Rumput liar itulah julukanku
Cacian, hinaan dan makian menjadi makanan sehari–hari Raisa
Memiliki otak yang cerdas dan wajah cantik justru membuatku menjadi sasaran bullying bagi semua orang hanya karena kondisi keluarganya yang miskin
Setelah kembali dari kematian tragisnya Raisapun bertekad untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakitinya dimasa lalu, terutama mencari dalang dibalik kematianku yang mengenaskan
Mata dibalas dengan mata, siapapun yang menyakiti dirinya dan keluarganya akan Raisa balas berkali - kali lipat
Dengan bantuan kekuatan kalung liontin biru yang dia temukan sebelum kematian menjemputnya dan kini telah menyatu dalam tubuhnya, Raisa pun mulai membalaskan dendamnya satu persatu
Dalam perjalanannya membalas dendam,Raisa banyak menemukan fakta yang mengejutkan salah satunya adalah fakta jika dia dan sang kakak adalah pewaris asli keluarga Wu yang sedari awal berusaha untuk disingkirkan.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMBISI
Setelah memastikan obat yang dibutuhkan oleh lelaki yang ditolongnya didapatkan serta ruang perawatan telah dia bayar untuk satu minggu kedepan, Raisa pun pulang bersama Draco.
Seperti dugaan, begitu Raisa pulang ibu dan kakaknya sudah duduk dikursi ruang tamu menunggunya.
Dengan bekal kuitansi rumah sakit dan penjelasan Draco keduanya pun pada akhirnya merasa lega karena Raisa pulang kerumah dengan selamat.
“Biaya rumah sakit ini sangat besar. Apa kamu yakin lelaki itu mau menggantinya ?”, tanya Raymond cemas.
“Tenang saja, aku sudah bilang kepada pihak rumah sakit untuk meminta biaya jika pasien sadar. Jadi begitu dia membayar, maka pihak rumah sakit akan memberitahu kita sehingga uang yang dianggap deposit ini bisa kami ambil kembali”, ucap Draco menjelaskan.
Meski tidak semuanya benar, tapi untuk biaya operasi dan kamar memang pihak rumah sakit tidak meminta biaya penuh melainkan hanya berupa uang muka saja mengingat jika Raisa hanyalah pihak yang menolong lelaki tersebut bukan wali pasien.
Tapi untuk obat yang dibeli diapotik, jika lelaki yang Raisa tolong tak mau menggantinya maka uang tersebut bisa dianggap melayang.
Lagi pula Raisa tak terlalu memperhitungkannya mengingat jika biaya obat tersebut hanya bernilai jutaan, bukan puluhan juta seperti biaya operasi dan kamar lelaki itu.
Setelah dirasa semua hal yang harus dia jelaskan telah dia katakan maka Draco pun segera pamit undur diri untuk pulang dan beristirahat karena tubuhnya sangat letih hari ini.
“Bersihkan tubuhmu dan segeralah beristirahat”, perintah Reliana lembut.
Insting Raymond mengatakan jika adik dan sahabatnya itu menyimpan suatu rahasia yang tak bisa mereka ungkapkan yang bisa dia baca dari apa yang Draco dan Raisa utarakan tadi.
Meski begitu, dia mencoba untuk berpositif thinking dan berharap Raisa ataupun Draco akan menceritakan semua kebenaran kepadanya nanti.
Hari libur telah usai kini waktunya semua orang kembali beraktivitas menyambut datangnya hari senin yang menyibukkan.
Raisa yang sudah siap dengan seragam sekolahnya kali ini tak berangkat kesekolah bersama Lili karena gadis itu akan mampir kerumah sakit terlebih dahulu guna melihat kondisi lelaki asing yang ditolongnya semalam.
“Apa kamu yakin tidak ingin ditemani masuk ?”, tanya Draco sekali lagi.
“Kak, aku tak akan lama didalam jadi tunggulah disini”, ucap Raisa membujuk.
Setelah Draco mengangguk setuju, Raisa pun segera masuk kedalam rumah sakit menuju ruang VVIP tempat dimana lelaki itu dirawat.
Mendengar jika lelaki itu sempat sadar sebentar sebelum pada akhirnya tertidur kembali akibat efek obat membuat Raisa merasa lega.
Setelah meletakkan beberapa buah, roti dan air mineral yang dibawanya, Raisa pun segera keluar meninggalkan lelaki yang baru saja kembali membuka mata ketika punggung Raisa menghilang dibalik pintu.
“Apakah itu gadis yang menolongku semalam ?”, batinnya penuh tanya.
Dia sebenarnya sudah sadar sewaktu gadis itu datang dan berbicara dengan perawat yang menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya hanya saja matanya masih terasa berat untuk dibuka sehingga dia pun hanya bisa menyimak tanpa bisa menyapa sang penyelamatnya.
Setelah semua nyawa telah terkumpul, Alexander pun perlahan mulai bangkit untuk mengambil botol air mineral yang ada diatas nakas disamping ranjangnya karena tenggorokannya sangat kering.
Melihat aneka macam buah dan roti sudah tertata diatas nakas, senyum tipis terbit diwajah tampan Alexander.
“Cukup perhatian juga dia rupanya”, batin Alexander senang.
Entah kenapa sejak melihat wajah gadis yang menolongnya semalam, Alexander merasakan perasaan yang nyaman.
Apalagi tadi waktu dia mendengar suara lembut namun penuh ketegasan dari gadis itu yang menanyakan kondisinya membuat detak jantungnya berdetak cepat tanpa sadar.
Sesuatu hal yang belum pernah Alexander alami selama ini sehingga diapun merasa akan memeriksakan jantungnya ketika dokter berkunjung keruangannya hari ini.
Setelah memencet bel, seorang perawat datang sambil tersenyum ramah kepadanya “Apa ada yang bisa kami bantu bapak ?”.
“Tolong hubungi orang ini dan suruh datang menemui saya segera”, ucap Alexander datar.
Setelah mendapatkan secarik kertas berisi nama dan nomor telepon yang diminta, perawat tersebut pun segera pamit undur diri.
Lima menit kemudian, Marco assisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Alexander datang menghadap dengan wajah cemas.
“Akhirnya saya bisa menemukan tuan setelah semalaman mencari ke hampir semua rumah sakit yang ada di ibukota”, ucap Marco lega.
Rumah sakit tempat Alexander dirawat ini bukanlah rumah sakit besar dan terletak diwilayah pinggiran ibukota sehingga Marco tak kepikiran untuk mencarinya ditempat ini.
“Cari tahu siapa yang menyerangku semalam dan gadis yang telah menolong dan membawaku kerumah sakit ini”, perintah Alexander tegas.
Melihat jika bosnya sudah stabil Marco pun segera pamit undur diri untuk menjalankan tugasnya mencari informasi yang diminta bosnya.
Hanya dalam waktu lima belas menit Marco sudah membawa informasi yang Alexander inginkan.
“Untuk kelompok yang menyerang anda, kami mencurigai jika ini ada kaitannya dengan keluarga Wu mengingat jika transaksi senjata api illegal yang kita gagalkan semalam milik Dylan Wu, hanya saja dia tidak bisa turun langsung karena sedang menjalani hukuman dari tuan besar Wu”
“Saat ini kami masih berusaha untuk menyelidikinya lebih lanjut karena tampaknya penyerangan ini telah terencana dengan matang mengingat para pelaku tak meninggalkan petunjuk apapun dilokasi kejadian”, ucap Marco melaporkan temuannya yang pertama.
“Dan untuk gadis yang menolong anda, dia adalah Raisa Weinler. Anak Reliana, adik Raymond”
“Kurasa gadis ini tak sesederhana penampilannya karena dia bisa membayar biaya operasi anda senilai lima puluh juta secara langsung dan membayar biaya ruang rawat anda selama satu minggu kedepan dimuka dimana harga sewa kamarnya perhari senilai dua setengah juta”, Marco sedikit menghentikan laporannya ketika melihat ekpresi terkejut dari bosnya.
“Anda mungkin sangat terkejut bagaimana bisa gadis berusia empat belas tahun bisa memiliki uang sebanyak itu mengingat kondisi perekonomian keluarga tersebut yang berada dibawah”
“Dan dari hasil penyelidikan ternyata diam–diam gadis ini sering mengikuti balap liar bersama sahabat kakaknya, Draco tanpa sepengetahuan Raymond maupun Reliana”
“Semalam, sebelum dia menemukan dan menolong anda gadis itu baru saja memenangkan pertandingan dengan hadiah sekitar 1,8 M setelah mengalahkan Jessen dengan telak”, ucap Marco dengan wajah antusias.
“Jessen Run ?”
“Pembalap yang satu tahun lalu berhasil go internasional setelah mengalahkan lawan-lawannya dengan telak ?”, tanya Alexander terkejut.
“Benar tuan”
“Bukankah sangat menarik”
“Anak perempuan yang selama ini Reliana anggap lemah dan patuh ternyata memiliki kemampuan besar dibelakang punggung ibunya”
“Bahkan saya sangat yakin jika Raymond tak mengetahui mengenai kemampuan adiknya ini karena melihat bagaimana dia memperlakukan Raisa sama seperti Reliana memperlakukan anak gadisnya yang begitu hati-hati karena menganggap jika Raisa sangat rapuh dan lemah seperti apa yang terlihat dipermukaan”, Marco menjelaskan dengan kedua mata berbinar seolah dia melihat hal menarik dalam hidupnya.
Sudut bibir Alexander melengkung keatas tanpa sadar. Entah kenapa dia memiliki firasat jika Raisa akan memberi keuntungan lebih untuknya dimasa depan.
“ Bukankah ini takdir yang menarik tuan. Keluarga Weinler selalu ada disaat anda membutuhkan pertolongan sementara keluarga Wu selalu ada untuk menjegal langkah anda dan membuat kehancuran”, ucap Marco ambigu.
Alexander tampak berpikir sejenak mendengar ucapan orang kepercayaannya tersebut.
Memang benar apa yang Marco ucapkan, selama ini keberadaan Reliana dan Raymond seolah selalu menghindarkannya dari maut.
Dan kali ini, anak perempuan mereka yang belum pernah sekalipun dia temui menyelamatkannya dari kematian tanpa sengaja membuat Alexander merasa jika Reliana dan anak–anaknya ditakdirkan untuk membawa keberuntungan baginya.
Sementara keluarga Wu, entah apapun itu hal yang bersinggungan dengan mereka selalu membuat Alexander tertimpa kesialan bahkan beberapa kali hampir membuat nyawanya melayang.
“Aku memiliki firasat jika gadis ini bisa membuat perubahan besar dalam hidupku kedepannya. Maka dari itu aku tak akan melepaskannya”, ucap Alexander tersenyum senang.
“Dengan rahasia yang anda pegang serta keuntungan yang akan anda berikan, saya rasa nona Raisa tak akan menolaknya tuan”, ucap Marco memberi pendapat dengan sopan.
Melihat jika Reliana dan anak–anaknya adalah jimat keberuntungannya maka Alexander akan menjaga keluarga kecil itu dengan baik mulai saat ini.
raisa msh 14 thn.. pentilnya aja bru numbuh ya ampunn
klo othor dr aqal jodohin sama alex knp di bkn umurnya sangat tuir.. 34 gilakk.. 25 aja pdhal.