📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima
“Aku nggak mau tidur. Aku mau kayak gini aja terus.” Miya memeluk Ardi erat-erat.
“Aku takut, kalo aku tidur pas bangun nanti kamu udah nggak ada. Aku takut kalo ternyata semua ini cuma mimpi.” Lanjut Miya, gadis itu kembali terisak dalam tangis.
Ardi balas merengkuh Miya yang kian memeluknya dengan erat. Ia terus mengusap pelan punggung dan kepala gadis itu bergantian, sesekali mengecup pucuk kepala Miya.
Empat tahun bukan waktu yang singkat. Semua rasa benci dan kecewa yang ia pendam selama ini seolah hilang, menguap begitu saja entah kemana saat melihat gadis itu menangis. Bahkan kalimat sadis yang terakhir ia lontarkan pada Miya sebelum pergi ternyata tak memberi efek apa pun.
Gue nggak pernah pengen lu pergi Mi, nggak akan pernah. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin, lu boleh pergi. Pergilah, gue tetep di sini. Tapi jika suatu saat lu kembali gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. Gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi.
“Aku akan terlalu jahat jika mementingkan ego dan tak memaafkan mu, Mi. Mungkin hidup yang kamu jalani selama ini pun tak jauh berbeda denganku yang selalu merindukanmu.” Batin Ardi.
Rasa kecewa dan benci karena ditinggal pas sayang-sayangnya tentu akan membuat seseorang melakukan hal yang sama guna memberi pelajaran. Sama halnya dengan Ardi. Awal mula melihat kembali Miya beberapa jam yang lalu membuat dia mendadak perang batin dengan dirinya sendiri.
Logikanya ingin dia membalaskan rasa sakit yang ia rasakan selama ini. Mewujudkan kalimat ‘tak akan ada kita lagi’ membiarkan gadis itu merasakan betapa kecewa, kesal, benci dan sakit hati dirinya saat dulu.
Tapi lain hal dengan hatinya. Dia tak ingin menyakiti Miya, cintanya lebih besar jika dibandingkan dengan semua benci dan kecewa yang ia rasakan. Tatapan mata yang basah dan suara tangis Miya nyatanya bisa meluluhkan semua rasa kecewanya. Tatapan penuh penyesalan dan permintaan maaf yang tulus membuat Ardi melepaskan egonya, memilih menuruti kata hati untuk kembali.
“Sayang...” panggil Miya.
“Daddy Ardi!” ulang Miya karena Ardi hanya diam. Kali ini Miya mendongakkan wajahnya dan menatap Ardi yang nampaknya sedang hanyut dalam pikirannya. Tangan kirinya mengusap pipi Ardi hingga lelaki itu tersenyum menatapnya.
“Kenapa hm?” tanyanya dengan senyum yang masih merekah.
“Wajah ini... senyum ini... “ ucap Miya lirih, jari telunjuknya menjelajah wajah Ardi dari mulai kening, hidung hingga berhenti di bibir yang sedang tersenyum.
“Mau lagi?” tanya Ardi.
“Apaan yang?”
“Ini lah.” Jawab Ardi sembari mengecup bibir Miya.
“Ih apaan sih sayang. Lama nggak ketemu sepertinya otak kamu perlu disapuin. Kotor!” gerutu Miya, "kalo perlu aku kasih sunlight biar bersih bersinar." imbuhnya.
Ardi hanya tertawa sambil mengelus pucuk kepala Miya, hal sederhana yang sangat ia sukai. “Kayaknya bukan otak aku yang kotor deh sayang. Kan kamu tuh yang mulai, nyentuh bibir aku segala.”
“Tapi bukan gitu juga artinya." protes Miya.
"Aku cuma masih belum percaya aja kalo semua ini nyata. Bisa meluk kamu, nyentuh wajah kamu, lihat senyum kamu. Kita bisa seperti ini, rasanya seperti mimpi buat aku.” Ujar Miya. Matanya tak henti menatap Ardi dengan binar bahagia.
“Kamu pasti nggak tau kan Ardi Rahardian? kalo tiap malam selama empat tahun aku nggak pernah tidur nyenyak. Aku yang nggak pernah ikut organisasi apa pun, pas kuliah di negeri orang aku berusaha ikut segala kegiatan supaya aku bisa ngusir kamu dari pikiran aku. Tapi nyatanya semua nggak berguna. Nggak ada sehari pun berlalu tanpa inget kamu.” Tutur Miya.
“Bahkan hampir setiap tengah malam aku selalu terbangun. Setiap malam sayang, hari dimana aku ninggalin kamu dengan kata-kata perpisahan dari kamu selalu hadir di mimpi aku. Aku bahkan masih ingat sampe sekarang kalimat itu sayang.
“Kembali ke sini juga nggak mudah. Aku takut, aku takut kalo kamu dan aku nggak bisa jadi kita lagi. Aku takut kamu bakal benci aku.” Jelas Miya sambil terisak.
“Jangan nangis lagi.” Ardi melepaskan pelukan Miya, kini dia mengusap wajah Miya dengan jari-jarinya.
“Kamu bener sayang. Aku benci sama kamu, benci banget.”
Tangis Miya kembali pecah mendengar kalimat itu. dia kini hanya menunduk, untuk menatap Ardi pun ia merasa tak layak.
“Mommy Miya jangan nangis.” Ardi menangkup wajah Miya dengan kedua tangannya kemudian kembali menyeka air mata Miya dengan jari-jarinya dan merengkuhnya kembali dalam pelukan.
“Aku benci Mi, benci banget sama kamu yang ninggalin aku gitu aja. Benci juga sama diri aku sendiri yang nggak bisa bikin kamu tetep di sisi aku saat itu. Benci karena aku terlalu mengenalmu hingga aku tau, kamu nggak mungkin pergi tanpa alasan. Benci banget sayang,”
Ardi menjeda ucapannya, ia memilih menenangkan gadis di pelukannya yang menangis hingga sesegukan.
“Tapi semua rasa benci itu nggak ada apa-apanya jika dibandingkan sama cinta aku ke kamu Mi. Sama halnya dengan kamu, selama empat tahun ini nggak ada satu hari pun tanpa mengingat kamu. Terima kasih sudah kembali.”
“Terima kasih karena udah nunggu mommy selama ini, Daddy Ardi.” Ucap Miya kemudian mengecup bibir yang sedang tersenyum padanya dengan malu-malu, “ i love you Ardi Rahardian.”
Merasa tak cukup hanya dengan kecupan singkat, Ardi membalas kecupan Miya dengan ciuman lembut yang lama-kelamaan menjadi semakin dalam dan menuntut.
“i love you too Kamiya Maulida.” Ucap Ardi setelahnya.
Disaat orang lain sibuk menjelajah alam mimpi, dua orang yang baru dipertemukan kembali setelah empat tahun itu tengah sibuk saling bercerita tentang betapa sulitnya empat tahun yang mereka lalui tanpa bersama.
“Wah aku harus bilang makasih dong sama Mas Wildan karena udah jagain kamu selama ini.” Ucap Ardi setelah mendengar cerita Miya dari awal wasiat almarhum sang ibu hingga Wildan yang merelakannya kembali pada Ardi.
“Iya sayang. Nanti deh kalo mas Wildan kesini aku kenalin ke kamu. Dua atau tiga minggu sekali di bakal kesini buat bantu aku ngurus-ngurus usaha ibu, soalnya kan aku masih belajar.” Ujar Miya.
Banyak yang mereka bicarakan hingga akhirnya Ardi hanya bisa tersenyum melihat gadis cerewet yang kini tertidur di pelukannya, “Katanya tadi nggak mau tidur. Takut aku nggak ada kalo bangun, takut kalo semua hanya mimpi. Eh dia ketiduran juga.”
Ardi menggendong Miya, membawa gadis yang terlelap itu ke kamar. Merebahkannya di ranjang kemudian menyelimutinya.
“Tidurlah sayangku. Meskipun saat kamu bangun nanti aku nggak ada disini, tapi semua ini bukan mimpi.” Ucap Ardi kemudian mencium kening Miya.
semuanya👍👍👍👍👍