mengatur nafasnya masing-masing ada banyak kupu-kupu terbang di dada Bang Ashraf karena tidak mendapat penolakan dari istri yang belum bisa mencintai dirinya ini.
"Bang... Kamu kasih pelet Aku ya..." Tiba-tiba Humaira bertanya hal konyol membuat Bang Ashraf tidak bisa tidak tertawa terbahak-bahak.
"Ngaco... Ngomongin apa coba pelet-pelet, syirik itu mah Yang..."Kata Bang Ashraf sambil mengusap bibir Humaira yang basah.
"Yah habisnya tubuh aku jadi lemas kalau udah dekat sama Abang gini... Kakiku kaya lumpuh... " Jujur Humaira membuat Bang Ashraf makin bahagia.
"Itu tandanya, hati kamu perlahan udah ada Abang..." Jawab Bang Ashraf sambil mencubit mesra hidung Humaira.
Humaira tertegun, apa iya dirinya jatuh cinta, kok bisa ya, pikir Humaira tidak percaya. "Rasanya jatuh cinta kaya apa sih Bang???" Tanya Humaira dengan polosnya.
"Kalau Abang dada ini selalu berdetak lebih keras saat hanya memandang mu, menyentuhmu membuat ribuan getaran indah di dalamnya, memilikimu suatu kebahagiaan..." Jawab Bang Ashraf lalu kembali mendekatkan wajahnya mengulangi kembali rasa yang seperti narkotika baginya ingin selalu di ulangi bila saja di perbolehkan yang punya.
Keduanya pun mengarungi rasa manis dan indah yang baru mereka kenal setelah sekian lama mengarungi masa perkenalan, kali ini akhirnya perkenalkan mereka sudah mulai naik kelas, memasuki tahap yang lebih intens lagi.
Humaira kembali merasakan getaran luar biasa di dadanya yah sepertinya benar hatinya sudah terisi suaminya, rasanya begitu indah dan memabukkan, pipi Humaira memerah, Bang Ashraf mendekap tubuh lemas di hadapannya itu lalu mendudukkan di pangkuannya, keduanya menikmati detak jantung masing-masing yang saling bertalu-talu.
"Humay.... Makasih Ya... I Love you..." Bisik Bang Ashraf di telinga Humaira membuat lehernya meremang.
"Untuk???" Tanya Humaira bingung.
"Terimakasih sudah tidak menolak ku..." Jawab Bang Ashraf berat, mendadak dirinya menginginkan lebih namun dia sadar ini terlalu cepat.
Humaira membatin kenapa ada yang aneh pada tubuh suaminya, suaranya kok mendadak menjadi berbeda, Humaira ingin berbalik dan memandang wajah suaminya namun di cegah Bang Ashraf.
"Stttttttt jangan bergerak... Coba tenanglah..." Bang Ashraf memeluk Humaira dan mencoba menetralkan pikirannya sendiri.
Humaira pun menurut namun tubuhnya mendadak menghangat tubuhnya terasa panas, dirinya merasa gelisah dengan sentuhan dan hembusan nafas suaminya yang menerpa leher jenjangnya itu.
Perasaan apa sih ini..., batin Humaira namun tetap berada di pangkuan suaminya tanpa bergerak sedikitpun, sedangkan Bang Ashraf sedang berperang melawan dirinya sendiri untuk tidak meminta lebih pada Humaira karena akan membuat istrinya nanti ketakutan.
Humaira lama-kelamaan juga semakin gelisah ada perasaan yang tidak bisa dia gambarkan, tubuhnya semakin panas jadi dirinya pun bergerak-gerak, lalu mengikat rambutnya hingga ke atas membuat terpaan nafas suaminya semakin mengalirkan sensasi yang lain.
"Astaga... Aku kenapa ya..." Batin Humaira semakin gelisah, karena Humaira tidak bisa diam maka Bang Ashraf tidak bisa mengendalikan dirinya hingga dirinya mengambil wajah Humaira dan kembali mengulangi pertemuan indah yang mereka lakukan tadi namun tangan Bang Ashraf sudah tidak bisa di kondisikan lagi.
***
dosen kok sumbu pendek..
menantu kocak...