“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hulya mulai gelisah, dia terus mondar mandir di depan pintu menunggu Affandy. Beberapa kali ia menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban apapun
"Sayang..."
"Ma," lirih wanita itu.
"Makanya kalau marah jangan berlebihan. Suami kamu bukan orang sini, terus kita mau cari kemana."
"Tapi dekat kok, Ma. Nggak mungkin dia nyasar."
Terlihat Liya menguap, kantuknya datang di udara dingin seperti ini. "Mama kalau ngantuk tidur aja."
"Tidur gimana. Kalau terjadi apa-apa sama suami kamu. Nanti kamu mau bilang apa sama mertua kamu?"
"Nggak apa-apa. Mama tidur aja."
Hulya merangkul tangan ibunya, dia membawa wanita itu untuk masuk ke dalam kamar.
"Mama istirahat aja. Hulya nggak apa-apa kok."
"Ya sudah. Nanti kalau Affan belum pulang juga. Bilang sama mama."
"Iya, Ma."
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Hulya semakin khawatir dengan keadaan suaminya.
"Affan kamu di mana. Aku minta maaf."
Sedari tadi Hulya terus saja menatap jam yang ada di ponselnya. Wanita itu sudah tidak tahan lagi, saat dia hendak masuk ke dalam ingin membangunkan ibunya. Sebuah mobil mewah milik wanita itu datang ke rumah tersebut.
Senyum Hulya terukir jelas. "Affan."
Seorang pria keluar dari dalam mobil dengan keadaan yang sangat berantakan.
"Affan ... Kamu kenapa?"
Hulya melihat beberapa kancing baju pria itu terlepas. "Kamu mabuk?"
"Dikit aja. Nggak usah khawatir," ucap pria itu dengan mata yang sedikit terpejam.
Hulya menoleh kearah dalam rumah, dia takut jika ibunya mengetahui keadaan Affandy.
Affandy berjalan melewati Hulya. "Tunggu dulu, Affan."
"Aku ngantuk Hulya."
"Bentar. Nanti Mama liat kamu."
"Mama..." Affandy tersenyum. "Mami di rumah Hulya, dia nggak di sini."
"Affan sadar. Sekarang kita di rumah mama ku."
Hulya membopong tubuh pria itu. Sebelumnya dia sudah mengunci pintu.
"Jalannya jangan cepet-cepet Hulya."
"Harus, Affan. Nanti Mama liat."
"Biarin. Biar Mama tau, kalau anaknya menikah dengan pria nggak bener."
"Enggak. Aku nggak mau suami ku jelek di mata orang tua ku."
"Aku bukan suami mu."
[] [] []
Hulya berhasil membawa Affandy masuk ke dalam kamar. Kemudian ia langsung mengunci pintu karena takut ibunya datang.
"Kamu mandi dulu. Aku mau siapin baju kamu."
Saat Hulya hendak pergi, tiba-tiba tubuhnya berbalik menghadap pria itu. Tatapan Affandy sangat aneh, apalagi dengan senyuman liciknya tersebut.
"Kamu cantik Hulya."
"Affan ... Ka-Kamu mau ngapain?"
"Kamu cantik."
"Jangan Affan," larang Hulya saat jilbabnya hendak dilepas oleh pria itu.
"Lepas."
"Nggak mau."
Affandy terus memaksa hingga wanita itu pasrah saja. Tangan Affandy terulur membelai rambut istrinya.
"Cantik. Rambut kamu wangi."
Affandy semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hulya. "Aku butuh kamu Hulya."
"Butuh? Maksud kamu?"
"Layani aku sekarang."
"Aku nggak mau. Kamu pikir aku wanita apa melayani pria mabuk seperti kamu."
"Layani aku sekarang." Affandy menguatkan genggamannya pada lengan Hulya.
"Affan aku mohon jangan seperti ini. Kamu boleh menyentuh aku, tapi jangan dalam keadaan seperti ini."
"Nggak usah banyak ngomong kamu. Kemaren kamu mau nafkah batin, sekarang layani aku."
"Kamu lagi mabuk Affan. Sadar!"
Affandy mendorong tubuh Hulya hingga wanita itu terbaring di kasur. Hulya sangat ketakutan melihat ekspresi wajah dari suaminya.
"Ayo, sayang. Ini kan yang kamu mau dari kemarin."
"Jangan, Affan. Aku mohon."
Hulya semakin takut ketika tubuh Affandy mulai mendekati dirinya. Ingin teriak namun dia takut jika ibunya akan mengetahui masalah mereka yang sebenarnya.
"Kenapa menghindar hm?"
"Jangan Affan. Kamu lagi mabuk."
"Kamu yang buat aku mabuk Hulya. Gara-gara kamu aku stres."
"Affan aku mohon jangan.Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
"Hei, kenapa nangis?" tanya Affandy mengelus wajah Hulya. "Aku nggak akan kasar sayang. Tenang aja."
"Aku nggak mau. Jangan Affan. Hiks!"
"Aku sudah sering melakukan ini sama kamu. Dan aku rasa kamu nggak akan kesakitan," ucap Affandy tanpa sadar sudah jujur dengan apa yang ia perbuat.
"Aku nggak mau."
Hulya terus menangis disaat Affandy mulai meraba-raba tubuhnya. Dia akui memang menginginkan hal itu, tapi keadaan Affandy sedang tidak sadar sepenuhnya. Itu lah yang membuat Hulya menolak permintaan dari suaminya.
[] [] []
Tiga jam sudah berlalu, Hulya duduk di atas ranjang dengan berbalut selimut. Affandy sudah melancarkan aksinya untuk mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
"Ngapain nangis. Aku udah penuhi kebutuhan kamu."
"Sekarang kamu udah rasain apa itu nafkah batin."
"Kamu melakukannya seolah aku ini bukan istri mu."
"Kan kamu yang minta supaya aku memperlakukan kamu seperti seorang istri. Sekarang aku udah penuhi keinginan mu untuk diberi nafkah batin."
"Nafkah batin kamu bilang?" Hulya menoleh kearah Affandy yang juga duduk di atas kasur sambil menyandarkan tubuhnya. "Sadar Affan, kamu bukan memberi ku nafkah batin. Tapi kamu memperlakukan aku seperti wanita murahan, yang kamu lakukan sama seperti memperkosa wanita."
"Ribet, ah. Lagian kamu kan memang murah."
"Tega kamu, Affan. Aku merasa seperti di nodai. Padahal yang melakukannya adalah suamiku sendiri."
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
"Hulya..."
Terdengar suara seorang perempuan. Hulya menghapus air matanya yang masih mengalir.
"Iya, Ma."
"Suami kamu udah pulang?"
"Udah, Ma. Mas, Affan lagi tidur."
"Oh, baguslah."
Tangisnya ia tahan demi melindungi suaminya sendiri. Affandy berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak tertarik untuk mendengarkan obrolan dari ibu dan anak itu.
Hulya terus saja menangis, sesuatu yang baru saja ia alami seperti pelecehan. Affandy tidak punya hati telah melakukan hal yang memang wajib tetapi tidak pantas dengan cara seperti itu.
Affandy Frazendra keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah bersih. Jiwa dan raganya juga sangat segar. Melihat Hulya yang meringkuk dibalut selimut, Affandy tersadar dengan apa yang ia lakukan.
"Hulya."
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Hanya sekilas saja Hulya menoleh ia pun membuang muka.
Wanita itu kaget ketika seseorang memeluk tubuhnya. "Hulya maafin aku."
"Hiks ... Kamu jahat, Affan. Sekarang aku kotor."
"Enggak-enggak, kamu nggak kotor. Aku yang melakukannya bukan orang lain. Kita udah halal."
"Hiks ... Kenapa kamu lakuin itu. Kamu jahat. Aku benci sama kamu."
"Maafin aku Hulya. Aku tau, aku salah. Jangan nangis lagi ya."
"Aku menginginkannya, tapi tidak dengan cara yang dipaksa. Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
"Kamu yang buat aku marah sampai melakukan itu Hulya. Aku minta maaf." Affandy sangat bersalah pada istrinya itu.
"Aku benci kamu, Affan. Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Cup! Cup! Cup!
"Jangan nangis lagi ya."
Affandy mencoba untuk menenangkan wanita itu. Akhirnya dia memutuskan untuk mengakui kesalahannya tersebut.
"Kamu jahat, kamu nggak punya hati. Hiks..."
Disela-sela Hulya menangis, Affandy terus mengusap-usap kepalanya dengan penuh kelembutan.