Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.
Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.
Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.
~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puzzle
"Berlindung Fio!" pekik Obi.
Pletak!!!
Kali ini anak panah mengenai dinding. Melihat kekuatannya tak mungkin anak panah tersebut dilesatkan dari busur tradisional. Pasti ini pekerjaan seorang pembunuh bayaran atau pemburu profesional.
Fio dengan histeris bersembunyi di kolong meja marmer. "Sialan! Aku belum ingin mati!"
Bodyguard yang tadi di luar menyeruak memasuki kamar. Dengan sigap memposisikan dirinya di samping kaca. Mengintip dan membidikkan pistolnya ke beberapa gedung terdekat.
Dor!
Dor!
Nirmala yang ketakutan merangkak menuju kamar mandi dan bersembunyi. Obi memilih sisi yang berlainan dengan bodyguard-nya, dia penasaran siapa yang nekat menyerangnya. Terlihat seseorang membawa busur panah otomatis sedang berlari di atap gedung seberang.
Dor!
Dor!
Tembakan bodyguard itu meleset karena jarak yang di luar jangkauan pistol dan pengaruh tekanan angin. Selain itu si penyerang juga bergerak cukup cepat.
"Frans, siapkan mobil!" ucap Obi kepada bodyguard itu.
"Sudah aman kah? Aku bisa keluar sekarang?" teriak Fio.
"Di mana mobil lo?" tanya Obi saat menghampiri Nirmala.
"Di basement." jawabnya sambil menyahut dokumen kontrak di meja.
"Ayo cepat! Mobil sudah siap." kata Frans sesaat setelah menutup HP-nya.
Frans memimpin di depan menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Obi, Fio, dan Nirmala mengikuti di belakangnya. Dengan langkah terburu-buru mereka menyusuri koridor. Tampak seorang pelayan hotel mendorong meja jamuan makan di dekat lift.
Brak!!!
Tiba-tiba Frans menendang meja tersebut. Sungguh tak terduga, pelayan hotel tadi rupanya memegang sebuah pisau daging yang semula dia sembunyikan di bawah tumpukan sapu tangan.
Buak!
Dak!
Dak!
Beruntung Frans sangat jeli dan melumpuhkan pelayan itu sebelum dia menyerang. Tampak mendapatkan lawan yang tak seimbang, seseorang yang menyamar sebagai pelayan itu melarikan diri.
"Dasar amatir!" gumam Frans sambil merapikan jasnya.
Ding!
Pintu lift terbuka, mereka segera masuk. Nirmala gemetar dan tak kuasa berjalan, Fio menggandengnya.
"Nanti kita berpisah. Fio, setelah sampai basement lo naik kembali ke resepsionis. Urus semua biaya hotel lalu kembalilah ke Jakarta. Minta perlindungan pihak hotel. Elo pasti aman karena target para penjahat tadi adalah gue."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Gue akan baik-baik saja. Frans, lo naik mobil gue, ajak sopir keliling kota dulu untuk memastikan kondisi aman."
"Siap! Lalu apa rencana Tuan selanjutnya?"
"Gue akan bersama Nirmala. Mereka tentu ga menduganya," kata Obi seraya melepas jasnya lalu merebut kacamata Frans.
Ding!
Pintu lift terbuka, Frans keluar terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan.
Setelah dipastikan aman, Obi dan Nirmala keluar, sementara Fio tetap di dalam lift dan akan kembali naik ke lantai satu.
Sesuai rencana, Frans memasuki mobil Obi. Kini Nirmala dan Obi hanya berdua. Nirmala masih syok, dia memberikan kunci mobilnya agar Obi yang menyetir.
"Tunggu apalagi?" tanya Nirmala.
Obi terdiam, menunggu mobilnya yang ditumpangi Frans keluar dari basement. Tampak sebuah mobil lain tiba-tiba muncul dari dekat pintu keluar dan membuntuti mobil Obi tersebut.
"Sekarang waktunya," bisik Obi.
Perlahan mobil Nirmala keluar basement lalu mengambil jalur yang berbeda.
"Ke mana kita?"
"Ke rumah lo, ada yang perlu gue bicarakan sama Dharma sebelum meninggalkan kota ini."
"Jadi sebenarnya maksud kedatanganmu ke sini untuk bertemu aku atau Dharma?"
"Dengan adanya kejadian tadi. Ada sesuatu yang ingin gue pastikan sama Dharma."
"Tunggu, tidak mungkin Dharma terlibat semua ini."
"Kita lihat saja nanti."
***
Semilir angin bertiup merontokkan daun pohon-pohon jati yang mulai menguning di belakang rumah. Dharma sedang menikmati pemandangan alam nan indah. Hamparan perbukitan asri dengan udara yang sejuk. Ingin rasanya Dharma berjalan-jalan ke sana. Apalagi setelah mendengar cerita tetangga bahwa ada air terjun kecil di balik perbukitan itu.
Berkutat dengan ingatan yang hilang membuatnya jenuh. Buku catatan ingatannya telah berkali-kali ia baca. Ini seperti menyusun suatu puzzle yang tak lengkap, dengan beberapa bagian yang hilang. Maka tak ada salahnya dia beristirahat sejenak menikmati pemandangan alam, atau justru sebaiknya dia lupakan saja semuanya.
Memulai hidup baru dan melupakan masa lalu sepertinya cukup mudah. Mungkin itu juga yang diinginkan oleh Nirmala. Hingga kini Nirmala enggan bercerita untuk membantu Dharma mengingat semua dan menyerahkan hal itu padanya.
Terdengar suara mobil Nirmala memasuki pekarangan. Dharma bersiap menyambut kedatangan Nirmala. Dalam pikirannya sudah dia susun kata-kata bahwa dia ingin mengikhlaskan memorinya yang telah hilang dan melanjutkan hidup bersama Nirmala. Mewujudkan mimpi-mimpi tentang kebahagiaan yang pernah mereka ciptakan bersama. Namun, kedatangan Nirmala dengan Obi membuat mulut Dharma tercekat.
"Assalamualaikum ...," sapa Nirmala saat memasuki rumah, "kok tidak menjawab, Mas?"
"Wa'alaikum salam, apa maksudnya ini? Kenapa kamu bersamanya?" sahut Dharma ketus.
"Apa kabar, Bro?" Obi mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Maaf, cuci tangan dulu. Jangan-jangan bawa virus corona," tukas Dharma.
"Apa'an sih, Mas?"
"Hehehe ... betul juga. Maaf, gue numpang ke kamar mandi dulu. Ga bawa hand sanitizer."
"Di sebelah sana, Obi. Belok ke kanan," tunjuk Nirmala.
"Ok, permisi sebentar." Menuju ke kamar mandi.
"Ada keperluan apa dia ke sini? Kok naik mobil berdua? Terus itu ngomong kaya ga ada sopan santun. Lo gue lo gue, kukira itu bukan sikap seorang CEO dua belas hotel mewah."
"Mas, memang Obi seperti itu kalau di luar kantor."
"Jadi kamu bela dia?"
"Bukan begitu, Mas. Kenapa sekarang kamu emosian sih? Ga kaya dulu. Kasih waktu buat Obi biar dia jelaskan. Dia sudah lama mau bicara sama kamu, Mas." Duduk di sebelah Dharma.
Dharma menghela napas dan mengatur emosinya. Melihat sang suami mulai tenang, Nirmala beranjak ke dapur membuat minuman. Tak lama kemudian Obi datang, menyalami Dharma lalu duduk di seberangnya.
"Bagaimana kabarnya, Mas Bro?" sapa Obi membuka percakapan.
"Langsung saja ke tujuan, aku tidak suka basa-basi dengan seorang pembunuh yang mendekati istriku."
Mendengar jawaban itu, Obi menahan diri. Dalam pikirannya kesulitan mencari kalimat yang tepat untuk mulai mengulik informasi dari Dharma. Di lain sisi sebetulnya Dharma juga penasaran tentang niatan Obi menemuinya dan bagaimana bisa dia satu mobil dengan Nirmala.
Nirmala datang membawa minuman. Melihat situasi yang begitu kaku, Nirmala memutuskan untuk melihat televisi saja.
"Lihatlah! Begitu cepat media sekarang," kata Nirmala memecah kebekuan.
"Itu hotel kita tadi," sahut Obi beranjak menuju Nirmala.
"Hei, jaga bicaramu! Ngapain kamu di hotel sama istriku? Nirmala! Apa maksudnya ini?"
"Ssstt ... tolong dengarkan ini dulu, Mas." Nirmala mengeraskan volume TV.
Sungguh di luar dugaan Dharma. Berita di TV itu menyiarkan tentang usaha pembunuhan Obi saat di hotel. Melihat hal tersebut kontan membuat Dharma mengkhawatirkan keselamatan Nirmala.
"Sebaiknya kamu tidak ikut campur lagi. Lihatlah ... bagaimana kalau anak panah itu mengenaimu?" protes Dharma.
Nirmala dan Obi saling berpandangan. Entah bagaimana cara menjelaskan kepada Dharma. Memang berita di TV itu tentang Obi & lokasinya di hotel, tetapi bukan berita perselingkuhan seperti yang sempat dikhawatirkan oleh Dharma.
"Soal rahasia novel itu aku terikat kontrak, apakah ada pengecualian?" tanya Nirmala kepada Obi.
"Biar nanti gue aja yang cerita," jawabnya.
"Apa yang kalian rahasiakan?" desak Dharma.
"Gue janji nanti kalo sudah tiba saatnya gue bakal ceritakan semua. Apapun yang ingin lo ketahui tentang gue. Tapi sebelum itu ada yang ingin gue ketahui dari lo ...."
"Oke. Tidak masalah," sahut Dharma ketus.
"Lo ingat buku catatan milik komandan Harada?"
"Memang kenapa? Buku itu terakhir aku simpan di koper hijau tempatnya semula tapi entah sekarang ada di mana. Ingatanku belum pulih benar."
"Oke, yang penting lo ingat kalau buku itu ada. Sekarang barang-barang itu sudah di tangan Balai Pelestarian Sejarah dan Cagar Budaya."
"Terus?"
"Unit 731, gue sedang memburu salah satu monster ciptaan mereka."
"Monster kamu bilang? Hei Obi ... ini bukan lelucon! Aku tahu mereka melakukan banyak eksperimen, tetapi monster? Kamu kebanyakan lihat film kartun!"
"Bukan! Bukan monster berwujud mengerikan seperti di komik atau film."
"Hei! B*jing*n! Satu-satunya monster yang aku tahu itu adalah kamu! Bagaimana bisa diumur 14 tahun kamu sudah membunuh dan memutilasi hah?!? Jawab! Kamu itu yang monster!"
"Lo pikir kenapa gue ga datang di pernikahan lo sama Nirmala? Gue datang tapi gue sembunyi karena sesuatu!"
"Tidak usah berbelit-belit, bicarakan saja apa maksudmu? Nirmala, apa kamu paham yang orang gila ini katakan?"
"A--aku tidak tahu, Mas. Sungguh!"
"Nirmala hanya tahu tentang novel, ga lebih dari itu! Sekarang lihat ini! Pasti tahu kan siapa di samping lo ini?!? Lo kenal kan?" Obi menunjukkan sebuah foto di HP-nya.
"Tentu saja! Memangnya ada yang salah dengan foto ini?"
"Lihat foto selanjutnya! Ini diambil tahun 1943, sudah 77 tahun yang lalu. Lihat dengan jelas! Apa lo mengenalinya?"
"Ti-tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Pasti kamu mengeditnya!" tukas Dharma.
Nirmala yang penasaran ikut melihat foto itu. "Astaga! Bagaimana bisa? Apakah ini asli?"
(Bersambung)
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.