Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Suara desing logam yang beradu memenuhi setiap inci ruangan, menciptakan melodi kematian di tengah badai yang mengamuk di luar. Saat pembunuh itu menerjang ke sudut tempat Aurelia bersembunyi, waktu seolah melambat bagi Damian. Tatapan sang Jenderal yang tadinya fokus pada lawan di depannya, berubah menjadi tatapan predator yang menemukan mangsanya terancam. Tanpa memedulikan pertahanan tubuhnya sendiri, Damian memutar tubuh, mengabaikan sabetan pedang musuh yang menyambar bahu kirinya, dan melesat seperti anak panah menuju Aurelia.
Sret!
Baju militer tebal Damian tersayat, diikuti oleh aliran hangat darah yang merembes di balik kain hitamnya. Namun, rasa sakit itu tak berarti apa pun. Dengan satu ayunan pedang yang brutal, Damian memotong lintasan pembunuh yang hendak menikam Aurelia. Belati musuh itu jatuh ke lantai dengan denting nyaring, disusul oleh erangan tertahan saat ujung pedang Damian menembus dada penyerang tersebut.
Aurelia memekik tertahan, matanya melebar saat melihat darah segar memercik di wajah Damian—darah sang Jenderal sendiri yang kini menetes dari bahu yang terluka.
"Jangan melihat!" raung Damian, suaranya parau oleh intensitas pertarungan.
Situasi toko roti itu berubah menjadi neraka. Ternyata, ketiga pria tadi hanyalah gelombang pertama. Dari balik dinding kayu yang telah jebol, bayangan-bayangan hitam terus bermunculan. Satu per satu, pria-pria bertopeng hitam melompat masuk ke dalam ruangan yang sempit itu. Jumlah mereka tidak berhenti di angka tiga atau sepuluh; mereka terus mengalir masuk seolah tak terbatas, mengisi ruangan yang kian penuh dengan aroma besi dan kehancuran.
Tiga puluh tujuh pembunuh bayaran.
Sebuah angka yang akan membuat komandan militer mana pun berpikir dua kali untuk bertahan, namun bagi Damian Valerius, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membuktikan penebusan dosanya.
Damian berdiri di depan rak kayu tempat Aurelia meringkuk. Ia menjadi perisai hidup yang kokoh, menahan gelombang demi gelombang serangan yang datang dari segala arah. Setiap gerakannya adalah tarian maut yang terukur—efisien, mematikan, dan tanpa ampun. Pedangnya berkelebat, menepis serangan, menusuk titik vital, dan merobohkan musuh dalam hitungan detik.
Setiap kali seorang pembunuh roboh, dua lainnya segera menggantikan posisinya. Pertarungan itu berlangsung lambat dalam persepsi Damian, di mana setiap napas yang ia ambil terasa berat karena luka di bahunya mulai memengaruhi koordinasi gerakannya. Namun, ia tidak membiarkan satu pun dari mereka melewati batas yang telah ia tetapkan di depan Aurelia.
Brak!
Seorang pembunuh berhasil mendekat dari sisi kanan, mengayunkan gada besi ke arah kepala Damian. Sang Jenderal menangkisnya dengan lengan kirinya yang terluka, menahan hantaman itu dengan gigi terkatup menahan nyeri yang luar biasa hingga tulangnya terasa retak. Tak membuang waktu, ia menusuk perut musuh tersebut dan melemparkannya ke arah dua orang lain yang tengah bersiap menerjang.
Lantai toko roti yang dulunya bersih dan harum kini berubah menjadi hamparan licin darah yang mulai membeku karena suhu dingin badai.
Di sela-sela denting pedang, Damian bisa mendengar suara Aurelia yang terisak di belakangnya, memanggil namanya dengan nada putus asa yang menyayat hati. Setiap panggilan itu seolah menjadi pengingat bagi Damian bahwa ia tidak boleh jatuh. Jika ia mati di sini, Aurelia tidak akan memiliki perlindungan lagi di dunia yang kejam ini.
"Bertahanlah..." gumam Damian di tengah napasnya yang memburu.
Musuh-musuh itu tampak semakin frustrasi. Mereka mulai menyadari bahwa Jenderal Agung ini tidak akan tumbang meski tubuhnya mulai dipenuhi luka tikam kecil dan goresan pedang yang tak henti-hentinya menjarah kulitnya.
Seorang pembunuh dengan topeng bersulam perak—pemimpin kelompok tersebut—memberi isyarat. Sepuluh orang sekaligus menerjang Damian dari berbagai sisi. Mereka tidak lagi berniat membunuh Damian secara instan, melainkan mencoba mengepungnya dari sudut yang tidak terjangkau, memaksa sang Jenderal untuk membuka celah pertahanan di depan Aurelia.
Damian melakukan hal yang mustahil. Ia tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, berdiri tepat di jalur serangan, menyambut tebasan-tebasan itu dengan tubuhnya sendiri.
Sebuah belati berhasil merobek perut bagian sampingnya, dan sebuah pedang lainnya menggores dalam di pangkal lengannya. Rasa sakit yang tajam menghantam kesadarannya, membuat pandangannya sempat berbayang, namun ia tetap tegak. Ia merengkuh satu pembunuh yang berhasil menembus pertahanannya dan mematahkan leher pria itu dengan tangan kosong, lalu melemparkan mayatnya ke arah komplotan pembunuh lainnya untuk menciptakan jarak.
Kelelahan mulai menghimpit paru-parunya. Darah yang keluar dari lukanya mulai mengaburkan pandangan. Namun, di tengah kepungan tiga puluh tujuh pembunuh bayaran yang kini mulai menipis jumlahnya—menyisakan belasan orang yang menatapnya dengan horor—Damian tetap tidak bergeming dari posisinya melindungi Aurelia.
Di sudut ruangan, Aurelia mencengkeram belati pemberian Damian dengan tangan yang bergetar hebat. Ia melihat bagaimana kemeja putih sang Jenderal kini telah berubah menjadi merah pekat. Ia melihat bagaimana pria yang pernah menjadi sumber ketakutannya kini berlumuran darah demi memastikan nyawanya tetap aman.
Pemimpin pembunuh bertopeng perak itu maju perlahan, memutar pedangnya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia melihat kelemahan pada kaki Damian yang mulai limbung karena kehilangan banyak darah.
"Waktumu sudah habis, Jenderal," bisik pemimpin itu.
Damian tidak menjawab. Ia hanya memosisikan pedangnya dengan tangan yang kini bergetar hebat, matanya menatap tajam ke arah pemimpin musuh, mengabaikan sepuluh pembunuh lainnya yang mulai merangsek maju untuk serangan terakhir yang akan menentukan takdir mereka semua.
Namun, tepat sebelum pemimpin itu mengayunkan pedang finalnya, sebuah suara ledakan besar terdengar dari luar—bukan suara badai, melainkan suara dentuman meriam militer yang menghancurkan struktur pintu belakang toko roti, meruntuhkan langit-langit bangunan tepat di atas mereka semua—
mampir diceritaku juga ya😊