NovelToon NovelToon
Kejar Daku Kau Kujerat

Kejar Daku Kau Kujerat

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

PLAK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.

“Ima, maafin aku.. aku..”

“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”

“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”

“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”

Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Mafia

Di pesawat boeing dengan rute dari Bonn – Jakarta, para penumpang nampak tengah memejamkan matanya. Perjalanan panjang yang harus mereka tempuh yang memakan waktu hampir 16 jam, tentu saja membuat mereka lelah. Selama pesawat mengudara, para penumpang memilih beristirahat sambil memejamkan matanya.

Di salah satu kursi penumpang, nampak seorang pria mengenakan kemeja lengan panjang yang dilinting sampai lengan duduk gelisah. Tak jauh dari kursinya, duduk seorang gadis muda. Gadis itu memperhatikan pria itu yang nampak berkeringat di bagian keningnya. Dia berdiri dan mendekati pria itu.

“Are you okay? (kamu baik-baik saja?),” tanya gadis itu.

“My stomach hurt (perutku sakit),” jawabnya sambil menahan sakit.

“Wait a minute.”

Gadis itu berjalan menuju bagian belakang pesawat untuk menemui pramugari. Dia mengatakan situasi yang dialami salah satu penumpang. Dua orang pramugari segera menghampiri pria tersebut. Setelah berbincang sebentar, ternyata asam lambung pria itu kambuh. Pramugari segera memberikan pertolongan pertama memberikan obat penahan nyeri.

“Here, put this bottle to your stomach.”

Gadis itu memberikan botol yang sudah dihangatkan, lalu menaruhnya ke bagian perut yang terasa sakit. Setelah beberapa saat, rasa sakit yang menderanya berangsur berkurang. Pria itu menoleh pada gadis yang sudah menolongnya. Dia sampai pindah duduk ke samping kursi pria itu demi bisa menolongnya.

“Are you ok, now?” tanya gadis itu.

“Yes, better than before. Thanks (ya, lebih baik dari sebelumnya, terima kasih).”

“You’re welcome.”

“What’s your name?”

“Iris. And you?”

“Inacio.”

“This is your first time to Indonesia? (ini pertama kali untukmu ke Indonesia?).”

“No, I’ve been here, two or three times. How abaot you? (tidak, sudah dua atau tiga kali. Kamu sendiri?)”

“My father is Indonesian, my mom from German.”

Perbincangan mereka berakhir ketika Iris menguap. Kantuk mulai melandanya. Inacio tidak mengajak gadis itu berbicara lagi dan membiarkannya tidur.

🍄🍄🍄

Pukul delapan pagi, pesawat yang ditumpangi Iris mendarat di bandara di Soekarno Hatta, Jakarta. Baru saja dirinya keluar dari di terminal kedatangan luar negeri, matanya langsung menangkap empat orang pria memakai kaos hitam hilir mudik di dekat pintu keluar. Iris tahu benar siapa keempat orang itu. Mereka adalah anak buah papanya yang diutus untuk menjemputnya.

Iris tidak mau bertemu dengan mereka. Kalau dirinya sampai dibawa pulang ke rumah ayahnya, maka dia akan dikirim kembali ke Bonn. Gadis itu memang kabur dari rumah kakeknya di Bonn. Seharusnya dia tetap di sana sampai pendidikan masternya selesai. Namun baru satu semester, dia sudah pulang ke Indonesia. Iris tidak betah tinggal terlalu lama di Bonn. Dia ingin segera kembali ke tanah kelahirannya di bumi parahyangan.

Sementara itu, Inacio keluar sambil menggeret kopernya. Melihat pria itu, Iris segera mendekat. Dia akan meminta pertolongan pria itu agar bisa keluar dari bandara. Dia berlari mendekati Inacio yang berada di depannya. Gadis itu bersembunyi di balik tubuh tegap pria itu. Ditariknya kemeja pria itu dari belakang.

“Iris..”

“Uncle.. can you help me?” tanyanya sambil berbisik.

“What can I do?”

“I must avoid those men,” tangannya menunjuk empat pria anak buah ayahnya.

“Easy.”

Inacio mengambil mantelnya yang ada di atas koper, lalu memakaikannya pada Iris. Dia menggulung rambut Iris dan memakaikan topi di kepalanya. Kemudian pria itu memakaikan kacamata hitam dan masker ke wajah Iris.

“Walk beside me (jalan di sampingku).”

Iris mengikuti semua yang dikatakan oleh Inacio. Gadis itu diminta menegakkan kepalanya dan berjalan dengan tenang. Ketika mereka melintasi para pria yang tengah mencari Iris, keempatnya tidak mengenali gadis itu. Sesampainya di luar, Iris dikejutkan dengan kehadiran lima orang pria yang tangan kanan dan kirinya dipenuhi tato.

“Selamat datang, bos,” sambut mereka.

“Masukkan koperku ke dalam mobil.”

“Uncle bisa bahasa Indonesia?” tanya Iris terkejut.

“Tentu saja.”

“Kenapa ngga bilang?”

“Kamu tidak tanya.”

“Astaga.”

Iris menepuk keningnya. Tidak disangka pria keturunan Brasil ini begitu fasih berbahasa Indonesia. Tahu begitu, dia tidak akan bersusah payah berbicara menggunakan bahasa bule padanya.

“Kamu mau kemana?”

“Bandung.”

“Tujuan kita sama. Kamu ikut saja denganku.”

“Baiklah.”

Dengan cepat Iris menyambut ajakan Inacio. Keduanya segera masuk ke mobil yang sudah disiapkan. Mereka berdua duduk di bagian belakang. Iris melirik lengan kiri Inacio yang terdapat tato naga. Melihat anak buahnya tadi, sepertinya Inacio adalah seorang mafia. Iris mulai dilanda ketakutan. Bagaimana kalau ternyata pria ini membunuhnya, memutilasinya dan membuang potongan tubuhnya di jalan tol.

Kepala Iris menggeleng cepat. Tubuhnya bergidik, bulu di tubuhnya mulai meremang. Hal tersebut tertangkap oleh Inacio. Pria itu melihat pada gadis di sebelahnya. Dia cukup bingung melihat wajah Iris yang ketakutan.

“Kamu kenapa?”

“Ngga apa-apa,” jawabnya pelan.

“Apa kamu takut padaku?” tanya Inacio sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Ngga.. eh iya, eh ngga…”

“Hahaha.. tenang saja. Aku adalah orang yang tahu membalas budi. Kamu sudah menolongku saat di pesawat. Kamu sudah kuanggap seperti temanku. Lagi pula aku tidak akan membunuh sembarang orang. Kalau kamu butuh bantuan, temui anak buahku dan sebut namaku, mereka siap membantumu.”

“Oh.. oke. Apa uncle ke sini berbisnis?”

“Tidak. Aku mau bertemu dengan kawan papaku. Dia sudah lama menetap di Bandung. Namanya Edo. Kamu sendiri tinggal di mana? Kemana aku harus mengantarmu?”

“Euungg.. antarkan saja aku ke hotel Arjuna.”

“Baiklah.”

Untuk sementara Iris tidak akan pulang ke rumahnya. Dia ingin menginap di hotel dulu. Kalau sang papa sudah mengabulkan keinginannya, maka dirinya akan pulang ke rumah. Selama di perjalanan, Iris banyak berbincang dengan Inacio. Ternyata pria itu adalah orang yang menyenangkan. Tidak seperti mafia yang sadis dan menyeramkan.

🍄🍄🍄

Sambil merentangkan kedua tangannya Iris keluar dari kamar hotel yang disewanya. Wanita itu segera menuju lift yang letaknya tak jauh dari kamarnya. Semalam dia tidur nyenyak sekali. Dia yakin anak buah ayahnya tidak bisa menemukan keberadaan dirinya. Untuk membayar biasa sewa kamar pun, dia membayarnya secara cash. Iris menukarkan uang euro miliknya di hotel ini.

Lift yang ditumpanginya berhenti di lantai dasar. Gadis itu segera keluar lalu menuju restoran untuk menikmati sarapan. Dia langsung memesan omelet pada chef yang berjaga di sana. Sambil menunggu omeletnya selesai, Iris menuju meja prasmanan. Dia mengambil nasi goreng, ayam goreng plus kerupuk. Sebelum ke meja, gadis itu mengambil dulu omeletnya.

Dengan tenang Iris menikmati makannya. Matanya memandangi tamu hotel yang tengah menikmati sarapan seperti dirinya. Gadis itu bangun dari duduknya untuk mengambil jus dan beberapa potong roti, lalu kembali ke tempatnya. Selesai menikmati sarapannya, Iris bermaksud kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat anak buah papanya memasuki lobi hotel.

“Ya ampun, kenapa mereka bisa ada di sini,” buru-buru Iris masuk ke dalam lift. Sialnya lift yang dinaikinya ternyata menuju ke basement.

Farzan berlari menuju pintu lift yang sedang menutup. Dia baru saja memeriksa tamu hotel yang terkena serangan jantung. Firhan memang menghubunginya ketika salah satu tamunya tidak sadarkan diri. Kebetulan dia sedang di jalan dan jaraknya tidak jauh dari hotel.

Tangan Farzan segera terulur untuk menahan pintu lift yang hendak menutup. Iris refleks membalikkan tubuhnya ketika melihat anak buah papanya melintas di depan kotak besi yang ditumpanginya. Untuk saja pintu segera menutup. Lift pun mulai bergerak turun.

Sesampainya di basement satu, Iris keluar mengikuti langkah Farzan. Matanya mengikuti kemana langkah dokter muda itu. Terlihat tangan Farzan terulur untuk membuka kunci mobil dengan remote di tangannya. Iris menyelinap ke belakang mobil yang berada di samping mobil Farzan.

Dari arah bangunan di mana lift berada, nampak anak buah ayahnya keluar dari sana. Iris kembali dibuat panik. Sambil mengendap-endap gadis itu menyelinap ke dekat mobil Farzan. Melihat pria itu tengah menjawab panggilan, hal tersebut dimanfaatkan Iris masuk ke kursi penumpang bagian belakang.

Farzan segera masuk ke dalam mobil. Pria itu tidak menyadari ada gadis yang bersembunyi di jok belakang. Setelah menyalakan mesin mobilnya, kendaraan roda empat itu segera melaju meninggalkan parkiran basement.

Begitu mobil yang dikendarai Farzan keluar dari hotel Arjuna, Iris keluar dari persembunyiannya. Di saat bersamaan, Farzan melihat ke kaca spion tengah. Serta merta dia mengerem mobilnya, lalu melihat ke belakang.

“Siapa kamu?”

🍄🍄🍄

Yang udah baca The Heart Chooses, kakek Iris salah satu karakter di novel itu. Kalau bapaknya di novel Four Seasons of Love. Ada yang bisa nebak bapaknya Irish siapa?

1
Kas Mi
thor ank.y fahrul yg g d publish
loura cahya
sangat bagus tdk monoton keren pokoknya😍😍😍
ida wati
seruuu, ngocok perut bikin melek, karya2 mak author emang bukan kaleng2, keep going mak, suksess 😚🤗
ida wati
kejadian jugaa 🤣🤣🤣🤣 tapioka sekalian🤣
ida wati
dapeeett ajeee mak 🤣🤣🤣
ida wati
ajibbb Fabian dapet duo combo rese sekaligus, mantaff 🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
sekalian aja lahh wkwkwkwk aturan pake helm biar ga malu2 amat 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
sekalian ajah jabanin 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
eleuhhhh 🤣🤣🤣🤣
ida wati
parah ih penghulunya udh bukan absurd lagi tapi omes 😄
ida wati
aa Daffa koplak juga 🤣🤣🤣
ida wati
lahhh 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
adaaa aje julukannye 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
i i ini parah sih buaaahahahaha 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
ambyarrr 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
si RW06 🤣🤣🤣
ida wati
sa ae cantelan konci🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!