Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
"Yuna lepasin!" Kata Davian berusaha melepaskan diri dari Yuna yang kini justru memeluknya semakin erat.
Davian rasanya ingin menyentak tubuh Yuna tapi takut karena bisa saja menyakiti keponakannya itu.
"Yuna!"
"Kenapa Om? Yuna hanya merindukan Om dan ingin memeluk Om seperti ini, Om tahu Yuna sedih karena Om sudah jarang memperlakukan Yuna seperti dulu, Om selalu menghindar dari Yuna belakangan ini, apa jangan-jangan Om tidak sayang sama Yuna lagi, karena Om sudah mempunyai kekasih, Om jadi mengabaikan Yuna, lalu bagaimana jika Om menikah nanti, Om pasti kan akan meninggalkan Yuna?"
Akhirnya kini Davian bisa lepas dari Yuna, dia menatap Yuna dengan kedua tangan di atas bahu gadis itu.
"Yuna, kelak kamu juga akan menikah, kamu tidak bisa terus bersama Om, apa kamu mengerti?"
Yuna memandang Davian sendu, dia tidak menyangka Davian mengatakan itu.
"Tapi Yuna tidak mau Om, Yuna mau selamanya bersama Om," ucap Yuna yang kini kembali memeluk Davian dengan air mata yang sudah berjatuhan.
"Yuna!" Davian memegang kedua lengan Yuna melepaskan tubuh Yuna darinya.
"Ada apa ini?" Tanya Ana yang datang tiba-tiba melihat kedua orang itu saling berpelukan dan Yuna bahkan sampai menangis.
Davian berhasil melepaskan pelukan Yuna, kemudian pria itu pergi dari sana dan menuju kamarnya kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Dengan tatapan nanar, Yuna pandangi punggung Davian yang menjauh dan menghilang di balik pintu. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Ana.
"Aunty Yuna mau istirahat dulu," kata Yuna hendak menutup pintu tapi Ana menahannya.
"Bentar Yuna ada yang ingin aunty katakan," kata Ana.
Yuna pun membuka pintu kamarnya lebar-lebar, agar Ana bisa masuk. Wanita itu menatap sekeliling, kemarin dirinya masuk ke kamar itu tapi tidak terlalu memperhatikan. Ana berjalan ke arah ranjang kemudian duduk di sana, sementara itu Ayuna berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa Aunty?" Tanya Yuna yang sudah tidak sabar, karena Ana tidak kunjung bicara, malah wanita itu melihat-lihat fotonya yang ada di meja samping tempat tidur.
Ana meletakkan foto itu kembali ke atas meja, kemudian menepuk sisi kosong di sampingnya, meminta Ayuna untuk duduk di sana.
"Kamu yakin tidak mau ikut aunty?"
Ayuna menggeleng.
"Padahal katanya uncle ingin mengenalmu, dulu pernah bertemu cuma dua kali kan? Dan itu sudah lama sekali. Tapi ya sudah jika kamu tidak mau, aunty juga tidak akan memaksa, begitupun denganmu, jika apa yang kamu inginkan tidak sesuai harapanmu kamu jangan terlalu memaksa diri, takutnya nanti kamu malah akan terluka."
"Maksud aunty?"
"Hmm tidak ada, aunty hanya ingin mengatakan itu saja. Oh ya besok sore aunty akan pulang, soalnya aunty ada urusan. Kamu jaga diri baik-baik, dan sewaktu-waktu, kamu ingin ikut aunty, kamu bisa hubungi aunty. Aunty akan menjemputmu, atau kau sendiri yang ingin langsung kesana? Hmm intinya kamu hubungi aunty saja ya, rumah aunty selalu terbuka untukmu kapanpun."
"Iya aunty, jika Yuna ingin kesana, Yuna pasti hubungi aunty."
"Baiklah, cuma itu yang ingin aunty katakan, istirahatlah, dan turun untuk makan malam nanti," ucap Ana dan lagi-lagi Yuna hanya mengangguk.
Ana bangkit dan melangkah keluar, memandang Ayuna sebelum akhirnya dirinya menutup pintu anak sahabatnya itu.
Ana melihat Davian yang keluar dari kamar dan berpakaian rapi, entah kemana pria itu akan pergi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ana menatap penampilan Davian.
"Pergi sebentar," ucap Davian yang segera berlari meninggalkan Ana.
*
*
"Ayo kita masuk!" Kata seorang gadis menarik pria untuk turun dari motornya.
Mereka janjian untuk datang, karena melihat postingan terbaru orang terdekatnya. Dengan mengendarai kendaraan masing-masing akhirnya sang pria sampai terlebih dahulu, tapi pria itu tidak juga turun dari motornya, hingga sang gadis turun dari mobil dan menarik pria itu agar turun dan masuk bersamaan.
"Kenapa tidak turun kamu takut dengan Om Yuna?" Tanya gadis itu yang sudah greget karena pria itu hanya menatap rumah besar itu tanpa ada niat untuk masuk ke dalamnya.
Mendengar itu, sang pria pun turun tidak terima jika dirinya takut dengan Om gadis yang sudah hampir 3 tahun ini mengisi hatinya. Dirinya tadi tidak turun-turun karena masih menimbang antara mengatakan perasaannya atau tidak. Tapi rupanya gadis yang datang bersamanya senang sekali memprovokasi dirinya hingga mau tidak mau dirinya pun turun dan akan mempertimbangkan itu nanti, karena melihat situasi merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Lepas Winda! Aku bisa jalan sendiri!" Kesal pria itu saat gadis yang tak lain Winda itu menarik tangannya.
"Baiklah," kata Winda yang kini melepaskan tangan pria itu dan dirinya melangkah lebih dulu.
Winda memencet bel hingga tak lama pintu pun terbuka.
"Maaf apa Yuna nya ada?"
"Oh kamu teman Yuna ya? Oh ayo silahkan masuk! Yuna ada kok di kamarnya," kata Ana yang membukakan pintu mempersilahkan untuk Winda masuk, ya Ana mengenali Winda dari foto yang ada di kamar Yuna tadi.
"Terima kasih," ucap Winda kemudian menoleh dan melihat Bara masih ada di tempatnya tadi.
Winda menghela nafasnya, kemudian tersenyum pada Ana.
"Maaf tunggu sebentar," Winda pun berbalik dan melangkah kembali menghampiri Bara kemudian menarik tangan pria itu tak peduli jika Bara protes.
Dan Ana menggelengkan kepala melihat itu dari kejauhan.
"Kamu Bara kan?" Tanya Ana begitu Winda dan Bara sudah berada di depan pintu.
"Tante mengenalnya?" Tanya Winda tak percaya.
"Iya Yuna sering bercerita tentang Bara."
Jawaban Ana membuat Bara senang. Dia langsung melepas tangan Winda dan menatap Ana.
"Benarkah tante Ayuna sering bercerita tentangku?"
"Hmm iya sepertinya begitu," kata Ana sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh ya, ayo silahkan masuk!"
Bara dan Winda pun kini masuk mengikuti Ana yang kini membawanya ke ruang tamu.
"Sebentar ya aunty panggil Yuna dulu," Ana pun meninggalkan kedua teman Ayuna dan memanggil Yuna untuk turun.
"Yuna!"
"Yuna buka pintunya sayang!" Ujar Ana sambil mengetuk pintu kamar gadis itu.
Yuna yang baru saja memejamkan mata, terpaksa harus membuka matanya kembali. Dia melangkah dengan malas membuka pintu yang terus saja diketuk.
"Ya aunty kenapa?" Tanya Yuna sambil mengucek matanya.
"Ada teman kamu datang, kamu buruan turun dan temui mereka, aunty mau buatin minuman dulu," ucap Ana dan wanita itu kini turun lebih dulu, hendak ke dapur untuk membuatkan minuman untuk teman-teman Ayuna.
Ayuna langsung ikut turun tidak memperdulikan penampilannya saat ini, karena dia berfikir jika Winda lah yang datang. Sebelum Yuna tertidur, Winda memang sudah mengirim pesan padanya jika dia akan datang. Yuna yang berfikir Winda hanya bercanda pun memilih memejamkan matanya yang sangat mengantuk karena semalam tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang dilakukan Davian dengan wanita itu di dalam kamar.
Yuna menuruni anak tangga, dan segera menuju ke ruang tamu seperti apa yang diberitahu Ana.
"Kamu beneran kesini? Aku kira kamu tadi bercanda," ucap Ayuna dan duduk di samping Winda.
"Ya nggak bercanda lah, nih buktinya aku disini," kata Winda.
Arah pandang keduanya kini tertuju pada Bara yang tiba-tiba duduk di samping Yuna. Hingga Yuna kini berada di tengah di sofa panjang yang mereka duduki.
"Loh Bara juga ada disini?" Tanya Yuna terkejut?"
"Hmm iya," Bara hanya menyendiri dan menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Maaf," ujar Bara mengangkat tangannya dan mendekatkan pada wajah Yuna.
"Kenapa?" Tanya Yuna bingung.
"Ada bulu matamu yang jatuh," jawab Bara yang kini mengambil bulu mata Yuna yang jatuh di dekat mata.
Tiba-tiba seseorang masuk dan menatap tajam pada ketiganya.
Winda yang lebih dulu menoleh, menyenggol Ayuna.
"Kenapa?" Tanya Yuna.
"Ada Om kamu," ucap Winda.
Yuna langsung menjauhkan wajahnya dari Bara, dia menatap Davian yang kini berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪