NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026 - Pagi Setelah Badai

Minggu pagi setelah makan malam Grand Megawan, rumah Prasetyo lebih sunyi daripada hari biasa.

Bukan sunyi yang damai.

Sunyi seperti semua orang tahu ada piring pecah di lantai, tetapi tidak ada yang mau lebih dulu menyapu karena pecahan itu akan melukai tangan sendiri.

Bu Sri memasak nasi goreng di dapur dengan gerakan keras. Spatula menghantam wajan, piring diletakkan terlalu kuat, tutup botol kecap diputar sampai bunyinya tajam. Laras duduk di meja makan dengan mata sembap, pura-pura membaca buku latihan. Buku itu terbuka di halaman yang sama selama dua puluh menit.

Bayu turun dari kamar lebih lambat, memegang pegangan tangga. Begitu melihat Keira sudah duduk di dekat jendela dengan segelas air putih, wajahnya sedikit lega.

"Mbak sudah makan?"

"Belum."

"Aku ambilkan?"

"Duduk dulu."

Bayu duduk. Kakinya masih kaku setelah semalam terlalu lama menahan tegang di ballroom. Keira mendorong kursi agar posisinya lebih nyaman.

Bu Sri melihat itu dan mendengus. "Sekarang semua harus hati-hati, ya. Salah sedikit nanti dibahas di hotel."

Bayu menegang.

Keira menatap Bu Sri. "Kalau tidak ingin dibahas, jangan lakukan."

Spatula berhenti.

Laras mengangkat wajah. "Mbak, Mama cuma capek."

"Aku tidak bertanya padamu."

Laras menggigit bibir. Jika dulu kalimat seperti itu bisa membuatnya menangis dan membuat semua orang menyalahkan Keira, pagi ini ia tidak yakin air matanya masih bekerja.

Pak Prasetyo masuk dari teras belakang membawa kantong plastik berisi roti tawar dan telur. Ia terlihat tidak tidur. Matanya merah, garis wajahnya lebih dalam.

"Saya beli tambahan sarapan," katanya.

"Tidak perlu." Bu Sri membalik nasi goreng. "Nasi sudah ada."

Pak Prasetyo tetap meletakkan kantong itu di meja. "Untuk Bayu dan Keira kalau mau."

Bu Sri menatapnya tajam.

Untuk pertama kalinya, Pak Prasetyo tidak langsung menunduk.

Keira melihat perubahan kecil itu. Bukan keberanian besar. Hanya satu tulang yang akhirnya mencoba berdiri.

Setelah sarapan yang lebih mirip sidang tanpa hakim, Keira naik ke kamar. Ia membuka tas kecil dan mengeluarkan kartu hitam emas dari Hansel. Kartu itu diletakkan di atas meja, di samping ponsel dan cetakan medis patient #0047.

Ada tiga pesan baru.

Tan Hansel:

Kau sampai rumah dengan aman?

Prof. Dharma:

Keira, jika kau bersedia, saya ingin berdiskusi singkat pekan depan mengenai jalur akademik dan beberapa soal dari try out.

Yves:

Reaksi #0047 naik turun. Tim menahan protokol. Jangan hilang.

Keira membalas Hansel lebih dulu.

Aman.

Balasan datang tidak sampai satu menit.

Tidak terdengar meyakinkan.

Keira mengetik:

Rumah tidak terbakar.

Hansel:

Standar amanmu terlalu rendah.

Keira menatap layar. Jari telunjuknya menyentuh ujung kartu hitam emas. Ia tidak terbiasa ada orang yang menyebut standarnya rendah bukan untuk merendahkan, melainkan karena menganggap ia berhak atas lebih.

Sebelum ia membalas, suara pelan terdengar dari pintu.

"Keira?"

Pak Prasetyo berdiri di sana.

"Masuk, Pak."

Ia masuk dengan canggung, lalu menutup pintu setengah. Matanya jatuh pada kartu Hansel, tetapi ia tidak bertanya. Ia duduk di kursi kecil dekat meja, kedua tangannya saling menggenggam.

"Bapak ingin minta maaf."

Keira menunggu.

"Semalam..." Pak Prasetyo menarik napas. "Bapak dengar semua yang kamu katakan. Dan Bapak tahu kamu tidak melebih-lebihkan."

Kata-kata itu keluar lambat, seperti setiap suku kata harus melewati tempat yang sakit.

"Bapak banyak diam. Waktu kamu kecil, waktu Bayu sakit, waktu uang rumah dipakai untuk les Laras, waktu Ibu bicara keras. Bapak selalu pikir kalau Bapak tidak memperkeruh keadaan, rumah akan lebih tenang."

Ia tertawa pendek tanpa suara. "Ternyata yang tenang hanya Bapak. Kalian yang menanggung."

Keira tidak berkata tidak apa-apa.

Karena memang bukan tidak apa-apa.

Pak Prasetyo mengusap wajah. "Bapak tidak tahu bagaimana memperbaiki semuanya. Tapi mulai sekarang, uang sekolah Bayu, obat Bayu, dan kebutuhanmu kalau masih mau menerima dari Bapak, Bapak yang pegang. Bukan sisa setelah semua selesai."

Di bawah, suara Bu Sri meninggi memanggil Laras. Laras menjawab pelan. Rumah itu masih sama. Retaknya masih sama. Tetapi di kamar sempit ini, ada satu pengakuan yang akhirnya punya bentuk.

"Pak," kata Keira, "jangan berjanji kalau belum bisa melawan."

Pak Prasetyo terdiam.

"Mulai dari hal kecil. Jangan ambil lagi dari kebutuhan Bayu."

Ia mengangguk. "Iya."

Keira mengambil satu kertas dari meja. "Ini jadwal latihan kakinya. Jangan biarkan dia melewatkan."

Pak Prasetyo menerima kertas itu dengan hati-hati. "Bapak akan awasi."

Setelah ia keluar, Keira turun ke teras belakang. Udara setelah hujan semalam masih basah. Di gang kecil belakang rumah, seekor anjing hitam kurus berdiri di dekat tong sampah, menatapnya dengan mata waspada.

Keira mengambil sisa roti tawar dari dapur dan melemparkannya pelan ke lantai dekat pagar. Anjing itu tidak langsung mendekat. Ia mengendus, mundur, lalu akhirnya mengambil roti dan lari.

Keira tidak mengejar.

Beberapa makhluk hanya mau menerima bantuan kalau diberi ruang untuk kabur.

Dari ruang tamu, suara Bu Sri terdengar lebih pelan, tetapi kata-katanya jelas.

"Bi, kamu masih kenal orang kelurahan lama, kan? Yang dulu mengurus berkas anak titipan itu."

Keira berhenti.

"Iya, yang perempuan itu. Keira. Saya perlu tahu asal-usulnya lebih jelas. Jangan banyak tanya."

Laras yang duduk di sofa menoleh. "Mama mau apa?"

"Diam. Kamu fokus saja memperbaiki citra. Kalau orang-orang mulai menganggap dia lebih tinggi dari kita, kita harus tahu dari mana dia sebenarnya datang."

Keira berdiri di balik pintu dapur, wajahnya tanpa ekspresi.

Ponsel Bu Sri kembali menempel di telinga.

"Cari semua dokumen lamanya. Siapa yang menyerahkan, siapa yang tanda tangan, ada keluarga mana di belakangnya. Tidak peduli berapa biayanya."

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!