Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Biah berusaha mempercepat langkahnya untuk keruang kelas sang anak karena dia tahu para petinggi yang sudah terjaring tidak akan tinggal diam, untuk sementara anak-anak nya akan dia pindahkan ditempat aman dan tidak sekolah terlebih dahulu tapi dia tidak tahu mereka ternyata bergerak lebih dulu seperti ini.
Ternyata mereka sengaja membuatnya sibuk dibagian kemiliteran untuk mendapatkan anak-anak nya.
Tangannya mengepal erat melihat seorang yang berjalan mengendap-endap mendekati anaknya, dia langsung berlari kencang dan melompat dan menendang orang itu dengan keras.
Keributan langsung terjadi karena teriakan Umar yang melihat orang terjatuh disampingnya.
"Astaghfirullah". Jerit Umar terkejut.
Matanya langsung bertabrakan dengan mata snag ibu yang kini menatap orang yang terjatuh itu dengan tatapan elang siap memangsa.
Orang itu langsung bergerak mendekati Umar dan memegang kakinya berusaha membuatnya jatuh.
"Apa yang kamu lakukan?". Umar langsung menyingkir karena orang itu berusaha menangkap kakinya.
Dia langsung melompat dan menjauh agar orang asing itu tidak bisa menggapai dirinya
Biah yang melihat itu langsung berlari dan menendang wajah orang itu hingga terpental dan menjauh dari sang anak yang kini mulai ketakutan
Matanya berkobar amarah, semua orang disana terpaku melihat perempuan berpakaian kemiliteran dengan pangkat tinggi dan yang membuat mereka tercengang adalah wajah perempuan dibalik baju itu.
Perempuan yang pernah mereka hina dan kini datang ke sekolah dengan seragam kebanggan yang membungkam mulut mereka untuk kedua kalinya.
Melisa mematung melihat wanita itu, tubuhnya yang tinggi tegap dan jilbabnya tertata rapi bukan lagi jilbab panjang seperti biasanya bahkan wajah itu dingin dan penuh ketegasan bukan lagi tatapan teduh dan sederhana seperti yang selama ini diperlihatkan begitu juga saat dirinya menjadi pemilik sekolah yang baru.
"Umar lari ke kelas adik-adikmu, cari mereka sekarang dan kembali kesini, jika ada yang mendekati kamu jangan lupa berteriak kencang". Perintahnya dengan tegas dan penuh otoritas sekaligus panik kepada sang anak.
Sang anak yang mengerti nada bicara sang ibu hanya mengangguk kemudian berlari sekencang mungkin untuk mencari keberadaan kedua adiknya.
"Apa para petinggi menyuruhmu, kamu lupa siapa aku?". Tanya Biah dengan dingin.
Dia mencengkram kerah leher lelaki yang berada dihadapannya ini, matanya sangat dingin dan tajam
Lelaki itu hanya diam tidak menjawab tapi berusaha untuk melepaskan diri, dia lupa jika perempuan terlihat lemah itu sudah terlatih keras selama puluhan tahun di kemiliteran dan dia bukan tandingannya sekalipun dia adalah seorang laki-laki.
"Jangan memancing amarahku". Ucap biah dengan penuh emosi.
Biah mencengkram kuat kerah baju itu dan mengangkat lelaki itu perlahan seperti mencekiknya dan melempar sembari menghantamkannya ke kursi yang ada didekat mereka.
Teriakan histeris para penghuni sekolah tidak membuat amarahnya surut bahkan mereka kini menatapnya dengan kekaguman.
Brak.
Kursi kayu itu membuat lelaki yang dia banting menjerit kesakitan.
"akh". teriaknya histeris.
Biah kembali mendekati lelaki itu dengan mata elang yang tidak pernah dilihat oleh siapapun selain musuhnya dan kini mereka melihat jelas jika tatapan itu seperti psikopat yang akan menggeluti korbannya hidup-hidup.
"Kalian pergi dari sini, jangan sampai mereka menggunakan kalian menjadi tameng untuk kabur, pergi sekarang juga". Teriak Biah dengan keras tanpa mengalihkan pandangannya dari targetnya itu
Mereka semua langsung berhamburan menyelamatkan diri setelah mendengar teriakan biah itu
Ini adalah aksi terang-terangan untuk melenyapkan keluarganya dan dia tidak akan biarkan itu terjadi. Dia mengambil handphonenya dan menghubungi semua orang yang menjadi tim khusus buatannya dan tentu saja itu sudah melalui seleksi ketat darinya.
"Datang ke sekolah anak-anakku, mereka sekarang sedang melancarkan aksinya". Ucapnya memberi perintah
"Baik". jawab Dairi seberang telpon
Dia langsung menutup telponnya dan menghampiri lelaki yang kini meringis kesakitan dan bangkit dan berusaha kabur.
"Jangan membuat kesabaranku habis". Ucapnya dengan dingin.
Dia mengambil pistolnya dan menaruh tepat dikepala tentara dihadapannya ini karena dia tahu bagaimana bisa membedakan mereka.
"Katakan!!". Perintahnya sambil menarik pelatuknya dan menembakkan ke arah lain sehingga menimbulkan suara nyaring.
Dia tahu ada yang akan menembaknya itu sebabnya dia menoleh kebelakang dan menembak orang itu tanpa melihatnya, instingnya yang tajam yang dilatih sejak usia dini membuatnya sangat peka dan tahu jika akan ada pergerakan mencurigakan.
Terdengar suara ornag jatuh tapi dia tidak perduli, dia menembak tepat pada kedua kaki orang itu membuat keseimbangan nya goyah dan akhirnya jatuh dari atap
Merasa Biah lengah, lelaki yang seorang tentara itu berusaha kabur tapi dia lupa sedang berhadapan dengan siapa, tentara profesional sejak muda dan merupakan komandan khsusus sedangkan dirinya hanya tentara baru yang mungkin baru masuk kemiliteran.
Biah memegang kursi dan melakukan gerakan melayang dan memutar dan langsung menendang belakang lelaki itu hingga ia tersungkur dan menabrak tembok.
Dengan gerakan cepat, Biah langsung mengambil borgolnya dan memasangnya pada lelaki itu kemudian menendangnya kedepan sehingga memeluk tiang sekolah barulah dia memasang borgol yang satunya lagi sehingga lelaki itu memeluk tiang dalam keadaan terborgol.
"Aku akan mengurus temanmu setelah ini, berdoalah mereka tidak menembak mati kamu untuk menghilangkan bukti".
Suara tembakan terdengar, Biah langsung bersembunyi dengan melakukan gerakan tiarap dan melihat siapa yang melakukannya, dia melepaskan tembakan dan mengenai tangan orang itu kemudian segera berlari menerjangnya.
"Kalian membuat kesabaranku habis". Teriaknya lantang.
Pertarungan jarak dekat akhirnya terjadi, Biah dengan gesit memberikan pukulan telak dan keras menghantam wajah orang itu sehingga tersungkur.
Terdengar suara retak dan ternyata wajah lelaki itu mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Kalian selalu menganggapku lemah karena aku seorang perempuan, maka akan kutunjukkan bagaimana kekuatan seorang perempuan jika dia marah melampaui batas". Teriaknya kembali menghantam perut lelaki itu dengan tinju kuat mematikan yang diajarkan oleh guru bela dirinya.
"Akh". Teriaknya kesakitan.
Dia langsung terduduk merasakan kesakitan pada dadanya dan perutnya hingga dia kesulitan bernafas.
Biah melihat itu kembali mendekat, wajahnya dingin dan sungguh menyeramkan.
"Kayaknya kalian mau mati baru mau mengakuinya, tapi kamu tenang saja aku tidak akan membunuhmu tapi melakukannya pada keluargamu, aku tahu kamu baru saja diangkat menjadi prajurit sehingga dimanfaatkan oleh tentara golongan atas untuk melakukan ini".
Biah langsung mengunci gerakan itu kemudian menendangnya hingga tersungkur dilantai aspal dan biah kini berada di atasnya mengunci pergerakannya dengan ikat pinggang lelaki itu, entah kapan dia melepaskannya.
"Kumohon jangan sakiti keluargaku, mereka tidak tahu apapun, aku hanya melaksanakan tugas dari atasan". Ucapnya dengan tangisan.
Dia sangat menyayangi ibu dan ayahnya apalagi dia adalah anak satu-satunya dari keluarganya.
"Jadi katakan sebelum aku melakukannya".