Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Pulang
“Halo, Bang! Kamu lagi ngapain sekarang, sama siapa di sana?” Aku mencecar Rizal dengan pertanyaan yang mengganggu pikiranku begitu panggilan videoku tersambung.
Aku melihatnya ketawa kecil, lalu memutar kamera ponselnya ke segala arah, seolah bisa menerka apa yang sekarang aku rasakan tentang dirinya. Entahlah aku tidak tahu bagaimana dia bisa begitu mengerti diriku. Tentu saja aku bisa melihat suasana kantornya yang sangat aku kenal, ada beberapa pria di sana yang tampak sedang serius bekerja, selain itu suasananya terlihat lengang.
Lalu, dia kembali membalik kamera pada wajahnya sendiri dan langsung bertanya, “Kenapa, kamu cemburu ya?”
Kemungkinan dia tahu kalau aku cemburu, dari semua pertanyaanku, selain itu sikapku yang menelepon dengan penggilian video ketika dia sedang bekerja, di luar kebiasaanku sebelumnya.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, karena sudah terlanjur kesal dan menampakkan wajah cemberut. Aneh. Dia justru tertawa dan melontarkan candaan yang membuatku semakin malu saja sebab apa yang dia katakan benar.
“Kalau benar kamu cemburu, itu artinya kamu nggak mau kehilangan aku, kan? Kayaknya kamu termakan omongan orang, deh! Iya, nggak?” katanya.
Aku reflek mengangguk.
“Kamu harus tahu, Saliya ... aku juga nggak mau kehilangan istri seperti kamu!”
Qku tidak mau dia bicara yang lebih aneh lagi. Aku khawatir bila ada teman yang mendengar pembicaraan kami, maka mereka akan menganggap menganggap suamiku sebagai laki-laki yang lebay atau berlebihan. Padahal bagiku ucapannya itu manis sekali.
“Ya sudah kamu baik-baik ya, di sana, cepet pulang kalau udah selesai kerjanya,” pintaku merajuk padanya.
“Iya, iya!”
Rizal tersenyum, sambil melambaikan tangannya padaku dari kamera dan memberikan ciuman jarak jauh. Aku hanya membalasnya dengan senyum malu, lalu menutup setelah menjawab salamnya.
Setelah itu aku melakukan pekerjaan rutin yang berkaitan dengan kebutuhan nutrisi bayiku.
Setiap enam kali dalam sehari aku memeras ASI-ku sendiri, karena aku harus memberikannya untuk sang buah hati. Bayi dalam inkubator lebih tepat kalau meminum minuman yang terbaik bagi pertumbuhannya. Ibuku yang telaten membawa susu hasil perahan itu, ke ruang perawatan bayi untuk diberikan kepada perawat di sana. Setiap botol sengaja diberi nama oleh ibuku dengan maksud agar tidak tertukar dengan botol bayi lainnya. Bukannya tidak boleh, hanya biar terjaga saja. Kalau ada bayi lain yang alergi atau tidak bisa di beri susu formula, aku dengan suka rela membaginya, dengan catatan bayiku sendiri sudah kenyang.
Aku menengok Zidan dua sampai tiga kali sehari. Walau aku hanya bisa melihat bayiku dari balik kaca, tapi aku sudah bahagia. Toh, kalau dia masih di dalam perut pun aku tidak bisa melihatnya.
“Nak! Cepatlah beradaptasi dengan dunia!” kataku lirih dan tak terasa air mataku menetes. Sejak dia kulahirkan, aku tidak bisa menyentuhnya.
Bayiku hanya akan diizinkan keluar dari kotak kaca itu, setelah dokter menyatakan dia mampu beradaptasi dengan dunia baru yaitu di uar rahim ibunya.
Zidan aku tinggalkan di rumah sakit setelah aku diizinkan pulang keesokan harinya. Kata dokter, minimal satu pekan dia harus menempati ruang kaca itu. Sedih rasanya berpisah dengan anakku.
Ya Allah, bukan kematian yang memisahkan kami, tapi rasanya sudah sesedih ini. Apalagi, kalau ajal sebab kami tidak akan bisa melihat lagi.
“Sudah, nggak usah nangis, besok kita lihat lagi,” kata Rizal sambil mengusap air mataku dengan jari tangannya. Ia menjemputku dan ibuku dengan mobil pinjaman lagi, punya siapa lagi kalau bukan milik ayah mertua.
Aku mengangguk, “Iya,” sahutku asal.
Aku berada di samping Rizal yang duduk di belakang kemudi, sedangkan ibuku di kursi penumpang belakang. Kamu pulang setelah menyelesaikan semua urusan administrasi dan pembayaran. Sementara untuk Zidan masih tidak tahu kapan bisa dibawa pulang. Mungkin, Rizal, aku atau ibu yang akan melihat kondisi bayi itu setiap hari secara bergantian. Tentu saja sekalian mengantarkan ASI-ku yang sudah dibekukan.
Aku sampai di rumah dengan perasaan yang tidak jelas antara bahagia, sedih dan tertinggal di rumah sakit. Namun, ada kebahagiaan lain yang menyertaiku kali ini, bagaimana tidak, keluarga suamiku menyambut kedatanganku dengan hangat di depan rumah. Mereka membawa banyak sekali hadiah dan makanan. Semuanya bisa kami nikmati bersama.
Setelah Rizal memarkirkan mobil di halaman, aku turun sendiri dan segera menyalami ayah dan ibu mertuaku dengan hormat. Ibuku pun langsung mempersilahkan mereka masuk.
Ibu mertuaku memeluk erat sambil menitikkan air mata haru, mungkin karena Zidan adalah cucu pertamanya. Namun, masih harus dirawat di rumah sakit karena prematur.
“Maaf, Ibu nggak bisa nengok kamu dan anak kalian di rumah sakit, soalnya nggak tega kalo lihat anak bayi di tempat seperti itu!” katanya setelah melepaskan pelukanku.
“Nggak apa, Bu! Doakan saja Zidan cepat bisa dibawa pulang!”
“Apa? Namanya Zidan?” Tiba-tiba Ilmara, adik perempuan Rizal itu berkata seperti terkejut.
“Siapa yang ngasih nama seperti itu, kampungan sekali!” katanya lagi sambil bersungut-sungut.
❤️❤️❤️❤️