Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Prang..
Bunyi pecahan memenuhi suasana lenggang restoran. Berlanjut heboh dengan amukan kecil dan kalimat sarat akan emosi negatif yang membludak.
Di sini Yuki hanya mampu menunduk dan memohon maaf karena keteledorannya. Sebuah piring kotor terlepas dari tangannya, mencipratkan sisa makanan pada betis mulus seorang wanita berperawakan mungil namun berbibir pedas.
Membersihkan hingga setitik noda saja tidak tersisa, Yuki sejujurnya ingin membalas setiap kalimat hinaan yang meluncur bebas dari korban keteledorannya. Hanya saja Yuki berusaha mengerem kegemasan di ujung lidah, sadar bahwa kesalahan yang memicu masalah itu berasal dari dirinya sendiri.
Mendesah kecewa dengan tubuh lelah, Yuki membanting kain yang sejak tadi digenggamnya. Menghempaskan punggung dalam posisi berdiri, membentur ringan pada dinding bercat coklat terang.
Huft..
Helaan nafas panjang terdorong keluar dari bibir yang sedikit terbuka. Lelahnya seakan tidak tersalurkan meski berulang kali hembusan kasar sudah dipaksa keluar.
“Capek.” Gumam Yuki dengan mata yang terpejam, mendongak menggerakkan pelan kepalanya, meregangkan otot leher yang terasa kaku dan menegang.
Sedetik kemudian Yuki membuka kelopak matanya menatap ke arah langit cerah di luar jendela, mengangkat kepalan tangan sejajar dada dan menghembuskan kembali nafas dari lubang hidung dengan kuat. “Semangat Yuki. Semangat..!! Ini baru mulai, jangan mudah menyerah. Perjuangan masih panjang!!” Ucap Yuki menyemangati dirinya sendiri.
Mungkin beginilah resiko jika berniat ingin menjadi stalker ekslusif dibalik topeng seorang pramusaji restoran. Tepat 7 hari 7 malam tanpa asupan si tampan pemikat hati tentu berhasil menurunkan hormon endorphin yang terproduksi di tubuh Yuki.
Sumber kebahagiaan yang selalu menjadi objek cuci mata menghilang. Sibuk, itulah kata yang Yuki dapatkan kala menanyakan pada beberapa pekerja senior. Bahkan manajer restoran sering mengacuhkan Yuki yang doyan mempertanyakan mengapa kehadiran sang bos tidak terlihat.
“Ngapain kamu di sini!?”
Terlonjak kaget dengan lompatan kecil, seulas senyum tipis yang semakin merekah menghiasi wajah Yuki. Lelah dan patah semangatnya lenyap, berganti harapan baru, namun sayangnya langsung terhempas oleh suara anggun yang mengalun lembut.
“Kev, kunci ruang istirahat aku mana?”
“Ada di Saka, Al. Tadi dia udah bawa beberapa barang ke ruangan kamu.” Ucap Keven lembut, benar-benar lembut hingga membuat Yuki melongo tidak percaya. Ingin rasanya menampar Keven yang mungkin sedang kerasukan setan ramah.
“Saka ini ninggalin aku terus tau..” Gerutu wanita tinggi semampai yang bergelayut di lengan Keven. Tentu semuanya sudah tau bahwa wanita itu adalah Alia.
“Kamu yang doyan hilang.. Dasar Alia..” Ucap Saka yang muncul mendadak. Kalimatnya santai, namun sangat kentara bahwa ia tidak suka saat melihat Alia bergelayut manja pada Keven. Merangkul bahu Alia dengan mesra, Saka menarik pelan tubuh Alia yang menempel pada Keven.
Namun yang terpampang di depan mata Yuki kini adalah Alia yang merangkul lengan kedua laki-laki itu sambil menggiring mereka menjauh dari Yuki. Bahkan jika direka ulang, Yuki tidak terlihat di mata Alia.
‘Tangan..!! Menyingkirlah!! HEI..!!!’ Jerit Yuki yang menyorot tajam kedua lengan yang saling bersinggungan, meski terhalang kain pelindung. Ia ingin berteriak, namun siapa lah dia yang hanya orang asing saat ini. Iya, hanya untuk saat ini, tidak di masa yang akan datang.
“Ulat bulu!” Gumam Yuki ketus dalam intonasi lirih. Ia masih memicingkan matanya seakan hendak menguliti dan mencabik-cabik Alia yang baru ia ketahui wujudnya.
Tanpa diberitahukan lagi, Yuki paham betul siapa wanita itu. Teringat semua ucapan Elza yang sempat menyinggung sosok Alia. Cemburu? Tentu saja Yuki cemburu, bahkan ia juga iri, kesal, sebal dan dongkol.
Belum habis kekesalan Yuki, kini dengan mata kepalanya sendiri melihat Alia yang menyandar manja di bahu Saka. Keduanya mengabaikan pandangan iri orang lain. Semua seolah hanya angin yang terasa namun tidak terlihat. Secara cepat Yuki langsung mengambil kesimpulan bahwa ada hubungan yang lebih spesial diantara Saka dan Alia.
Entah mengapa dari pertama melihat wajah Alia sudah membuat Yuki tidak suka. Dirinya bukan tipe orang yang akan pilih-pilih jika berteman, akan tetapi belum juga berbincang dan mungkin hanya dirinya yang menyadari kehadiran Alia tapi sudah membuat rasa tidak suka itu muncul.
Apakah ini yang dinamakan sebuah firasat?
Masa bodoh dengan hal itu, Yuki kembali bekerja sambil curi-curi pandang hingga tidak sengaja menginjak kaki Keven yang terjulur melewati batas meja.
“Shiit!!” Umpat Keven sambil mengangkat sedikit kakinya. Sakit jelas sangat terasa, berdenyut apa lagi, namun hanya mata melotot nya saja yang memaki Yuki dengan dengusan kasar yang menyertai.
“Maaf Mas Keven, gak sengaja.” Ucap Yuki dengan raut wajah bersalah. Ia spontan menunduk ingin berjongkok dan memeriksa punggung kaki Keven yang diinjaknya. Beruntung saja kaki Keven tidak polosan alias masih mengenakan sepatu.
“Minggir!”
Mengabaikan perkataan singkat Keven yang ketus dan sinis, Yuki justru sudah berjongkok dan menarik kaki Keven.
“Kamu apa-apaan!? Lepas!!” Ucap Keven lirih dengan wajah memerah malu. Keven sadar saat ini dirinya dan Yuki sedang diperhatikan pengunjung restorannya, begitu pula Saka dan Alia yang ikut memerhatikan dirinya.
“Aku mau periksa, sebentar.” Ucap Yuki dengan telunjuk mengacung agar Keven diam di tempatnya.
“Aman, sepatu Mas keras.” Lanjut Yuki berucap tanpa memeriksa langsung kondisi kaki Keven, akan tetapi baru saja yang Yuki lakukan adalah mengetuk kuat sepatu yang membungkus kaki Keven
“Udah berdiri kamu! Jangan buat aku malu!” Geram Keven lirih sambil menarik sebelah lengan Yuki. Tanpa disadari sentakan yang Keven kira pelan itu nyatanya membuat lipatan ketiak Yuki cukup nyeri. Sepertinya untuk sementara lengan kiri Yuki akan terasa kurang nyaman.
Meringis Yuki ingin mengusap ketiaknya, namun ia takut orang-orang yang melihat aksinya justru muntah. Sungguh disayangkan jika makanan enak yang dibuat sepenuh hati para koki dapur harus terbuang sia-sia begitu saja.
“Ada apa Kev?” Tanya Saka yang sudah berada di antara Yuki dan Keven, tepatnya sisi kiri Keven dan di samping kanan Yuki.
“Ini anak yang kamu belain kerja di sini. Teledor, gak becus!” Perkataan Keven sungguh pedas. Manik matanya menatap sinis Yuki yang mengerucutkan bibir dan menyipitkan mata membalas tatapan Keven.
“Aku udah minta maaf ya Mas Keven. Tadi itu juga salah kaki Mas. Kenapa gak ditaruh di bawah meja aja? Jangan-jangan Mas kan yang sengaja minta diinjak? Ngaku?!” Cerocos Yuki panjang, ia tidak terima disebut tidak becus, jika teledor memang benar.
“Berisik.” Merunduk dan memiringkan kepala, Keven berkata lirih tepat di daun telinga Yuki.
Seolah terpancing, Yuki mendorong tubuh Keven sambil menarik sudut bibirnya naik. “Mau aku injak-injak lagi itu kaki?”
“Mau aku pecat kamu dari sini?”
“Udah Kev, gak usah kekanakan deh.” Ucap Saka sembari memisahkan kedua anak manusia yang saling menatap sengit. Sungguh pemandangan yang tidak enak, bisa-bisa menurunkan kesan baik restoran di mata pelanggan tetap atau bahkan pada pengunjung baru restoran mereka.
...****************...
*
*
*
Udah fix lah siapa suami Yuki 🙂